Disha merenung sendirian di kamarnya hingga tengah malam. Ia sama sekali tidak berselera melakukan apapun. Bahkan dia mengabaikan ajakan nonton dari kedua teman baiknya, Juwita dan Vania.
Kejadian itu terjadi 2 bulan yang lalu. Kejadian yang membuat hidupnya terasa begitu hancur saat ini. Di masa SMA-nya, dimasa dirinya seharusnya masih bermain-main dengan teman sebayanya. Semua masa itu akan berakhir. Karena bayi yang berada dalam rahimnya saat ini. Karena bayi laki-laki itu.
Tok, tok, tok....
Disha menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat mamanya yang sedang berdiri dengan wajah penuh senyum. “Kenapa, Ma?” tanyanya. Disha yang tadinya berbaring merubah posisinya menjadi duduk.
Mama Disha menggeleng tapi tetap masuk ke dalam kamar Disha. Wanita paruh baya itu duduk di samping Disha, di atas ranjang, dengan tangan mengusap lembut rambut putrinya. “Gimana sekolah kamu, De?” tanya Mama balik. Suaranya sangat lembut, selembut setiap pelukan yang mampu diberikan seorang ibu terbaik di dunia.
Disha menatap mata ibunya sedih. “Sekolah aku baik-baik aja kok, Ma,” jawabnya, sedikit berbohong.
“Nak, Wali kelas kamu tadi nelpon ke rumah,” ungkap Mama. Disha kaget bukan main, ia tahu jika wali kelas menelepon rumah itu tandanya ada yang tidak baik-baik saja pada sekolahnya. “Kamu katanya sering bolos?”
Disha menunduk. Dia sudah ketahuan. Disha memang beberapa kali bolos karena merasa tidak kuat dengan beban yang harus ditanggungnya seorang diri.
“De,” panggil Mama Disha lagi dengan suara pelan. “Kamu sebenarnya kenapa, Sayang? Kalau ada apa-apa kamu cerita ke Mama dong! Mama kan khawatir, De. Dapat telepon dari Bu Endang dan dapat laporan kalau kamu jadi sering bolos sekolah.”
“Maafin aku, Ma,” sesal Disha. Dia tidak bisa bicara dengan jujur mengenai kenyataan yang menimpanya saat ini. Dia tidak tega jika mamanya yang lembut mengetahui anaknya ini sudah tidak perawan lagi, bahkan sedang hamil.
“Mama maafin,” kata Mama lembut. “Tapi Mama mau tahu, ke mana aja selama kamu bolos sekolah?”
“Enggak ke mana-mana, Ma,” jawab Disha pelan. “Aku di rumah aja.”
Mama mendesah panjang tapi setelah itu tidak mengatakan apapun. “Kalau gitu Mama ke luar dulu ya, Sayang. Kamu habis ini tidur, biar besok bisa bangun pagi.”
Disha memperbaiki posisinya agar kembali berbaring. Ia merasakan kecupan di keningnya kemudian memutuskan untuk memejamkan mata setelah Mama berlalu sambil mematikan lampu kamarnya serta menutup pintu kamar dari luar.
***
Keesokan paginya di ruang makan, Disha mendapatkan pertanyaan yang sama dari sang ayah. Papa memang tidak pernah bersikap kasar kepada Disha, sikapnya sama seperti Mama Disha, begitu lembut, bahkan kelewat humoris.
“Ma, tolong ambilin Papa telor mata sapi dong!” Papa mengangkat piringnya yang penuh dengan nasi goreng buatan Mama.
Mama dengan cekatan mengambilkan telur yang diminta suaminya. “Nih, Pah. Mau satu atau dua?” tanya Mama, dengan senyuman lembut seperti biasanya. Senyuman itulah yang membuat Papa begitu mencintai istrinya. Senyuman itu begitu tulus dan menentramkan siapapun yang melihatnya.
“Satu aja. Kayaknya anak Papa yang mendadak alim inilah yang butuh asupan makanan lebih banyak,” jawab Papa, menyindir Disha dengan wajah penuh senyum menggoda.
“Aku udah kenyang,” Disha mendadak bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Papa kemudian mencium tangannya. “Aku berangkat dulu, Pa.”
“Hati-hati, Nak!” Papa mencium pipi kiri Disha sambil menasehati anaknya seperti biasa.
Disha berlalu kemudian mencium tangan Mama.
“Enggak mau Mama antar ke sekolah?” tanya Mama dengan wajah khawatir. Ia tentu saja khawatir anaknya kembali bolos sekolah.
“Enggak usah. Aku naik motor aja kayak biasa, Ma.”
Mama mengangguk, “Ya udah hati-hati.”
Disha mengangguk kemudian berlalu pergi ke luardari rumahnya. Ia membuka bagasi rumahnya kemudian mengeluarkan motor matic warna merahnya. Setelah memanaskan mesinnya beberapa saat, ia pun melaju di jalanan beraspal.
***
Lagi-lagi Disha pergi ke tempat ini. Sudah seminggu setelah ia mendatangi kediaman pria itu dan dia selalu mendapati apartement yang kosong. Dastan tidak berada di sana.
“Neng, kok ke sini lagi?” tanya seseorang berseragam hitam, petugas keamanan apartement.
“Cari Om Dastan, Pak,” jawab Disha jujur.
Petugas keamanan bernama Pak Hadi itu menggeleng. Ia sejujurnya juga tidak habis pikir, kenapa anak sekolahan pagi-pagi ke apartement, bukannya pergi ke sekolah dan belajar? “Kamu mending ke sekolah, Neng. Kamu harusnya sekolah kan?”
Disha tidak mau menjawab pertanyaan Pak Hadi. Dia merasa percuma sekolah. Masa depannya sudah pasti hancur, sekolah tidak ada gunanya lagi saat ini. Dirinya hamil dan yang dibutuhkannya saat ini adalah pertanggungjawaban Dastan. Maka dari itu ia ke apartement Dastan, meminta kejelasan!
“Bapak sebenarnya enggak suka mencampuri urusan orang lain, tapi maaf, jika boleh tahu, Neng itu sebenarnya siapanya Pak Dastan? Kenapa....”
Disha menggeleng. Ia tidak ingin membagi kisah sedihnya dengan siapapun. Apalagi orang di hadapannya tidak ia kenal sama sekali. “Saya permisi, Pak,” pamit Disha sambil berlalu.
Pak Hadi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia melihat kepergian Disha yang tergesa-gesa dan menyayangkan perbuatan anak perempuan tadi yang harus bolos sekolah!
***
Mama kaget saat melihat Disha pulang ke rumah lebih cepat. Masih pukul 10 pagi. “De, pulang cepat?” tanya Mama lemah lembut.
Disha tidak menjawab. Ia berlalu menuju kamarnya kemudian menguncinya dari dalam. Air matanya luruh kembali, hasilnya sama saja. Dia makin yakin kalau Dastan kabur! Pria itu tidak akan memberi kepastian untuk dirinya.
“Dasar laki-laki b******k!” pekik Disha keras. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Mama yang berada di depan pintu kamarnya mampu mendengar dengan jelas suaranya yang lantang dan sarat akan rasa frustasi juga kebencian.
“De....” panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Disha. Ia benar-benar tidak tega mengetahui anaknya sedang dalam masalah. Dan dari kemarahannya tadi, ia tahu sedikit informasi, bahwa yang membuat anaknya uring-uringan saat ini adalah seorang laki-laki.
Tidak ada jawaban. Malah terdengar suara tangis kencang yang makin membuat Mama merasa teriris. Entah masalah apa yang telah dialami anak perempuan satu-satunya saat ini, yang pasti Mama yakin masalah sangat berat.
“De, tolong buka pintunya Sayang? Ini Mama....”
Tidak ada jawaban lagi.
Mama mendesah panjang kemudian kembali mencoba. “Sayang, Mama janji enggak bakal marah atau sebagainya. Mama cuma mau denger cerita kamu, Sayang? Permasalahan apa yang berhasil membuat anak Mama yang ceria jadi uring-uringan kayak sekarang? Mama mohon ya, De, buka pintunya? Jangan buat Mama khawatir, Sayang!”
“Sayang, enggak cuma kamu yang punya masalah dalam hidup. Mama juga dulu pernah mengalami masalah. Dan sebesar apapun masalah asal kita kuat, masalah tidak akan terasa begitu berat. Mama enggak mau kamu menanggung masalahmu sendiri, jadi tolong buka pintunya ya, De, cerita ke Mama?”
“Mama sayang kamu, De. Papa juga sayang kamu.”
Cklek ... pintu pun terbuka. Disha berdiri dengan tegang, wajahnya yang manis kini tertutupi helaian rambutnya yang basah karena air mata. Awalnya Disha diam di hadapan Mama, tapi saat Mama ingin membuka mulutnya, Disha memeluk ibunya dengan erat.
Mama hanya bisa mengusap dengan lembut punggung anaknya yang berguncang hebat. Sebagai ibu, tentu saja Mama Disha ikut merasa terguncang. Anak yang ia rawat dan ia besarkan selama ini tampak rapuh sekali. Tangisannya begitu dalam dan isakannya seperti panah yang mampu membuat dirinya merasakan kesedihan itu juga.
Barulah saat Disha tenang, Mama menuntun Disha kembali ke kamar. Ia mendudukannya di tempat tidur, kemudian mengusap wajah anaknya yang basah oleh air mata. “Mau Mama ambilin minum?” tanya Mama.
Disha menggeleng pelan. Ia kembali memeluk Mama kemudian terisak lagi.
“Ya udah, Mama temenin kamu di sini. Sstt ... udah ya, Sayang, jangan nangis terus dong! Mama jadi ikut sedih nih,” ujar Mama, jujur.
“Ma,” panggil Disha dengan suara parau. Tangisannya sudah reda tapi isakannya masih.
“Iya, De?” jawab Mama sambil mengusap lembut kepala Disha yang berada di dadanya. Dalam pelukan Mama saat inilah, Disha merasa aman dan tentram. Perasaan yang hilang beberapa waktu lalu.
“Mama, pasti malu ya punya anak kayak Disha? Disha udah malu-maluin Mama dan Papa,” ungkap Disha. Dia masih mengulur waktu untuk mengatakan keadaannya yang sesungguhnya.
“Kata siapa? Mama malah sangat bangga punya anak kayak kamu, Sayang. Selain cantik, De kan pinter, punya banyak prestasi, dari jadi juara lomba makan kerupuk pas 17 Agustus-an sampai jadi juara main catur se-RT.”
Disha tersenyum lemas mendengar jawaban Mama. Ia ingat masa-masa itu, saat-saat kecilnya yang bahagia.
“Memang kenapa Mama harus malu, Sayang?” tanya Mama lagi.
Lamunan Disha buyar dan kembali pada mimpi buruk yang dialaminya 2 bulan yang lalu, dengan keadaannya saat ini. Disha kembali terisak dan menggenggam tangan mamanya erat-erat. “Maafin aku, Ma. Maafin aku.”
“Iya, Sayang. Mama maafin,” jawab Mama enteng.
“Enggak, Mama enggak tahu apa yang aku alami!” pekik Disha tiba-tiba. Mama menatap Disha bingung sekaligus sedih, sebenarnya apa yang dilalui anaknya sama Disha terlihat begitu tertekan saat ini.
“Aku ... aku kotor, Ma. Aku enggak suci lagi! Aku hamil, Ma. Aku enggak mau hamil,” pekik Disha lagi, lebih kencang.
Mama menatap anaknya tidak percaya. Ia terkejut tapi tetap merengkuh anaknya dalam pelukan yang menentramkan. Seburuk apapun yang terjadi pada putrinya. Yang dibutuhkannya saat ini adalah dukungan. “Sstt, Sayang!” Mama mencoba menenangkan Disha lagi.
Barulah saat Disha kembali tenang, Mama mencoba dengan perlahan agar Disha mau menceritakan apa yang dialaminya. Bagaimana kejadian itu bisa terjadi dan kejelasan tentang peristiwa naas itu?
“Namanya Dastan, Ma. Aku lupa nama lengkapnya. Yang pasti laki-laki itulah yang udah bikin aku kayak gini. Dia laki-laki jahat, b******k, dan aku benci dia!” gumam Disha, benci. Setelah itu Disha menceritakan mengenai pengalamannya pergi ke klub malam atas ajakan kedua teman baiknya, pertemuannya dengan Dastan, dan pagi menyeramkan itu. Di mana dirinya terbangun disebuah kamar tanpa sebenang pakaian pun, dan yakin membuatnya seram adalah kehadiran laki-laki itu.
“Ma, aku harus bagaimana?” tanya Disha pelan.
Mama yang masih shock hanya bisa mendesah panjang. “Dalam hal ini kamu korban, Sayang. Mama akan coba bicarain ke Papa....”
“Jangan, Ma! Gimana kalau nanti Papa marah? Aku enggak mau Papa benci aku, aku enggak mau, Ma....”
“De....” ujar Mama, “Enggak ada orangtua yang akan membenci anaknya. Papa sayang kamu, pasti Papa akan bantu kamu mencari laki-laki tidak bertanggungjawab itu.”
“Tapi, Ma....”
“Sstt ... yang Mama mau saat ini cuma mau anak Mama yang cantik kembali ceria. Laki-laki itu memang harus bertanggungjawab, kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama ya, Sayang.”
“Trus sekolahku gimana, Ma?”
Mama terdiam sebentar, “Nanti kita cari jalannya.” Hanya itu yang mampu Mama katakan. Meskipun dirinya sama tertekannya seperti sang anak, tapi Mama ingin menjadi sandaran untuk Disha. Menjadi tamengnya saat ini agar Disha bisa melalui masalahnya yang rumit.
Saat arah pandangan Mama jatuh ke perut Disha, Mama tidak tahan untuk terisak. “Ya Allah, kenapa hal ini harus terjadi pada anakku?”[]
***
Bersambung]>>>