Ketahuan Hamil

1612 Words
Sudah lewat sebulan, dan Disha sudah tidak bisa membohongi siapa-siapa lagi. Mama yang sudah tahu keadaannya pun perlahan tidak bisa membohongi suaminya lagi. Mama Disha memang sengaja tidak memberitahu suaminya karena dia percaya pada putrinya bahwa laki-laki yang telah merenggut kesucian putrinya akan datang dan bertanggungjawab. Tapi sepertinya semua itu tidak akan terjadi.  “Kenapa diam? Jujur sama Papa sekarang, Ma. Apa yang sebenarnya kamu sembunyiin tentang kondisi Disha saat ini?” tanya Papa. Meskipun suara tidak tinggi, tapi rasa curiga itu sudah tidak bisa ia pendam lagi. Kemarin dia mendapat panggilan dari sekolah Disha mengenai perubahan buruk putri sematawayangnya.  “Maafin Mama, Pa,” sesal Mama sambil menunduk lesu. Ia hanya mampu memperhatikan jemari tangannya yang tidak selembut satin. “Mama enggak tahu kenapa semua itu harus terjadi sama Disha? Mama juga enggak mau Disha merasakan ini. Mama yang salah karena sudah enggak bisa menjaga putri kita, Pa.”  Papa bisa merasakan sambaran pada jantungnya. Ia memegang jantungnya kuat-kuat kemudian bertanya lagi. “Katakan yang jelas, Ma!”  Mama yang awalnya menggeleng semakin terpojok saat Papa mulai menyentuh bahunya. Membuat penekanan bahwa Papa harus mengetahui kejelasan dari semua kemurungan putrinya.  “Katakan, Ma!”  “Disha sedang mengandung!”  “Aahh....” Papa makin menekan jantungnya yang kembali berdebar naik tajam. “Disha enggak mungkin hamil, Ma.”  “Papa!” Mama yang khawatir dengan kondisi suaminya perlahan ikut memegang jantung Papa yang terasa seperti detikan bom yang siap meledak kapan saja. “Papa, baik-baik saja?”  “Aahh....”  Mama menjerit saat melihat suaminya jatuh dari duduknya dengan kondisi memegang jantung. “Papa....” teriak Mama. ***  Disha yang berada di kamarnya merasa mendengar jeritan dari Mama. Saat dirinya sedang termenung nyaris gila sendiri entah mengapa perasaannya jadi berdebar ketakutan. Ia buru-buru turun dari tempat tidurnya kemudian berlari ke kamar orangtuanya.  “Mama, Papa kenapa?” Tangisan Disha luruh saat dilihatnya Papa sedang terbaring tak berdaya di atas lantai kamar orangtuanya. Mama menangis dan terlihat kalut.  “Telepon ambulance, Disha! Telepon ambulance!” perintah Mama sambil terus menangis.  Disha segera melakukan apa yang diminta Mama. Ia pergi ke meja telpon kemudian mencari nomer ambulance di buku telpon. Saat sudah ditemukannya, Disha pun segera menekan setiap digit angka yang diperlukan.  Meskipun sudah menelpon ambulance, Disha masih merasakan kekhawatiran itu. Ia menutup telponnya setelah memberikan keterangan alamat rumahnya pada pihak ambulance yang akan segera datang.  Kakinya pun akhirnya berjalan menuju kamar kedua orangtuanya. Disha menangis tanpa suara kemudian membantu Mama yang sedang menaikan tubuh Papa yang tergeletak dalam keadaan pingsan ke tempat tidur.  “Ma, Papa kenapa?” tanya Disha pelan. Ia juga sama kalutnya seperti yang sedang dirasakan Mama.  Mama menggeleng sambil melihat ke arah suaminya. Dia tidak mungkin mengatakan kebenaran itu, Disha pasti sedih jika tahu penyakit jantung Papa kumat karena berita kehamilannya. “Kamu udah telpon ambulance kan, De?” tanya Mama, mengubah topik pembicaraan.  “Udah, Ma. Sebentar lagi mereka datang,” jawab Disha. Ia kemudian mendekati Papa dan menggenggam tangan Papa kiri yang bebas. Tangan kanan Papa memang sudah digenggam Mama sejak tadi. “Pa, Papa kenapa? Papa jangan buat aku takut.”  “Papa pasti baik-baik aja, De. Kamu mending tunggu di luar kalau-kalau mobil ambulance itu datang.”  Disha mendongak. Dari tatapan matanya kepada Mama, Disha ingin sekali menolak. Tapi saat dilihatnya Mama sama saja khawatirnya seperti dirinya, Disha pun mengangguk setuju. Ia pun ke luardari kamar kedua orangtuanya. Menunggu mobil ambulance yang sebentar lagi datang ke rumahnya. ***  Ambulance datang bersamaan dengan datangnya mobil SUV hitam. Disha sama sekali tidak memperhatikan mobil itu dan lebih tertarik pada petugas rumah sakit yang ke luardari mobil ambulance sambil membawa bangkar.  “Ikut saya, Pak!” Disha bersuara dengan keras. Ia berjalan lebih cepat bersama kedua orang petugas itu memasuki rumah. Sampai akhirnya Disha menunjukan kamar orangtuanya, Disha pun melihat dari sudut ruangan bagaimana Papa dibawa oleh kedua petugas itu.  “Ma, aku ikut!” Disha mengikuti Mama saat semua orang kembali ke luardari rumah.  “Disha....” panggil seseorang.  Disha menoleh karena baru menyadari kehadiran seseorang bertubuh tinggi tegap di belakangnya. “Kamu,” Disha menunjuk Dastan menggunakan jari telunjuknya. Dari tatapan matanya yang makin menggelap, Dastan tahu bahwa gadis depannya langsung terlihat marah hanya karena melihatnya.  “Maaf, Anda siapa?” tanya Mama yang sudah berada di samping Disha.  “Saya....”  “Mama, kita ke rumah sakit saja sekarang.” Disha tidak mengindahkan pertanyaan Mama. Ia segera membalik tubuhnya, membawa Mama secepat mungkin ke dalam ambulance yang sebentar lagi akan berangkat.  Barulah saat mereka berdua masuk ke dalam, ambulance pun melesat cepat. ***  Dastan terdiam saja saat melihat kepergian Disha dari hadapannya. “Apaan tadi? Kenapa gue dikacangin?” gerutu Dastan. Tapi sesaat kemudian Dastan segera memasuki SUV hitamnya untuk mengejar mobil ambulance yang membawa Disha bersamanya.  Mobil ambulance itu berhenti di Rumah Sakit Umum terdekat. Saat Dastan turun dari mobilnya, ia merasa kehilangan Disha untuk beberapa saat.  Dastan mendesah lega saat dilihatnya lagi Disha yang kini berlarian kecil menuju UGD. Ia pun tak membuang waktu lagi. Dengan erat Dastan mencengkram tangan Disha hingga gadis itu tidak bisa pergi lagi dari hadapannya.  “Kenapa kamu pergi begitu aja?” tanya Dastan, tidak terima. Sebenarnya pertanyaannya sangat tidak penting.  “Maaf, Mas siapa ya?”  Dastan melepaskan pegangan tangannya saat sadar dirinya salah orang. “Maaf, Mbak. Saya salah orang.” Dastan pun kembali mencari keberadaan Disha. “Mana dia?”  Dastan terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Jam tangannya menunjukan pukul 20.00 WIB. Ia bertanya-tanya ke mana dan siapa yang berada di rumah sakit bersama Disha? Tadi yang mengajaknya bicara pasti ibunya. Apa ayahnya? Dastan sangat yakin saat mengingat kembali laki-laki dewasalah yang dibawa oleh petugas ambulance. Tapi kenapa? Memang ayah Disha sakit apa?  Dastan berdiri secepat kilat saat matanya menemukan sosok yang ia cari sejak tadi. Gadis itu melewatinya kemudian memasuki toilet wanita. “Disha....”  Terlambat. Disha sudah masuk ke dalam toilet. Tak ada hal lain yang harus dilakukan Dastan selain menunggu Disha ke luardari toilet. Ia tak mungkin masuk ke dalam toilet dan membuat keributan di sana.  “Disha....” panggil Dastan lagi sambil menarik lengan Disha yang sudah ke luar dari toilet.  Wajah Disha berubah marah saat ia kembali melihat sosok b******n di hadapannya. “Ngapain lo ke sini?” teriak Disha.  Dastan yang tidak menyangka akan diteriaki segera melepaskan tangannya pada lengan Disha. “Kamu gila apa teriak-teriak kayak tadi?”  Disha tidak terima saat dirinya dibilang gila. “Gue enggak mau ketemu elo lagi tahu enggak,” Disha marah. Ia sedang kalut dan malah dipertemukan disaat yang tidak tepat dengan laki-laki b******n yang sudah lama ia cari. Ia pun melangkah lagi dengan kesal.  Dastan yang tidak menyangka dengan apa yang didengarnya pun kembali menarik lengan Disha hingga gadis itu kembali menoleh ke arahnya. Dia menunduk karena tinggi Disha yang terlampau mungil jika dibandingkan tubuhnya kemudian berbicara dengan suara marah. “Kamu hamil bayiku!”  Disha terdiam sejenak. Ia sepertinya baru teringat akan hal itu. Alasan itu juga yang membuatnya uring-uringan selama ini dan terus mencari jejak Dastan yang tidak kunjung ditemuinya. “Lo kabur!” teriak Disha pendek.  “Apa?” Dastan cepat-cepat menggeleng. “Aku enggak pernah kabur. Aku datang malam ini untuk ketemu kedua orangtua kamu.”  “Enggak penting!” Disha yang makin kesal mencoba melepaskan tangan Dastan di lengannya. Tapi genggaman tangan Dastan bukannya melonggar malah makin kencang. “Lepasin!”  “Kamu kenapa sih marah-marah terus? Aku ke sini mau bertanggungjawab. Aku mau menikahi kamu. Aku siap.”  “Gue yang enggak siap.” Disha nyaris berteriak. “Please, Om! Papa lagi sakit sekarang, aku harus ke ruangan Papa.”  “Kalau gitu aku ikut!” Dastan perlahan melepaskan tangan Disha. Membiarkan gadis yang kembali memanggilnya dengan sebutan Om itu berjalan.  “Mau apa?” Disha tidak melangkah sama sekali. Ia malah menatap Dastan kesal.  “Nemenin kamu?” Dastan menjawab dengan raut bingung.  “Enggak usah,” gumam Disha, keras kepala. “Gue enggak butuh ditemenin.”  “Disha....” Dastan mengikuti Disha yang mulai melangkah. “Kamu marah?”  Disha diam. Dia sangat marah!  “Aku bisa jelasin ke mana aja aku selama ini.”  Kamu memang harus menjelaskan! Batin Disha kesal, tapi tidak mengatakan apapun. Dia hanya terlampau sakit hati. Dia kira Dastan kabur dari hidupnya. Tapi anehnya saat melihatnya malam ini, Disha bukannya lega, ia malah takut jika harus menikah.  “Aku sedang mengurus kehidupanku.”  “Jawaban t***l!” Disha menggerutu. Kakinya pun membelok, menuju ruangan Papa.  “Disha, lihat aku!” Dastan menarik lengan Disha dan membuat gadis itu berhenti melangkah. “Aku tahu kamu kecewa sama aku! Aku pergi terlalu lama. Tapi aku enggak pernah sedikitpun berpikiran untuk kabur dari tanggungjawabku.”  Disha masih terdiam. Matanya bergerak menelusuri wajah Dastan. Laki-laki itu terlalu dewasa untuk menjadi suaminya? Apa kata dunia? Apa kata Mama, Papa, teman-temannya, dan keluarga besarnya kalau dia menikah dengan laki-laki di depannya saat ini?  Dia benar-benar terlalu dewasa. Perlahan Disha menggeleng kemudian memekik kecil. “Gue bisa gila!”  “Disha, kamu kenapa?” Dastan bingung sekaligus khawatir. Ia masih mengunci pergerakan Disha. “Bayi kamu baik-baik aja kan?”  Disha menatap Dastan sambil menahan napasnya. “Gue enggak tahu apa-apa.”  Dastan balik menatap Disha dengan tatapan bingung. “Kamu inget kan kalau kamu saat ini sedang hamil?” Dastan tidak tahan untuk tak menyentuh perut Disha lagi. Sudah mulai membuncit. Dastan tersenyum manis kemudian menarik Disha dalam pelukannya. “Aku kira kamu melakukan hal bodoh dengan bayi kita.”  Disha terdiam dalam pelukan Dastan. Ia sudah mencoba melepaskan diri tapi tak berhasil. Jadi dia menunggu pria yang memeluknya saat inilah yang melepaskan dirinya.  “Kamu kayak orang linglung.” Dastan bertanya terus terang. “Kamu baik-baik saja kan?”  Disha mengangguk kecil. “Gue pergi dulu.”  “Eh....” Dastan lagi-lagi mengikuti Disha. Awalnya ia berjalan di belakangnya kemudian ia melangkah di samping Disha seolah tidak terjadi apa-apa. “Papa kamu sakit apa?”  “Jantung,” jawab Disha pendek.  Dastan meringis seolah ikut berduka. “Kamu yang sabar ya?”  “Dari dulu juga gue udah sabar,” gumam Disha kesal.  “Perut kamu makin buncit, Dis.”  “Pernyataan t***l,” ujar Disha kesal. Ekspresi kesedihannya mendadak hilang saat bertemu lagi dengan subjek yang ingin ia temui selama ini, ia bahkan merasakan kemarahan besar-besaran saat ini.  “Kamu kenapa sih ketus mulu?”  Disha tidak membalas ucapan Dastan. Ia berhenti melangkah kemudian menatap Dastan tajam. Ia memang sudah sampai di ruangan rawat Papa. “Kamu jangan ikut masuk,” tegas Disha.  Dastan mengernyit dengan tatapan mata tidak setuju.  “Lo enggak tepat kalau masuk dan ketemu Mama dan Papa. Lagipula Papa lagi enggak sadarkan diri.”  Dastan pun mendesah. Ia paham ucapan gadis kecilnya. “Ya udah, aku tunggu di sini.”  Disha melihat Dastan yang duduk di salah satu kursi rumah sakit kemudian mengedikan bahu tidak peduli. Ia pun kembali melangkah. Tapi baru dua langkah, Disha kembali berbalik menghadap Dastan. “Om, tunggu di situ sebentar, kita harus ngobrol habis ini.”  Dengan mata memicing tidak percaya, Dastan pun akhirnya mengangguk setuju. Mereka memang harus membicarakan semuanya.[] *** Bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD