Perpisahan Dastan dan Aisyah

829 Words
Dastan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini. Ia salah dan sudah membuat istrinya yang sabar melewati batas kesabarannya. Setelah mengatakan kenyataan yang terjadi, Aisyah segera mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah.  Dastan sudah mencoba menahan Ais, tapi wanita itu sudah sangat terluka dengan kenyataan buruk yang Dastan bawa untuknya. “Ais, tunggu! Seenggak izinin aku untuk mengantar kamu. Aku tahu kesalahanku sudah sangat fatal.”  Aisyah berhenti di depan pintu rumah mereka yang megah. Ia berbalik kemudian menatap Dastan dengan tatapan terluka. “Jangankan untuk mengantarkanku, Kang! Aku harap setelah ini Akang tidak pernah menemuiku lagi. Aku tidak sudi melihat laki-laki keji seperti Akang.”  Dastan mendengar penuturan Aisyah. Ia hanya termenung. Bahkan saat wanita itu pergi meninggalkannya seorang diri. Kembali ke kampung halamannya di Sukabumi. ***  “DASTAN!” teriak seseorang.  Dastan yang sedang tertidur di dalam kamarnya pun perlahan terganggu. Ia membuka matanya dan melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 11.00.  “Dastan, kalau kamu enggak buka pintu kamar kamu sekarang! Mama akan suruh Mang Didi untuk dobrak pintu kamu! Buka sekarang juga, anak kurang ajar!” pekik ibunya. Dastan mengucek matanya kemudian beranjak dari tempat tidurnya.  Baru saja pintu kamarnya terbuka, Dastan merasakan tamparan di pipinya. Dastan yang tahu diri hanya terdiam. Ia memegang pipinya kemudian menatap ibunya jengkel. “Kalau belum puas? Tampar aku lagi, Ma!”  Mama Dastan terdiam. Dia malah melihat tangan yang sudah berani menampar anak kesayangannya yang bergetar. “Kenapa kamu selalu nyusahin Mama?”  “Kenapa semua orang menyalahkan aku?” Dastan memekik hingga ibunya menggeleng tidak percaya. “Mama selalu membela Ais bahkan sebelum dia menjadi istriku!”  “Dastan....” Mama terdiam. Ia tidak tahu telah membesarkan anak yang tidak peka terhadap sekitarnya.  “Aku enggak mau lagi ngobrolin tentang Ais. Pengacaraku yang akan mengurus semuanya. Kita sejak awal memang tidak cocok, Ma.”  “Kamu memang anak kurang ajar yang enggak tahu diri. Kamu sudah Mama jodohkan dengan wanita baik-baik tapi malah berselingkuh di belakangnya.”  “Aku enggak peduli sama kalian semua,” Dastan menutup pintunya dengan kasar. Setelah menguncinya, Dastan terduduk di tempat tidur. Ia sama sekali tidak menangis. Ia hanya terdiam dan termenung.  Keegoisan sudah membutakan hidupnya saat ini. Ia tahu bahwa dirinya salah, tapi untuk meminta maaf berulang kali? Dastan tidak akan pernah melakukannya. Lagipula semua sudah jelas sejak Aisyah mengetahui kebejatannya. Tidak ada yang harus dipertahankan. Ia tidak mau menyulitkan dirinya hanya untuk mengejar wanita baik. Ia tahu diri ... Aisyah sudah cukup dengan semua penderitaan yang telah ia perbuat untuknya. Dengan berpisahlah Aisyah akan berbahagia. Ia bahkan akan menuruti permintaan Aisyah untuk tidak pernah lagi memperlihatkan batang hidungnya. Semua sudah selesai.  “b******k!” Dastan mulai memukuli dirinya sendiri. Di hadapan ibunya tadi ia memang bisa bersikap tidak acuh, berpura-pura menjadi pria terbrengsek sepanjang masa. Tapi percayalah, ia melakukan itu agar Aisyah bisa menemukan kebahagiaannya.  Dan untuk Disha....  Dastan sadar telah membuat hidup gadis itu hancur karena kesenangannya semata. Meskipun begitu, Dastan masih ingat dengan janjinya untuk bertanggungjawab atas kehamilannya. “Ya Tuhan, ampuni aku!” gumam Dastan setelah lelah menyakiti dirinya sendiri. ***  Disha lagi-lagi merasa mual saat sedang duduk di gazebo bersama Juwita dan Vania. Hari ini kedua sahabat baik Disha memang datang menjenguk Disha di rumah. “Gue masuk dulu ya, Ju, Van....” Disha menutup mulutnya kemudian berlari menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.  “Ju, menurut lo, sakit Disha aneh enggak?” tanya Vania sesaat setelah kepergian Disha.  Juwita mengedikan bahu tidak tahu.  “Dari kita datang sampai sekarang udah berapa kali coba Disha bolak-balik ke kamar mandi karena mual. Gejelanya itu loh, Ju! Lo masa enggak ngerti sih?” Vania cemberut setelah menyelesaikan ucapannya.  “Maksud lo?” Juwita yang mulai tersadar dengan maksud ucapan Vania menutup mulutnya. Ia terlihat terkejut dengan mata melebar. “Tapi enggak mungkin deh, lo tahu kan kalau Disha itu jomblo!”  Vania mengangguk setuju. Tapi ingatannya kembali berputar saat ia, Disha, dan Juwita pergi ke tempat hiburan malam. Malam itu, Disha menghilang dan sejak saat itu ia sadar bahwa ada hal yang berubah dari diri Disha. Disha jadi sosok yang penyendiri bahkan sering bolos sekolah. Entah ke mana perginya jika Disha membolos, ia pun tak pernah tahu.  “Apa jangan-jangan malam itu!” Juwita berbicara duluan. Ia juga ingat malam di mana mereka pergi ke tempat hiburan malam untuk iseng-iseng. “Van, gimana nih?” Juwita menggoyang-goyang lengan Vania dengan keras.  Vania tidak tahu harus berbuat apa. “Gue juga enggak tahu, Ju. Tapi semoga kita salah!”  Juwita sama sekali tidak mengangguk. Saat Disha kembali ke gazebo, Juwita segera memberesi buku-buku yang hendak ia pijamkan pada Disha ke dalam tas. “Dis, gue sama Vania pulang dulu ya!”  “Loh kok buru-buru banget?” Disha merasa ada yang tidak beres dengan kedua sahabatnya. “Bukunya....”  “Aku baru inget kalau nanti malam bokap gue mau ngecek buku-buku sekolah gue. Lo tahu sendiri kan gimana sikap bokap?”  Disha mengangguk kecil. “Ya udah, enggak papa kok.”  “Yuk, Van!” Juwita terdengar terburu-buru.  Vania yang lebih rileks pun akhirnya bangkit berdiri. Mereka pun meninggalkan rumah Disha.  Disha yang merasa aneh perlahan terduduk kembali. Tangannya menyentuh perutnya yang makin berisi kemudian air matanya luruh. “Apa mereka udah sadar kalau aku hamil?” tanya Disha pada dirinya sendiri.[] *** Bersambung>>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD