Lusa turun dari mobil. Pemuda itu memperhatikan bangunan studio dua lantai di hadapannya. Ketika Lusa berniat melangkahkan kaki menuju studio itu, ia justru disapa oleh seorang wanita yang merupakan creative director yang akan memantau photoshoot hari ini.
“Mas Lusa,” panggil wanita itu, “baru sampai?”
Lusa menganggukkan kepala. Ia urung melanjutkan langkahnya dan justru beramah-tamah sejenak dengan wanita itu. “Iya, Bu Wanda, saya baru saja sampai. Bu Wanda juga baru sampai?”
“Oh, enggak, saya udah sampai dari tadi,” balas wanita yang disapa oleh Lusa dengan nama Bu Wanda. Ia pun mengangkat cup holder yang sejak tadi ditentengnya sambil berkata, “Saya keluar sebentar buat beli ini. Kebetulan beberapa orang di studio belum sempat sarapan. Oh ya, kamu sudah sarapan?”
Ditanya begitu, Lusa menggelengkan kepala. Ia memang sengaja tidak makan sebelum photoshoot agar badannya tidak melar secara tiba-tiba. Bahkan minum air pun tidak karena pemuda itu ingin mengurangi kadar air di tubuhnya dan membuat ototnya lebih menonjol.
Bu Wanda buru-buru menawarkan kopi dan roti kepada Lusa dan meminta pemuda itu untuk mengonsumsi makanan terlebih dahulu. Tetapi Bu Wanda mendapat penolakan secara halus dari Lusa. Sehingga wanita itu berujar, “Ya sudah kalau kamu memang sedang bersiap untuk photoshoot. Ini kamu ambil saja dulu dan dimakan nanti kalau photoshoot kamu sudah kelar.”
Lusa mengiakan karena tidak enak untuk kembali menolak. Ia menerima segelas kopi dan roti dari Bu Wanda dan menyimpannya untuk nanti. Padahal Lusa juga sudah ada rencana untuk makan di luar selepas urusannya di sana selesai.
Akhirnya Lusa dan Bu Wanda berjalan bersama memasuki studio. Mereka tidak bisa lanjut mengobrol karena itu akan memakan waktu. Makanya begitu menginjakkan kaki di lantai satu studio, Lusa segera pergi meletakkan barang dan menemui tim yang akan melakukan photoshoot dengannya hari ini.
Seberes briefing, Lusa segera pergi ke sebuah ruang untuk make up. Di sana, sudah ada beberapa make up artist yang siap membantu Lusa bersiap-siap.
Setelah selesai dengan urusan make up dan menata rambut, Lusa menyempatkan diri untuk melakukan olahraga yang dapat membuat ototnya semakin terlihat jelas atau istilahnya pumping. Untungnya di studio itu memang sudah disediakan beberapa peralatan yang cocok untuk Lusa gunakan dalam melancarkan usahanya. Ia berkutat di ruangan itu selama beberapa saat dan baru beranjak dari sana ketika salah satu dari kru photoshoot mengatakan bahwa Lusa sudah tampak sangat oke dengan perut six-pack-nya.
Lusa kemudian berjalan ke ruang ganti. Di dalam sama, ia melepas pakaiannya. Kini pemuda itu mengenakan pakaian yang telah disiapkan untuk photoshoot ini yang hanya berupa celana panjang kedodoran. Yap, begitu saja, tanpa atasan apa-apa alias Lusa bertelanjang d**a dan memamerkan otot-otot hasil workout rutinnya.
Sebenarnya ini belum seberapa. Pada sesi atau konsep pemotretan kedua nanti, pemuda itu hanya akan mengenakan pakaian dalam karena memang ia tengah melakukan pemotretan sebagai model majalah dewasa.
Lusa keluar dari fitting room. Dan seperti biasa, ia membuat beberapa orang terkagum-kagum melihat tubuhnya yang setengah telanjang. Kulitnya yang cukup gelap menambah kesan seksi dan maskulin. Ini sangat cocok dengan tubuhnya yang atletis.
Lusa menarik senyum asimetris ketika mendapati beberapa gadis di sana tampak malu-malu menatap ke arahnya. Bahkan pekerjaan mereka jadi tertunda sejenak. Untung saja, mereka tidak pingsan di tempat, he-he.
"Lusa kemari," perintah Mas Vian selaku photographer yang bertugas hari ini. Setelah Lusa mendekat, Mas Vian lanjut berujar dengan nada jenakanya, "Jangan wara-wiri terus. Lo nggak lihat itu cewek-cewek pada mupeng? Atau, lo emang sengaja pamer-pamerin itu badan lo?"
Lusa mendengkus geli. Ia lantas mengklarifikasi, "Gue baru keluar dari ruang ganti dan jalan ke sini, Mas. Kalau mereka mupeng, ya bukan salah gue. Gue profesional aja dan mereka belum terbiasa ada di situasi ini. Banyak anak baru, ya?"
Mas Vian mengiakan sambil bercerita, "Iya, ada rolling kru pemotretan. Mereka belum terbiasa buat pemotretan kaya gini karena mereka asalnya dari segmen fashion wanita, semacam gaya hidup, busana, tips parenting, resep masakan, sampai wawancara sama tokoh figur."
Lusa sibuk ber-oh-ria. Ia lantas merapikan kembali tampilannya karena pemotretan akan dimulai. Belum sempat Lusa beranjak, Mas Vian menahan bahu Lusa.
Dengan mengecilkan suara, Mas Vian berkata, "Kemarin ada orang yang nanya-nanya ke gue soal profil dan kiprah lo di dunia permodelan. Kayanya dia berminat buat bikin kontrak kerja sama lo. Gue saranin kalau orang ini betulan menghubungi lo, lo terima aja tawarannya. Lagian kontrak sama perusahaan ini kan udah hampir selesai."
Lusa diam saja. Ia masih mencerna ke arah mana pembicaraan ini.
Melihat Lusa tidak memberi tanggapan, Mas Vian memutuskan untuk lanjut bicara. "Kalau ada tawaran yang lebih baik, kenapa enggak lo ambil? Lagian lo ngerti kan image model majalah dewasa itu kaya gimana? Belum terlambat kalau lo mau pindah haluan. Nggak masalah kalau lo memulai karier dengan jadi model di bidang ini. Tapi selagi ada kesempatan buat pindah, gue saranin pindah dan merintis karier lo jadi model yang punya citra baik di masyarakat."
Lusa berdeham singkat. Turut memelankan suara, ia bertanya, "Mas, lo kenapa selalu nyaranin gue buat cabut? Cuma di sini gue dibayar mahal, bahkan untuk konsep yang monoton gitu-gitu aja."
"Si kecil gimana? Lo harus mikirin dia juga," balas Mas Vian yang membuat Lusa terdiam.
Lusa tidak bisa berkata-kata dan ia cukup enggan melanjutkan pembahasan ini. Ia pun berjalan lebih dulu ke set pemotretan.
Mas Vian yang menyadari keengganan Lusa untuk membicarakan hal itu pun mengedikkan bahu. Ia tidak akan terlalu banyak ikut campur. Meski sebenarnya Mas Vian prihatin pada nasib Lusa. Tapi ya sudahlah.
Tak berselang lama, pemotretan untuk konsep yang pertama dimulai. Lalu itu dilanjutkan dengan konsep lain sampai Lusa harus berganti kostum beberapa kali.
Dua jam berlalu dengan cepat. Setelah dirasa semuanya pas dan sudah sesuai dengan keinginan pihak perusahaan, Lusa diperkenankan untuk beristirahat atau bisa berganti pakaian dan langsung pulang.
“Kerja bagus, Lusa,” kata Bu Wanda sambil berjalan mengekori Lusa menuju ke ruang make up.
Lusa mengangguk sembari mengulas senyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan pujian semacam itu ketika ia selesai dengan pekerjaannya.
Tapi rupanya Bu Wanda mengikuti Lusa bukan hanya untuk memuji kinerja pemuda itu, melainkan Bu Wanda ingin menyampaikan sesuatu, “Nanti malam kamu ada waktu? Saya ingin mengundang kamu ke sebuah pesta. Kalau kamu berminat, nanti saya beri alamatnya. Di sana kamu bisa membangun koneksi dengan banyak wanita mapan yang mengagumimu.”
“Akan saya pertimbangkan,” balas Lusa singkat sebelum menghilang di balik fitting room.