Perjanjian Pra Nikah

1574 Words
Dastan dan keluarga yang terdiri dari ayah dan ibunya datang ke rumah Disha pukul 7 malam. Selain orang tua, Dastan membawa pengacaranya sesuai permintaan ayah Disha lewat telepon. Memang sebelum pertemuan malam ini, Dastan dan Papa Disha sudah pernah berbicara sebelumnya. Tepat siang hari, sehari setelah Papa Disha pulang dari rumah sakit. Meskipun agak sulit dicerna akal sehat, tapi Dastan juga harus sadar akan apa yang sudah ia perbuat pada anak perempuan Pak Rifqi memang nyatanya merugikan gadis itu. Pak Rifqi meminta perjanjian yang sulit diterima, bahkan orangtuanya sendiri merasa bahwa keluarga wanita yang akan dinikahi Dastan sangat matrealistis. “Ma, panggilin Disha!” ujar Pak Rifqi pada istrinya yang baru saja menyalami seluruh keluarga Dastan. “Tunggu sebentar! Mama panggil Disha dulu kalau gitu.” Mama pun pergi ke kamar Disha. Meninggalkan kepala keluarga itu bersama dengan 5 orang dewasa lainnya. “Silahkan duduk!” ujar Pak Rifqi, ayah Disha dengan sopan kepada semua tamunya. Setelah semua orang duduk, beberapa saat kemudian hening sejenak karena mereka sama-sama menunggu kehadiran Disha. Saat Disha datang Dastan tersenyum sambil memperhatikan gadis itu. Disha terlihat sangat cantik dengan wajah yang hanya beralaskan bedak tipis. Pakaian yang ia pakai pun sangat sederhana, yang pasti sesuai dengan baju-baju koleksi anak SMA. Ia memakai kaos kebesaran berwarna putih bertuliskan NEW YORK STYLE dan celana jins berwarna biru. Disha mencium tangan orangtua Dastan dan dua pengacara yang sudah datang di antara mereka. Terakhir ia berdiri di depan Dastan lalu mencium tangannya juga. Diperlakukan seperti itu, Dastan tersenyum dan menahan tangan Disha tanpa sadar. Disha mencoba melepaskan tangannya tapi Dastan kelihatan tidak sadar sama sekali. Tatapan mata pria itu tertuju tepat di wajah Disha yang selalu menawan hatinya. Yang selangkah lagi akan ia jadikan miliknya secara utuh. “Dastan!” panggil ibunya dengan suara keras. Dastan menoleh ke arah ibunya lalu tersadar ke arah Disha dan terutama pada tangannya yang masih menggenggam erat tangan Disha. Buru-buru Dastan melepaskan tangan Disha lalu tersenyum canggung kepada semua orang. Disha segera melangkah menjauh. Ia menghampiri sofa di mana ibu dan ayahnya duduk. Ia pun mengambil tempat di tengah-tengah keduanya. Mama menggenggam tangan Disha memberikan semangat pada anak perempuannya lalu mulai mendengarkan ucapan pengacara keluarga Disha yang berbicara dengan bahasa yang sulit dimengerti orang awam. Disha sendiri bukannya paham apa yang diucapkan pengacara ayahnya dan pengacara Dastan yang terus bicara, ia malah merasa sangat mengantuk. Dia bahkan terlihat menguap sesekali, beberapa kali ia berhasil menahannya tapi beberapa kali juga mulutnya tak berhasil tertutup sempurna. “Ma, dari tadi pada ngomongin apa sih?” tanya Disha berbisik pada ibunya yang memperhatikan dengan serius. Sang ibu tak bisa menyembunyikan perasaan geli mendengar pertanyaan Disha. Setelah pengacara Dastan selesai bicara, ia pun berkata dengan sopan. “Sebelumnya saya mohon maaf, tapi sepertinya putriku kurang memahami pembahasan yang sudah Pak Heri dan Pak Danur ucapkan mengenai perjanjian pra-nikah ini. Mungkin Pak Heri bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih awam untuk menjelaskan juga lebih ringkas untuk Disha?” Pak Heri adalah pengacara ayah Disha. Ia tersenyum tipis lalu berbicara ke arah Disha. “Perjanjian Pra-nikah ini menyangkut kepentingan Disha dan Dastan setelah pernikahan. Sebelum pernikahan, ada beberapa hal yang harus diluruskan. Yaitu tentang kekayaan Dastan yang setelah pernikahan akan diberikan setengahnya pada Disha.” “Ma, kenapa ngomongin kekayaan?” Disha menoleh ke arah ibunya dengan tampang terkejut sekaligus tidak mengerti. “Dengerin aja, De!” ujar Mama tidak ingin menanggapi ketidakpahaman anaknya. Disha kembali menatap pengacara ayahnya dengan pipi menggelembung. Pak Heri pun kembali menjelaskan pembahasannya agar anak gadis kliennya mengerti meskipun sedikit. “Setelah pernikahan juga Dastan harus mengurus kelanjutan sekolah Disha hingga kuliah.” Hal inilah yang Disha baru mengerti dan senang. Itu artinya meskipun sudah menikah ia tetap bisa melanjutkan sekolah hingga kuliah. “Dan terakhir, pernikahan antara Disha dan Dastan hanya berlaku hingga 5 tahun. Jika selama 5 tahun, Disha tidak menginginkan pernikahan itu Dastan diharuskan menceraikan Disha, tanpa sedikit pun menahan Disha dalam pernikahan. Tapi, jika Disha merasa menginginkan pernikahan itu tetap berlangsung karena dasar cinta, Dastan tentunya tidak bisa menceraikan Disha kecuali jika Dastan sendiri yang menginginkan perceraian itu terjadi.” “Jadi kamu bisa meminta cerai ke Dastan setelah 5 tahun pernikahan kamu, De.” “Terus masalah bayinya gimana, Ma?” tanya Disha kepada Mama. Mama Disha menoleh ke arah pengacara suaminya dan meminta penjelasan. Pak Heri pun segera menjawab, “Mengenai hak asuh anak akan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku dalam sidang perceraian nanti.” Disha mengangguk mengerti. Setelah itu Dastan dan Disha pun diminta menandatangani perjanjian pra-nikah itu secara langsung. *** Setelah acara penandatanganan perjanjian itu selesai, mereka pun pergi makan malam bersama. Kali ini kedua pengacara kedua belah pihak memutuskan untuk pamit pulang. Membiarkan dua keluarga menikmati waktu untuk mengobrol secara lebih pribadi lagi. Dastan sendiri sejak tadi tak bisa menyembunyikan perhatiannya dari Disha. Bagaimana Disha yang ketika makan masih harus diambilkan oleh ibunya atau terdiam tertunduk jika tatapan mata mereka bertemu. Setelah acara makan malam berakhir, Pak Rifqi pun mulai menatap Dastan dan bertanya, “Saya dengar kamu baru-baru ini bercerai dengan mantan istri kamu?” Dastan yang mendengar pertanyaan itu segera menoleh ke arah ayah dan ibunya, terakhir ia menatap Disha yang tentunya dari dirinyalah Pak Rifqi bisa mengetahui hubungannya yang lalu. “Iya, Pak. Saya memang baru-baru ini bercerai. Tapi bisa saya pastikan kalau semua itu bukan karena Disha. Saya dan dia memang tidak pernah punya ikatan yang pas dalam pernikahan.” “Kamu yakin?” tanya Pak Rifqi lagi. Dia tidak semudah itu percaya pada ucapan calon menantunya itu. Saat Dastan akhirnya mengangguk, Pak Rifqi pun hanya bisa memberikan senyuman terpaksanya lalu bertanya sesuatu yang lain. “Kamu sudah bawa data-data yang saya minta kan untuk mendaftarkan pernikahan kamu nanti?” Dastan mengangguk. “Berkasnya ada di dalam mobil, Pak.” Pak Rifqi mengangguk. Setelah tidak ada lagi yang diobrolkan, keluarga Dastan pun pergi dari rumah Disha, mereka sama-sama tampak kaku. Apalagi ibu Dastan yang sejak mengetahui Dastan akan memberikan separuh hartanya untuk Disha, beliau nampak kaku dan sangat yakin bahwa Disha tidak lebih dari wanita liar yang berani menggoda anaknya dan sedang mengincar hartanya saja. Bahkan buktinya sudah nyata, setengah harta anaknya akan menghilang setelah 5 tahun pernikahan. “Ma, aku mau ke kamar aja,” bisik Disha saat mereka sedang berjalan menuju depan rumah. Mengantarkan tamunya untuk pulang. “Jangan, De! Nanti mobil mereka pergi baru kamu masuk.” Disha hanya bisa menampakan wajah merengutnya setelah mendengar jawaban dari sang ibu. Setelah kedua orangtua Dastan masuk ke dalam mobil, Dastan yang sudah masuk juga perlahan ke luarlagi sambil memberikan map cokelat yang diminta calon mertuanya. Isi map tersebut hanya beberapa dokumen untuk kepentingan pernikahannya dan Disha yang akan diurus semuanya oleh ayah Disha. “Kalau begitu saya permisi, Pak.” Dastan menyalami calon mertuanya yang masih dalam kategori muda itu dengan sopan. Disusul dengan ibu Disha lalu anaknya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya bisa memberikan senyuman termanisnya saja untuk Disha lalu membalikkan tubuh. Masuk ke dalam mobil lalu melanjukannya. *** “Jangan masuk ke kamar dulu, De!” Papa Disha menginterupsi anaknya yang hendak masuk ke dalam kamarnya. “Emang ada apa lagi sih, Pa?” tanya Disha menggerutu. “Aku mau tidur.” “Masih jam 9 lebih juga, De. Sini duduk dulu sebentar!” Papa menempuk sofa yang berada di sebelahnya. Dengan malas-malasan, Disha pun berjalan menghampiri ayahnya lagi. Ia duduk di samping Papa yang mulai membuka map yang diberikan Dastan tadi. “Itu isinya apa, Pa?” “Data-datanya Dastan, De.” Papa mengambil satu fotocopy kartu keluarga yang baru dipegangnya lalu melihat tanggal lahir laki-laki yang akan menikahi putrinya. “Usia Dastan sekarang udah lumayan, Ma.” Papa berbicara dengan istrinya yang duduk santai di depan sofa yang sedang didudukinya kini. “Berapa, Pa?” tanya Mama Disha ikut penasaran. Papa menghitung dulu dalam hati lalu menjawab, “Usianya 30 tahun, Ma. Beda 2 tahun sama usianya Tante Mel sekarang.” “Papa kenapa nyangkutpautin sama usianya Tante Mel sih?” Disha bertanya tidak suka. Tapi kemudian ia berpikir. “Berarti usiaku sama Om Dastan beda 13 tahun ya, Pa.” Papa mengangguk. Ia kembali membaca kertas di tangannya lalu bersuara lagi. “Dastan anak semata wayang juga, sama kayak kamu, De.” Disha terdiam, tidak terlalu menanggapi sampai akhirnya sang ayah duduk tegak di sampingnya. “De, mulai besok kamu enggak usah masuk sekolah. Papa dan Mama besok ke sekolah ngurusin pengunduran diri kamu. Jadi sementara waktu kamu enggak perlu sekolah,” ujar Papa enteng. “Masa aku enggak sekolah, Pa,” protes Disha. “Habis kamu melahirkan, kamu pasti sekolah lagi. Perut kamu udah mulai besar, Papa enggak mau kamu sampai ketahuan lagi hamil. Kamu enggak mau kan kalau ketahuan sama orang lagi hamil semuda ini?” Disha mengangguk kecil. “Aku malu lah, Pa.” “Makanya kamu berhenti sekolah dulu. Seenggaknya sampai kamu melahirkan.” “Iya, Pa.” Disha merasa pening hingga ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa begitu dalam. “Pa, kalau aku udah nikah sama Om Dastan kira-kira nanti aku tinggal di mana?” “Dastan mintanya kamu tinggal di apartement. Apartement baru, katanya. Dan itu salah satu apartement yang nantinya akan jadi milik kamu.” Disha memilin bajunya lalu bertanya lagi tanpa menatap ayahnya. “Emang enggak boleh tinggal di sini aja ya, Pa?” Papa menggeleng kecil. Matanya menatap istrinya yang juga menatapnya penuh arti. “Papa enggak mau kamu ketahuan sama tetangga-tetangga kita kalau kamu lagi hamil, De. Nanti bisa gawat kalau ada yang tahu kamu hamil duluan. Kamu malu kan kalau ada yang tahu tentang kehamilan kamu?” Disha mengangguk kecil. Dia memang sangat malu, tapi apakah dirinya pantas untuk merasa malu karena kehamilannya? Entahlah dia tidak tahu. “Pa, aku mau masuk ke kamar dulu ya?” Papa yang sudah tidak punya bahan pembicaraan pun mengangguk kecil. Ia membiarkan anaknya masuk ke dalam kamarnya lalu terduduk bersama istrinya di ruang tengah.[] *** Bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD