Lucky Me 14

966 Words
Hening.... Mungkin sekitar satu menit keheningan terjadi. Aku bingung dengan keadaan aneh ini. Awkward kalau kata anak jaman sekarang. "Emang kamu gak mau ya?" kecewa terdengar jelas di telingaku. Ya, hanya mendengar. Aku tidak berani untuk menatap wajah tampannya. Jujurly, Kak Leon adalah sesosok pria sempurna untukku. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas serta sifat ramah nan baik membuat sisi kewanitaanku tidak mungkin menolak jika diajak menikah detik ini juga. 'Ya Allah, cobaan apa ini?'  kataku pada diri sendiri. "Kamu gak suka sama aku? Gak suka di bagian mananya, Sa? Mungkin bisa kita bicarakan dulu. Sa, please... Aku bukan orang yang gampang sayang sama orang." Kata Kak Leon terdengar putus asa. "Gue masih kecil, Kak... Belum mikirin nikah, belum mikirin pacaran serius. Gue masih pengen main." kataku dengan suara tidak yakin. "Ya udah kalo gitu. Aku akan anggap kamu pacar main-main kalo kamu emang belum mau serius. Gak ada bantahan." kata Kak Leon dengan bibir melengkung ke atas. "Ih.. Mana ada pacar main-main. Itu namanya mempermainkan hubungan." protesku. "Sini ngadep aku. Listen Carissa... Aku bukan tipe cowok yang akan ngelepasin cewek yang aku suka. Sekali aku suka, maka akan aku dapetin." dengan percaya diri Kak Leon menggenggam tanganku dan berusaha meyakinkanku dengan caranya yang aneh. Paling tidak itu menurutku... "Besok kuliah udah mulai liburkan? Besok aku jemput jam sebelas. Aku ajak kamu ketemu sama cewek lainnya. Kamu harus kenal duniaku perlahan." kata Kak Leon sambil berjalan ke meja kerjanya. "Gak bisa. Besok gue mo ke cafe sekalian buat pamit sama temen-temen. Pulangnya mo traktir mereka untuk terakhir kalinya." kataku sambil mengambil ransel dan mulai melangkah ke arah pintu. "Bye Kak. Gue pamit." "Sa... No! Wait. Apaan sih kok main pergi aja? Jelasin dulu." Kak Leon kaget dengan kata-kata terakhirku. Aku melihat sekilas ekspresi terkejutnya. 'Ya Allah.. Kaget aja ganteng gitu...'  jiwa jomblowati ini meronta saudara... 'Gitu lo jual mahal. Cuma liat mukenye yang lagi kaget lo uda meronta. Muna lu' sisi setan dalam jiwaku protes rupanya. "Maksudnya gimana sih? Kamu mau kemana kok pake pamit segala?" tanya Kak Leon bertubi-tubi. "Gue mo resign dari cafe, Kak...Mama sama Papa gak ngijinin gue liburan di sini. Liburan artinya gue harus pulang. Jadi, gue mutusin buat resign dari cafe. Kan gak mungkin gue cuti sebulan dari cafe. Itu namanya egois kalau sampai gue cuti sebulan. Kemaren gue uda bilang sama Kak Bram mengenai ini. Jadinyalah besok adalah hari terakhir gue masuk kerja dan mau gue manfaatin sama anak-anak cafe." jelasku panjang lebar ke Kak Leon yang protes dengan keputusanku "Kok Bram gak ngomongin ini ke aku?" tanya Kak Leon masih penasaran. "Kalo itu gue gak tau. Yang pasti besok gue gak bisa nemenin lo buat ketemu cewek-cewek sekseh. Udah ya.. Ntar gue kemaleman." kataku acuh menjawab pertanyaan Kak Leon. "Aku antar, Sa." berlari Kak Leon menyusulku keluar dari ruangan menuju tempat parkir. "Sa? Carissa...." suara Kak Leon menggelegar di lorong kantor restauran. "Liat cewek yang datang sama saya gak?" tanya Kak Leon kepada seseorang yang aku yakini salah satu karyawannya. "Gak lihat, Pak." jawab si karyawan. Aku yang mendengar jawaban yang membuatku penasaran kenapa Kak Leon bisa sepanik itu. Hanya sampai di situ aku mengikuti suara Kak Leon karena aku bergegas menghadap Sang Pencipta. Setelah selesai mengadukan nasib ke Yang Maha Tau, aku segera merapikan peralatan tempurku untuk bergegas ke hotel. Sambil melangkahkan kaki meninggalkan mushola kecil ini, aku berfokus pada ponselku. Memesan ojek online menjadi fokusku untuk mengantarkan ke hotel. Namun sebelum aku membuka aplikasi, aku melihat banyak sekali telpon masuk yang tidak aku angkat. Kulihat nama yang tertera merupakan nama orang yang beberapa menit yang lalu merupakan orang yang menyatakan cinta padaku. "Mbak, tadi di cariin Pak Leon. Mbak tunggu di sini ya. Saya panggil Pak Leon dulu." tiba-tiba ada seorang karyawan restauran yang mengenaliku dan menahan langkahku. Hanya butuh waktu beberapa menit, Kak Leon sudah berjalan ke arahku dengan muka yang sulit aku jelaskan. Rambut yang tidak beraturan, wajah tegang, nafas tidak beraturan membuat otak mesuumku memuji ke- hot - an lelaki ini. 'Ya ampun... kotor deh ini otak. Jasa cuci otak dimana ya? Kayaknya otak gue udah terkontaminasi deh. Gila ya... Ni lakik bisa hot begini.' batinku. Tanpa babibu, Kak Leon menarik tanganku dan merengkuh tubuhku di dalam badan bidangnya. Kuhirup aroma memabukkan miliknya. Kenapa memabukkan? Karena aku sudah sangat mabuk menurutku. Aku tidak butuh alkohol-alkohol yang di jual diluaran sana. Aku hanya butuh sosok bidang di depanku ini yang sudah membuatku mabuk kepayang. Aku tidak merespon apapun. Kaget, tentu saja. Badanku menegang hingga Kak Leon melepaskan pelukannya. "Jangan ngilang kayak tadi lagi." katanya. Suara Kak Leon terdengar putus asa tapi ada kelegaan di sana. "Kak, lo berlebihan. Gue cuma solat." kataku bingung. "Just tell me. Kemanapun kamu mau pergi, bilang ya... Just tell me apapun dan kemanapun kamu pergi." katanya dengan lembut. "Kak, jangan gini dong. Gue masih pengen bebas. Gue masih mo pergi kemana aja gue mau. Gue belum mau terkekang sama aturan-aturan dalam berpacaran. Lagian gue gak mau pacaran. Ntar pas gue uda ngerasain hidup beneran, gue mau nikah aja. Gak pake pacaran." kataku sedikit "Ya udah nikah aja yuk. Aku akan berusaha gak mengekang kamu. Aku bawa keluarga aku ke rumah ya? Ketemu sama orang tua kamu." kata Kak Leon antusias. "Kakak!!! Gak gitu maksud aku. Eh gue maksudnya... Udah ah ntar Bang Marvin nungguin aku.. eh gue. Ist jadi ribetkan ini... Udah ah." kataku langsung angkat kaki dari hadapan cowok ganteng yang sebenarnya sudah mengisi hatiku. "Aku antar. Gak ada penolakan! Mulai hari ini, bilang kamu mau kemana. Gak boleh pake ojol atau kendaraan umum lainnya. Denger gak? Bilang kapan aja. Kalau aku gak bisa, ntar aku kirim orang buat antar kamu." Kak Leon memulai aturan pertamanya. Aku memutuskan untuk tidak membantah kali ini. Membantah pun percuma untuk saat ini sehingga kuputuskan untuk mendiamkan apa saja yang dikatakan Kak Leon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD