Bab 9: Cinta dan Ancaman.

1148 Words
Dua Hari Setelah Gudang Terbakar --- Pagi di kos Santi dimulai dengan aroma nasi goreng dan suara tawa dari dapur. Rini, Dewi, Ika, dan Putri duduk di meja makan, sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor dan kampus masing-masing. Santi sibuk di depan kompor, membalik telur dadar dengan cekatan. Di meja, piring-piring sudah tertata rapi—nasi goreng, kerupuk, irisan mentimun. "Eh, Mbak Santi," suara Dewi memecah keheningan. "Mas Revan kok gak keluar-keluar? Tumben. Biasanya dia udah duduk di situ sambil minum kopi." Ia menunjuk kursi kosong di sudut. Santi tidak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk dengan spatula. "Dia... habis kecelakaan kerja. Masih istirahat di kamar." Ika mengangkat alis. "Kecelakaan? Parah, Mbak?" "Lumayan. Tapi gak apa-apa. Cuma butuh istirahat." Suara Santi datar—terlalu datar. Ia berharap tidak ada yang menyadarinya. Putri menimpali, nada suaranya khawatir. "Kasian banget. Semoga cepet sembuh deh. Eh, tapi Mbak Dara yang baru itu kok juga jarang keliatan?" "Dia... dia yang ngerawat Mas Revan. Kalian jangan mikir macam-macam." Rini dan Ika saling menatap. Ada sesuatu di mata mereka—rasa ingin tahu yang tidak terucapkan. Tapi mereka tidak bertanya lebih jauh. Mungkin karena nada suara Santi yang tidak mengundang pertanyaan lanjutan. Atau mungkin karena mereka sudah cukup kenal Santi untuk tahu kapan harus berhenti. Mereka melanjutkan sarapan, mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain—tentang drakor terbaru, tentang bos yang menyebalkan, tentang rencana akhir pekan. Santi meletakkan telur dadar di piring. Matanya melirik ke tangga. Mas Revan... apa kau baik-baik saja? Suara televisi di ruang tamu yang sejak tadi menyala tanpa benar-benar ditonton tiba-tiba menarik perhatian. Seorang penyiar berita dengan wajah serius muncul di layar. "Kami kembali dengan berita terkini dari Gresik. Sebuah gudang di pinggir kota dilalap api semalam. Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi mendapati gudang tersebut sudah hampir rata dengan tanah. Yang lebih mengejutkan, di dalam reruntuhan, ditemukan lima mayat dalam kondisi hangus terbakar." Suasana di meja makan langsung berubah. Sendok dan garpu berhenti bergerak. Semua mata tertuju ke televisi. Terkejut di kota mereka ada berita besar. "Polisi menduga gudang tersebut adalah tempat penyimpanan dan peredaran narkoba. Ditemukan sisa-sisa paket narkoba dan uang tunai dalam jumlah besar yang sebagian besar hangus. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki identitas para korban dan pelaku di balik peristiwa ini. Diduga kuat insiden ini berkaitan dengan perang antar geng narkoba yang selama ini meresahkan warga Gresik." "Astaga..." Rini menutup mulutnya. "Lima mayat? Di Kota ini?" "Gila." Dewi menggeleng. "Kota ini makin gak aman aja." Ika menambahkan, "Perang narkoba? Serem banget. Untung kos kita jauh dari situ." Putri bergidik. "Semoga Polisi cepat mengatasi kasus ini." Mereka terus berbisik-bisik, menerka-nerka, berspekulasi. Suara mereka bercampur menjadi satu—kengerian, ketakutan, rasa penasaran. Santi berdiri mematung di depan kompor. Tangannya yang memegang spatula gemetar. Lima mayat. Gudang terbakar. Narkoba. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Itu... itu yang dilakukan Mas Revan. Ia ingat malam itu. Arkan pulang dengan tubuh penuh luka. Darah di mana-mana. "Gudangnya hancur," katanya. "Narkoba. Uang. Semua terbakar." Tapi ia tidak bilang ada mayat. Ia tidak bilang ia membunuh orang. Lima orang mati. Mas Revan membunuh lima orang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Santi. Bagaimana kalau polisi datang? Bagaimana kalau mereka melacaknya? Bagaimana kalau mereka menemukan Arkan? Bagaimana kalau mereka menangkapnya? Dan aku... aku yang menyembunyikannya. Aku yang membantunya. Aku bisa ikut dipenjara. Ia menatap tangannya sendiri. Apa yang sudah kulakukan? "Eh, Mbak Santi?" Suara Putri membuyarkan lamunannya. "Mbak Santi gak apa-apa? Pucat banget." Santi memaksakan senyum. Senyum yang ia harap terlihat normal. "Gak apa-apa. Cuma... cuma agak pusing. Mungkin kecapekan." Ia kembali membalik telur dadar yang hampir gosong. Tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya di berita itu. Di lima mayat. Di Arkan. Ya Tuhan... apa yang akan terjadi pada kami? --- Di kamar mandi kamar Arkan, air mengalir dari shower plastik yang menggantung di dinding. Uap hangat memenuhi ruangan sempit itu, menciptakan kabut yang menempel di cermin dan ubin putih. Arkan duduk di bangku plastik kecil. Tubuhnya masih penuh memar-memar di d**a dan punggungnya yang sudah mulai berubah warna dari ungu menjadi kekuningan. Tanda penyembuhan. Tapi rasa sakitnya belum hilang. Setiap gerakan kecil mengirimkan denyut nyeri ke seluruh tubuhnya. Dara berdiri di belakangnya. Tangannya memegang waslap basah, membersihkan punggung Arkan dengan gerakan pelan dan hati-hati. Matanya fokus pada setiap sudut, setiap lekuk otot yang tegang. Ia bisa merasakan kulit Arkan di bawah kain tipis itu—hangat, hidup, penuh luka lama dan baru. Bekas-bekas kehidupan yang keras. Arkan duduk diam. Matanya menatap lantai. Ia membiarkan Dara melakukan tugasnya. Tidak bicara. Hanya suara air yang menetes dan napas mereka yang mengisi keheningan. Santi muncul di pintu kamar mandi. Tangannya membawa handuk bersih dan pakaian ganti untuk Arkan. Ia berhenti di ambang pintu, melihat pemandangan di dalam. Dara yang sedang membersihkan punggung Arkan. Sentuhan mereka yang... lebih dari sekadar perawat dan pasien. Ada sesuatu di d**a Santi. Sesuatu yang kecil, tajam, seperti duri. Ia tidak tahu apa namanya. Atau mungkin ia tahu, tapi tidak mau mengakuinya. "Ini handuknya, Mbak Dara. Sama baju bersih buat Mas Revan." Suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. Dara menoleh, tersenyum kecil. "Makasih, Santi. Taruh aja di situ." Santi meletakkan handuk dan pakaian di rak. Ia berdiri di sana sejenak, menatap punggung Arkan yang penuh luka, menatap tangan Dara yang menyentuhnya dengan begitu lembut. Lalu ia berbalik dan pergi. Kenapa aku merasa seperti ini? --- Dara melanjutkan pekerjaannya. Tangannya bergerak dari punggung ke bahu, lalu turun ke d**a Arkan. Waslap itu bergerak perlahan, membersihkan sisa-sisa sabun, menyusuri setiap garis otot yang tegang. Ia bisa merasakan detak jantung Arkan di bawah sentuhannya—stabil, tenang, seperti pemiliknya. Lalu saat ia melirik ke bawah perut Arkan... "Revan..." Arkan tidak menjawab. Tapi ia tidak menghentikannya. Dara meletakkan waslap. Tangannya sekarang telanjang, menyentuh kulit Arkan langsung. Ujung jarinya menyusuri d**a Arkan, merasakan tekstur kulitnya—kasar di beberapa bagian, halus di bagian lain. Bekas luka di sana-sini. Peta dari kehidupan yang keras. Tangannya turun. Ke perut. Otot-otot di sana menegang di bawah sentuhannya. Dara bisa merasakan napas Arkan berubah—sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam. Tangannya terus turun. Ke pinggang. Ke celana kain yang dikenakan Arkan. Arkan menangkap tangannya. Dara membeku. "Kau... Jangan begini, Dara. Kita tidak bisa." Suara Arkan pelan, tapi tegas. Dara menatapnya. Ada luka di matanya. "Jangan beri alasan." Arkan akhirnya mendongak, menatapnya. Matanya—yang biasanya seperti laut dalam yang tenang—kini menunjukkan sesuatu. Kerentanan. "Aku tidak ingin kau menyesal." Dara menatapnya lama. Lalu ia menarik tangannya pelan. "Aku tidak akan menyesal, Revan." Suaranya bergetar. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu rasanya dihargai." Arkan tidak menjawab. Tapi ia melepaskan tangan Dara. Tidak mendorongnya. Tidak menghentikannya. Hanya melepaskan. Dara mengerti. Tidak sekarang. Ia mengambil handuk, mulai mengeringkan tubuh Arkan. Gerakannya kembali efisien, profesional. Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergetar. Kenapa kau begitu, Revan? Kenapa kau tidak bisa menerima bahwa aku menginginkanmu? Bukan karena aku butuh. Bukan karena aku pecandu. Tapi karena aku... Ia tidak menyelesaikan pikiran itu. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD