Sarapan Bareng Camer

549 Words
PoV Rama Setelah sholat Shubuh berjamaah di mesjid dekat kost-an, aku segera bersiap-siap merapikan diri untuk menyambangi rumah gadisku, walaupun aku belum mendapatkan kepastian darinya. Harus semangat, bisik dalam hatiku. Aku sangat sadar diri. Banyak perbedaan di antara kami. Usiaku yang sudah menginjak 30 tahun sangat jauh dengan usia Belia yang baru 19 tahunan. Aku sudah bekerja sedangkan dia masih kuliah semester dua. Begitu pula dengan karakter aku dengan dia yang memang sangat berbeda. Aku yang tipikal serius, sedangkan dia gadis yang cenderung santai dan rame. Tapi itu semua tidak membuat aku berpikir untuk mundur. Bahkan menjadikan hidupku jadi lebih berwarna. Dan lebih bersemangat tentunya. Pagi ini sekitar pukul 6.00 aku sudah berada di rumah Belia. Mungkin aku termasuk tamu yang tidak tahu diri karena bertamu terlalu pagi ha ... ha ... ha. Ah bodo amat apa kata orang. "Eeh ... Abang, pagi bener udah ke sini. Memangnya ada yang urgent kah ?" tanya Belia merasa aneh karena kehadiranku yang sudah berada di dalam ruang tamu rumahnya. "Enggak sih, cuma aku enggak sabar aja pengen ketemu sama kamu, Bel," jawabku sekenanya. "Emangnya kenapa kalo udah ketemu sama aku ?" gadis itu bertanya lagi buat aku jadi gemes karena ternyata dia belum mengerti juga dengan kode yang aku ekspresikan. "Aku kangen sama kamu, Belia. Dari kemarin aku udah ngomong kan ke kamu,": kataku memperjelas. "Abang Rama datang-datang udah menggombal aja nih. Bikin aku terbang aja ha ... ha ... ha ," sahutnya malah ketawa. "Eh ada tamu rupanya, Bel ada tamu bukannya dikasih minum malah langsung ngobrol aja," kata Abah yang baru datang dari dalam rumah. "Enggak usah, Bah. Saya hanya mau jemput Belia buat berangkat bareng kuliahnya. Cuma sebentar aja koq," jawabku malu. "Ya enggak apa-apa loh, Nak. Sekalian kita sarapan bareng, kebetulan Emak udah beres masaknya, ayo !" ajak Emak yang tiba-tiba muncul. "Wah jadi ngerepotin nih saya, Mak," jawabku tambah malu. "Enggak usah sungkan. Ayo Naik !" Abah ikut memaksa. Dan akhirnya aku ikut sarapan bareng di rumah gadisku. Padahal tujuanku bukan untuk ikut makan he ... he ... he. Tapi kan rejeki tidak boleh ditolak ya. Setelah tuntas sarapan dan pamit kepada kedua orang tua Belia, kami pun akhirnya berangkat ke kampus bareng dengan aku yang mengendarai sepeda motorku sambil membonceng gadisku itu. Serasa dunia milik kami berdua, yang lain ngontrak, Pikirku dalam hati sambil tersenyum bahagia. "Sudah ada jawabannya apa belum, Bel ?" tanyaku ketika kami sudah sampai di parkiran kampus. "Jawaban apa ya, Bang ?" dia malah balik bertanya. Yang membuat aku jadi terheran-heran karena pertanyaannya. "Itu pertanyaanku semalam. Masa kamu udah lupa," Sahutku memperjelas. "Oh yang itu. Gimana ya, aku masih bingung jawabnya, Bang," jawabnya buat aku gemes aja. "Ya udah nanti siang ada jam kosong, gimana kalo nanti kita ketemuan lagi. Nanti aku kabari ya," jawab Belia membuatku jadi bersemangat lagi setelah tadi merasa putus asa. "OK. deal ya. Aku akan selalu setia menunggu, Bel," sahutku gembira. "Kalo gitu aku masuk ke kelas dulu ya, Bang," pamitnya sambil melambaikan tangannya yang ku balas dengan lambaian tanganku juga. Kami pun berpisah, dan aku pun melanjutkan perjalananku menuju Fakultas Pasca Sarjana. Ya, aku masih melanjutkan bimbingan dengan dosen pembimbingku. Tapi hari ini aku merasa bahagia dalam mengikuti bimbingan karena ada si dia, Belia gadis pujaanku. Ya Allah mudahkanlah segala urusanku, aamiin. Doaku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD