"Huft..." suara nafas Kak Leon menyadarkanku dari lamunan beberapa detik.
"Ternyata di kepala kamu yang kecil ini, banyak banget ya isinya?" katanya sambil memegang kepalaku gemas.
"Look, Sa... Aku gak suka sama mereka. Yang aku suka itu kamu. Kenapa kamu mikirnya seribet itu? Yang perlu kamu pikirin, aku suka kamu seperti ini. Gak ada yang perlu diubah. Perubahan itu akan datang sendirinya mengikuti keadaan yang ada. Jangan kamu paksa diri kamu buat seperti mereka. Karena aku sukanya kamu, so jadilah diri kamu sendiri. Carissa yang aku kenal beberapa bulan ini. Carissa yang udah buat hidupku berubah. Aku gak nuntut kamu untuk suka sama aku sekarang karena aku akan berjuang untuk dapetin rasa suka kamu dengan caraku." Kak Leon mencoba meyakinkanku bahwa perasaannya tulus tanpa unsur apapun.
"Emang kakak berubah?" tanyaku penasaran.
"Aku berubah. Berubah menjadi lebih baik. Contohnya aku sudah mulai taat untuk solat karena aku lihat kamu selalu menjalankan solat tepat waktu. Aku malu dengan diriku. Aku dapat banyak rejeki tapi aku gak mau mengenal siapa pemberi rejeki itu. Itu hanya salah satunya. Ada banyak perubahan yang tidak kamu sadari tentang aku. So, jangan menganggap diri kamu gak berguna dan gak berharga karena kamu lebih berguna dan berharga dari yang kamu kira."
Kata-kata Kak Leon tadi terjeda dengan dering ponselku. Bang Marvin mengabarkan jadwal kepulangan kami. Pesawat paling akhir menjadi pilihannya untuk kepulangan kami besok karena dia masih ada sedikit keperluan yang belum selesai.
"Besok masih ada waktu buat kencan dong berarti." suara Kak Leon mulai kembali seperti biasa, ceria sekaligus menenangkan. Khas Kak Leon ketika berbicara denganku. Dia mendengarkan percakapanku dengan Bang Marvin ternyata.
Aku suka cara dia memperlakukanku. Aku suka cara dia berbicara padaku. Tapi hati ini masih meragu. Orang sesempurna Kak Leon bisa jatuh cinta pada orang biasa sepertiku. Kalau beneran, how lucky i am.
"Ih, nguping." kataku sewot.
"Yuk, sekarang ikut aku yuk. Aku ada kerjaan dikit di kantor. Hari ini seharian kita harus bareng-bareng. Besok juga. Besok aku anter kamu ke bandara." katanya sambil menarik tanganku untuk bangkit dari kursi nyaman di cafe.
"Ngapaian ke kantor? Gak mau!! Takut..." kataku panik. Aku panik! Beneran panik! Apa kata karyawan Kak Leon jika lihat bos mereka menggandeng seorang gadis ingusan? "Gak mau... Aku takut, Kak..." kataku berusaha menghentikan langkah Kak Leon untuk keluar dari mall menuju tempat parkir dengan rengekkanku.
"Gak ada yang perlu ditakutin. Kamu cuma harus jalan di sebelahku dan genggam tanganku kalau gak mau ilang." kata Kak Leon menenangkan.
Kupukul lengan kekarnya. "Apaan pake genggam? Kesempatan ya?" selidikku.
"Jeli juga kamu sama kata-kataku." kalimat itu menjadi kalimat terakhir Kak Leon sebelum kami memasuki mobil mewahnya.
"Modus!!" kataku sebel.
"Hahahahaha. Lucu banget sih calon istri aku." kata Kak Leon sambil menjawil daguku.
Butuh waktu satu jam untuk sampai di kantor Kak Leon. Dan selama satu jam pula aku gunakan untuk membujuknya agar aku tidak harus masuk ke kantor itu. Mulai dari mengantarku ke hotel, ke kos, ke halte bis terdekat, sampai opsi untuk tinggal di mobil selama pekerjaannya harus diselesaikan. Namun semua itu hanyalah kata-kata. Kak Leon tidak mengiyakan semua ide yang aku lontarkan.
Sampai akhirnya mobil berhenti di lobby gedung yang menjulang tinggi. Aku perkirakan ada lebih dari dua puluh lantai yang dimiliki gedung ini. "Yang didalam sini pegawai Kakak semua?" tanyaku dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Jangan takut gitu. Mereka gak gigit orang. Yang perlu kamu lakukan hanya menggenggam tanganku dan berjalan dengan kepala tegak. Yok bisa yok." Kak Leon memberikan motifasi kepadaku agar aku tidak takut mengahadapi kenyataan yang sebentar lagi aku hadapi.
Ku hirup udara dengan rakus agar detak jantungku berdetak normal. "Bismillah." hanya itu yang terucap dari bibirku kemudian Kak Leon mulai melangkahkan kakinya sambil tidak lupa menggenggam tanganku.
Bagai anak yang kehilangan induknya, aku panik. Ada banyak orang yang melihat kami. Terlebih ini menunjukkan waktu istirahat bagi para karyawan.
Setiap berpapasan dengan karyawan yang akan memanfaatkan waktu istirahat mereka, sapaan seperti, 'Selamat siang, pak, bu.' terdengar. Risih tentu saja. Aku bukan orang yang suka menjadi pusat perhatian dan apa kata mereka? Ibu? Oh yang benar saja? Usiaku masih sembilan belas tahun you know?
Tapi apa mau di kata? Inilah resiko jalan dengan bos besar seperti Kak Leon. Jarak dari pintu masuk menuju lift terasa begitu lama ketika kita dihadapkan pada posisi yang tidak mengenakkan.
Sampai di depan lift, aku melihat sesosok yang sangat aku kenal. "Loh, abang?" sapaku pada sosok tersebut.
"Adek ngapaian disini?" tanya Bang Marvin heran.
"Dipaksa ikut ke sini...." kataku manja sambil memeluk Bang Marvin. Dengan sayang, Bang Marvin balas memeluk dan mengusap rambutku.
"Le, ini Pak Marvin cs yang akan meeting sama kita." kata seseorang tiba-tiba.
"Leon." dengan ramah Kak Leon memperkenalkan diri kepada Bang Marvin dan teman-temannya.
"Jadi aku harus manggil pak atau adek ipar nih?" kata Bang Marvin menyambut tangan Kak Leon sambil tersenyum jahil.
Tawa Kak Leon langsung menyambut pertanyaan Bang Marvin. "Jail juga abang ipar aku." katanya disela tawanya.
Ting... Pintu lift terbuka. Semua yang ada di depan lift bergerak masuk.
"Dika, tamunya diantar ke ruang meeting ya... Saya mau ke ruangan dulu." kata Kak Leon ke seorang karyawannya.
"Baik, Pak." jawab Dika dengan sigap.
Sumpah demi apa kalau Kak Leon benar-benar punya kharisma seorang pemimpin. Ketika pintu lift terbuka di lantai 8, Kak Leon berpamitan kepada Bang Marvin CS untuk ke ruangannya sebentar sebelum menuju ke ruang meeting.
"Saya ke ruangan sebentar ya. Nanti kita ketemu di ruang meeting." katanya kepada Bang Marvin cs.
Aku berpamitan kepada Bang Marvin untuk mengikuti Kak Leon ke ruangannya. Hanya dengan anggukan kepala, Bang Marvin meresponku. Itu sudah cukup bagiku untuk melangkah keluar lift tanpa ragu.
Kak Leon kembali menggenggam tanganku posesif. Keluar dari lift aku mendapati nuansa yang berbeda dari kantor pada umumnya. Tempat ini terlalu santai untuk ukuran kantor.
Di isi tidak terlalu banyak orang membuat pergerakan sedikit saja akan sangat mendapat perhatian. Memang mereka sibuk dalam lautan pekerjaan di depan mata, namun beberapa detik melihatku dan Kak Leon berjalan melewati mereka membuat mereka dapat membicarakanku dengan sangat panjang.
Setiap sapaan yang mengarah pada kami, hanya di balas dengan anggukan dan senyuman oleh Kak Leon. Hingga sampai pada satu ruangan terakhir yang terletak di lantai ini.
Sebelum kami masuk, Kak Leon menyuruh seorang wanita yang sedang duduk di depan ruangannya untuk ikut dan membawa semua yang dibutuhkan ke dalam.
"Mei, bawa semua bahan meeting dan kartu yang saya minta tadi ke dalam." perintah Kak Leon.
"Baik, Pak." hanya itu jawaban dari orang yang bernama Mei yang merupakan sekertaris Kak Leon.
Kak Leon membuka pintu ruangannya diikuti olehku dan Mei. Dia mempersilahkan aku untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Kemudian berkata kepada Mbak Mei, "Mana berkas dan kartu yang saya minta?"
"Ini kartu yang Bapak minta dan ini berkas-berkas meeting yang semalam sudah saya kirim ke email bapak. Selebihnya hari ini tidak ada agenda yang penting lainnya." kata Mbak Mei sopan.
"Thanks ya Mei. Oh iya, kenalin ini Carissa. Sa, ini Mei, sekertaris aku. Ntar aku kasi nomornya Mei kalau kamu gak bisa hubungin aku."
"Hai, Mbak Mei." kataku ramah. Aku berharap sekertaris Kak Leon dapat memberikan informasi tentang lelaki itu padaku nanti.
"Selamat siang, Bu Carissa." katanya ramah. Namun tidak dengan diriku. Aku langsung memanyunkan bibirku ketika mendengar panggilannya untukku.
"Nasib jalan sama bapak-bapak gini amat siy... Mbak Mei yang saya cintai, tolong kata di depan nama saya dihilangkan! Panggil Carissa aja. Aku belum setua itu sampai kamu manggil aku Bu." protesku langsung tanpa babibu.
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak mungkin memanggil Ibu dengan nama saja. Ibu merupakan pasangan dari atasan saya. Kok kayaknya gak sopan kalau panggil nama saja." kata Mei sopan.
"Ya udah. Aku gak mau muncul di sini lagi. Bye." aku langsung berjalan menuju pintu untuk segera pergi dari sini. Bisa gila aku dengan keadaan yang ada. Aku belum cukup umur untuk di hormati seperti itu. Apalagi panggilan Ibu untuk bocah sepertiku.