Sepanjang tiga jam perjalanan dari Malang ke Surabaya Clara sama sekali tidak bisa duduk tenang. Dia gelisah memikirkan kondisi Anye.
Berkali-kali dia menelepon Joseph untuk memastikan keadaan keponakannya itu, biarpun jawaban bungsunya itu sama, Clara tidak bisa berhenti khawatir.
Bukannya dia tidak parcaya, Clara takut Anye menyuruh Joseph berbohong tentang kondisinya. Dari dulu mereka sering begitu kalau terjadi sesuatu, saling menutupi kalau ada sesuatu, terutama Anye.
Gadis itu kalau sakit atau punya masalah seringnya diam, nggak mau cerita. Nanti ketahuannya kalau semua sudah selesai, atau makin parah. Setiap ditegur dan dimarahi, dia diam menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Tunggu sampai Clara berhenti mengomel dan emosinya menurun, barulah dia mendekat dengan secangkir teh chamomile, kemudian duduk menggenggam tangan Clara.
“Maafin aku ya tante. Bukannya nggak mau ngomong, tapi aku nggak mau bikin om sama tante kepikiran. Lagian masalahnya sudah selesai kok.”
Siapa yang tahan ditatap oleh mata bulat yang berair yang memiliki rasa bersalah? Begitu juga Clara dia langsung luluh.
Karakternya yang lembut sangat berbeda dengan Cecille. Coba kalau itu Cecille, jangan harap dia mau bicara dengan lemah lembut seperti Anye, yang ada ibu dan anak akan berdebat tentang siapa yang paling benar.
Clara menghela napas. Ada sedikit ketidakpuasan dalam hatinya.
Terkadang dia tidak habis pikir dengan Anye, dia dan suaminya merawat keponakannya itu sudah lebih dari lima belas tahun. Lebih lama dari mereka merawat putri kandungnya sendiri.
Selama itu dia sudah menganggap Anye sebagai putri kandungnya sendiri, anak itu akrab dan sering bersikap manja dengan Hartono, pamannya. Tetapi agak menjaga jarak dengannya.
Kurang dari jam Sembilan malam mobil yang membawa pasangan itu memasuki kota Surabaya.
Langit sehitam tinta yang mengikuti mereka semakin terang oleh cahaya lampu yang menerangi jalanan dan gedung. Jalan kota yang mereka lewati bersih dan tertib.
Melewati patung Hiu dan Buaya, landmark yang menjadi ciri khas kota itu, mobil yang membawa mereka belok kanan, ke arah Tegal sari, dan tak lama kemudian memasuki kawasan gedung apartemen yang setara dengan hotel mewah.
Christian yang punya kartu akses buat masuk menjemput pasangan itu di lobi.
Clara terlihat tidak sabar.
Begitu pintu terbuka, dia segera melempar dirinya ke sisi sofabed Anye, dan memeriksanya dari atas sampai bawah.
“Ya ampun sayang, gimana perasaanmu? Kakimu masih sakit nggak? Mananya yang paling sakit? Kasih tau tante.”
Anye tersenyum lemah, dia menahan beban tubuhnya dengan kedua tangan saat mau duduk. Melihat itu Clara segera membantu, “Hati-hati, nanti kena lukamu. Tiduran aja, nggak apa-apa.”
“Aku baik-baik aja kok, Tan. Masih bisa duduk.”
Clara membelai rambutnya dengan lembut, “Kamu seorang perempuan, artis. Luka itu pasti ninggalin bekas, jangan bilang baik-baik saja.”
“Kenapa langsung di bawa pulang? Seharusnya tinggal dulu sehari atau dua hari di rumah sakit.” Hartono menimpali.
Christian yang bertanggung jawab menjawab dengan, “dengan situasi begini, nggak nyaman, Om, di rumah sakit.”
“Nggak parah kan? Luka dalem atau apa gitu?”
Gelengan Christian membuat Clara lega.
“Tuh, bener kan jie Anye nggak apa-apa. Nggak percayaan banget sih.”
“Gimana mami mau percaya, kamu aja suka bohong!”
Diomelin maminya, Joseph protes “Bohong apa sih? Kapan?”
Clara menghampiri Joseph yang lagi main game, menarik telinganya yang langsung memerah.
“Pake nanya lagi bohong apa sama kapan? Inget nggak kamu, siang tadi pas mami nelepon jawab apa?”
“Aduh, duh! Ampun, Mi, ampun!” Joseph melolong kesakitan, kepala pemuda itu mengikuti tangan ibunya, supaya kupingnya tidak meregang sampai putus.
“Tante, salahin aku aja!” Anye menggerakkan tangannya ke sana kemari untuk melerai, “Tadi aku yang nyuruh Jo bilang nggak tau aku kemana. Ayo dong, Tan. Jangan ditarik lagi, kasian Jo.”
Hartono mengernyit, menyuruh istrinya berhenti, dan ruangan kembali tenang.
Joseph bersungut-sungut saat mengusap telinganya.
Sewaktu Clara yang di susul Hartono masuk, Evan menunggu penuh harap Cecille juga ikut. Karena tidak melihat ada tanda-tanda dia datang, dia bertanya.
“Om, Cecille?”
Hartono mendengkus kesal karena pertanyaan itu. “Dia nggak mau kelihatan capek dan jelek besok. Jadi nggak ikut.”
Senyum Evan mengembang mendengarnya.
Tepat seperti dugaannya, Cecille tidak akan pernah meninggalkannya. Kata putus tadi cuma sekadar ancaman.
Anye terbatuk ringan, mengembalikan perhatian kembali kepadanya.
“Om sama tante sibuk, seharusnya nggak usah repot datang ke sini.”
Wajah Hartono keruh karena tidak dihargai. Anye melihatnya, jadi dia buru-buru menyangkal sebelum Hartono marah.
“Bukannya aku nggak seneng, Om, Tante. tapi kalian semua ada di sini. Aku jadi nggak enak sama Cecille, harusnya hari ini hari bahagia, tapi semua kacau gara-gara aku.”
Akting Anye nggak diragukan lagi. Tampang sedih dan tertekannya membuat Clara tersentuh. Mengambil kepala gadis itu, Clara membawanya ke dalam pelukan seorang ibu yang hangat.
“Gadis konyol! Jangan berpikir terlalu jauh, pernikahan bisa jadwal ulang besok. Tapi akan jadi penyesalan seumur hidup buat kami kalau terjadi apa-apa sama kamu.”
Pernikahan yang bisa dijadwal ulang itu sudah di laksanakan satu jam yang lalu, dan tidak ada satupun dari mereka yang tahu.
Christian sejak tadi memegang ponsel, dia berkali-kali menyegarkan pemberitahuan atau status WA lingkarannya. Siapa tahu ada kabar terbaru dari Cecille, dia depresi misalnya.
Atau melakukan percobaan bunuh diri karena malu ditinggal calon suami. Pada akhirnya Christian melempar ponselnya karena bosan.
Nggak ada satupun status terbaru yang dibuat mereka.
Perubahan mempelai pria yang mendadak terlalu mengejutkan buat orang-orang yang tetap tinggal untuk menonton Cecille menunjukkan kebodohannya. Saking terpananya, mereka lupa untuk mengambil foto atau video.
Begitu mereka sadar dari terkejut, pasangan baru itu sudah pergi meninggalkan altar.
**
Sembilan puluh menit sebelum pernikaha itu terjadi.
Setelah panggilan teleponnya ditutup oleh Nicho, Cecille melamun memandangi layar gelap di tangannya.
Semuanya berakhir. Dia gagalkan mendapatkan calon suami pengganti. Takdirnya tidak bisa diubah, kejadian ini pasti akan menjadi aib dalam hidupnya yang susah dihapus.
Dia lalu mengklik grup WA yang isinya hanya tiga orang.
Unge mengutuk Evan sial tujuh turunan yang langsung diamini sama Arling.
Cecille membaca hanya meliriknya beberapa kali sebelum kotak obrolan.
Satu jam menjelang acara, tamu mulai berdatangan ke capel.
Keluarga Muljadi sudah meninggalkan resort dan kembali ke rumah pribadi mereka sejak sore tadi. Karena sudah ada pemberitahuan acara di tunda, secara alami tamu undangan orangtua mereka tidak muncul di aula pernikahan.
Berita larinya Evan dari pernikahan, menambah antusias tamu undangan dari pihak kedua mempelai. Bukannya pergi dan datang lagi besok, mereka sengaja pergi hari ini.
Ini semua karena Cecille nggak muncul dan mengatakan sesuatu pada mereka.
Dengan mereka datang ke sini, orang-orang itu berharap Cecille mau muncul menunjukkan wajahnya.
Merak cantik yang suka mengibarkan bulunya dengan sombong itu akhirya menjadi seekor ayam.
Dan kejatuhan bintang selalu menarik untuk lihat.
Laeni dan teman-teman kayanya duduk di meja di tengah aula perjamuan. Mereka adalah tuan dan nona muda yang terkenal di lingakaran pergaulan.
Tadi mereka bertemu Unge dan Arling di depan, kedua orang itu tidak mengatakan apa-apa tentang kondisi Cecille, membuat mereka penasaran.
Di sisi lain, di ruang pengantin.
Cecille mengangkat tangannya untuk menarik rambut di sekitar telinga, dan mengedipkan mata dengan sangat lambat.
Dia berpikir untuk mengganti gaunnya sebelum pergi menemui tamu yang datang untuk melihat leluconnya.
Cecille melihat pemandangan yang hidup di luar jendela, dan tiba-tiba merasa seperti berada di ruang kaca hampa udara, tercekik dan dia tidak merasakan apa-apa selamanya.
Adegan ini persis sama dengan pernikahan yang dia bayangkan ketika dia masih anak kecil yang berpikir semua di dunia ini indah.
Ada kekasih yang ia cintai berdiri di sampingnya, yang mendapat perhatian dan doa restu dari semua orang.
Sekarang, semuanya terjadi di depan matanya, tetapi dia tahu dengan jelas bahwa ini hanyalah cermin air yang di dalamnya kosong.
Semua palsu.
Cecille menutup matanya dengan kuat, dan ketika dia hendak duduk lagi, dia tiba-tiba merasakan perasaan aneh di punggungnya.
Gaunnya ketat sehingga dia tidak bisa meregangkan lengannya, tulang belikatnya yang telanjang bergerak tanpa daya, dan dia seringan sayap kupu-kupu.
Pada saat ini, pintu di belakangnya terbuka.
Dia mengira itu Unge yang datang untuk menghiburnya, "Bagus kamu datang, tolong bantu tarik resletingnya, aku mau buka baju ini——"
Unge tidak menjawab, langkah kaki dari jauh dan dekat ke belakangnya. Napas hangat meniup telinganya.
“Kita belum sah menikah, haruskah melakukannya sekarang?”