Suara laki-laki menempel di daun telinganya tanpa peringatan.
Dalam, rendah magnetis, dengan rasa yang menyenangkan.
Cecille kaget, panik dan mundur, lalu segera berbalik dan pandangannya melekat pada mata suram pria itu.
"Kamu--" Dia terdiam, dan sedikit frustrasi, "Siapa yang nyuruh kamu masuk?!"
Lidah Nicho berdecak ‘ck’ dan mengulurkan tangan ke atas bahu putih yang terbuka, "Bukankah kamu sendiri yang nyuruh aku masuk dan minta bukain resleting gaunmu?"
Telinga Cecille memerah karena malu, untuk menutupinya dia menggerutu, “Aku kira itu Unge. Kalau tahu itu kamu, mending nggak usah!”
Selesai dia bicara, tulang selangkanya terasa dingin.
Dia tidak bisa menghindarinya saat buku-buku jari halus dari tulang kipas seorang pria secara tiba-tiba meerayap disepanjang garis gaunnya.
Ujung jari yang dingin dengan lembut melayang di sepanjang garis tulang selangka yang terbuka, seolah-olah kulitnya selembar sutra yang lembut.
Geraka itu cuma sesaat, Nicho dengan cepat mengangkat jarinya lagi, seperti capung yang mencicipi ciuman.
Sudut mulutnya melengkung membentuk lengkungan dangkal, “Oh, oke, karena snggak usah, aku pergi sekarang.” Pria itu memutar tubuhnya tanpa bersuara.
“Hei, Nicho. Tunggu!”
Cecille bergegas menyusul mencegah orang itu benaran pergi, roknya yang lebar sedikit menyusahkannya, dia hampir jatuh, dan wajahnya menabrak tubuh bagian Nicho yang sudah balik badan dan dengan sigap menangkap pinggangnya yang ramping, “Awww!”
Ujung hidungnya yang cantik berkerut karena sakit, “Benar-benar deh baju ini, bikin repot aja!” gerutunya saat membebaskan diri dari lengan pria itu dan segera menjauh.
Namun saat melihat dengan jelas penampilan Nicho saat ini, dia tertegun sejenak.
Cecille tahu Nicho tampan, tetapi hari ini dia luar biasa tampan.
Pria itu memakai pakaian formal, tetapi tidak membuatnya terlihat kaku.
Itu hanya kemeja putih bersih yang dilapisi vest abu-abu gelap, senada dengan celananya. Dua kancing atas kemeja yang biasanya terbuka dan sedikit berantakan, memamerkan tulang selangka di bawah leher, sekarang terpasang rapi.
Dia bahkan memakai dasi hitam polos untuk menutupi kancing yang terkunci sampai atas.
Lengan kemejanya digulung sebatas siku. Memperlihatkan urat biru jernih dan otot bergaris kuat di lengan bawahnya.
Perpaduan ini sangat cocok dipakai Nicho, Vestnya menarik pinggang yang sempit, lengannya kuat, dan sosok pria segitiga terbalik yang proporsional ditampilkan dengan sempurna, tetapi seluruh tubuhnya memancarkan cemoohan yang sulit diatur.
Cecille menatap pria itu, hatinya berfluktuasi tanpa sadar.
Penampilannya tumpang tindih dengan sosok dalam ingatan, membuat gadis itu linglung sesaat.
Nicho memasukkan satu tangan ke sakunya, dia maju dua langkah, sedikit membungkuk, dan menatapnya selama beberapa detik.
Tiba-tiba dia mengulurkan jari ramping dengan buku-buku jari yang berbeda menjentik dahi Cecille yang masih terpana.
Sudut bibirnya melengkung dengan lengkungan yang dangkal, nadanya bercanda, “Cecille ini bukan saatnya mengagumi ketampananku.”
Cecille yang tersadar mendengkus, menggeser tubuhnya untuk member jarak pada kedekatan mereka, “Kenapa kamu ke sini?”
Nicho dengan malas mengangkat alisnya, “Kamu melamarku lewat telepon kan?”
Cecille tercengang.
Dia menatap mata gelap pria itu seperti kolam yang dalam, dan tidak tahu apakah dia bercanda untuk sementara waktu.
“Sudah lihat beritanya?”
“Pikirmu aku mau datang ke sini kalau bukan karena calon suaminya lari dari pernikahan? Aku bukan tipe orang yang suka mengambil milik orang lain. Kecuali orang itu bodoh, kayak tunanganmu.”
Mendengar tawa kecil meluncur dari mulut pria itu Cecille sedikit kesal.
“Jangan ketawa! Aku nggak mood buat ngeladenin ejekanmu.”
Dan Nicho langsung bukam.
Cecille menatap kosong pada profil pahatan pria itu,”Jadi kamu mau menikah denganku?”
“Kenapa aku?” Nicho menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain.
“Nggak ada kandidat lain yang lebih baik dari kamu. Terutama dari segi visual, kamu lebih unggul dari Evan.”
“Bukan Cuma visual!” kata Nicho dengan sedikit penekanan, “untuk semua hal, terutama menjaga komitmen dan perasaan wanita, aku jauh lebih unggul dari Evan. Kamu saja yang selama ini pakai kacamata kuda, ngelihatnya lurus terus ke Evan, dan terlalu buta untuk melihat kelebihanku.”
Cecille tahu Nicho menyindirnya, hanya saja fokus gadis itu pada kalimat,’menjaga komitmen dan perasaan wanita, mungkinkah dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dan datang ke sini menolak permintaannya secara langsung?
Ah, lupakan!
Meskipun Nicho sewenang-wenang dan sombong, dan hubungan antara mereka berdua tegang di sekolah menengah, Cecille yakin dia bukan orang yang akan menjatuhkannya.
“Kamu tahu alasan paling penting kenapa aku memilihmu?”
Pria itu menatapnya bermain-main.
Lalu mengangkat alisnya, dan bertanya dengan ringan, "Haruskah aku tahu?"
Cecille menjawab, “Perlu. Supaya tahu batasan dalam hubungan pernikahan ini.”
“Jadi?”
“Jadi aku memilihmu lebih karena kamu nggak punya hubungan yang baik dengan Evan. Kalian bermusuhan.”
Nicho kembali terkekeh ketika dia mendengar itu, lalu dengan ringan menepuk tangannya dan berkata, “Gunakan musuhnya untuk menghancurkan musuhmu. Strategi perang yang cerdas!”
Cecille tidak mempedulikan nada sarkastik dalam suara Nicho ketika dia bertanya, “etuju kan menikah denganku?”
Nicho tidak menjawab, sebaliknya dia memandang Cecille dengan acuh tak acuh, dan Cecille mulai kehilangan kesabarannya.
“Nicho! Aku nggak punya waktu buat main-main. Mau atau nggak?”
“Mau atau nggaknya, itu tergantung keuntungan apa yang aku dapat?”
Cecille menahan diri untuk tidak mencekik orang di depannya sampai mati!
Bisa-bisanya orang ini memanfaatkan kondisinya yang sedang terjepit demi keuntungan pribadinya.
Apa dia masih sejenis manusia?
“Apa yang dipikir? Kamu nggak punya banyak waktu kan?” dengan murah hati Nicho mengingatkan Cecille.
Senyumnya yang malas-malasan membuat wanita itu mengadu gerahamnya, “Jawab saja iya dulu. Urusan itu kita bahas selesai acara nanti.”
Nicho maju dua langkah, memangkas jarak diantara mereka, tubuhnya yang tinggi dan bahunya yang lebar membawa sedikit tekanan. Dia menundukkan lehernya, dan menatap tepat di mata Cecille dengan sedikit senyum di wajahnya.
Pada jarak sedekat itu, Cecille menemukan ada t**i lalat kecil tapi sangat seksi di sudut mata kirinya.
“Kamu mencintaiku?”
Pertanyaan itu mengejutkan Cecille, kemudian dia sedikit menjauh darinya, dan membantah dengan agak keras.
“Ya nggaklah!”
“Kita pernah akrab sebelumnya? Setelah lulus sekolah?”
Cecille menggeleng.
“Aku atau keluargaku punya utang dengan keluargamu?”
Dan lagi-lagi wanita itu menggeleng, “Setauku nggak?”
“Lalu, apa tujuan pernikahan yang kamu tawarkan?” Nicho kembali mendekati Cecille saat menyecarnya dengan pertanyaan.
Tujuannya?
Cecille tidak mengerti kenapa Nicho menanyakan hal itu. Bukankah tujuannya sudah jelas, supaya dia tidak dipermalukan?
“Ini pernikahan bisnis. Tanpa melibatkan perasaan. Kita akan bercerai—“
Cecille belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Nicho sudah berkata, “Cukup!” lalu meluruskan punggungnya.
“Kamu sendiri yang bilang ini adalah pernikahan bisnis. Dalam bisnis, semua untung rugi dibicarakan sebelum ada kata sepakat, bukan sesudahnya. Begitu kan? Selama ini aku hidup sebagai lajang yang bebas dan penuh kesenangan, dan untuk membantumu, Cecille, aku melepas semua itu dan masuk ke dalam sangkar yang bernama pernikahan. Sudah kebayangkan, seberapa besarnya nilai diriku?”
Ketika suara itu jatuh, Cecille menggeram saking dia kesal.
Pria ini licik. Sangat licik!
Dia mau membatalkan semuanyan sekarang, tapi sudah terlambat. Lagipula,dia juga harus memikirkan kondisi kakeknya.
Pada akhirnya Cecille menekan bibir bawahnya, dan langsung memberikan penawaran.
“Aku dengar kamu menginginkan sebidang tanah di Selatan. Aku bisa memberikan itu.”
Untuk membangun kembali keluarga Tjandra yang sudah lama menurun, Nicho berencana membangun perumahan bersubsidi program pemerintah yang sekarang banyak diminati oleh kalangan berpenghasilan menengah.
Setelah beberapa kali lelang, akhirnya tender dimenangkan Moderna Griya Pratama. Dari target tujuh ratus unit ruma yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya, baru tercapai separuhnya.
Dan proyek di Selatan terhambat oleh lahan milik Liemanto yang tidak dilepas oleh Hartono biarpun sudah ditawar dengan harga maksimal.
Yakin mendapat untung dari proyek ini, Rusdi Tjandra, ayah Nicho memakai sebagian dana yang sudah cair dari bank untuk membayar ganti rugi ke pembeli perumahannya yang bermasalah.
Belum lagi gaya hidup Rusdi yang mewah dari hasil hutang.
Cecille sedikit kagum dengan Nicho yang bisa bertahan dari satu masalah ke masalah lain yang membelit keluarganya.
Sayangnya pria itu menganggap remeh tawaran dari Cecille dengan berkata.
“Harganya terlalu murah untuk membayar kebebasanku. Belum lagi ketampananku yang tersia-siakan karena statusku yang sudah beristri.”
“Nicho, please. Jangan membuang-buang berdebat untuk sesuatu yang nggak penting! Sementara cuma itu yang bisa aku kasih, selebihnya kita bicarakan nanti. Tapi aku janji, ngasih apapun yang kamu minta.”
Kedua alis Nicho terangkat, “Apapun?”
“Iya, apapun selama itu nggak melanggar moral.” Karena pria ini licik, Cecille mengatakan itu supaya nggak dirugikan.
“Are you sure?”
“Sure!”
Senyum Nicho mengembang sempurna di wajahnya, dia mengulurkan tangannya yang indah untuk menjabat tangan Cecille. “Oke, deal!”
Cecille melihat ke bawah, dan pandangannya salah fokus pada gelang perak yang agak tertutup oleh jam tangan. Ada cincin melingkar dalam gelang yang sepertinya berpasangan dengan cincin yang terpasang di jari telunjuknya.
Cecille balas menjabat tangannya sebagai tanda kesepakatan, “Deal!”
Setelah kedua tangan itu terlepas, Nicho merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan mengambil kertas dan materai senilai sepuluh ribu dari sana.
“Ada baiknya kamu tulis janji yang kamu bilang tadi di sini. Jangan lupa tanda tangan tepat di atas materai.”
Menyambar kertas itu dengan gerakan kasar, omelan Cecille ,menyembur keluar.
“Sakit jiwa!!”