Setelah Senera tiba kembali di indekos, giliran Acasha yang pamit pergi. Acasha ingin menemui kedua sahabat yang selama ini satu kelas dengannya. Sudah dua tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu secara langsung. Secara, kedua sahabat Acasha bukan berasal dari kota itu dan memutuskan kembali ke kampung halaman selama kuliah online berlangsung.
Acasha sudah janjian akan bertemu di salah satu café di dekat kampus. Ia sendiri belum pernah ke sana. Berbekal alamat dari kedua temannya, Acasha memesan ojek online.
Saat tiba di café itu, Acasha dibuat celingukan mencari-cari batang hidung kedua sobatnya. Mungkin karena pangling dengan rupa-rupa mereka, Acasha sempat blank sejenak. Untungnya tak berapa lama, terdengar panggilan bersahutan—laki-laki dan perempuan—yang meminta atensi Acasha.
Melihat kedua sobatnya kompak melambaikan tangan, Acasha berteriak kegirangan. Ia bahkan tidak peduli beberapa pengunjung café itu turut memperhatikannya.
"Bora Prianka," jerit Acasha memanggil nama lengkap sahabat perempuannya. Ia lantas memeluk erat gadis itu. "Gila, dua tahun nggak ketemu dan kamu makin cantik aja!"
"Bisa aja, Cash. Lo juga udah makin kaya anak sultan," balas Bora sambil jingkrak-jingkrak bersama Acasha.
Sementara itu, satu orang yang terabaikan di sana kini mulai berdeham-deham mencari perhatian. "Oh, gitu, gue nggak diajak peluk-pelukan," cibirnya kemudian.
Acasha mengurai rangkulannya pada Bora dan beralih pada pemuda bertubuh jangkung dengan rambut lurusnya yang sengaja dipanjangkan sampai melewati bahu. Acasha memekik, "Cayo Sahnon kesayangan Casha!"
Acasha melompat ke arah Cayo. Hingga mau tidak mau, Cayo menangkapnya. Acasha bertingkah bak anak kecil yang sedang bergelantungan di badan Cayo.
"Cash, malu diliatin orang," bisik Cayo sembari menepuk-nepuk punggung Acasha, meminta gadis itu menghentikan sikap konyolnya.
Bora yang melihat tingkah kedua manusia itu memutuskan untuk geleng-geleng kepala dan kembali duduk di kursi. Ia yang cukup tomboi tampaknya tidak tertarik untuk bergabung dengan kedua sobatnya yang bertingkah seperti orang i***t.
Tak berselang lama, Acasha pun melepaskan diri dari Cayo. Ia mundur beberapa langkah dan menarik pemuda itu untuk kembali duduk.
Setelah huru-hara dan segala kehebohan di sana mereda, Bora bertanya, "Mau pesan apa, Cash? Biar gue susulin ke pesanan meja kita."
Acasha menggumam panjang. Ia tidak terlalu familier dengan menu-menu perkopian yang memang menjadi menu utama di tempat itu. "Apa, ya? Bingung."
Cayo pun angkat bicara, memberi saran supaya Acasha memesan minuman non-coffee saja. "Katanya ice red velvet di sini enak."
Acasha manggut-manggut dan mengikuti rekomendasi Cayo.
Bora bangkit dari duduknya sembari memastikan, "Ice red velvet satu. Terus makanannya apa?"
"Bawa buku menu ke sini kek," timpal Cayo, "masa Casha suruh nebak-nebak menu yang ada."
"Eh, nggak usah," sela Acasha karena tak mau merepotkan Bora. Sudah bagus gadis itu mau membantu Acasha menambahkan pesanan ke catatan pesanan mereka sebelumnya. "Aku mau Fish Finger."
Bora mengangkat tangan menyiratkan makna "oke". Ia pun berlalu menuju meja kasir.
Tinggallah Acasha berdua saja dengan Cayo. Pemuda itu langsung angkat bicara, "Coba lo cerita kejadian semalam? Gue dengar lo kabur dari rumah dan berakhir menginap di indekos orang yang nggak lo kenal. Kenapa lo nggak ke tempat Bora aja?”
Dicecar begitu, Acasha memutar bola mata. “Ceritanya panjang banget, deh!”
“Jadi lo nggak mau cerita?” pancing Bora yang sudah kembali bergabung bersama Acasha dan Cayo.
Acasha menggumam panjang sebelum menampilkan ringisan lebar. “Iya, iya, ini mau cerita kok.”
Mengetahui Acasha akan mulai bercerita, Bora dan Cayo memasang telinga baik-baik. Mereka bahkan memajukan tubuh mendekati Acasha sebagai gestur bahwa mereka tertarik pada cerita yang akan Acasha bawakan.
Acasha menceritakan bagaimana ia melarikan diri dari rumah dan berhasil mendapat tebengan dari seorang pemuda yang belum Acasha ketahui namanya sampai detik ini. Ia juga bercerita alasannya menginap di tempat gadis bernama Senera.
“Saking bingungnya, aku sampai nggak kepikiran buat datang ke indekos Bora,” ungkap Acasha.
“Bahaya tahu, Cash!” kata Bora tampak tak suka melihat temannya itu begitu polos dan tidak tahu bahwa dunia ini cukup berbahaya. “Lo nggak kenal itu cowok yang ngasih lo tumpangan asal-usulnya kaya apa. Terus lo juga dikenalin ke temannya yang sama-sama asing buat lo. Parahnya, lo bahkan menginap di rumah si Senera-Senera itu. Kalau dia jahatin lo gimana?”
Acasha terdiam. Entah kenapa, ia tidak melihat aura-aura jahat dari kedua orang yang telah membantunya itu, baik sosok pemuda maupun Senera.
Cayo ikut angkat bicara, “Tapi sekarang lo udah nggak numpang di tempatnya, kan? Barang-barang lo sekarang di mana? Kalau lo belum dapat tempat tinggal, gue sama Bora bakal bantu cariin sekarang juga.”
Acasha mengangkat jempolnya. “Aman,” ujar Acasha, “aku udah dapat kamar indekos, di tempat yang sama dengan yang aku inapi semalam.”
Mata Bora dan Cayo kompak melotot. Mereka lantas mengerutkan dahi.
“Kenapa, sih? Aku oke-oke aja kok tinggal di sana. Aku udah bayar uang sewanya dan sekarang kamarku masih disiapin biar layak ditinggali. Nanti malam aku bakal masukin barang-barang ke sana.”
Bora dan Cayo makin menatap horor ke arah Acasha. Mereka lanjut mempertanyakan apakah Acasha meninggalkan barang-barang berharganya di tempat Senera.
“Guys, kalian jangan kaya gitu, dong! Senera itu baik. Dia bukan pencuri yang harus bikin aku khawatir meninggalkan barang-barangku sama dia. Lagian aku keluar dari rumah juga nggak bawa barang berharga. Hal kaya gini nggak perlu dipermasalahkan.” Acasha memberengut dan tidak setuju pada kekhawatiran berlebihan dari temannya.
Karena tidak ingin ribut dengan kedua temannya, Acasha pun mengubah topik obrolan. Ia membuat rencana untuk mengajak teman-temannya berkeliling-keliling sambil melihat suasana kampus yang sudah lama mati karena pandemi.
“Gimana, oke, kan?” tanya Acasha kemudian.
Bora dan Cayo manggut-manggut. Mereka setuju dengan usulan Acasha itu. Cayo lantas menambahkan, “Ya udah, beres dari sini, kita keliling-keliling dulu liat area kampus. Habis itu gue sama Bora ikut ke indekos lo buat bantu lo beres-beres kamar.”
“Iya, bener, tuh. Sekalian gue mau lihat Senera yang lo ceritain itu bentukannya kaya gimana,” timpal Bora.
Acasha menipiskan bibirnya, tersentuh dengan niatan baik Cayo dan juga Bora. Namun ia tidak lantas lanjut berbicara karena waitress datang mengantarkan pesanan mereka. Tak ingin membiarkan makanan dan minuman yang baru saja tiba itu menunggu terlalu lama, mereka pun segera menyantapnya. Akhirnya topik obrolan berganti menjadi mengomentari rasa makanan dan minuman pesanan mereka.