Dastan menunggu Disha tapi gadis itu tak kunjung ke luar dari ruang rawat ayahnya. Ia kembali melihat ke sekitarnya, melihat jam tangannya yang terus berputar, dan melihat ke segala arah. Saat ia hendak berdiri untuk melihat keadaan di dalam ruang rawat ayah Disha, Dastan kembali mendudukan dirinya dengan kesal.
“Kenapa dia selalu saja berhasil membuatku mati gaya kayak gini sih?” gumam Dastan kesal kepada dirinya sendiri.
Beberapa kali Dastan melakukan hal yang sama. Tapi Disha masih saja belum ke luardari ruang rawat ayahnya. Ia kembali melihat jam tangannya dan mendesah panjang saat menyadari Disha menggantungnya hampir 20 menit. Lama sekali, gerutunya dalam hati.
Disha ke luardari ruang rawat ayahnya setelah melihat Mama yang terlelap di sofa. Mama pasti lelah sehingga mudah tertidur. Papa sendiri setelah mendapatkan pertolongan medis masih belum sadarkan diri, tapi dokter bilang, Papa dalam keadaan baik-baik saja. Hanya serangan jantung ringan.
“Kamu akhirnya ke luarjuga,” Dastan berdiri saat melihat Disha ke luardari ruang rawat itu. Ia menghampiri Disha dengan langkah lebarnya kemudian tersenyum simpul. “Gimana keadaan ayah kamu?”
“Kamu emangnya mau tahu?” Disha balik bertanya. Wajahnya terlihat tidak peduli.
“Kalau aku tanya, itu tandanya aku mau tahu,” jawab Dastan cepat.
“Papa baik-baik aja.” Disha pun kembali berjalan mendahului Dastan. Laki-laki itu merasa bodoh tapi tetap mengikuti Disha seperti keledai yang dicucuk hidungnya.
Mereka berhenti melangkah dan terduduk di kursi taman rumah sakit. Pencahayaan yang temaram membuat Dastan dan Disha tak mampu melihat wajah lawan bicara mereka secara jelas.
“Kamu....” Dastan baru saja ingin bic
ara saat tiba-tiba Disha menghadap ke arahnya. Menatap dirinya tajam dan marah. Lalu tiba-tiba pipi Dastan terasa panas. Dirinya baru saja ditampar.
“Om pantas dapatin itu,” gumam Disha menyela Dastan yang kelihatan tidak terima dengan apa yang baru dilakukannya. “Gue nyari-nyari Om selama ini. Om ke mana aja? Gue kan udah bilang jangan lama-lama.”
“Hey, gadis cilik! Kenapa kamu yang ngatur-ngatur hidupku?”
“Karena aku lagi hamil bayi Om.”
Dastan terdiam. Ia mati kutu jika diingatkan tentang bayinya yang sedang berada dalam rahim gadis remaja di hadapannya.
“Aku mau tahu, ke mana aja Om selama ini?” Disha bertanya, kesal.
Dengan pelan Dastan menjawab. “Aku mengurus perceraianku terlebih dulu.”
“Jadi Om ini....” Disha tak mampu mengungkapkan perasaannya. Antara marah, kaget, dan bingung.
“Aku niatnya enggak mau cerita ke kamu, tapi cara kamu bertanya menyakitkan tahu enggak?” Dastan memegang pipinya yang panas dengan sisa tamparan Disha barusan.
Disha kembali duduk menghadap ke depan. Dia mulai membayangkan Dastan dan istrinya yang harus bercerai karena dirinya yang saat ini sedang mengandung.
“Kamu mikirin apa sih?” Dastan memegang tangan Disha yang berada di pangkuannya sendiri kemudian menggenggamnya erat.
Disha menoleh saat tangannya tiba-tiba disentuh. Ia mencoba melepaskan diri tapi Dastan menggenggamnya makin erat. “Om....”
“Dengerin dulu!”
Disha mendesah kemudian mengangguk sekali.
“Aku sama mantan istriku emang enggak berjodoh. Yang jelas aku jatuh cinta ke kamu, sejak pandangan pertama.”
Disha terkekeh. “Kayak lagu,” komentarnya sinis.
Dastan tahu ini konyol, tapi dirinya sudah terlanjur bicara jujur mengenai perasaannya. Tangan yang menggenggaman tangan Disha perlahan makin mengerat. “Kamu boleh nertawin perasaanku saat ini. Itu hak kamu,” gumam Dastan.
Di luar perkiraan. Disha pun akhirnya menatap Dastan lebih serius. “Om serius?”
“Kalau aku enggak serius, aku enggak akan berada di sini. Kalau aku enggak serius, aku juga enggak akan ngajak kamu ngobrol saat kita pertama kali ketemu di kelab malam. Dan kalau aku enggak serius, aku juga enggak mungkin meniduri kamu malam itu.”
Disha menahan napasnya. Tidak percaya akan mendengar pernyataan cinta dari pria yang nyaris dibencinya kerena sudah lelah ia cari. Laki-laki yang jelas-jelas akan membuatnya menjadi seorang ibu muda diusianya yang masih belasan tahun.
“Aku tahu kamu kaget. Aku juga awalnya kaget sama perasaanku, tapi cinta emang enggak pernah bertanya dulu pada korbannya untuk jatuh cinta ke siapa, di mana tempatnya, dan bagaimana perangainya. Tapi sejauh ini aku yakin, kamu pasti gadis baik.”
“Kenapa Om bisa ngomong begitu?” tanya Disha penasaran.
Dastan menunjukan senyuman lebarnya kemudian tatapan matanya ia arahkan pada perut Disha yang memakai baju tidur kebesaran hingga bentuk perutnya tak terlihat sama sekali.
Disha sadar arah tatapan Dastan. Tapi dia belum mengerti juga.
“Kamu gadis baik karena mempertahankan bayi kita, Disha.”
“Aku pertahanin karena aku enggak tahu harus ngapain lagi dengan kandunganku ini,” balas Disha kelewat jujur.
“Yang penting kamu enggak ada pikiran buat menggugurkannya kan?”
Disha bergedik ngeri mendengar ucapan Dastan. Boro-boro menggugurkan, memikirkan dirinya disuntik menggunakan jarum saja dia sudah ketakutan.
“Gimana kalau kita mengobrolkan tentang pernikahan kita saja? Tempat tinggal kita nanti? Rencana pendidikan kamu ke depannya? Kalau aku sih mikirnya, mending kamu berhenti sekolah dulu. Habis kamu melahirkan, kamu bisa lanjut homeschooling. Gimana menurut kamu?”
Disha terdiam tapi dalam hati ia bersyukur karena pria di depannya memiliki pikiran panjang untuk masa depannya yang sudah dipastikan hancur karena sedang hamil.
“Kita obrolin nanti aja ya masalah itu,” Disha menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Kalau itu mau kamu,” gumam Dastan pelan. Ia sadar kalau Disha tidak menyukai topik pembicaraannya tadi. Padahal Dastan sudah semangat ingin membahasnya. Karena masalah Disha mengenai masa depannya sudah menjadi masalahnya juga.
“Oh ya, selama ini Om ke mana aja? Kenapa saat aku ke apartement Om, Om enggak pernah ada? Om sengaja menghindari aku?” tanya Disha beruntun.
Dastan menelan ludahnya susah payah. “Aku tinggal di rumah sebulan terakhir ini. Maaf ya, Disha.”
“Om emang harus minta maaf,” gumam Disha ketus.
“Iya, iya,” Dastan mengangguk paham. “Dis, boleh enggak aku megang perut kamu lagi?” tanya Dastan, tergoda pada perut Disha yang sempat ia pegang dan merasakan kehidupan baru di sana.
Disha dengan cepat menggeleng. Ia melepaskan tangannya yang sejak tadi berada dalam genggaman Dastan lalu melindungi perutnya yang terasa membuncit. “Enggak boleh lagi.”
“Kenapa?” tanya Dastan, merajuk. Dastan memicing tidak suka. Kenapa hanya untuk menyentuh perutnya saja ia dilarang? “Aku kan cuma mau merasakan kehadiran bayi kita.”
“Pokoknya enggak boleh,” Disha tiba-tiba berdiri sambil melindungi perutnya.
“Ya udah deh, terserah kamu.” Dastan akhirnya mengalah. “Ayo duduk lagi.”
Disha kembali duduk tapi tetap melindungi perutnya dari Dastan, seolah pria itu bisa mencuri kandungannya.
***
Dastan tetap menunggu ayah Disha yang sedang dirawat di rumah sakit. Meskipun tidak masuk ke dalam ruang rawat ayah Disha atau menegur ibu Disha, tapi Dastan diam-diam mencari tahu keadaan ayah Disha. Itu ia lakukan semata-mata demi Disha.
Disha sendiri jika ke luardari ruang rawat sendirian akan menyapa Dastan, tapi jika ia bersama ibunya ia akan bersikap tidak mengenal pria itu sama sekali. Mama memang pernah merasa curiga pada Dastan tapi Disha yang buru-buru membawa Mama pergi sebelum Mama sempat bertanya apapun, membuat perasaan curiga itu hilang.
Senyuman Dastan mengembang saat ia melihat pintu ruang rawat yang sedang ditunggunya terbuka. Dan benar saja, pujaan hatinya kini sedang keluar. Mereka saling menatap sebentar sebelum akhirnya Disha melanjutkan langkahnya dan hendak berpapasan dengan Dastan yang duduk agak jauh. “Mau ke mana?” tanya Dastan, mau tahu.
“Mau ke toilet,” jawab Disha lalu berjalan mendahului Dastan yang mulai berdiri dan mengikutinya.
“Kamu jangan ketus-ketus amat dong, Dis. Kamu enggak suka ya sama aku?”
Disha ingin sekali menjawab iya, tapi ia hanya bisa menggerutu dalam hati. Mana bisa ia jujur jika hanya akan membuat suasana makin buruk. “Om, kenapa enggak pulang aja sih? Udah dari kemarin malam Om ada di sini.”
“Kamu khawatir ya?”
Disha menutup mulutnya rapat-rapat. Seharusnya ia tidak perlu bicara seperti tadi jika membuat laki-laki di sampingnya cengengesan seperti orang gila baru. Salah, maksud yang tepat untuk mendeskripsikan Dastan adalah dia laki-laki kelewat tampan apalagi jika sudah tersenyum.
“Papa kamu gimana kabarnya, Dis?” Dastan bertanya lagi. Ia tidak mau berdiaman jika di dekat Disha. Yang dia mau jika berada dekat Disha tentunya mengobrol dekat, saling menatap, saling bersentuhan, dan jika bisa saling mencintai. Tapi keinginan terakhirnya terasa sulit.
“Nanti sore Papa udah boleh pulang,” jawab Disha tidak sesuai dengan pertanyaan yang disebutkan Dastan.
Dastan tahu itu. Dia hanya bisa tersenyum kemudian menarik tangan Disha yang berada di samping tubuhnya lalu menggenggamnya erat-erat. “Habis ke toilet, gimana kalau kita makan di kantin?”
Sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Dastan, Disha pun menggeleng. “Aku pamit ke Mama cuma buat ke toilet, buang air kecil.”
“Bilang aja kamu ke kantin, laper.” Dastan memberi solusi. Tapi Disha tetap menggeleng tidak setuju. “Kamu enggak suka deket-deket aku ya?”
Udah tahu masih nanya! Batin Disha menggerutu lagi. “Om mending pulang aja. Emangnya Om enggak ada kerjaan selain nungguin aku?”
“Aku nungguin ayah kamu,” ralat Dastan.
Disha mengedikan bahu tidak peduli. “Udah dong tangannya, itu toiletnya udah keliatan.”
Dastan melepaskan tangan Disha kemudian membiarkan gadis itu memasuki toilet wanita seorang diri. Dastan menunggu di salah satu kursi rumah sakit yang kosong, letaknya lumayan dekat dengan toilet.
“Dastan?” panggil seorang pria.
Dastan yang merasa dipanggil pun menoleh. “Gerry?”
Pria bernama Gerry itu tersenyum lembut. “Siapa yang sakit?” tanya Gerry lagi.
“Ayah pacar,” Dastan menggaruk tengkuknya merasa canggung. Pria di depannya ini salah satu rekan kerjanya yang cukup baik soal pekerjaan. Mereka memang tidak dekat tapi jika soal pekerjaan mereka sama-sama punya kriteria yang sama.
Gerry tersenyum lebih lebar kemudian mengangguk paham.
“Kamu sendiri ke sini....”
“Temenin istri yang lagi cek up kehamilan.”
“Aku baru tahu istri kamu sedang hamil. Sudah berapa bulan?” tanya Dastan dengan perasaan suka cita untuk rekan bisnisnya itu.
“Sudah masuk 5 bulan,” gumam Gerry. Senyumannya makin mengembang saat melihat wanita berbadan dua sedang menghampirinya dengan langkah pelan.
“Ger....” Giva, sang istri tersenyum saat berpapasan dengan Dastan karena menghampiri suaminya. “Ini siapa?”
“Oh ya, kenalin dulu. Dastan, ini istriku Giva. Gi, kenalin ini rekan kerjaku Dastan.”
Mereka saling berjabat tangan sebentar sambil melempar senyum satu sama lain.
“Dastan.”
“Giva,” ujar Giva kemudian berdiri makin merapat pada suaminya. “Ger, aku ke toilet dulu ya?”
Gerry segera mengangguk. “Kamu hati-hati,” ujar Gerry perhatian.
Giva mengangguk kemudian permisi pada Dastan. Ia pun meninggalkan suaminya lagi bersama Dastan.
Masuk ke dalam toilet, Giva pun berhenti sebentar di depan cermin besar. Ia melihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun sedang mengelap wajahnya yang basah menggunakan sapu tangan yang dia bawa. Giva mencuci tangannya kemudian tatapan matanya tak sengaja jatuh pada gadis di sebelahnya yang mengomel sendiri. Sapu tangannya jatuh ke westafel hingga basah seluruhnya.
Gadis itu mencuci sapu tangannya kemudian memerasnya sampai terasa tak berair meskipun tetap basah. Tangannya ia pergunakan untuk mengusap wajahnya tapi malah makin basah.
Perlahan tangan Giva terulur ke samping setelah mengeluarkan sapu tangannya yang ia bawa selalu.
Disha, gadis itu menoleh ke arah Giva kemudian tersenyum tipis.
“Pakai aja!” katanya sambil menyodorkan sapu tangan yang dipegangnya.
Disha menggeleng malu-malu.
“Enggak apa-apa. Sapu tangan kamu basah kan?”
“Ibu sendiri nanti bagaimana?” Disha balik bertanya.
“Saya enggak lagi butuh kok. Kalau pun butuh saya bisa minjem sapu tangan suami saya di luar. Ayo enggak apa-apa. Pakai aja!”
Disha tidak bisa menolak saat perlahan tangannya dipaksa menerima sapu tangan milik ibu-ibu yang baik yang berada di sampingnya. “Makasih, Bu.”
Giva tersenyum manis. Ia mengangguk singkat kemudian meninggalkan Disha dan masuk ke dalam bilik kamar mandi.
***
Disha ke luardari toilet dan mencari keberadaan Dastan. Pria itu terlihat sedang berdiri bersama seorang pria seumurannya. Saat ia melangkah, Dastan yang melihat ke arahnya pun segera menariknya dan membawanya pada teman bicaranya tadi.
“Aku kenalin kamu sebentar sama rekan kerjaku,” Dastan berbicara dengan antusias. Mereka pun kembali ke hadapan Gerry. “Ger, kenalin nih. Disha ini pacarku. Gerry rekan kerjaku.”
Disha dan Gerry masing-masing tersenyum canggung. “Disha, Om.”
Gerry merasakan sesuatu mengganjal kerongkongannya saat dipanggil Om oleh pacar Dastan. “Gerry. Oh ya, Das, kalian berdua kenalan di mana sampai bisa pacaran?”
“Di....” Dastan menerawang sebentar kemudian tersenyum tipis. “mana aja.” Dia mengatakan itu karena tidak ingin Gerry berpikiran yang tidak-tidak jika ia mengetahui bahwa ia dan Disha bertemu pertama kali di kelab malam.
Gerry terkekeh. “Dasar cowok! Buruan nikah, aku bentar lagi mau punya anak kedua. Kamu nikah saja belum.”
Dastan tertawa tidak merasa berdosa sedikit pun. Padahal dia seharusnya sadar, dia sudah pernah menikah, bahkan baru bercerai dan sebentar lagi akan mempunyai anak meskipun belum resmi menikahi wanita yang sedang mengandung benihnya.
“Om, aku duluan aja ya!” Disha meremas sapu tangan basahnya sambil berpamitan dengan Dastan.
“Tunggu, Dis.” Dastan berpamitan dengan Gerry kemudian mengejar Disha yang melangkah lebih dulu.
Gerry melihat pasangan berbeda usia itu dari kejauhan. Ia memang merasa canggung, tapi tatapannya kini memicing saat melihat sapu tangan yang mirip dengan yang dimilikinya dan istrinya berada di saku celana gadis muda pacarnya Dastan tadi.
“Ger, ada apa?” tanya Giva saat melihat Gerry yang melihat dengan mata memicing tajam.
“Enggak apa-apa, Gi.” Gerry pura-pura tidak memperhatikan Disha. Ia khawatir istrinya mengiranya main mata dengan gadis lain.
“Oh, ya udah. Ger, aku pinjem sapu tangan kamu ya?”
“Emang sapu tangan kamu ke mana?” tanya Gerry balik.
Giva tersenyum lebih lebar. “Tadi aku kasih ke cewek ABG gitu. Sapu tangan dia basah jadi kukasih ke dia. Enggak apa-apa kan?”
Gerry shock bukan main. Padahal sapu tangan itu sudah ia pesan sendiri, sebagai hadiah kehamilan Giva yang keempat bulan. Ada inisial G di ujung sapu tangan itu, berwarna biru laut dan sama persis seperti milliknya.
“Ger, maaf ... Aku bukannya enggak menghargai pemberian kamu, tapi gadis tadi kelihatan lebih membutuhkan.”
“Enggak apa-apa.” Gerry kembali tersenyum. Meskipun senyumannya terpaksa tapi ia pikir-pikir tidak apa-apa, toh sapu tangan itu sekarang berada di tangan pacar Dastan. Kalau perlu ia akan memberikan sapu tangannya pada Dastan. Sama seperti Giva memberikannya pada Disha.[]
***
Bersambung>>>
Hai, makasih udah baca. By the way Cerita tentang Gerry dan Giva sudah ada spin off nya ya.
Cek aja akun dreame aku, terasora. Atau bisa cari kolom pencarian dengan judul TERPAKSA KAWIN LARI.