---
Malam harinya, Arkan berdiri di depan pintu, memeriksa perlengkapannya. Pisau lipat di saku. Senter kecil. Sarung tangan hitam. Pakaian gelap yang membuatnya nyaris tidak terlihat di malam hari.
Dara dan Santi berdiri di ruang tamu, menatapnya.
"Hati-hati, Mas." Suara Santi bergetar.
Arkan mengangguk. Lalu menatap Dara. "Kalau aku belum kembali sebelum subuh..."
Dara memotong. "Jangan bilang begitu."
"Kamu harus kembali, Mas." Sahut Santi.
Arkan menatap kedua. Ada sesuatu di mata Dara—ketakutan untuk kehilangan dan di mata Santi—keyakinan yang mungkin dia sendiri tidak memilikinya.
Lalu dia hanya mengangguk sekali, lalu keluar.
Pintu tertutup.
Dara dan Santi berdiri berdampingan, menatap pintu itu. Dua wanita yang sama-sama ketakutan. Dua wanita yang sama-sama berharap.
---
Gudang itu terletak di pinggir kota, di tengah lahan kosong yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang. Bangunannya tua—dinding bata merah yang sudah menghitam, atap seng yang berkarat, jendela-jendela yang ditutup tripleks. Tapi di balik penampilannya yang kumuh, gudang ini adalah jantung operasi Ricky di Gresik.
Arkan tiba saat bulan bersembunyi di balik awan. Ia berjongkok di balik rimbunan ilalang, mengamati.
Empat orang di luar. Dua di depan, satu di samping, satu di belakang. Mereka tidak berpatroli—hanya duduk, merokok, sesekali tertawa. Terlalu percaya diri, pikir Arkan. Mereka pikir tidak ada yang berani.
Ia mengamati lebih lama. Menggunakan teropongnya. Melihat melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat, ia bisa melihat ke dalam. Tiga orang di dalam. Satu duduk di meja, menghitung sesuatu—uang, mungkin. Dua lainnya... Arkan menyipitkan matanya.
Lima wanita. Muda. Mungkin yang paling tua dua puluh lima tahun, yang paling muda mungkin belum tujuh belas. Mereka berdiri ketakutan. Mata mereka kosong.
Salah satu preman sedang mencumbui seorang wanita. Tangannya meraba-raba payudaranya, mulutnya menciumi lehernya. Wanita itu tidak melawan. Tidak bisa melawan. Matanya menatap kosong ke dinding, seperti sudah mati di dalam. Pasrah.
Preman yang lain sedang membagi-bagikan paket kecil ke dalam tas-tas plastik. Rute untuk kurir, mungkin. Ia sesekali melirik ke arah temannya yang sedang mencumbui wanita itu, lalu tertawa dan berteriak. "Cepetan, Cok! Nanti keburu pagi. Kalau mau n***e, langsung aja."
Arkan mendengar teriakan itu meski samar-samar. Arkan lalu mencatat semuanya. Tujuh orang. Lima wanita. Narkoba. Uang.
Ini tempat menyimpan. Ini lenyap. Mereka kacau.
Ia mulai bergerak.
Batu pertama meluncur dari tangannya. Menghantam tumpukan tong seng di samping gudang. TANG! TANG! Suaranya keras, memecah keheningan malam.
Empat preman di luar langsung berdiri. "Apa itu?!" Salah satu dari mereka—yang paling tinggi—berlari ke arah suara. Dua lainnya mengikuti. Satu tetap di depan, bingung.
Arkan sudah bergerak ke sisi lain. Batu kedua. Kali ini menghantam semak-semak di belakang gudang. KRASAK! Preman yang tersisa di depan akhirnya ikut berlari ke belakang, meninggalkan posnya.
Sekarang.
Arkan menyelinap masuk melalui pintu depan yang tidak terkunci. Begitu mudahnya hingga ia hampir tersenyum.
Di dalam, tiga preman tersisa menoleh. Yang bertubuh gempal melepaskan wanita yang sedang dinikmatinya, merapikan celananya. Yang kurus menjatuhkan tas plastiknya. Yang di meja—yang paling besar, dengan kepala plontos dan tato naga di lengan—berdiri, meraih golok di sampingnya.
"Siapa kau?!"
Arkan tidak menjawab. Ia bergerak.
Preman kurus menerjang lebih dulu—tinjunya mengarah ke wajah Arkan. Arkan menunduk, merasakan angin dari tinju itu melewati rambutnya. Tangannya menangkap lengan preman itu, memutarnya. KREK! Suara tulang patah. Preman itu menjerit. Arkan menendang lututnya—preman itu jatuh. Satu.
Preman gempal datang dari samping, memeluk Arkan dari belakang. Lengannya yang besar mencekik leher Arkan. Arkan meronta—napasnya tercekik. Ia menghentakkan kepalanya ke belakang, mengenai hidung preman itu. BRAK! Darah menyembur. Cengkeramannya mengendur. Arkan berbalik, menusukkan pisaunya ke paha preman itu. Preman itu menjerit, jatuh. Dua.
Tinggal satu. Yang paling besar. Kepala plontos. Tato naga. Golok di tangan.
Ia mengayunkan goloknya—liar, brutal. Arkan menghindar, tapi golok itu mengenai lengannya. SREEET— Kulitnya robek, darah mengalir. Arkan mendesis, tapi tidak berhenti. Ia menendang meja ke arah preman itu. Preman itu terdorong mundur. Arkan memanfaatkan celah itu—melompat, menusukkan pisaunya ke bahu preman itu. Preman itu meraung, goloknya jatuh. Arkan menendang kepalanya. Sekali. Dua kali. Preman itu ambruk. Tiga.
Arkan terengah-engah. Lengannya berdarah. Pipinya tergores—mungkin dari golok tadi. Betisnya sakit—entah sejak kapan. Tapi ia masih berdiri.
Belum selesai.
Di luar, suara langkah kaki. Empat preman yang tadi ia kelabui sudah kembali. Mereka muncul di pintu, melihat pemandangan di dalam—tiga teman mereka tergeletak, darah di mana-mana, dan seorang pria asing berdiri di tengahnya.
"SIALAN! BUNUH DIA!"
Mereka menerjang bersamaan.
Arkan tidak punya waktu untuk strategi. Hanya insting. Tinju. Tendangan. Pisau. Ia menusuk satu di perut. Menendang satu di s**********n. Mematahkan lengan satu lagi. Yang keempat—yang paling tinggi—menangkapnya dari belakang, membantingnya ke lantai. Arkan menghantam beton, napasnya terpental dari paru-parunya. Preman itu menindihnya, tinjunya menghantam wajah Arkan. Sekali. Dua kali. Arkan merasakan bibirnya pecah, darah mengalir ke dagunya.
Tapi ia tidak menyerah.
Tangannya meraba-raba lantai. Menemukan golok yang jatuh tadi. Ia mengayunkannya—mengenai sisi kepala preman itu. Preman itu terhuyung. Arkan mendorongnya, bangkit, lalu menendang wajahnya sekuat tenaga. Preman itu jatuh, tidak bergerak.
Tujuh.
Arkan berdiri di tengah gudang. Napasnya memburu. Darah menetes dari luka-lukanya—lengan, pipi, betis, bibir. Tubuhnya dipenuhi memar yang akan terasa besok pagi. Tapi ia masih hidup.
Ia menatap wanita-wanita yang semakin ketakutan di sudut, bahkan yang baru di setubuhi itu tidak sempat merapikan pakaiannya. Mata mereka melebar—campuran ketakutan dan harapan. Arkan berjalan mendekat, memotong ikatan mereka dengan pisaunya. "Pergi. Cepat. Sebelum yang lain datang."
Wanita-wanita itu tidak perlu disuruh dua kali. Mereka berlarian keluar, menghilang ke dalam malam.
Arkan menatap ketujuh preman yang terkapar. Menghajar lagi, bahkan lima diantara mereka terbunuh. Dua lainnya berhasil kabur dengan keadaan terluka parah.
Arkan menatap gudang itu. Tumpukan narkoba. Tumpukan uang. Semua yang membuat jaringan Ricky berputar.
Ia mengambil kantung plastik berisi bensin dan korek api dari sakunya. Menyiramkan bensin ke tumpukan narkoba dan uang itu. Menyalakan korek api. Melemparkan. Terbakar.
Api langsung menyambar. Membesar. Melahap segalanya.
Arkan berjalan keluar. Di belakangnya, isi gudang itu terbakar. Api menjilat di dalam membuat gudang itu terlihat terang. Entah kelima preman tak bernyawa di dalam ikut terbakar atau tidak. Arkan tidak peduli.
Langkah pertama. Berhasil.
---
Dini hari. Kos Santi sunyi.
Dara dan Santi duduk di ruang tamu, tidak bisa tidur. Mereka tidak banyak bicara—hanya saling menatap, saling menguatkan dengan kehadiran. Setiap detik terasa seperti jam. Setiap suara dari luar membuat mereka menegang.
Lalu pintu terbuka.
Arkan masuk.
Dara dan Santi langsung berdiri. Dan membeku.
Arkan berdiri di ambang pintu—tubuhnya penuh luka. Lengan kirinya berlumuran darah dari sayatan panjang. Pipinya tergores, darah sudah mengering. Betisnya terluka, ia sedikit pincang. Bibirnya pecah, bengkak. Tubuhnya dipenuhi memar yang mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan.
"Mas Revan!" Santi berlari mendekat, tangannya terulur tapi ragu—takut menyentuh, takut melukai lebih parah.
Dara tidak ragu. Ia langsung meraih lengan Arkan, memeriksanya. "Kau gila. Kau benar-benar gila." Suaranya bergetar—bukan marah, tapi takut. Takut kehilangan.
Arkan tidak menjawab. Ia membiarkan dirinya dituntun ke sofa. Dara langsung mengambil air hangat dan antiseptik yang sudah disiapkan Santi dari tadi—seolah mereka tahu ini akan terjadi. Santi membantu membuka kaus Arkan yang sudah robek dan berlumuran darah.
Tubuh Arkan penuh memar. Di d**a. Di perut. Di punggung. Bekas-bekas tinju yang akan terasa sakit selama berhari-hari. Tapi ia tidak mengeluh. Ia bahkan tidak meringis.
Dara mulai membersihkan lukanya. Tangannya gemetar saat menyentuh kulit Arkan. Bukan karena takut. Bukan karena jijik. Tapi karena... sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Sentuhan. Kehangatan. Keintiman.
Arkan membiarkannya. Matanya menatap Dara—tenang, meski tubuhnya pasti sangat sakit.
Santi membantu membalut luka di lengan Arkan. Gerakannya pelan, hati-hati. Tapi saat ia melihat Dara—cara Dara menyentuh Arkan, cara Dara menatap Arkan—gerakannya semakin pelan. Ada sesuatu di matanya. Bukan cemburu. Tapi... kesadaran. Dia juga merasakan hal yang sama sepertiku.
Setelah luka-luka Arkan dibersihkan dan sebagian dibalut, Santi bertanya pelan. "Gudangnya?"
"Kosong." Suara Arkan serak. "Narkoba. Uang. Semua terbakar."
Dara dan Santi saling menatap. Lega. Tapi juga sedih melihat kondisi Arkan.
"Kau butuh istirahat, Mas." Suara Santi lembut.
Arkan menatap mereka berdua. "Terima kasih. Untuk kepedulian kalian." Suaranya masih serak. "Tapi aku akan baik-baik saja. Aku sudah terbiasa."
Terbiasa. Kata itu menusuk Dara lebih dalam dari yang ia kira. Sudah berapa banyak luka yang kau tanggung sendirian, Revan?
Pintu depan terbuka. Meli masuk, wajahnya lelah setelah jaga toko. Ia melihat Arkan di sofa—bertelanjang d**a, penuh luka dan perban. Matanya membelalak.
"Astaga... Mas Revan kenapa?!"
Santi menatap Arkan, meminta izin. Arkan mengangguk pelan.
Santi menatap Meli. "Meli... aku harus cerita sesuatu. Tapi kau harus janji, jangan bilang siapa-siapa."
Meli menatap Santi, lalu Arkan, lalu Dara. Wajahnya berubah dari kaget menjadi serius. Ia mengangguk.
Malam itu, Meli menjadi penghuni kos pertama yang tahu kebenaran. Tentang Arkan. Tentang Dara. Tentang misi mereka melawan bisnis narkoba di Gresik.
---
Di tempat lain, di sebuah rumah kosong di pinggir kota, Ricky duduk di kursi butut. Ruangan itu gelap—hanya diterangi satu bohlam yang berayun pelan. Di hadapannya, dua preman berdiri dengan wajah babak belur. Sisa-sisa dari mereka yang selamat dari gudang.
"Bos... Gudang dibakar." Suara mereka serak, gugup.
"Gudang terbakar." Suara Ricky pelan. Terlalu pelan. "Barang lenyap. Uang lenyap. Wanita-wanita lenyap." Ia menatap dua preman itu. "Dan kalian... kalian masih hidup. Kenapa?"
Salah satu preman—yang lengannya patah—bersuara. "Dia... dia sendirian, Bos. Tapi dia... dia bukan orang biasa. Dia seperti... seperti iblis. Semua mati. Hanya kami yang lolos."
Ricky menyesap rokoknya. Matanya dingin. "Iblis tidak ada. Yang ada cuma orang sok jagoan yang berani melawan kita." Ia meniupkan asapnya. "Cari tahu siapa dia. Dan siapa yang membantunya. Tempat kita selalu aman—pasti ada orang dalam. Temukan orang dalam itu." Ia mematikan rokoknya di lengan kursi. "Bikin contoh. Siapa pun yang berani ganggu bisnisku, harus mati."
Dua preman itu mengangguk cepat, lalu keluar.
Ricky duduk sendirian di ruangan gelap itu. Matanya menatap bohlam yang berayun. Siapa kau? Siapa yang berani mengusikku?
"JANCOK!"
Aku akan menemukanmu. Dan kau akan menyesal.
---
Malam semakin larut. Arkan berbaring di sofa ruang tamu. Lengannya sudah diperban. Lukanya sudah dibersihkan. Tubuhnya harusnya masih sangat sakit, tapi ia tidak merasakannya. Atau mungkin ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit hingga tidak lagi menyadarinya.
Ia menatap langit-langit.
Langkah pertama berhasil. Tapi ini baru awal. Ricky pasti sudah mulai bergerak sekarang. Aku harus lebih cepat.
Aku harus lebih hati-hati.
Ia menutup mata. Besok, ia akan mulai merencanakan serangan langsung ke Ricky. Tapi malam ini... malam ini ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Puas. Sekecil apa pun.
Di lantai atas, Dara berdiri di dekat tangga. Menatap Arkan yang berbaring di sofa. Dadanya terasa sesak—sesak yang aneh. Kecanduannya datang. Rindu akan sentuhan. Rindu akan kehangatan. Rindu akan seseorang yang melihatnya, yang memakainya, yang menikmatinya.
Tangannya terangkat, menyentuh dadanya sendiri. Ia membayangkan itu tangan Arkan. Kasar. Hangat. Hidup.
Ia ingin turun. Ingin membawa Arkan ke kamar. Ingin menyentuhnya. Ingin disentuhnya.
Tapi kemudian ia tersadar. Ia mengurungkan niatnya.
Ia berbalik. Kembali ke kamarnya. Menutup pintu pelan.
Sial, bisiknya pada diri sendiri. Kenapa begini? Aku... Aku... Apakah Revan mau denganmu? Bodoh!
---