Leon POV
'Datanya sudah saya kirim ke email, Pak.' kata Sony dari seberang.
"Baik. Terimakasih banyak, Son." jawabku. Aku segera membuka email yang berasal dari Sony. k****a dengan teliti apa yang ada di layar. Seketika hatiku lega mendapati kenyataan yang tidak seburuk yang aku bayangkan. Carissaku memang bukan wanita seperti itu.
"Marvin Bagaskara Putra ternyata kakak Carissa. Ya Allah... Aku udah curiga aja. Kenapa sih bisa ribet gini kalau lagi jatuh cinta?" aku bermonolog. "Untung belum ngelakuin hal bodoh ala pejuang cinta. Kalau udah, Carissa bisa lepas tak tergapai nih..." sambungku.
****
Carissa POV
Sampai di kamar seperti yang tertera pada nomor kunci yang aku pegang, aku langsung bergegas menuju kamar mandi setelah meletakkan tas yang berisi barang seadanya. Berendam di air hangat membuat pikiranku berkelana pada kejadian sepanjang hari ini. Banyak sekali kejutan yang aku dapatkan.
Kalau dipikir-pikir, apa sih yang dilihat seorang Leon Rifiansyah Pranaja dari diriku? Cantik, standar. Baik, standar. Kaya, pastinya tidak jika dibanding dengan kekayaan Pranaja. Pinter juga standar. Badan? Apalagi... Aku tidak memiliki badan bak model yang langsing dan tinggi.
Mungkin kelebihan yang kumiliki adalah rambut panjang hitam pekat yang lurus sampai ke pinggang. Kadang aku ingin mewarnai rambutku yang berwarna seperti wanita Indonesia pada umumnya. Namun hal itu selalu aku urungkan karena Nancy biasanya akan ngomel sepanjang hari jika ide itu aku utarakan.
Satu jam aku habiskan di dalam air hangat di kamar mandi mewah ini. Tidak banyak yang aku lakukan. Hanya melamun dan juga bertukar pesan dengan Nancy. Ya.. Hanya Nancy yang dapat menghiburku. Walaupun aku belum mengatakan kejadian yang menimpaku hari ini setelah dia meninggalkanku di kos.
Seperti biasa dia akan dengan sabar memberikan ruang untukku dan pasti setelah itu aku akan bercerita semuanya padanya. Dia sudah tau itu. Kebiasaanku jika aku sedang memiliki beban pikiran yang berlebih seperti saat ini.
Selesai berendam, aku berencana keluar dari hotel untuk mencari makanan namun hal itu urung aku lakukan karena ternyata Bang Marvin telah membelikan makanan untukku. "Menghabiskan waktu menunggu Bang Marvin dengan nonton film aja deh daripada bengong." kataku bermonolog sambil mengambil remote tv yang berada di nakas sebelah tempat tidur.
Tepat jam sembilan lebih sepuluh menit, Bang Marvin tiba di hotel. Kami menghabiskan makan malam yang menurutku kemalaman ini sambil bertukar kabar. Sudah beberapa bulan ini kami tidak berkomunikasi. Bang Marvin bukan tipe orang yang akan dengan senang hati memulai percakapan dengan orang. Pasif. Ya. Bang Marvin orang yang pasif. Kata Mama, sifatnya yang membuat sampai sekarang seorang Marvin masih betah sendiri. Mungkin memang Bang Marvin membutuhkan sosok seperti Nancy yang tidak tahu malu dan memiliki inisiatif lebih. Ingatkan aku untuk mulai menjadi mak comblang bagi mereka. Nancy pasti senang ketika tahu aku merestui mereka jika mereka memang berjodoh.
Bukan analisa sembarangan jika seorang ibu telah mengatakan hal itu. Karena dari segi fisik, Bang Marvin tidak jelek. Tubuh jangkung dengan mata tajam merupakan pesona dari saudara kandungku itu. Penampilannya yang selalu memakai kaos dan celana jeans membuat dia seperti orang yang baru lulus kuliah. Kami sering di kira sepasang kekasih jika orang tidak mengetahui bahwa Bang Marvin merupakan saudara kandungku.
"Bang, menurut abang Nancy oke gak?" kataku memulai misi tak terencana ini.
"Oke. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" dia heran dengan pertanyaanku yang memang tidak biasa ini. "Jangan bilang kamu mau jodohin abang sama teman kamu." tebaknya.
"Bingo! Adek kasian liat abang masih jomblo sampai sekarang. Gih nikah. Mama minta cucu terus itu. Padahalkan adek masih kuliah." tuturku dengan manja.
"Abang punya pacar kok, dek. Besok abang kenalin. Tapi jangan bilang papa sama mama dulu ya. Abang pengen benar-benar yakin dulu sama hubungan ini baru nanti abang minta lamarin anak orang." nada suara yang santai dan tenang membuatku geregetan.
Ya, tentu saja aku geregetan. Bukannya bilang dari kemarin-kemarin kalau dia sudah punya pasangan. Tau gitukan Mama tidak begitu heboh menjodohkan dia dengan semua gadis yang ditemui. Ingat ya, semua gadis.
Mama semangat sekali dalam menjodohkan Bang Marvin dengan semua kenalannya yang masih single dan berumur tidak jauh dari saudaraku itu.
"Ya ampun Bang... Kenapa gak ngomong sih? Kasian mama yang selalu ngenalin cewek-cewek single ke abang. Selalu maksa abang buat jemput dia ke arisan cuma buat abang itu kenal sama cewek-cewek itu dan ternyata abang uda punya calon. Tapi bukan Nancykan? Dia sahabatku dan bakalan aneh kalau tiba-tiba dia jadi kakak ipar." kataku panjang lebar.
"Iya sih. Abang juga kasian sama mama tapi hubungan abang sama cewek ini belum terlalu kuat. Ada sedikit lagi masalah yang harus kami selesaikan baru setelah itu abang bisa bawa dia ke mama sama papa. Dan satu lagi. Kecurigaan adeknya abang yang cantik ini tidak beralasan." Bang Marvin sambil mengusap rambutku kemudian menjelaskan lebih detail.
"Abang gak terlalu kenal sama teman kamu itu. Hubungan kami hanya sebatas abang saudara kamu dan dia temannya kamu. That's it! Jadi dia gak mungkin jadi calon kakak ipar kamu. Kenapa sih kok tiba-tiba bahas ini? Biasanya adek gak mau bahas masalah gini. Kata adek dulu ini urusan abang, jadi terserah abang aja." Bang Marvin penasaran dengan alasan apa yang membuatku membahas masalah ini.
Iya memang benar. Aku tidak mau mencampuri urusan hidup Bang Marvin. Bukan karena aku tidak perduli, tapi lebih ke menghargai setiap keputusan yang Bang Marvin buat. Aku percaya apapun yang dia putuskan, pasti itu sudah dipikiran dengan matang. Bang Marvin bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan.
"Ditanya malah ngelamun. Mikirin apa sih, dek? Mau berbagi sama Abang gak?" Bang Marvin menepuk pahaku untuk mengembalikanku ke alam nyata.
"Kemarin ada yang ngajak adek nikah." akhirnya kubuka cerita ini dengan kalimat yang sedikit ekstrim kalau menurutku. "Jangan dipotong. Abang dengerin dulu." protesku ketika Bang Marvin sudah membuka mulutnya untuk menyampaikan pendapatnya.
"Oke... Lanjut." katanya akhirnya.
"Namanya Leon, Bang. Dia salah satu pemilik cafe tempat adek kerja. Memang beberapa bulan ini adek sering jalan sama dia. Rasa itu sudah ada seiring berjalannya waktu. Tapi, siang tadi, pas di cafe yang abang datang itu... Adek lihat dia sama cewek. Adek berpikir itu ceweknya dan selama ini adek hanya dianggap teman nongkrong. Tadi adek liat mereka terlibat pertengkaran karena si cewek lagi nangis. Nah, pas lagi membujuk cewek itu, Kak Leon lihat adek dan langsung mau jelasin, tapi adek gak mau. Dia minta waktu buat jelasin. Akhirnya adek kasi waktu dia buat jelasin sore tadi. Intinya, dia cerita kalau punya banyak teman wanita tapi itu benar-benar hanya teman. Dia sayangnya sama adek dan pengen nikah biar pacarannya setelah nikah aja." selama cerita, aku tidak berani melihat kearah Bang Marvin. Tatapanku lurus ke depan.
Aku tidak tau bagaimana reaksi Bang Marvin karena takut untuk menoleh ke arahnya.
"Hmm... Menurut abang sih kamu jangan ambil keputusan apapun. Ikuti aja alurnya. Ntar adek bisa ngerasain tulus atau gak orang ini sama adek." akhirnya Bang Marvin menanggapi.
"Jangan terburu-buru. Apalagi ini pengalaman pertama buat adek di lamar orangkan? Abang yakin kalau di tembak orang adek uda sering. tapi kalau di lamar pasti baru ini. Ternyata adeknya abang uda besar. Uda mau jadi emak-emak." tawanya diakhir kalimat.
"Ist... malah ngeledin adek sendiri."