Sejak Kapan ?

296 Words
"Ih ... Abang Rama suka banget sih ngeledekin aku, bikin aku jadi malu aja. Kalo bercanda teh jangan kebangetan gitu atuh !" kata Belia sambil mengerucutkan bibirnya. "Siapa juga lagi yang bercanda ? Orang aku serius koq sama kamu. Masa kamu enggak percaya sih ?" sahut Rama balik bertanya. Membuat Belia terdiam bingung. "Loh koq malah jadi bengong gitu, aku tuh serius sayang sama kamu, Bel," Rama kembali menegaskan ucapannya. "Ah masa gitu sih ? Aku enggak percaya," jawab Belia masih ragu. "Terus aku harus ngomong apa lagi supaya kamu bisa percaya ke aku, kalo aku ini enggak main-main ?" desak Rama. "Aneh aja, masa orang kaya Abang mau sama aku, secara di kota asal Abang banyak cewek cakep, enggak kaya aku yang orang daerah," jelas Belia membuat Rama tersenyum simpul. "Kamu tuh terlalu banyak nonton sinetron tivi sih. Jadinya terlalu cepat mengambil kesimpulan," sahut Rama lagi. "Terus yang kesimpulan yang benernya itu yang seperti apa coba ?" tanya Belia penasaran. "Jadi yang bener itu kalo rasa suka, rasa sayang, juga rasa cinta itu tidak perlu alasan. Tidak perlu logika," terang Rama yang lagi-lagi belum bisa membuat Belia paham. "Lalu, sebetulnya perasaan Abang ke aku itu seperti apa, aku koq jadi tambah bingung ?" Belia kembali bertanya untuk memastikan kesimpulannya. Takut dia merasa salah sangka dengan ucapan Rama. "Perasaan aku ke kamu itu seperti gado-gado yang kalo dimakan bikin kenyang. Rasanya rame. Ada rasa rindunya. Ada rasa sayangnya. Dan yang terpenting ada rasa cintanya ke kamu," jelas Rama membuat Belia semakin melebarkan matanya tak percaya. "Sejak kapan ?" Belia kembali bertanya. "Sejak pertemuan pertama kali kita dulu itu," jawab Rama. "Bagaimana dengan perasaan kamu ke aku ?" tanya Rama. "Aku sangat berharap, kalo perasaan kamu juga ke aku sama," ujar Rama sambil menatap Belia penuh harap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD