Menjelang ujian akhir semester dua, Belia benar-benar sangat disibukkan dengan berbagai tugas dari hampir semua mata' kuliahnya. Untuk itu dia berusaha dengan sangat keras agar dapat menyelesaikannya tepat pada waktunya. Karena itu, dia selalu pulang hampir Maghrib ketika sampai rumahnya. Bahkan sering kali pulang dalam keadaan kehujanan karena memang sedang musim penghujan.
Dan tiba saatnya ujian akhir semester.
Semua mahasiswa dan mahasiswi dengan tekun melaksanakannya, tanpa kecuali Belia dan duo sahabatnya.
Walau dalam kondisi kesehatan yang kurang prima, Belia tetap semangat melaluinya.
Hari terakhir ujian telah usai, semua peserta merasakan lega, serasa terbebas dari hukuman yang berat. Mereka dengan senang hati bercengkrama dengan rekan-rekannya.
Di sisi lain, Belia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Dia masih duduk di kursi di dalam ruang kelasnya. Sedangkan teman-temannya yang lain sudah mulai meninggalkan kelas untuk pulang.
Hingga duo sahabatnya yang sudah sampai di parkiran menyadari bahwa Belia tidak ada bersama mereka, padahal ini sudah waktunya untuk pulang.
" Eh, Mbak. Tuh Belia ke mana ya. Koq enggak kelihatan ?" tanya Nani kepada Dinda d sampingnya.
"Iya juga ya. ke mana tuh anak. Tumben. Yuk kita ke kelas lagi, siapa tau doi masih di sana !" ajak Dinda.
"Ayio," sahut Nani.
Akhirnya mereka berdua kembali lagi berjalan menuju kelasnya.
Setibanya di sana, nampak Belia masih duduk di kursi ruang kelas sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Sontak Dinda dan Nani menghampiri dan langsung bertanya kepada Belia.
"Lho ... Bel. Kamu koq masih di sini sih. Kenapa, pusing ?" selidiki Nani tanpa basa-basi.
"Iya Bel, aku tadi kuatir ke kamu. Kita udah nyampe parkiran. Jadi balik lagi nyariin kamu. Eh ... enggak taunya kamu masih ada di sini," Dinda ikut menimpali.
"Ehh ... kalian. Sorry.... gara-gara aku, kalian jadi cape bolak-balik. Aku lagi sakit kepala berat nih. Makanya masih di sini juga. Nunggu reda dulu sakit kepalanya." jawab Belia setelah mengangkat kepalanya.
"Iya kelihatan mukamu pucat. Badanmu kerasa demam enggak?" tanya Nani lagi.
"Iya agak demam juga sih," ucap Belia lagi.
"Yo wis aku anter kamu pulang. Aku boncengin kamu. Nani biar sendiri bawa motornya, ngawal aku di belakangku," Dinda memberikan instruksi kepada Nani.
"Ok, Din," sahut Dinda.
Akhirnya dengan dibonceng Dinda dan dikawal Nani, Belia bisa pulang ke rumah dengan selamat.
"Hatur nuhun Mbak dan Mpok udah nganterin aku. Maaf banget jadi bikin repot kalian berdua," ucap Belia tulus.
"Enggak usah sungkan begitu ih, kaya sama siapa aja kamu ini !" ujar Dinda nyengir.
"Iya nih bocah kaya ke siapa aja. Yang penting kamu cepet sembuh ya. Mau liburan tuh harus tetap sehat biar bisa menikmati liburannya," Nani ikut menasihatinya.
"Ya udah kita mau pamit pulang dulu ya. inget pesan kita ya, jangan lupa !"
"Ada apa ini Neng-neng ?" tanya abahnya Belia ke luar dari balik pintu depan dan disusul Ema di belakangnya.
"Eh ada Ema sama Abah, Apa kabarnya ?" tanya Nani dan Dinda sambil menyalami orang tua Belia itu.
"Mereka berdua nganterin aku pulang, Ma, Bah," jawab Belia mendahului duo sahabatnya.
"Lah koq pake dianterin segala. Memangnya kenapa ?" tanya abahnya lagi kaget sambil menatap putrinya itu.
"Belia sakit katanya, Bah," jawab Nani dan Dinda barengan.
"Oh begitu. Memang beberapa hari ini dia bilang merasa enggak enak badan. Tapi ya memaksakan pergi ke kampus karena masih ujian," Ema menjelaskan.
"Kalo gitu nanti harus berobat ke dokter supaya cepat sembuhnya ya, Bel !" kata Nani menyarankan.
"Soalnya kami mau pulang kampung nih, enggak bisa nemenin kamu dulu !" sambung Dinda.
"Iya, makasih," sahut Belia beserta orang tuanya serempak.
Dinda dan Nani kemudian berpamitan untuk pulang dan mulai mengendarai motor matiknya masing-masing.
"Benar apa kata mereka, kamu harus segera berobat supaya enggak terlalu lama sakitnya, Bel !" suruh Abah .
"Iya, Bel. Nanti biar Ema anter ke klinik depan aja ya," kata Ema.
"Iya, Ma," jawab Belia lirih.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
To be Continues