OwG 14

1549 Words
“Good, kalau ada ini aku bisa yakin nggak akan tipu menipu diantara kita.! Kata Nicho, lalu dia membaca lagi surat perjanjian yang di tulis dengan rapi oleh Cecille dengan suara jelas. Isinya  singkat. “Saya, Cecille Adriane Liemanto, akan menepati janji memberikan apapun yang diminta oleh Nicholas Sean Tjandra, apapun! Selama itu tidak melanggar moral. Apa pun! Tertanda Cecille Adriane Liemanto” Bahkan tanda tangannya di atas materai sangat indah. Nicho tidak bisa tidak mengagumi tulisan tangan Cecille. Tulisan itu masih sama dengan tulisannya dulu, nggak berubah. “Aku akan nyimpen surat ini baik-baik.” “Terserah!” sahut Cecille, dia melipat kedua tangan depan d**a dengan ekspresi cemberut saat memperhatikan pria itu melimpat selembar kertas  menjadi empat bagian kecil, dan menyelipkannya ke dalam dompet. Tunggu! Kayaknya ada yang salah. Dia mengingat lagi isi surat pernyataan barusan. Dan bel peringatan bordering di kepalanya. “Nicholas sebentar, tolong kembaliin lagi kertas yang tadi.” “Untuk?” “Ada yang harus aku benerin sedikit.” Pria itu menempelkan lidahnya ke pipinya, dan tampak sedikit enggan, “Kita bisa terlambat ke pernikahan kalau dibenerin sekarang.” “Tapi aku takut lupa kalau nunda-nunda.” “Jawab yang jujur, kamu takut aku memanfaatkan kecerobohanmu yang nulis surat itu asal-asalan ‘kan?” Mata Cecille bergerak sedikit, tanpa menjawab. Nicho menghela napas ringan, “Cecille,” Suaranya rendah, dengan mata sedikit terkulai, tak berdaya, dan sedikit frustrasi, "Dalam setengah jam kita akan menjadi suami istri. Nggak bisakah kamu sedikit lebih percaya denganku?” Cecille mau bilang, kamu saja nggak percaya denganku! Tetapi Nicho tidak memberinya kesempatan dengan terus berkata, “Aku calon suami yang kamu pilih, jadi aku nggak akan menipumu dengan meminta yang aneh-aneh. Lupakan surat perjanjian itu sampai kita selesai menikah, oke?” Pada saat itu, pintu menjeblak terbuka setelah sebelumnya diketuk. Sensen masuk seperti dikejar hantu. “Cyn, itu kenapa jadi banyak tamu di kapel? Bukannya Kenny bilang acara malam ini ditunda ya? Itu tamu mesti eike apain?” “Biar aja mereka disana, pernikahannya tetap lanjut kok.” Mulut Sensen membulat sebesar bulatan telur saking dia kaget. “Di lanjutin? Tapi mempelai prianya?” Dia menatap Sensen, dan kemudian tersenyum cerah, mata almondnya yang berkilau bersinar cerah, “Tenang saja, dia udah di sini. Tolong panggilin tukang rias buat benerin make-upku.” Sensen berjalan menuju pintu dengan sedikit bingung. Dia tidak melihat Evan datang, bahkan keluarga besar sudah pada bubar, tetapi Cecille tetap mau melanjutkan pernikahan. Jadi dengan siapa dia mau menikah? Hantu? Dunia orang kaya benar rumit, makin dipikir malah makin bikin pusing. Saat menoleh  pandangannya bertubrukan dengan mata Nicho yang memanggilnya, “Tunggu sebentar” Kaki Sensen gesit saat berbelok menghampiri Nicho yang melepas gelang, mengeluarkan cincin dari sana, dan cincin dari  jari telunjuknya. “Ganti cincin pernikahan dengan ini.” Setelah Sensen keluar dan menutup pintu, Cecille segera bertanya, “Kenapa cincinnya di ganti?” “Senggaknya, biarkan aku keluar sedikit modal buat pernikahan kita.” Dan pria itu kembali tertawa saat Cecille menanggapi kata-katanya dengan ‘huh’ lalu duduk dengan menekuk gaunnya menunggu tukang rias. Saat menunggu, Nicho mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi M-banking setelahnya mengirim pesan. Di sisi lain, Evan mengambil ponselnya yang bergetar, dan kekecewaan tergambar di wajahnya yang memesona saat tahu itu dari nomor yang tidak ia kenal. Bunyi pesan itu. “Thank’s sudah memberiku kesempatan buat mengambilnya.” Dengan satu tangkapan layar bukti transfer yang nilainya tidak bisa dibilang sedikit. Benaknya dipenuhi tanda tanya saat dia mengecek mutasi. “Chris, perusahaan kita ada kerjasama sama Nicholas Tjandra?” Christian berhenti mengunyah makanannya. Saat pesan itu masuk, mereka berempat yang terdiri dari Evan, Anye, Joseph, dan Christian memang sedang makan malam. “Nicholas? Moderna ?” Evan mengangguk. “Kurang tahu, mungkin ada. Nanti aku cek.” Evan tidak bertanya lagi, dan membaca pesan itu berulang kali. Mereka tidak punya persimpangan sebelumya, jadi dia agak bingung harus menjawab apa. Pada akhirnya Evan menulis. “It’s my pleasure. Biarun saya kurang tahu transferan tadi buat apa?” Semenit. Dua menit. Sampai Hartono dan Clara duduk dekat Anye, tidak ada tanggapan apa-apa dari Nicholas, dan akhirnya Evan lupa. ***   Dari dua ratus meja yang disiapkan untuk tamu, lebih dari setengahnya yang terisi. Meskipun ada lebih sedikit orang, itu sudah cukup untuk membuat kuping Cecille panas andai sekarang dia berada di sana. Suara-suara sumbang dari ruang perjamuan semakin  tidak terkendali. "Evan nggak datang to ke pernikahannya, tapi nggak ada kabar kalau pemberkatan dibatalin. Apa ada pemberkatan online?” Pertanyaan yang sama kembali terdengar. Di meja yang sama wanita yang mengipasi lehernya  mencibir, “Apanya pemberkata  online? Lha wong Muljadi sudah kirim pesan acara ditunda kok.” “Lah terus ki acara opo?” “Lho yo mboh! Cecille ndak ngomong apa-apa kok, jadi ya kita nde sini aja. Alasane pura-pura ndak eruh, padahal pengen ndelok ndee piye.” Meja lain tidak kalah seru, mereka makan minum sembari mengasihani Cecille dengan raut wajah yang kelihatan semringah dari pada prihatin. “Sedih banget nggak sih kalau jadi Cecille. Sudah jadi bayangan Evan bertahun-tahun, dicuekin, akhirnya minta ke kakeknya supaya dijodohin,baru deh Evan ma. Sudah  ngorbanin masa muda, ngorbanin waktu. Endingnya nyesek, tetep dibuang.” “Seperti kata orang tua, first love never die. Dulu Evan pergi keluar negeri karena Anye, sekarang calon istrinya juga dia tinggal gara-gara perempuan yang sama. Mengsedih!” “Sayang banget status Anye keponakan Om Hartono, coba dia adik atau kakaknya Cecille atau nggak keponakan dari pihak kakek Liem, pasti nggak ada drama kabur-kaburan kayak gini.” “Jadi nggak sabar ada drama apalagi setelah ini?” “Drama nangis-nangis sampai pingsan.” Setelah berbicara, beberapa orang tidak bisa menahan tawa. berjarak satu meja dari mereka, Unge berdiri dari tempatnya. Sembari merapikan bagian belakang gaun panjangnya yang kusut bekas kedudukan, dia melihat meja sebelah dengan matanya yang siap rebut. Unge kenal sama semua perempuan yang duduk menertawakan kemalangan Cecille di sana, salah satunya Laeni Widjaja, dia lumayan dekat sama Anye. Mengherankan dia mau datang ke sini. Unge mengambil gelas sampanye yang baru ia nikmati seteguk. Melihat temannya mau pergi, Arling ikut berdiri, “Eh, Unge mau kemana?” “Nyamperin teman lama.” “Siapa?” Unge menggunakan dagunya untuk menunjuk, “Tuh!” Arling memutar kepalanya melihat ke tempat yang ditunjuk, dan bibirnya langsung mencibir. Seperti Unge, Arling juga sudah lama berteman dengan Cecille, sejak Christian menghancurkan kepercayaan dirinya. Sejak saat itu, teman Cecille adalah temannya, dan orang yang memusuhi Cecille juga akan dia musuhi. Termasuk sekelompok yang mulutnya asal mangap, di sana. Melihat mengingat nasib pernikahan Cecille yan tragis, Unge masih dalam suasana hati yang campur aduk, tetapi sekarang musuh yang berada di meja yang sama mempermalukannya Dia dia membawa gelas anggur dan menyesapnya, dan melirik wanita di sebelahnya, “kalian sudah menyicipi hidangannya?” Mantan teman sekolahnya mengangguk. “Wine?” “Ini wine terenak yang pernah aku minum.” Yang lain setuju. “Yah,harganya memang nggak murah. Tapi sayang makanan dan minuman semahal ini harus dimakan oleh parasit  model kalian!” Tania berseru, “Unge kami nggak ganggu kamu, kenapa kamu cari gara-gara sama kami?” “Kalian menghina Cecille! Itu setara dengan mengangguku!” “Kami cuma ngomongin kenyataan, jadi dimana menghinanya?!” “Kamu!” Sebelum ribut antara cewek-cewek itu terjadi, Arling sudah menarik Unge supaya duduk. “Nggak usah ladenin mereka. Acara ini sudah kacau, masa mau kamu tambahin acara berantem sih?” Mendengar nasihat itu Unge mendengkus, dan kembali duduk ditempatnya. Lalu dia mendengar Tania bertanya pada Laeni yang mencari seseorang. “Kamu nyari siapa sih, Len? Sibuk dari tadi.” Masih dengan mata yang berkeliaran, Laeni menjawab. “Nicholas Tjandra.” Teman-temannya dengan kompaknya berkata, “Aduh, dia sih nggak bakal dateng. dari SMA kan dia udah nggak akur sama Evan.” “Ada kok, tadi aku ketemuan sama dia?” “Hah? Serius, kok bisa ketemu sama dia.” Perhatian tiga orang lainnya tertuju pada Laeni. Wajah Laeni penuh dengan rahasia, senyumnya juga berbunga-bunga. Ketika teman-temanya terus mendesak, dia menjawab dengan suara rendah. “Aku mau dijodohin sama dia.” “Aaaaah, serius lo?” Lalu lampu ditempat perjamuan tiba-tiba redup. Obrolan berhenti seketika. Orang-orang langsung mencari tempatnya masing-masing. Hanya satu lampu yang menyala terang, dan menyoroti satu tempat, Cecille! Dengungan suara kembali terdengar, tapi Cecille sudah memblokir suara apapun masuk ke dalam otak dan telinganya. Tempat pernikahan diatur secara romantis dan seperti negeri dongeng, dengan lampu melengkung lembut tersebar di antara bunga-bunga dan rumput di samping kapel. Itu seperti langit penuh bintang, tetapi juga seindah kunang-kunang. Bunganya segar dan lembut, dengan aroma samar bunga yang menempel di ujung hidung, seperti hutan dalam kegelapan. Sinar cahaya lembut menghantam panggung, dan wajah Nicho dengan lembut, dia mengenakan setelan gelap yang elegan dan berdiri dengan tenang di ujung pandangan para tamu yang memutar punggung dan kepalanya melihat kebelakang. Pintu kecil yang memisahkan meja  tamu menjadi dua sisi terbuka, Cecille memandang mempelai pria dalam garis lurus, dan berjalan maju selangkah demi selangkah. Adegan ini seperti film yang ia khayalkan bertahun-tahun, hanya saja pemeran utama pria berbeda dari yang ia harapkan. Gadis kecil pembawa bunga berjalan dengan kaki pendek di depan, keduanya memakai gaun kecil yang imut, menaburkan  bunga di sepanjang jalan setapak. Setelah ditaburi oleh gadis penabur bunga  , yang berada di sisi jalan bereaksi pertama dari keterpanaan, dan berseru. "Tunggu, kenapa ada mempelai pria?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD