Tidurku tidak begitu nyenyak. Walaupun beralaskan kasur empuk khas hotel mewah, namun rasanya seperti tidur di tempat tidur kelas bawah. Pikiranku masih berputar pada semua yang terjadi kemarin.
Pagi ini, aku bangun dengan kondisi badan yang lumayan sakit. Kulihat Bang Marvin sudah selesai melaksanakan solat subuh. "Dek, hari ini abang pulang malam. Kamu makan malam sendiri ya... Karena sepertinya akan lebih malam dari kemarin." kata Bang Marvin disela-sela kegiatan melipat sarungnya.
"Oke. Hari ini adek mau ke cafe dulu pamit sama teman-teman trus lanjut makan malam bareng mereka karena kemaren adek janji buat farewell party." kataku sambil mengenakan mukena.
Tepat jam tujuh pagi, Bang Marvin mengajakku untuk sarapan. Jam setengah delapan dia harus pamit karena akan dijemput oleh rekannya. Sementara aku masih akan tinggal di hotel dan akan menuju cafe pukul sembilan karena cafe baru akan buka di jam sepuluh.
Setelah urusan perut beres, aku bergegas kembali ke kamar. Menikmati kasur empuk yang kurang dapat aku nikmati tadi malam.
ddrrrrttttt...
Ponselku bergetar dan menampilkan pesan yang baru saja dikirim oleh orang yang sedang aku pikirkan.
'Kamu ke cafe jam berapa, Sa?' sebuah pesan dikirimkan Kak Leon kepadaku.
'Bentar lagi, Kak.' balasku secara singkat.
'Aku jemput satu jam lagi.Siap-siap gih.' balas Kak Leon lagi.
'Gak usah, Kak. Aku bisa naik ojol. Kan gak gitu jauh juga dari hotel.' tolak ku.
Setelah itu tidak ada balasan dari Kak Leon. Pesanku yang terakhir hanya dibaca oleh pria pujaan ku itu.
"Duh Kak... Kalo aku langsung berubah pikiran gitu boleh gak sih? Terkesan murahan gak? Tapi kayaknya harus di tahan dulu deh. Biar tau sejauh apa Kak Leon serius sama aku. Ok... Baiklah. Kita tarik ulur aja... Jadi aku tau seberapa kuat perjuangannya." kataku langsung mengambil keputusan.
Persiapan untuk berangkat ke cafe aku percepat. Setelah mengambil keputusan langkah apa yang harus aku ambil mengenai Kak Leon, aku bergegas ke kamar mandi. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untukku berada di kamar mandi. Selanjutnya aku memoles wajahku dengan riasan tipis agar tidak terlalu kusam. Aku memilih dress putih selutut untuk aku kenakan hari ini. Bukan apa-apa. Dress tidak memakan tempat banyak jika aku menaruhnya di ranselku.
Sampai di lobby, aku baru memutuskan untuk memesan ojek online. Kenapa tidak dari kamar? Karena aku tidak mau membuat tukang ojek menunggu terlalu lama. Aku sangat menghargai waktu mereka yang berharga. Selagi fokus mencari promo yang tersedia, aku mendengar seseorang menyapaku.
"Uda siap?" suara seksi yang jujur sangat aku rindukan.
"Kak Leon? Kok di sini? Kan uda aku bilang gak usah repot-repot." kataku sedikit terkejut dengan penampilan yang santai. Kaos putih berkerah yang pas di badannya yang kekar dan celana jeans sobek bagian lutut plus sneaker yang kece badai membuat penampilannya sangat keren.
"Aku gak repot dan aku uda bilang kalau kamu dilarang pake ojek mulai kemarin. Kenapa ngeyel sih, Sa..." katanya gemes sambil menggenggam tanganku untuk masuk kembali ke dalam hotel.
Aku terpaku. Yang bisa aku lakukan hanya menuruti kemana dia membawaku. Aliran listrik yang sedang menjalar di seluruh tubuhku membuat aku. 'Keren banget sih calon suami gue...' batinku meronta.
"Kak, dilihatin orang. Mobil lo dimana sih? Gue malu." kataku berbisik padanya.
"Temenin aku sarapan dulu ya.. Habis itu nemuin cewek yang aku bilang kemarin. Setelah itu kita kencan. Nanti agak sore baru ke cafe. Kamu mau perpisahan sama anak-anak cafekan?" senyumnya yang merekah menambah kemanisan Kak Leon.
"Kak, aku gak enak sama Kak Bram. Kemaren aku bilang mau bantuin dulu hari ini. Secarakan belum ada yang gantiin posisiku di cafe." kataku padanya.
"Bram gak usa dipikirin. Dia lagi seneng-senengnya di cafe." kata Kak Leon yang tetap keukeuh untuk membawaku kabur dari kewajiban di cafe.
"Terserah deh. Capek debat sama bos besar." kataku pada akhirnya.
Kami berjalan kembali ke dalam hotel masih dengan gandengan tangan. Kak Leon benar-benar tidak bisa dibantah. Genggaman tangannya yang kokoh membuat aku yakin bahwa Kak Leon adalah sosok pria yang memiliki kepribadian kuat dan juga pelindung.
Sampai di meja yang dia tuju, kami langsung disambut oleh pelayan yang telah menyiapkan menu sarapan. Tentu saja aku bingung. Sepertinya tadi aku tidak di perlakukan seistimewa ini karena sistem sarapan di hotel ini merupakan sistem prasmanan.
"Gak ambil sendiri?" tanyaku dengan alis yang menyatu karena heran.
"Mereka udah tau apa sarapan favoritku. Jadi mereka aja yang menyiapkan." kata Kak Leon padaku. "Oh ya, saya minta cheese cake satu. Terimakasih." minta Kak Leon pada sang pelayan.
"Jangan-jangan hotel ini punya Pranaja Group?" kataku penuh curiga.
Pertanyaanku terjeda oleh pelayan yang menanyakan pesanan untukku. "Maaf, ibu pesan apa?"
"Gak usah Mbak. Terimakasih." ujar ku pada sang pelayan. Moodku benar-benar jatuh ke dasar ketika sang pelayan memanggilku dengan sebutan ibu.
"Emang aku setua itu ya?" kataku berbisik. Aku meyakini tidak ada seorang pun yang akan mendengar kalimatku tadi. Namun aku salah, pemirsah.
Kak Leon dengan suara tawanya yang lepas membuat bibirku bertambah maju. "Puas banget. Ini gara-gara aku jalannya sama om-om deh kayaknya. Jadi ketularan tua." kataku.
"Maaf, sayang. Mereka cuma menghormati kamu yang datang sama aku." kata Kak Leon di sela tawanya.
"Hotel ini bagian dari Pranaja Group?" aku mengulang pertanyaan sebelum pelayan datang.
"Yap. Ini salah satu hotel bintang empat Pranaja Group. Kamu beneran gak makan?"
"Gak. Tadi uda makan sama Bang Marvin." jawabku ketus.
"Jangan ngambek gitu dong." Tepat setelah itu. pelayan membawakan cake yang diminta oleh Kak Leon.
"Di cemilin, Sa.... Gak enak kalau kamu cuma liatin aku makan." Kak Leon menyodorkan piring cake tersebut ke arahku.
Dengan gelengan kepala aku menolak pemberiannya. "Ntar aku tambah gendut, Kak... Kakak gak lihat aku uda gendut gini? Semenjak kerja di cafe, aku udah naik dua kilo loh." kataku beralasan.
"Gendut bagian mananya? Lagian gak papa kalau gendut. Enak buat dipeluk. Dijadiin guling juga asik kayaknya." goda Kak Leon padaku.
"Ist... Sok mau. Ntar kalau aku gendut, dibuang deh." kataku.
"Aku sayang kamu gimana pun bentuk kamu nanti. Percaya deh sama aku." katanya ngegombal.
"Mulai deh jurus-jurus gombalan keluar..." kataku.
Bukannya marah, Kak Leon sepertinya senang sekali karena berhasil menggodaku.
Tepat pukul sepuluh kami sampai di sebuah mall untuk bertemu wanita yang di ceritakan Kak Leon. Kak Leon benar-benar merealisasikan rencananya untuk memperkenalkanku dengan wanita tersebut.
"Kita ke salon dulu ya." ajak Kak Leon begitu kami menginjakkan kaki di dalam mall. Segera dia meraih tanganku untuk di genggam.
"Kenapa kok harus ke salon? Kakak gak suka ya penampilanku sekarang?" protesku. "Kalau Kakak malu, mending urungkan aja niat Kakak. Toh aku juga udah nolakkan dari kemaren?"
Jujur aku tersinggung dengan ajakannya ke salon. Memang aku tidak begitu bisa berdandan. Bajuku juga bukan baju bermerk mahal. Sepatu apa lagi? Sekarang aku hanya memakai flat shoes yang murah khas anak kuliah yang merantau.
"Sa, jangan salah paham. Aku gak mau kamu punya pikiran kayak gitu. Aku suka kamu apa adanya kamu. Kamu cukup cantik di mataku. Aku cuma mau kamu lebih fresh biar kamu gak malu. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak pede jalan sama aku karena kamu ngerasa gak pantes. Jauhin pikiran itu. Kalau kamu gak mau, ya udah kita jalan dulu aja sambil nunggu waktu karena aku janjiannya jam sebelas." jelas Kak Leon panjang lebar.
"Hahhhh... Ya udah gak papa. Maaf kalau aku neting sama Kakak." kataku dengan berat hati.
"Jadi, kamu maunya gimana?" tanya Kak Leon dengan sabarnya.
"Ke salon." jawabku singkat sambil menampilkan gigiku yang rapi.
"Yuk. Apapun yang kamu mau." kata Kak Leon melanjutkan langkahnya tak lupa sambil menggenggam tanganku.
"Aku tunggu di sini ya." katanya kemudian duduk di ruang tunggu.
Butuh empat puluh lima menit untukku melakukan perawatan rambut. Kulihat Kak Leon yang sedang asik dengan ponselnya di pojok ruang tunggu bersama seorang lelaki. Sebelum menemui Kak Leon, aku segera membayar jasa salon.
"Carissa?" langkahku terhenti oleh panggilan seseorang yang sepertinya sangat mengenalku. Ku putar leherku untuk melihat siapa si empunya suara.
"Loh, Ka? Hai... Sama siapa?" sapaku ramah.
"Kamu cantik banget dandan gitu." bukannya menjawab pertanyaan ku, Raka malah memuji penampilanku saat ini.
"Gue sama nyokap. Tadi nyokap minta jemput di salon langganannya."
"Seru banget ngobrolnya?"
*****
Suara siapa itu?? Next part aja ya... See you....