Teringat Selalu

570 Words
PoV Rama Sudah beberapa bulan ini aku selalu teringat dengan seseorang yang dulu tanpa sengaja bertemu. Seorang mahasiswi yang sangat cantik yang telah membuat aku fall in love. Rasa yang belum pernah aku rasakan kepada perempuan lain yang aku temui. Benar-benar aneh. Sejak berjumpa dia, selalu terbayang setiap momen kebersamaan kami. Bagaimana tidak, baru pertama kali aku berkenalan dengan seseorang tapi dengan momen yang lain dari yang lain. Menurut aku itu situasi yang aneh tapi nyata. Ha ... ha .. ha aku jadi sering terkekeh sendiri hingga rekan kerjaku bertanya kebingungan. "Apa ada yang lucu sehingga Anda tertawa sendiri seperti itu ?" tanya Gito rekan kerja sekaligus sahabat baikku ku itu sambil terkekeh geli. Seketika aku menyadari keadaan, karena sebelumnya aku hanyut terbawa lamunanku tentang Belia yang selama ini tak pernah hilang dari ingatanku. "Ah bukan seperti itu. Aku hanya sedang teringat dengan seseorang," jelasku. "Wah ... wah, sudah move on ternyata sobatku ini. Syukurlah kalo begitu. Aku turut senang mendengarnya. Semoga langgeng ya," sahutnya lagi. "Sorry ya, kalo tentang move on dari mantan, aku enggak pernah ada rasa untuk dia. Toh aku cuma menolong dia aja dari rasa malu dia dan keluarganya. Tidak ada cinta sedikit pun untuknya. Dan dia dan keluarganya pun sudah tau dari awal. Jadi, mereka tidak bisa menuntut banyak padaku. Cukup aku hanya sebagai 'Dewa Penolong' begitu menurut keluarga besarku," jelasku panjang lebar. "Sampai menjelang lima tahun ini perasaan kamu masih seperti itu, Brp ?" tanya Gito penasaran sambil menautkan kedua alisnya. "Iya seperti itulah kenyataannya yang aku rasakan ke dia, walaupun sebenarnya aku enggak tega juga. Tapi bagaimana dong ? Rasa cinta kan enggak bisa dipaksakan," kataku lagi. "Ya kalo memang enggak bisa mengubah keadaan, bicarakan lagi secara baik-baik dengan yang bersangkutan. Agar dia enggak terlalu sakit hatinya. Gue sih sangat maklum atas keputusan kamu. Semoga kamu dapat yang terbaik, Bro," ucap Gito memberi dukungan. "Ok, aamiin. makasih doanya. Semoga kamu juga segera ketemu jodohmu," balasku. "Aamiin," katanya lagi. "Eh ... ngomong-ngomong. Siapa tuh cewek beruntung yang dapat perhatian dari sahabat baikku ini. Gue asli penasaran banget nih?" tanya Gito "Secara formal, gue belum sempat ngomong ke dia. Tapi kalo sambil bercanda sekilas, gue tuh sebenernya sudah nembak dia. Tapi kata-kata gue dianggapnya angin lalu aja deh," sahutku lesu "Yah elah. Ini jagoan kita yang ahlinya strategi bertempur, koq sama cewek aja udah kalah gini sih. Mana taringmu, coba tunjukkan ?" ucap Gito memanasiku. "Ini juga aku lagi nyusun strategi agar segera bisa mendapatkan dia. Cuma kan kendalanya aku sama Rita kan belum tuntas urusannya. Nunggu beberapa mingguan lagi baru kelar." jelasku. "Gue doakan dan dukung kamu terus, semoga lancar ya urusannya," doanya. "Aamiin, makasih, To," jawabku. "Kamu kan jarang ketemu doi. Sering telponan ga ?" tanyanya lagi menyadarkanku. "Nah itu dia, aku lupa belum minta nomor hp nya," jawabku. "Waduh ini my best friend tersayang aku. Koq telminya jadi keluar sih, hadeuuhhh !" teriak Gito sambil mengacak-acak rambut cepaknya itu. "Ya gue juga kan super sibuk. Ya kedinasan, ya nyusun tesis juga, belum bolak-balik ngurusin si Rita juga. Sampai pusing ke gua nya juga," jawabku tidak mau terlalu disalahkan. "Oke-oke gue paham banget. Nah, kira-kira kapan kamu rencana ketemuan sama dia ?" tanya Gito. "Insyaallah dia harian lagi gue ke kampus, bimbingan tesis terakhir dengan dosen. Doakan gue ya, semoga sukses," pintaku. "Aamiin, gue selalu doain kamu," sahut Gito. "Makasih," pungkasku karena setelah itu kami segera melakukan kegiatan lagi di tempat kerja kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD