"Maaf, nomor yang Anda tuju untuk sementara tidak dapat dihubungi…”
Lagi-lagi suara mekanis yang sama yang menjawab panggilannya. Evan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, mereka sudah setengah jam meninggalkan Surabaya setelah sebelumnya mampir ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Anye, dan Cecille masih belum mengaktifkan ponselnya.
Sejak semalam Cecill,e tidak mengambil inisiatif untuk menghubunginya, jadi dia mengambil inisiatif untuk menghubungi Cecille.
Dan dari semalam juga nomor tunangannya itu susah untuk dihubungi, ini tidak seperti biasanya.
Pertama kali menemukan nomor Cecille tidak aktif, Evan mengira itu memang sengaja dimatikan oleh Cecille untuk menenangkan diri akibat kekacauan semalam. Akhirnya Evan mengirim pesan dengan kata-kata manis untuk menghibur dan menenangkannya.
Siapa yang mengira sampain sekarang nomornya belum juga bisa dihubungi.
Pria itu melihat ponselnya lagi, mengusap layar gelap dalam genggamannya, lalu membuka aplikasi WA. Ratusan pesan yang ia kirim dari semalam semuanya masih centang satu, dan tidak ada pembaruan apapun pada status WA Cecille.
Evan menggosok pelipisnya dengan ringan sekarang, menekan perasaan tidak enak dalam hatinya.
Apakah dia marah?
Christian melihat kegelisahan Evan, mengangkat dagunya sedikit, tersenyum, “Santai, Bro. palingan dia cuma ngambek sebentar, sudah itu baik lagi. Kayak baru kali ini kenal Cecille aja.”
Evan samar-samar menarik napas lega.
Christian benar, bukan cuma sekali dua kali Cecille marah karena Anye, seharusnya dia sudah terbiasa.
“Kenapa nggak kamu telepon Unge aja, pasti dia sama Cecille.” Anye yang diam dan memperhatikan memberikan saran yang masuk akal.
Evan segera mencari nomor Unge dan meneleponya, dan sumpah serapah datang dari sisi lain, saking nyaringnya suara Unge Christian yang sedang menyetir di sebelahnya bisa mendengarnya dengan jelas.
Setelah puas meluapkan kekesalannya, Unge hanya berkata. “Buat apa cari Cecille? dia belum bangun!”
“Dia sakit?” tanya Evan serius.
“Kecapekan akibat semalam!” sahut Unge singkat, lalu kemudian menutup telepon tanpa basa basi.
Evan mengerutkan kening. Kata-kata Unge terdengar sangat ambigu di telinganya.
“Nggak heran dia cocok sama Cecille. Attitude-nya zonk!” Christian menambah sedikit kecepatan sebelum lampu di persimpangan berubah merah.
Evan hanya menanggapi gerutuan Christian yang duduk di sebelahnya dengan, “Kali ini, aku memang salah, biarpun ada alasannya. Selama dia nggak ngomong putus atau mau membatalkan pernikahan, aku nggak keberatan dimaki-maki sama Cecille dan teman-temannya.”
Christian tampaknya diejek ketika dia mendengarnya, dan bahkan tidak bisa menahan diri untuk mengatakan sesuatu di dalam hatinya.
Cecille bisa marah dan mengancam mau putus dan membatalkan pernikahannya dengan Evan, tetapi endingnya pasti dia menelan ludahnya lagi.
Christian tidak peduli bagaimana Evan membujuknya. Tapi sudah pasti pembicaraan tentang pelarian pengantin pria dari pernikahan ini ditakdirkan untuk tidak pernah berakhir.
Tetapi Anye masih bergumam di belakang, “Om Har sama Tante Clara juga nggak bisa hubungi dia, atau jangan-jangan nomor kalian diblokir? Cecille memang selalu egois dan semaunya sendiri!”
Suaranya sangat lembut, tetapi dapat didengar dengan jelas di sudut yang sunyi.
Anye itu gadis yang cerdas. Bahkan jika dia tahu semua masalah timbul karena dirinya, dia tahu bagaimana harus menghindar, dan yang paling penting membebankan kesalahan nya pada orang lain.
“Aku nggak tau apa yang ada dalam pikirannya. Kalau nggak ada mempelai pria, gimana mau nikah coba? Tapi dia ngotot tetap di sana, buat apalagi kalau bukan buat dapat simpati dari orang? Nggak usah mikirin akibatnya ke aku, aku udah biasa dirugikan karena sifatnya yang pencemburu. Tapi mbok ya dia mikir gitu lho, bagaimana efek keras kepalanya itu ke kamu, ke Om dan Tante, juga ke perusahaan.”
Awalnya, Evan hanya melihat ke suatu tempat dengan acuh tak acuh, Mendengar kata-kata itu, dia memutar punggungnya menatap Anye.
“Dia cuma butuh waktu buat menenangkan diri. Kamu jangan temui dia dulu sampai kami bicara empat mata.”
Anye mengangguk patuh, “Aku tahu, setelah itu biarkan aku minta maaf sama dia.”
Pada saat ini, hanya ada dua orang yang sarapan di lounge khusus. Cecille menggigit sandwich. Kulitnya renyah dan butter-nya harum.
Dia tidak tahu apakah dia lapar karena tidak cukup makan semalam, atau energinya terkuras karena emosi dengan Nicho yang duduk didepannya, tetapi dua potong belum cukup membuat perutnya kenyang.
Dia melirik sandwich yang belum tersentuh di piring Nicho. Harga dirinya yang kuat tidak memungkinkannya untuk mengambil sesuatu dari piring orang lain untuk dimakan.
Seakan bisa membaca pikirannya, Nicho mendorong piring keramik ke depan Cecille, “Ambil lah!”
Tawaran itu segera diterima Cecille dengan senang. Dia menuangkan saos sambal yang dicampur dengan sedikit perasan lemon, lalu mengoleskan sambal buatannya ke pinggiran sandwich telur dan tuna.
“Kamu sibuk nggak hari ini?”
Nicho meletakkan cangkir kopinya, “Aku bisa meluangkan waktu kalau kamu mau mengurungku seharian dalam kamar. Buat teori aku tahu, tapi kalau mau praktek, kita bisa belajar sama-sama.”
Telinga Cecille memerah dan dengan cepat menjalari wajahnya.
Messum!
Melihatnya begitu, tawa Nicho pecah. Buat gadis yang lama tinggal di luar negeri dengan pacarnya, dia benar-benar seperti gadis polos.
“Lupakan, tadi cuma becanda. “ pria itu mencondongkan tubuhnya dengan tampang serius, “Kenapa?”
Cecille meletakkan sendoknya, menyeka mulutnya dengan serbet, semua gerakannya sesuai standar guru kelas etiket di John Robert Power, "Kakek menelepon dan ingin kita menemuinya hari ini. Apakah kamu bebas?"
Di meja itu hening beberapa saat, Nicho mengetukkan jarinya ke permukaan cangkir porselen, dan bertanya dengan ringan.
“Aku… atau Evan yang mau beliau temui?”
Cecille mengangkat matanya, menatap wajah tampan di depannya, dan berkata dengan serius, “Kakek ingin menemui suamiku, dan suamiku sekarang kamu. Apa hubungannya sama Evan yang orang luar?”
Nicho berdeham, "Karena kakekmu yang nyuruh, tentu kita nggak bisa menolak. Poinnya adalah, kamu mau kasih alasan apa tentang aku?”
Saat Cecille berpikir, Nicho kembali melanjutkan, “Tentu saja kamu bisa jujur aku pengganti Evan. Plotnya masih sama kayak semalam, ini tentang cinta lama yang bersemi kembali, aku melamar kamu begitu tahu kamu ditinggal Evan, dan kamu terima karena kamu juga punya kasih sayang yang sama. Masalahnya adalah, aku nggak bisa merasakan perasaan kasih sayangmu, bagaimana kita bisa membohongi tetua?”
Cecille melihat cahaya licik di matanya, dan dia tahu bahwa ini adalah ide buruk lainnya.
"Apa yang kamu inginkan???"
Nicho mengoreksinya, "Ini bukan keinginanku, ini untuk akting yang lebih baik. Kamu harus bekerja sama denganku dan melakukan apa yang aku katakan."
Cecille mengangkat alisnya, "Oh? Akting yang bagaimana?”
Nicho tersenyum dengan sudut mulutnya, "Misalnya, kita ubah panggilan dulu . Sekarang mari kita berlatih, dan kamu bisa mulai memangilku... sayang.”