Lucky Me 20

824 Words
Aku berjalan menuju pintu yang terletak di kananku. Namun belum sampai kakiku melangkah, Kak Leon menginterupsi dengan suara lantang. "Apa siy, Sa... Masak karena Mei gak mau panggil kamu nama, kamu trus jadi mau pergi itu?" kata Kak Leon protes. "Gini aja. Saling panggil mbak aja ya... Mei mulai sekarang kamu panggil Carissa dengan Mbak dan Carissa juga manggil Mei dengan mbak. Adil ya..." kata Kak Leon bijaksana dan disetujui dua wanita ini dengan anggukan. Setelah itu Mbak Mei kembali ke meja kerjanya dan tenggelam bersama tumpukan berkas sementara aku, masih berkutat dengan Kak Leon yang semakin posesif saja. "Sa, ayo sini..." ajak Kak Leon agar aku mendekat ke arahnya. Menurutku, sekarang aku lebih mengenal Kak Leon. Seorang Leon Pranaja tidak mungkin bin mustahal untuk di tolak. Jadi, dengan malas aku mulai berjalan ke arahnya yang sedang berada di balik meja kerjanya yang luas. Berada dekat dengan Kak Leon membuat jantungku menari. "Sini... Duduk sini." dia mulai berdiri dan menyuruhku untuk duduk di kursi kebesarannya. Aku menurut. "Kamu bisa pakai laptop ini buat browsing. Aku tau kamu suka banget menjelajah dunia maya. "Aku meeting dulu sama Bang Marvin cs. Kamu tunggu di sini. Dan satu lagi. Ini buat kamu. Kamu taukan kalau aku gak terima penolakan? Pakai kartu ini buat beli apapun kebutuhan kamu. Jangan pakai uang kamu atau uang yang di kasi papa. Itu buat kamu nabung. Tiap bulan aku akan transfer buat hidup kamu. Pinnya udah aku chat ke kamu. Aku meeting dulu ya, sayang.." Kak Leon menyerahkan sebuah kartu debit yang telah memiliki saldo. Ketika dia akan beranjak, aku tersadar. Tersadar dari hipnotis sang pangeran dari kerajaan Pranaja. Beberapa saat tadi, dia seakan menghipnotisku untuk patuh padanya. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Jarak yang hanya beberapa senti membuat jantungku berdetak sangat kencang. Sigap aku menahan langkahnya dengan menahan tangan Kak Leon yang masih ada di lengan kursi yang aku duduki. Gelengan kepala membuat Kak Leon mengerutkan kening. "Kenapa, hm?" tanyanya lembut. "Kenapa ngelakuin ini?" tanyaku. "Ngelakuin apa? Kartu?" tanyanya lembut. Aku hanya mengangguk dengan heran. Aku tidak mau mendapat hal seperti ini. Ini juga merupakan hal baru bagiku. Kenapa seorang lelaki bisa dengan gampang memberikan kartu debit yang siap pakai kepada seorang wanita yang bukan berstatus istri? Apa dia berharap lebih padaku? Maksudku, apa aku harus 'menjual' diriku karena itu? "Nothing. Cuma pengen manjain kamu aja." Dielusnya rambut ku dengan sayang. Aku merasakan cinta yang besar dari seorang lelaki yang bukan merupakan saudaraku untuk pertama kalinya. Aku sangat amatir mengenai masalah percintaan. "Aku belum butuh, Kak." dadaku sesak mengatakan itu. Jarak yang semakin dekat membuat badanku kaku dan nafasku memberat. Debaran jantung yang semakin cepat membuat desiran darah ditubuh begitu terasa. Ntah itu berhubungan atau tidak, tapi itulah yang aku rasakan. "May I?" pertanyaan itu di lontarkan Kak Leon sambil meraba bibir merah mudaku lembut. 'Ya ampun Nancy... Sumpah demi apapun, lo harus bantu gue yang uda gak bisa gerak ini.' batinku meronta namun tidak dengan tubuhku. Tubuhku seakan menginginkan bibiir seeksi yang hanya berjarak lima senti dari bibiirku. Tidak mendapat jawaban dariku, membuat Kak Leon menganggap aku memberikan ijin padanya untuk melakukan hal itu. Tangan Kak Leon yang semula mengelus rambutku kini telah berpindah ke leher jenjangku. Pelan tapi pasti bibiir kami bertemu. Lembut. Aku merasakan benda kenyal itu di bibiirku yang belum pernah tersentuh bibiir siapapun. Yap.. ini ciumann pertama untukku. Kupejamkan mata agar aku tidak dapat melihat bagaimana wajah Kak Leon. Aku begitu takut melihat wajah kecewanya karena aku bukan partner yang baik dalam berciiuman. Kak Leon sangat lihai menurutku. Aku yakin dia sudah sering melakukannya. "I love you, Carissa." suara seraknya menjeda ciumaan ini. Kubuka mataku perlahan. Kulihat mata sayunya. "I want more but not right now. Kamu harus jadi milikku seutuhnya. Terimakasih udah kasi bibir manis kamu sama aku." katanya dengan suara serak. " Ya Allah, Sa. Please aku boleh ajak orangtuaku ke rumah kamu buat minta kamu ya??" pinta Kak Leon memohon. "Gak! Aku masih kecil, Kak." tolakku. "Hahhhh... Ya uda. Aku meeting dulu. Pasti uda ditungguin dari tadi." katanya dengan nada kecewa. "Oh iya, kalau kamu mau tiduran, ada kamar dibalik pintu itu. Kamu tidur aja disana." kata Kak Leon sebelum melangkah meninggalkanku. "Maaf ya, Kak." kataku setelah punggungnya hilang dibalik pintu. Aku hanya bisa berdiam diri sampai pintu ruangannya di ketuk oleh Mbak Mei. Setelah mengetuk dua kali, Mbak Mei masuk dengan membawa beberapa camilan dan kopi kesukaanku. "Loh buat siapa, Mbak?" tanyaku heran karena aku merasa tidak pernah memesan makanan. "Buat Mbak Carissa. Tadi Pak Leon yang pesan. Katanya Mbak Carissa belum makan, jadi dipesankan makanan. Silahkan, Mbak." kata Mbak Mei dengan sopan. "Terimakasih banyak ya, Mbak." aku berjalan menuju sofa tempat Mbak Mei meletakkan makanan yang dipesan Kak Leon. "Banyak banget pesannya. Gimana cara ngabisinnya?" gumamku. Selesai memakan makanan yang dibawakan sekertaris Kak Leon, aku mulai mencari kesibukan di balik laptop dengan mencari hal-hal yang menarik di dunia maya. **** Selamat sahur teman-teman.... Maaf tidak bisa rutin tiap hari upload.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD