Kehidupan Baru

1162 Words
Waktu semakin berlalu, dan hari demi hari pun telah Ardian dan Zeline lewati bersama, tanpa ada gangguan sedikit pun. Sudah hampir dua Minggu mereka masih berada di kota Manhattan - New York. Rupanya pengantin baru itu masih betah tinggal di kota Manhattan, Apalagi pagi ini mereka berdua sudah bersiap-siap untuk menyambut indahnya sang mentari di pagi hari. Bahkan matahari pun tampil begitu cantik saat menampakkan cahayanya. "Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Ardian kepada sang istri yang masih berada di dalam kamarnya. "Belum sayang, lima menit lagi ya," teriak Zeline dari dalam kamarnya. "Ya ampun, dia sedang apa sih, masa aku harus nunggu lima menit lagi! Menyebalkan!" gerutu Ardian sembari cemberut. "Hehe, sabar dong Sayang, orang sabar gantengnya makin nambah," rayu Zeline kepada suaminya. Dan tidak lama kemudian, Zeline pun keluar dari kamarnya, ia benar-benar terlihat begitu cantik dan anggun. Tidak heran jika Ardian sangat mencintainya. "Ayo sayang, kita berangkat!" "Ayo!" Kini pengantin baru itu berencana untuk pergi ke kawasan Time Square. Kawasan Time Square itu merupakan sebuah persimpangan jalan utama di Manhattan - New York. Dan menjadi salah satu kawasan tersibuk di Manhattan. "Oke! Bersiaplah untuk sesuatu yang baru, kita jelajahi hingga ke ujung kota ini!" kata Ardian dengan penuh semangat sembari mengangkat tangan kanannya ke atas. "Siap! Kita jelajahi kota ini bersama-sama!" kata Zeline mengikuti suaminya yang begitu bersemangat untuk jalan-jalan. Mereka berdua terlihat begitu gembira. Dengan menggunakan taksi, mereka berangkat menuju ke tempat yang akan mereka tuju. Mereka tidak mau menyia-nyiakan momen kebersamaan nya pada saat di kota Manhattan. Setiap harinya mereka berdua merencanakan untuk pergi sekedar jalan-jalan dengan berbeda tempat, namun masih tetap dalam area kota Manhattan. Bagi mereka, setiap hari adalah permulaan yang baru dan sesuatu yang spesial yang kemungkinan hanya akan berlalu sesaat, tetapi tak akan pernah terlupakan. *** Berhubung perbedaan waktu Indonesia dengan waktu yang ada di New York adalah kurang lebih dari 12 jam, maka di kediaman keluarga Pak Hendra, tepatnya di daerah kota Cirebon, waktunya sudah hampir menjelang malam. Para pekerja yang ada di rumah besar Pak Hendra, terlihat begitu sibuk. Pasalnya, keluarga besar itu akan mengadakan perjamuan makan malam bersama dengan besannya. Dari pihak keluarganya Zeline, hanya ada Om Fadly dan Tante Dian. Mereka berdua sudah dianggap sebagai besan oleh keluarga Ardian. Maka dari itu, mereka berdua diajak makan malam bersama oleh ibundanya Ardian. Karena selama ini, Zeline dibesarkan oleh Om dan Tantenya sedari kecil. Jadi tidak heran kalau keduanya sudah dianggap seperti orang tua kandungnya Zeline. Setelah waktu yang ditentukan sudah tiba, dan pihak keluarga dari Zeline sudah datang, maka acara makan malam bersama pun segera dilakukan. Mereka begitu tampak bahagia, alih-alih obrolan mereka tidaklah jauh dari Ardian dan Zeline yang kini masih asyik berbulan madu. Apalagi pembahasan mereka beralih ke masalah ingin secepatnya mendapatkan seorang cucu, dan hal itu membuat mereka semakin tidak sabar ingin segera Zeline mendapatkan momongan secepatnya. "Pokoknya, mereka harus memberikan kita banyak cucu," kata Pak Hendra dengan begitu antusiasnya. "Iya, aku sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu. Mudah-mudahan saja semua cucu-cucuku cantik dan imut seperti nenek nya ini, hehehehe," kata Bu Rumli sumringah. "Loh-loh, kenapa harus cantik? Ganteng juga dong, lihatlah apa kamu tidak sadar kegantengan ku melebihi aktor Rano Karno!" kata Pak Hendra yang tidak mau kalah dengan istrinya. Mereka berdua sangat antusias sekali untuk menginginkan kehadiran seorang cucu. Bahkan makanan yang mereka makan, dan tamu yang mereka undang, sampai-sampai terlupakan karena masih membahas seorang cucu. "Iya-iya, aku tahu. Cucuku juga harus ganteng-ganteng, biar semua para wanita terpikat oleh ketampanannya. Tapi yang lahir pertama, mudah-mudahan berjenis kelamin perempuan dulu, soalnya aku sudah tidak sabar ingin membelikan cucuku anting dan gelang yang unik-unik, apalagi untuk pakaiannya, ya ampun lucu-lucu deh, Mba!" kata Bu Rumli sembari melirik ke arah Tante Dian. "Iya betul, Bu. Pakaian untuk perempuan banyak sekali, modelnya juga beraneka macam. Gak kaya laki-laki, modelnya yang itu-itu terus. Kalau gak kaos, ya kemeja. Kalau gak celana panjang, ya celana pendek. Beda lagi kalau perempuan, pasti—" Belum juga Tante Dian selesai bicara, tiba-tiba saja Om Fadly menyelangnya, "Eithh ... seorang laki-laki yang tampan, tidak akan mempermasalahkan soal bajunya. Tapi dia akan berusaha untuk tampil terlihat keren dan gagah, ketika dihadapan para wanitanya. Kalau orang nya ganteng sedari lahir, meskipun dia memakai baju kucel and the kumel, tetap saja aura ketampanan nya tidak akan pernah luntur. Bukan begitu Pak Hendra?" kata Om Fadly yang secara tidak langsung memihak kepada Pak Hendra karena dia sadar kalau dirinya juga seorang laki-laki yang tidak mau kalah dari perempuan. "Nah, cocok! Betul sekali, aku sependapat dengan kamu, Hehehe, tos dulu dong kita," kata Pak Hendra sembari menyodorkan telapak tangannya ke arah Om Fadly. Dan Om Fadly pun menyambut tangannya Pak Hendra dengan begitu senangnya. "Apalagi kalau dia jadi seorang CEO, udah ganteng, gagah, keren, kaya, manis, pokoknya paket komplit deh, pasti para wanita saling berebutan dan—" Belum juga Pak Hendra selesai bicara, tiba-tiba saja Bu Rumli menyelangnya, "Oh tidak bisa! Pokoknya cucu pertama harus perempuan dulu! Titik tidak pakai koma!" Dan Pak Hendra pun, langsung menaikan alisnya, seolah tak menerimanya. Ia pun langsung berkata, "Eh, di mana-mana, anak pertama itu bagus nya laki-laki dulu, biar suatu saat nanti, dia bisa melindungi adik-adiknya kalau sedang dalam kesulitan, butuh bantuan dan yang lainnya. Tapi kalau perempuan—" Seperti biasa, Bu Rumli menyelangnya lagi, "Eh Pa! Perempuan juga bisa kalau harus melindungi adik-adiknya, malahan lebih mandiri anak perempuan dari pada anak laki-laki. Anak perempuan bisa mengasuh adik-adiknya sedari kecil. Tetapi, anak laki-laki, belum tentu bisa mengasuh adik-adiknya sedari kecil. Palingan kalau disuruh ngasuh, kakaknya main game, eh adiknya jatuh kejedot pintu." "Ma, anak kok ngasuh anak sih! Ini kan zaman modern, Mama! Buat apa di adakan pengasuh anak kalau Ujung-ujungnya, anak juga yang harus ngasuh!" "Maksud mama, menjaga adiknya, Pa. Bukan pengasuh seperti yang Papa pikirkan," kilah Bu Rumli. "Halah, orang tadi kamu bilang ngasuh kok!" Ketika sedang panas-panasnya berdebat, tiba-tiba saja Tante Dian ikut nimbrung dan berkata, "Sudah lah, Bu, Pak. Tidak usah dibahas lagi, mendingan kita makan saja, daripada debat yang tidak jelas. Kan belum tentu juga mereka akan punya anak secepat itu, pasti mereka masih asyik berduaan dulu. Apalagi mereka kan masih pengantin baru." "Ya betul, syukur-syukur kalau dikasih momongan dengan cepat, kalau tidak, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua," tambah Om Fadly. "Iya, benar juga apa yang dikatakan oleh Bu Dian dan Pak Fadly, kita doakan saja yang terbaik buat mereka, untuk soal cucu, biarlah Tuhan saja yang mengaturnya. Ayo lah kita teruskan makan malam kita, takut keburu dingin," kata Pak Hendra sumringah. "Baiklah-baiklah, mari makan!" kata Bu Rumli dengan penuh semangat. Mereka pun langsung meneruskan makan malamnya dengan penuh kehangatan. Hingga pada akhirnya, setelah makan malam bersama itu sudah selesai, maka Om Fadly dan Tante Dian pamit untuk pulang ke rumahnya. Bu Rumli juga tidak lupa untuk memberikan beberapa oleh-oleh kepada Tante Dian. Dan tentu saja Tante Dian pun menerima nya dengan senang hati. Ia tidak henti-hentinya untuk berterima kasih kepada Bu Rumli, atas pemberiannya yang tidak pernah ia duga. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD