Lucky Me 15

1289 Words
"Kak, anternya ke hotel CG ya..." kataku memulai pembicaraan ketika kami telah sampai di mobil Kak Leon. "Kenapa?" tanya Kak Leon. "Aku nginep sana sebelum pulang." jawabku pendek. "Kenapa kok nginep di hotel, Carissa sayang?" tanya Kak Leon lebih lengkap dengan nada yang sangat lembut. "Pengen aja." jawabku asal. Tanpa bertanya lagi, mobil yang dikemudikan oleh Kak Leon meluncur ke arah hotel yang aku maksud. Butuh waktu tiga puluh lima menit untuk kami sampai di tempat tujuan. "Di drop aja di lobby, Kak." kataku ketika Kak Leon mengarahkan kemudinya ke tempat parkir hotel. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Kak Leon menuruti keinginanku. Aku langsung turun begitu mobil berhenti dengan sempurna sambil mengucapkan terimakasih karena telah rela mengantarkan aku ke hotel yang akan aku tempati bersama Bang Marvin. Kulangkahkan kakiku dengan ringan. Berharap apa yang terjadi hari ini hanyalah ilusi belaka. Hari ini terlalu banyak kejutagn yang aku dapatkan. Pikiran yang kusut membuatku ingin segera sampai dikamar dan langsung mengguyur badanku yang terasa lengket. **** Leon POV Baru kali ini ada wanita yang menolakku. Bukan ajakan berpacaran padahal. Aku mengajaknya untuk serius. Menikah !! Kalian tau apa jawabannya? Dia belum mau serius karena masih mau menikmati masa mudanya. Iya sih. Umurnya memang tergolong muda untuk menikah. Tapi bukan berarti dia bisa menolakku mentah-mentah. Aku seorang Pranaja. Leon Pranaja. Pengusaha muda sukses, ganteng, baik hati, tidak sombong.Tidak ada yang kurang dariku. Kalau kata orang jaman dahulu, bibit, bebet, bobot yang aku miliki sangat menjanjikan. Kualitas elite lah. Tapi apa? Semua itu tidak berpengaruh apa-apa dengan keputusan wanita yang aku suka. Carissa, seorang mahasiswi yang bekerja di cafe yang aku miliki. Seorang gadis yang tanpa aku komando bisa masuk ke dalam hatiku. Seorang gadis yang dengan seenaknya bisa mengganggu pikiranku jika aku tidak melihatnya sehari saja. Gadis yang dapat memporak-porandakan logikaku begitu aku melihatnya berdekatan dengan seorang pria. Itulah alasanku sering datang ke cafe tempat aku dan Bram memulai usaha kuliner. Semua kegiatan kantor jika bisa aku lakukan di cafe, maka akan aku lakukan di sana. Misalnya semua pertemuan dengan rekan bisnis. Aku akan meminta Mira, sekretarisku, untuk mengatur jadwal pertemuan di sana jika memungkinkan. Pengorbananku belum membuahkan hasil ketika tadi siang Carissa melihatku bersama salah satu teman wanita yang sering aku ajak pergi. Salah satu wanita yang sering aku ajak makan siang. Aku tidak menganggapnya kekasih. Hubungan kami hanya simbiosis mutualisme. Aku membutuhkan mereka untuk menemaniku ke acara-acara khusus ataupun hanya menemani makan siang. Dan mereka mendapatkan uangku. Aku akan membelikan barang-barang yang mereka mau dengan mudah. Namun ada beberapa dari mereka menganggap hubungan kami lebih dari itu. Kenapa aku bilang mereka? Karena ada beberapa wanita yang merasa menjadi kekasihku. Padahal aku tidak pernah menganggap mereka lebih dari teman. Teman yang akan menemaniku menghadiri acara-acara yang mengharuskan aku membawa pasangan. Penjelasan telah aku sampaikan pada Carissa mengenai wanita yang dia lihat tadi siang namun hasilnya nihil. Aku gagal meyakinkan wanita itu bahwa aku bukan p****************g. Aku gagal hanya karena seorang Carissa Hasya Putri. Aku yang biasa memenangkan tender-tender besar dan memiliki usaha dalam berbagai lini, harus menerima kenyataan bahwa gadis yang aku cintai tidak menerima penjelasan dariku. Tapi satu hal yang aku yakini bahwa Carissa sebenarnya memiliki perasaan yang sama denganku. Menurut analisaku, Carissa hanya takut berhubungan dengan seseorang. Setelah berbicara dengannya, aku memaksa mengantarkan wanitaku itu. Bukan Carissa namanya jika dia langsung menyetujui ajakan dariku. Dengan sedikit paksaan, aku berhasil membawanya masuk ke mobil dan mobilku mulai meninggalkan pelataran cafe. "Kak, anternya ke hotel CG ya..." pinta Carissa. Hal itu mengagetkanku tentu saja. Hotel CG merupakan salah satu hotel yang aku punya. Aku terkejut dengan permintaannya. Hotel tersebut hanyalah hotel bintang empat. Jarang wisatawan menginap di sana. Hotel tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh para perkerja dan pebisnis untuk menginap karena letaknya yang sangat dekat dengan pusat bisnis. Ketika aku menanyakan alasannya menginap di hotel, tentu saja dia enggan untuk menjelaskan. Sepertinya aku benar-benar harus berjuang untuk mendapatkannya. Tanpa mengatakan bahwa hotel tersebut merupakan salah satu hotel ku, aku mengantarkannya sampai di lobby hotel. Para pegawai di sana tentu saja terkejut dengan kedatanganku. Security yang berjaga di depan langsung hormat begitu Carissa membuka pintu. Aku segera memberikan kode untuk tidak memberikan kesan berlebih dalam menyambutku. Bersyukur kode yang aku berikan di terima dengan baik oleh pegawai hotel. Setelah Carissa menghilang dari pandanganku, aku bergegas menuju basemen. Aku disambut oleh Yansen yang merupakan penanggung jawab hotel sekaligus orang kepercayaanku dalam mengurus hotel ini. Ternyata kedatanganku langsung diinformasikan oleh pegawai depan kepadanya. "Tumben ke hotel? Biasanya saya yang disuruh ke kantor utama." tanya Yansen heran. "Saya butuh lihat CCTV sekitar lima menit yang lalu." kataku sambil berjalan dan diikuti oleh Yansen menuju ruanganku. "Gak perlu. Bapak mau tau kamar yang ditempati cewek yang Bapak antar tadikan?" katanya tepat sasaran. "Ih pinter banget sih manager hotel disini." kataku memuji Yansen. Tawa menggelegar seantero lift yang sedang membawa kami menuju ruangan kerjaku. "1505." katanya singkat begitu kami telah sampai di ruangan yang biasa aku pakai untuk mengecek keadaan hotel. "Booking atas nama Marvin  Bagaskara Putra tiga hari dua malam. Di laptop Bapak sudah ada rekaman cctv dan ID yang diperlukan." kata Yansen melanjutkan. "Sip. Tinggalin saya. Sekalian sama kerjaan yang harus saya kerjakan. Sambungkan cctv yang berhubungan dengan kamar 1505 ke komputer saya. Semua cctv yang bisa mengakses ke kamar 1505." perintahku. "Siap, Pak." Yansen mulai berjalan meninggalkan ruanganku. Aku berencana akan menginap dan memantau Carissa dari sini. 'Mom, aku nginep di hotel CG untuk melakukan pengecekan. Jangan tunggu aku pulang.' Pesan tersebut kukirimkan ke Mom agar dia tidak mencariku. Kuletakkan ponselku di meja dan memulai mencari data orang bernama Marvin. "Siapa lelaki ini? Carissa menginap hanya berdua dengannya." Menemui jalan buntu, segera ku raih benda pintarku dan mulai mencari nama seseorang yang dapat aku andalkan untuk menemukan informasi yang aku inginkan. "Son, tolong carikan keterangan mengenai seseorang. Saya akan kirim datanya setelah ini. Saya kasih waktu dua jam data itu uda harus ada di saya." kataku memberi perintah. Sony merupakan orang kepercayaan yang selalu aku andalkan untuk mencari data apa saja yang aku butuhkan. Tidak lama berselang, aku melihat ada pergerakan dari cctv yang sedari tadi aku pantau. Cctv yang mengarah ke kamar yang ditempati Carissa. Seorang lelaki yang aku yakini bernama Marvin membuka pintu kemudian masuk ke kamar tersebut. Darahku seakan mendidih karena melihat orang tersebut dapat membuka pintu kamar dengan mudah. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit ketika orang yang bernama Marvin masuk ke kamar. Tidak ada pergerakan lagi di cctv setelah itu. Aku berjalan mondar-mandir membayangkan wanitaku berada berdua, hanya berdua, dengan seorang laki-laki. Kalian pasti bisa membayangkan apa yang terjadi jika dua orang berbeda jenis kelamin berada di satu ruangan tertutup apalagi itu kamar hotel? Marah, kesal, kecewa bercampur menjadi satu. Waktu dua jam yang aku berikan kepada Sony berjalan begitu lambat. Sampai satu jam lebih Sony belum juga menghubungiku. Akhirnya kuputuskan untuk meminta kamar yang bersebelahan dengan kamar Carissa. Berharap agar aku dapat memantau kegiatan yang ada disebelah kamar tersebut. Aku tau itu tidak mungkin mendapatkan hasil seperti yang aku inginkan karena aku tahu dengan jelas kualitas ruangan yang ada di hotelku sendiri. "Sen, saya minta kamar disebelah 1505." kataku langsung begitu Yansen mengangkat panggilan dariku. "Sebentar saya cek, Pak." katanya dan Yansen langsung sigap mencari di data kamar apakah kamar yang disebelah 1505 kosong. "Maaf, Pak. Kedua kamar disebelah 1505 statusnya booked dan tamunya sudah masuk ke kamar." jelasnya padaku. "s**l!!" teriakku penuh emosi. Aku tidak bisa menahan emosiku yang sudah di puncak. Kepalaku tiba-tiba berdenyut membayangkan Carissa berada di bawah kuasa lelaki itu. Selang lima menit yang cukup menguras tenaga dan pikiranku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada nama Sony di sana. Segera aku menggeser tombol hijau yang tertera dilayar. "Ya, Son? Bagaimana?" tanyaku tanpa basa-basi. 'Datanya sudah saya kirim ke email, Pak.' kata Sony dari seberang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD