Duduk di sofa ruang ganti, Cecille menyentuh wajahnya yang panas dan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
Sepertinya, tanpa ia sadari pelan-pelan dirinya sudah masuk ke dalam perangkap Nicho.
Pria itu terlihat tulus saat bilang, ‘kamu bisa menghubungiku kalau butuh bantuan.’ Tetapi dia tidak berharap pria itu sangat licik memanfaatkan keadaan.
Sayang sekali dengan kelicikannya itu dia tidak jadi pengusaha. Tidak usah menunjukkan diri, cukup di belakang layar. Pasti dia bisa cepat kaya.
Cecille melihat jam, kemudain mulai merapikan barang-barangnya untuk dibawa pulang oleh sopir.
Satu jam kemudian, dia sudah merias wajah dan keluar dari kamar. Ketika berbicara dengan resepsioni, Cecille melihat Nicho duduk di lobi, pria itu serius dengan laptop di depannya.
Nicho sudah mengganti pakaiannya, celana jeans biru yang dipasangkan dengan tweed jackets warna cokelat di atas kaos biru muda. Cecille melihat baju yang ia pakai lewat pantulan jendela kaca.
Tidak ada jejak wanita serius dan angkuh, pencitraannya selama ini.
Untuk menemui kakeknya, Cecille secara khusus memilih t-shirt warna milo dengan jumpsuit denim warna navy. Rambutnya yang sepanjang bahu dicepol tinggi dengan poni yang sedikit berantakan.
Dia terlihat muda dan energik. Tetapi ketika melihat pakaian Nicho, Cecille menyesali pilihannya.
Daripada menemui orang sakit, mereka lebih terlihat seperti pasangan yang mau pergi kencan dan janjian pakai baju couple.
Ketika dia berpikir untuk kembali ke kamar dan mengganti bajunya, Nicho mengangkat wajahnya dari layar laptop, menatapnya lama dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Dia segera menutup laptop lalu berdiri menghampiri Cecille.
“Sebaiknya kita pergi sekarang biar nggak terjebak macet.”
“Oke.”
Cecille mengiringi langkah Nicho yang membawanya ke tempat di mana mobilnya diparkir. Baru keluar pintu, suara bindeng yang agak genit melengking memanggil namanya.
Itu SenSen yang mengurusi pernikahannya.
“Sudah mau pergi ya, Cyn?”
Cecille mengangguk, “He’eh. Ada perlu.”
“Terus dekorasinya?”
“Biar aja dulu sampai besok.”
“Eh? Beneran?”
Dari wajah pria kemayu itu, Cecille melihat sedikit keraguan. Dia segera menepuk bahu SenSen.
“Nanti aku transfer biaya tambahannya, jangan khawatir.”
Seperti bunga layu disiram air, wajah SenSen yang lesu langsung semangat begitu mendengat komisi tambahan.
“Balas dendam, eh?”
“Aku?” Cecille menunjuk hidungnya sendiri, lalu tertawa, “Mana ada.”
Nicho membukakan pintu sebelah kiri untuk Cecille, dan mengunakan tangannya untuk melindungi dahi gadis itu supaya tidak kepentok saat masuk ke mobil.
Setelah duduk, dan menyalakan mesin mobil, dia kembali bertanya.
“Kenapa dekorasinya nggak boleh dibongkar?”
Di dalam mobil hening untuk beberapa saat, Cecille memejamkan mata dan berkata dengan ringan, “Ada uang Evan juga di sana. Biarin saja dia lihat dan menikmati apa yang seharusnya jadi haknya.”
“Oh?” Nicho mengangkat kelopak matanya dengan sembarangan, dan menatapnya dengan mata yang dalam, “Ternyata istriku cukup pintar.”
Cecille tersedak, merasa bahwa itu bukan pujian, tapi sarkas.
Mereka check out setengah jam lebih cepat dari rencana awal.
Karena tidak memakai sopir, Nicho yang mengendarai mobilnya sendiri. Melewati toko buah, dia membelokkan mobilnya ke sana.
“Ngapain?”
Nicho mematikan mesin mobilnya, balik bertanya. “Nggak mungkin kan kita ke sana dengan tangan kosong?”
Kakeknya tidak kekurangan apa-apa. Cecille mau bilang begitu.
Ada pembantu rumah tangga dan pengasuh yang merawatnya. Dia jarang membeli apa pun kalau datang ke sini. Tetapi karena sekarang ada Nicho,dia harus menjaga wajah pria itu di depan kakeknya.
Cecille mengangkat kepalanya dan melirik ke luar jendela mobil, lalu mengeluarkan dompet dari tasnya.
“Aku nggak tahu harus beli apa.”
Nicho berkata: "Biar aku yang beli, kamu tunggu di sini.” pria membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
"Tunggu, aku ikut!”
Mereka memilih beberapa buah untuk kakek yang dibungkus dalam keranjang buah. Ada toko bunga yang baru dibuka di sebelahnya, dan Cecille masuk dan membeli seikat besar bunga lili.
Rumah peristirahatan tempat kakeknya istirahat ada di daerah pedesaan dataran tinggi. Dibutuhkan hampir satu jam untuk berkendara dari pusat kota. Cecille menjadi mengantuk tidak lama setelah masuk ke dalam mobil dan bersandar di kursi untuk tidur.
Dalam mobil hanya terdengar lagu yang di dan Nicho menatapnya berkali-kali di sepanjang jalan.
Ketika mobil memasuki area pedesaan, pemandangan di kedua sisi jalan sangat indah, dan daun bunga krisan yang dibudidayakan di desa itu berdesir tertiup angin.
Menemukan jalan di depannya bercabang dua, Nicho memarkir mobil di sisi jalan, menoleh, dan menusukkan telunjuknya ke pipi Cecille yang kemerahan.
Cecille sedang tidur nyenyak, dan tiba-tiba dibangunkan membuatnya kaget. Ketika dia membuka matanya, gadis itu sedikit linglung melihat sekelilingnya.
“Dari sini kemana?”
Butuh waktu lima menit buat gadis itu mengumpulkan nyawanya sebelum akhirnya menunjuk. “Ke kiri!”
Suv melaju perlahan di area villa dan berhenti di gerbang halaman rumah yang ditunjuk oleh Cecille.
Penjaga yang masih muda keluar untuk melihat siapa yang datang. Saat tahu itu nona muda keluarga, dia masuk lagi untuk membuka pintu gerbang.
Nicho memarkir mobil dan pergi ke bagasi untuk mengambil keranjang buah, dan Cecille menunggunya. Entah kenapa, dia mendadak jadi gelisah.
Nicho datang membawa keranjang buah, memegang tangannya dengan tangan yang lain.
Cecille tertegun sejenak, dan secara naluriah ingin menarik tangannya. Tangan hangat itu menggenggam lebih kuat.
“Bukannya kamu takut?”
Cecille memandang Nicho, dan menyadari bahwa dia bertindak untuk lelaki tua itu, dan dia tidak menolak.
Begitu dia masuk, Bu Narti pembantu kakeknya datang menyambut. .
Mengambil hadiah dari Nicho, dia memandang Cecille dengan hormat dan berkata, “Non, tadi tuan nelepon. Katanya---“ suaranya berhenti saat melihat Nicho.
Pada saat itu, wajah Cecille berubah pucat, “Kapan neleponnya, Mbok?”
Wanita paruh baya itu menggali ingatannya sebelum menjawab.”udah lumayan lama, Non. Sekitar jam tiga tadi.”
“Kakek?”
“Tuan lagi istirahat. Saya nggak mau bangunin.”
Saat mendengar itu Cecille merasa batu besar yang menghimpit dadanya mengelinding jatuh.
“Sekarang kakek sudah bangun?”
“Sudah, Non. Tadi lagi ngobrol sama Pak Edward di hape.”
Dahi Cecille mengernyit.
Edward yang dimaksud sama Mbok Narti adalah pengacara kakeknya. Biasanya kalau Liemanto sampai menelepon Edward pasti ada urusan penting.
Hanya memikirkannya, gadis itu mulai gelisah.
“Cecille, kamu tenang. Jangan berpikiran macam-macam sebelum kita ketemu kakekmu.”
“Kamu benar.” Selesai bicara, dia meremas tangan Nicho membawanya ke kamar Liemanto di bungalow yang terpisah.
Setahun belakangan kakeknya sering merasa tidak nyaman pada perut dan sering diare dan konstipasi yang dianggap cuma diaggap salah makan.
Dua bulan yang lalu, Liemanto akhirnya mau pergi ke rumah sakit untuk check-up dia melakukan ini supaya cucunya berhenti mengkhawatirkannya, dan ternyata hasil test kesehatannya Liemanto didiagnosis kanker usus.
Gejala yang hanya dianggapnya sepele, ternyata awal dari penyakit yang mematikan.
Dokter yang merawat bilang dengan halus, obat terbaik buat orang seusianya adalah menjalani hidup tenang dan bahagia.
Tetua itu merahasiakan penyakitnya ke orang lain, termasuk kepada cucunya yang baru tahu karena curiga dengan kondisinya yang terus menurun dan obat penahan sakit yang sering diminum oleh kakeknya.
Liemanto sangat terbuka, mengatakan bahwa dia telah hidup sampai usia tua, dan paling menyesal cucunya belum menikah.
Demi membahagiakan kakeknya, Cecille memohon ke Evan supaya memajukan rencana pernikahan mereka yang harusnya bulan Desember, menjadi Juni.
Karena itulah dia harus menentang banyak orang termasuk orangtuanya yang masih keberatan dia cepat-cepat melepas masa lajang.
Cecille sendiri tidak yakin, keberetan mereka itu karena karirnya atau karena Anye,
Untuk pernikahannya yang gagal kemarin,Cecille bukan cuma kecewa dengan Evan, tetapi juga marah dengan orang tuanya dan Anye, karena mereka semua tidak mempedulikan kondisi kesehatan kakeknya.
Yaah, demi kakeknya pula pada akhirnya dia nekat melakukan ide gilanya, menikah dengan orang yang tidak ia cintai.
Ketika mereka sampai di depan pintu, Cecille hendak mengetuk pintu, tetapi tiba-tiba berhenti, ujung jarinya yang ramping ragu-ragu memeluk lengan suaminya, dan kemudian dengan lembut memanggil.
“Sayang, tunggu…”
*******************
Dua bulan lalu, dari hasil tes kesehatannya, Liemanto didiagnosis sakit kanker usus. Dokter yang merawat bilang dengan halus, obat terbaik buat orang seusianya adalah menjalani hidup tenang dan bahagia.
Liemanto sangat terbuka, mengatakan bahwa dia telah hidup sampai usia tua, dan paling menyesal cucunya belum menikah.
Demi membahagiakan kakeknya, Cecille memohon ke Evan untuk memajukan rencana pernikahan mereka yang harusnya bulan Desember, menjadi Juni.
Karena itulah dia harus menentang banyak orang termasuk orangtuanya yang masih keberatan dia menikah cepat.
Pada pernikahan kemarin,Cecille bukan cuma kecewa dengan Evan, tetapi juga marah dengan orang tuanya dan Anye, karena mereka semua tidak mempedulikan kesehatan kakeknya.
Yaah, demi kakeknya dia bisa menikahi orang yang tidak ia cintai. Karena sudah telanjur, seharusnya dia melakukannya dengan penuh totalitas.
Ketika mereka sampai di depan pintu, Cecille hendak mengetuk pintu, tetapi tiba-tiba berhenti, ujung jarinya yang ramping ragu-ragu memeluk lengan suaminya, dan kemudian dengan lembut memanggil.
“Sayang…”
Dua bulan lalu, dari hasil tes kesehatannya, Liemanto didiagnosis sakit kanker usus. Dokter yang merawat bilang dengan halus, obat terbaik buat orang seusianya adalah menjalani hidup tenang dan bahagia.
Liemanto sangat terbuka, mengatakan bahwa dia telah hidup sampai usia tua, dan paling menyesal cucunya belum menikah.
Demi membahagiakan kakeknya, Cecille memohon ke Evan untuk memajukan rencana pernikahan mereka yang harusnya bulan Desember, menjadi Juni.
Karena itulah dia harus menentang banyak orang termasuk orangtuanya yang masih keberatan dia menikah cepat.
Pada pernikahan kemarin,Cecille bukan cuma kecewa dengan Evan, tetapi juga marah dengan orang tuanya dan Anye, karena mereka semua tidak mempedulikan kesehatan kakeknya.
Yaah, demi kakeknya dia bisa menikahi orang yang tidak ia cintai. Karena sudah telanjur, seharusnya dia melakukannya dengan penuh totalitas.
Ketika mereka sampai di depan pintu, Cecille hendak mengetuk pintu, tetapi tiba-tiba berhenti, ujung jarinya yang ramping ragu-ragu memeluk lengan suaminya, dan kemudian dengan lembut memanggil.
“Sayang…”