"Seru banget ngobrolnya?" tiba-tiba suara Kak Leon menjeda percakapanku dan Raka. Kulihat mukanya yang tidak bersahabat membuat bulu kudukku berdiri.
"Loh, Kakak uda ngobrolnya?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian Kak Leon.
"Gak pengen ngenalin temen kamu?" tanya Kak Leon tetap fokus pada sosok ganteng di depanku.
"Gue Raka, temen kuliah Carissa. Dan gue tau kok siapa lo, Kak. Lo salah satu pemilik cafe corner sekaligus pengusaha muda terkenal Leon Rifiansyah Pranaja. Salam kenal, Kak. Gue salah satu penggemar lo." akhirnya Raka menyodorkan tangannya ke Kak Leon untuk memperkenalkan diri.
"Kak, Sa.. Gue duluan ya.. Nyokap uda selesai." Kata Raka padaku dan Kak Leon. "Selamat liburan ya Sa... Oleh-oleh jangan lupa." kata Raka pamit dari salon.
Setelah itu, petugas salon datang untuk menyerahkan kartuku.
"Kok kamu bayar sendiri? Harusnya aku yang bayar." protes Kak Leon.
"Lah. Napa? Yang nyalon siapa...?" tanyaku heran.
"Kamu itu ya... Kan tadi aku yang ngajak kamu ke salon. Kenapa jadi kamu bayar sendiri? Kamu gak boleh ngeluarin uang seperak pun kalau lagi jalan sama aku. Berapa nomor rekening kamu? Aku ganti." kata Kak Leon tidak terima jika aku harus mengeluarkan uang jika pergi dengannya.
"Gak usah, Kak... Lagian emang gue uda lama gak manjain diri kayak gini. Gak murah sih untuk ukuran mahasiswi kayak gue... Secara salon yang lo pilih juga bukan salon sembarangan... tapi gue menikmatinya. Walaupun kayaknya kalo mo nyalon lagi mending di salon langganan gue aja..." cengiran menyertai penolakanku ketika Kak Leon ingin mengganti uang yang sudah aku keluarkan untuk perawatan tadi.
"Kita sekarang kemana?" kataku mengalihkan pembicaraan ketika melihat Kak Leon akan membuka mulutnya untuk melemparkan protesan.
"Aku janjian sama orang itu cafe di lantai dasar. Yuk ke sana." ajak kak Leon. Kami kemudian menuju cafe yang di maksud.
Sampai di cafe yang dituju, kami memesan minuman dan camilan yang mengundang selera. Aku memutuskan tidak memesan makanan yang berat karena camilan disini sangat menggiurkan.
"Kok gak makan berat, Sa? Ntar kamu lapar?" tanya Kak Leon.
"Gue mau jajan aja seharian. Pengen puas-puasin beli jajan sebelum pulang." kataku melakukan pembelaan.
"Emang kamu pulang berapa lama? Kok seakan-akan selamanya gitu?" tanya Kak Leon penuh dengan selidik.
"Sebulan sih rencananya... Tapi gak tau juga. Kalau kampus butuh, ya gue harus datang. Kalau nyokap masih kangen ya bisa lebih lama."
"Sebulan lebih? Gak bisa seminggu aja ya?" Kak Leon berusaha melakukan penawaran.
"Ya gak bisalah. Sayang tiket di beli mahal-mahal tapi gue pulangnya cuma seminggu." kataku cuek.
Kulihat Kak Leon berpikir. Aku tidak mengetahui apa yang ada di otak cerdasnya. Diam dan menikmati cafe yang nyaman menjadi pilihanku sampai suara wanita menjeda. Aku bukan anak milenial yang gadget addict. Aku lebih memilih menikmati keadaan sekitar dari pada harus menjelajah dunia maya.
"Hai beb..." tiba-tiba seorang wanita cantik menghampiri meja kami. Dengan semangat dia berjalan dan langsung melayangkan bibirnya yang seksi ke pipi Kak Leon. Buru-buru ku palingkan muka agar tidak melihat pemandangan tak senonoh di depan mata.
Hatiku berontak melihat Kak Leon dengan fasihnya melakukan kontak fisik yang berlebihan kepada wanita lain. "Dasar playboy" gumamku.
"Hai, Le... Kangen banget loh... Kamu sibuk terus kalau aku ajakin jalan." kata wanita itu manja.
"Loh, ada adik kamu?" kata wanita itu begitu menyadari kehadiranku. "Maaf ya... Namanya siapa? Aku Aira." katanya sok akrab sambil menyodorkan tangannya padaku.
Senyum Kak Leon merekah tatkala dia melihatku cemberut. "Kenalin ini Carissa, Ra... Sa, kenalin ini Aira." kata Kak Leon memperkenalkan kami. Mau tidak mau aku yang sedari tadi duduk, kini berdiri berhadapan dengan wanita bernama Aira.
"Saya Carissa, Kak! Salam kenal." kataku menekan kata Kak sambil menatap Kak Leon.
Bukannya takut, Kak Leon malah tertawa keras. Dia meledekku habis-habisan. 'Awas aja ntar.' batinku.
"Carissa ini calon istri gue, Ra." kata Kak Leon setelah selesai tertawa. Diraihnya pinggangku untuk mendekat kepadanya. "Duduk dulu yuk." dengan sopan Kak Leon mempersilahkan wanita bernama Aira itu untuk duduk.
"Hah? Maksudnya gimana?" tanya Aira bingung.
"Yah, gue mo kenalin Carissa ke elo. Secara lo kan sahabat gue. Lo suka bantu gue kalau gue butuh bantuan. Jadi gue mo ngenalin ke elo calon istri gue."
"Sa, Aira ini sering bantuin aku dalam berbagai hal. Orangnya baik banget." Kak Leon menjelaskan padaku.
"Selama ini lo nganggap aku cuma sahabat, Le? Yang bener aja...." kata Aira yang sudah terlihat emosi.
"Kita emang sahabat kan, Ra? Lo banyak banget bantuin gue." Kata Kak Leon sok polos.
"Aku kira kamu sayang aku, Le." bulir air mata telah membasahi kedua pipi wanita bernama Aira.
"Ra, gue minta maaf kalau selama ini lo salah paham dengan perlakuan gue ke elo. Tapi jujur semua itu gue lakuin karena kita teman... sahabat..." kata Kak Leon.
"Kurangnya aku apa, Le? Dibandingkan cewek di sebelah kamu... Aku lebih dari segalanya. Kamu suka yang seperti itu dibandingkan aku yang sexi gini?" katanya di sela isak tangis sambil melirik sinis padaku.
"Ya ini selera sih, Ra. Gue lebih suka Carissa yang apa adanya. Dan gue ngerasa cocok sama dia." Kak Leon menggenggam tanganku seakan memberikan kekuatan agar aku tidak merasa rendah diri.
"Aku masih mau berusaha, Le... Aku gak mau kalah sama anak ingusan." setelah mengatakan itu, Aira pergi meninggalkan kami.
Aku hanya terpaku dengan kejadian yang ada. Seorang wanita elegan yang akan berjuang untuk mendapatkan cintanya.
"Kak, lo gak mau mempertimbangkan dia?" kataku polos.
Tidak lama setelah aku melontarkan kata-kata itu, sentilan di kening aku dapatkan.
"Kamu tuh gak ada niat berjuang ya?" Kak Leon dengan gemas bertanya padaku. "Aku itu pantas diperjuangkan loh, Sa. Banyak cewek yang antri buat jadi pacar aku. Nah kamu, aku angkat jadi calon istri bukannya bangga dan mempertahankan aku, malah nyuruh aku buat mempertimbangkan cewek lain..."
Aku tidak tau harus berkata apa. Jujur rasa itu sudah ada sebelum Kak Leon mengungkapkan rasa cintanya, namun aku terlalu takut jika semua ini hanya ilusi. Seorang yang sangat sukses bisa suka sama aku yang hanya anak kuliahan. Aku meragu.
"Aku belum yakin dengan rasa itu, Kak. Siapa aku yang hanya mahasiswi dari daerah disukai oleh seorang Leon Pranaja? Lihat aja di sekeliling Kakak. Banyak banget cewek cantik yang siap buat di nikahi. Bisa ngasi apapun yang Kakak mau. Mau nikah sekarang aja pasti akan di iyain sama mereka. Kenapa Kakak lebih milih mahasiswi yang kerja sambilan sebagai pelayan cafe dari pada wanita-wanita berkelas seperti Kak Aira tadi?" semua aku keluarkan pada akhirnya.
Pikiran-pikiran yang membuat aku belum menerima pernyataan cinta Kak Leon. Keraguan yang sedari kemarin terus menggangguku.