PoV Rama
Aku sudah menyatakan perasaanku pada gadis cantik yang berada di hadapanku ini. Tapi entah kenapa dia sepertinya masih terlihat ragu dengan apa yang aku ucapkan itu.Atau mungkin dia merasa aneh atau apalah sehingga dia terkesan seperti tidak menganggap serius kata-kata yang sudah susah payah aku rangkai itu.
"Belia rasa, Abang terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang perasaan Abang ke aku itu," sahutnya.
"Menurut aku enggak begitu, Bel. Aku sudah pertimbangkan segala rasa yang aku rasakan ini. Sejak ketemu kamu pertama kalinya dulu. Semakin lama semakin menyiksa. Aku sudah coba membohongi diriku sendiri, tapi nyatanya kamu yang selalu ada di sini, di hati dan pikiranku," ucapku lagi sambil menunjuk d**a dan kepalaku berusaha meyakinkan dia.
Gadis itu masih terdiam sambil menatapku. Beberapa saat kemudian dia mulai bersuara.
"Lalu, hal apa yang membuat Abang suka sama aku ?" tanyanya kemudian.
"Tiada alasan untuk aku suka sama kamu, rindu sama kamu, sayang sama kamu, dan cinta sama kamu. Klise memang, tapi memang itu kenyataannya," jawabku tegas.
"Sebetulnya aku masih bingung lho, Bang," ucapannya membuat aku menatapnya penasaran.
"Bingung kenapa ?" tanyaku cepat.
"Bingung mau jawab apa, aku sendiri enggak tau persis sama perasaan aku sendiri," Jawabannya sukses membuat hatiku menyempit. Terus terang aku tidak puas dengan jawaban yang benar berikan, tapi aku tidak mungkin memaksakan kehendak padanya. Bisa-bisa dia ilfill padaku.
"Terus aku harus gimana dong buat ngeyakinin kamu kalo aku tuh serius banget sama kamu, Bel ?" tanyaku lirih.
"Aku hanya merasa enggak percaya aja, semudah itu Abang bisa punya perasaan kaya gitu ke aku. Padahal aku merasa ga istimewa dibandingkan dengan cewek-cewek yang lain," jawab Belia apa adanya.
"Tapi kamu teramat istimewa bagiku, Bel. Aku tidak pernah semudah ini merasakan jatuh cinta. Please, percaya sama aku. Aku enggak mungkin mempermainkan kamu, aku serius sayang sama kamu," kembali Rama mengutarakan isi hatinya.
"Bagaimana ya, aku beneran enggak bisa jawab sekarang, Bang. Aku masih bingung. Berikan aku beberapa hari untuk memikirkannya. Aku enggak mau memberikan harapan palsu. Dan aku juga enggak mau sakit hati suatu saat nanti," jelas Belia.
"Baiklah kalo menurut kamu perlu waktu untuk memikirkannya, aku siap menunggu. Tapi jangan lama-lama ya, aku ingin mendapatkan kepastian dari kamu secepatnya. Aku bukanlah tipe pria yang sabar," kata Rama sambil bercanda.
"Idih, belum apa-apa sudah ngomong gitu hi ... hi ... hi ... ," ujar Dinda terkikik geli.
"Ya mau gimana lagi, gadis pujaanku sulit sekali untuk aku yakinkan," sahut Rama lagi.
Dan akhirnya Rama pun pamit karena waktu sudah menjelang malam, tak lupa dia juga pamit kepada kedua orang tua Belia.
"Tolong ketik nomor hp kamu di hp aku," pinta Rama ketika sudah berada di luar rumah Belia yang kemudian gadis itu lakukan.
"Buat apaan memangnya ?" canda Belia.
"Supaya bisa dengar suara kamu tiap hari nantinya, " sahut Rama sambil tersenyum manis.
"Sampai ketemu besok ya, assalamu'alaykum calon istriku," kata Rama sambil melambaikan tangannya kepada beliau.
"Wa'alaykum salam, Bang. Hati-hati di jalan," sahut Belia sambil tersenyum.
Setelah Rama menghilang dari pandangan, gadis itu kemudian masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan aktivitas yang terjeda karena kedatangan teman-temannya tadi.