Anakku Perebut Suami Orang

1269 Words
Langit sore nampak mendung, Disha duduk di sisi jendela kamarnya dan tidak memikirkan apapun. Dia memang membuat dirinya tidak memikirkan satu hal pun, fokus pada mendung yang makin membuat pekarangan rumahnya menjadi makin gelap. “De,” panggil Mama sambil membuka pintu kamar anak perempuannya. Mama terdiam sebentar saat melihat Disha yang menoleh ke arahnya dengan wajah pucat dan seperti mati rasa, duduk di dekat jendela sambil melamun. “kamu lagi ngapain?” “Ma, aku enggak mau ketemu keluarganya Om Dastan,” ujar Disha merengek. Ia benar-benar tidak sanggup bertemu Dastan, ibunya, ayahnya, atau seluruh keluarga yang mungkin akan membuatnya malu nanti. Mama mendesah lalu masuk ke dalam kamar Disha. “Emang kenapa, De?” “Aku enggak mau aja,” jawab Disha sambil mengedikan bahu, berwajah datar seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya setelah itu. “Tapi itu namanya enggak sopan, De. Papa juga udah nyiapin sesuatu hal yang harus dibicarakan bersama kamu. Kamu harus ikut, Sayang.” “Aku males, Ma.” Disha menengok ke samping kanan dan kirinya secara refleks lalu menatap lagi ke luar jendela. Mama mendekati putrinya lalu menyentuh bahunya. Tidak bisa ia bayangkan bahwa anak gadisnya akan mendapatkan nasib seburuk ini. Hamil di luar nikah dan sebentar lagi akan dinikahkan dengan laki-laki yang usianya bahkan tidak jauh berbeda dengan usia orangtuanya sendiri. Mama bahkan tak bisa membayangkan jika dirinya berada diposisi Disha, antara mau menerimanya atau lebih baik mati bunuh diri. Untungnya anaknya tak pernah terlihat frustasi, dia tetap tegar dan naif untuk menerima segalanya. “Kamu harus temui Dastan sama keluarganya, De. Papa udah panggil pengacara,” ujar Mama. “Pengacara buat apa, Ma?” tanya Disha cepat. Ia menoleh dan menatap Mama penasaran. “Papa dan Mama mau membuat Perjanjian Pra-nikah untuk kamu, Sayang. Kami enggak mau kamu terluka di kemudian hari.” “Emang Perjanjian Pra-nikah itu apa, Ma?” tanya Disha polos. Mana mengerti anak SMA seperti dirinya mengenai Perjanjian Pra-nikah? Membedakan hukum perdana dan perdata saja dia tidak paham, apalagi t***k bengek yang lainnya. “Nanti kamu juga tahu,” Mama mengelus rambut Disha lalu berjalan menuju meja rias anaknya, ia mengambil sisir lalu mulai menyisiri rambut putrinya yang sebentar lagi akan menikah. Sambil menyisir Mama tak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya, hatinya terasa sakit mengingat apa yang akan dilakukan anak remajanya. “De, boleh enggak Mama tanya sesuatu yang sedikit sensitif?” “Tanya apa, Ma?” Terkadang Disha kesal jika mengobrol dengan orang dewasa, bahasa mereka terlalu kaku. Seperti Mama barusan yang menggunakan kata sensitif di akhir kalimatnya. Ia tidak mengerti maksudnya, apa tentang sesuatu hal yang sedikit tidak biasa? “Bagaimana kamu bisa berhubungan dengan pria itu?” tanya Mama pelan, dia tidak ingin membuat anaknya merasa tersinggung dengan apa yang ditanyakannya. “Aku kenal sama Om Dastan waktu pergi ke klub malam, Ma. Maafin aku, aku juga enggak nyangka bakalan pergi ke tempat terlarang kayak gitu. Habis aku diajakin sama Ju dan Vania. Kalau nolak kan enggak enak, mereka udah kayak mohon gitu minta aku ikut juga.” Jantung Mama terasa terpompa lebih kencang. Dia tidak tahu kalau anaknya yang masih SMA pergi ke tempat seperti itu. Dirinya saja yang sudah masuk kategori dewasa belum pernah masuk ke situ, tapi anaknya... Dia masih SMA dan sudah berani masuk ke situ. Dan lihatlah hasilnya, anaknya hamil di luar nikah. “Te, terus kamu melakukan hubungan itu di mana?” tanya Mama, gugup. Disha menunduk dengan jari kanan yang memainkan jendela di hadapannya seolah sedang memainkan tuts piano. “Di apartement Om Dastan, Ma.” Jika saja Mama punya riwayat penyakit jantung seperti Papa, pasti Mama sudah mati berdiri. Anaknya berhubungan dengan laki-laki itu di apartementnya. “Ya Tuhan, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan itu, Nak?” Mama bukan bertanya pada Disha, tapi dia sangat kaget dan berujar seolah menyalahkan anaknya. “Aku enggak sadar, Ma. Aku pingsan waktu itu. Om Dastan nyuruh aku meminum sesuatu yang rasanya enggak enak dan aku nurut. Aku bener-bener enggak bisa menghindari apa yang terjadi, Ma. Bangun-bangun aku udah enggak pakai baju.” “Jadi laki-laki itu emang sengaja menjebak kamu?” Mama tidak percaya dengan apa yang baru saja dibeberkan putrinya. Anaknya tidak bersalah dalam hal ini, laki-laki itulah yang jelas-jelas sudah membuat anaknya menderita saat ini. Hamil diusia muda, hamil di luar nikah. Awas jika dia sudah datang ke rumahnya, dia berani bersumpah untuk menampar lelaki b******n itu untuk anaknya. “Aku enggak tahu, Ma. Semuanya kerasa kelabu. Aku enggak tahu apa Om Dastan emang sengaja menjebak aku atau enggak. Tapi kan kita enggak kenal, kita bahkan baru kenalan waktu itu, tapi Om Dastan berani lakuin hal itu ke aku.” “Sayang Disha, anak Mama.” Mama mengusap rambut anaknya setelah memeluknya dengan lembut. “Maafin Mama ya, Sayang. Ini semua pasti karena kesibukan Mama.” “Mama enggak salah kok. Ini emang salah aku sepenuhnya. Kalau aja aku enggak mau meladeni Om Dastan sejak awal pasti semua ini enggak akan terjadi.” Mama hanya bisa mendesah mendengar penuturan Disha. “Ma, aku mau cerita sesuatu tentang Om Dastan. Sebenarnya aku udah lama mendem ini tapi aku bingung, Ma.” “Kamu mau cerita apa, De?” tanya Mama lembut. Mama melepaskan pelukannya lalu duduk di tepi tempat tidur yang berada tidak jauh dari tempat Disha duduk saat ini. “Waktu itu, Om Dastan bilang kalau dia... suka sama aku, Ma. Aku awalnya enggak percaya, tapi makin ke sini aku kok malah percaya sama perasaan dia.” Mama lagi-lagi mendapatkan pengakuan yang tidak ingin ia dengar dan percayai. “Emang dia ngomong gitu kapan, De?” “Waktu Papa sakit. Dia ngikut ke rumah sakit terus nungguin Papa juga, Ma, di luar. Aku kalau ke toilet pasti dia ikut nemenin dan waktu malem Mama tidur, aku diam-diam ketemu sama Om Dastan. Kita mengobrol di taman tapi enggak lama. Pas ngobrol di situ dia bilang, dia suka aku.” Mendengar ucapan Disha bagi Mama seperti mendengar curahan hati gadis biasa. Bedanya, seharusnya yang dibicarakan anaknya bukan laki-laki dewasa melainkan anak seumurannya. “Masa sih, De?” tanya Mama tidak percaya. “Pasti Dastan cuma pura-pura suka ke kamu, De.” “Tapi omongan Om Dastan kayak beneran, Ma. Enggak kayak orang yang lagi pura-pura. Serius banget ngomongnya, aku sampai takut pas deket-deket dia. Cuma aku berani-beraniin.” Disha mengingatnya dengan baik. Alasan itu jugalah yang mengakibatkannya tidak mau disentuh oleh Dastan. “Anak pintar, kamu emang harus berani, De. Jangan sampai kamu dijajah sama laki-laki itu! Meskipun dia dewasa, di sini kamulah yang dirugikan. Mama enggak mau anak Mama yang cantik ini kenapa-napa,” ujar Mama terdengar galak. Disha mengangguk tiga kali dengan cepat. “Iya, Ma.” “Kalau gitu kamu cepet siap-siap ya, bentar lagi mereka pasti datang! Kamu harus ke luardari kamar dan ikut denger setiap pembicaraan kita.” Mama perlahan berdiri. Tapi saat hendak melewati pintu kamar, Disha memanggil lagi hingga membuat Mama menoleh. “Ma, aku mau cerita satu hal lagi!” “Apa, De?” tanya Mama sambil memegang gagang pintu, tetap berdiri diam. “Om Dastan baru cerai sama istrinya gara-gara mau nikahin aku, Ma.” Mama benar-benar nyaris hilang kendali saat mendengar itu. Pegangannya di gagang pintu terlepas dan Mama segera berbalik menatap pintu, dia enggan melihat anaknya lagi dengan ekspresi sangat kecewa. Wanita manapun tidak akan kuat mendengar hal itu. Batin Mama tidak bisa menyalahkan Disha, tapi nyatanya sang anak baru saja merebut suami wanita lain. “Mama ke luardulu ya, De.” Disha terdiam dan membiarkan ibunya pergi. “Aku juga enggak mau merebut suami orang, Ma. Ngerebut pacar orang aja aku enggak berani apalagi ngerebut suami orang. Mama pasti kecewa ke aku,” Disha kembali melihat ke luar jendela. Memainkan tangannya ke permukaan jendela yang dingin sambil menyanyikan lagu milik Justin Bieber, That Should Be Me.[] *** Bersambung>>> halo karena cerita ini belum dikontrak oleh pihak dreame. kalian bisa membacanya juga di aplikasi KBM. silakan search Baby Love atau Terasora Terima kasih...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD