Aisyah, Istri Dastan

1138 Words
Dastan sadar dia sudah melakukan kesalahan fatal kali ini. Dari semua sikap keserakahan, keegoisan, dan kesemana-menaannya, kini ia menyadari hal paling buruk apa yang sudah dilakukannya untuk mempermainkan janji pernikahannya dengan seorang wanita yang selalu sabar menghadapi tingkah dirinya yang menyebalkan dan tidak tahu diri.  Kebingungan sekaligus kekhawatiran menjalari dirinya saat ini. Dia melirik anak gadis yang sedang mengandung bayinya saat ini, kemudian membuang muka. Dari pandangan pertama dia memang tidak bisa memungkiri, dia naksir Disha. Perasaan macam ABG ini memang jarang terjadi pada Dastan, tapi saat perasaan ini ada dia malah menyakiti seseorang.  “Om, gimana nih?” suara Disha yang merengek kembali menanyakan kepastian. Membuat Dastan makin bingung saja. Bah, bukan hanya Disha yang menginginkan hubungan tapi dirinya pun sama. Tapi, jika ia melakukannya tentu saja akan ada yang harus berkorban. Perasaan wanita baik itu.  “Nanti Om pikirin,” Dan untuk pertama kalinya, Dastan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Om. Dia tanpa sadar melakukan itu, kepalanya pening sekali. “Om, anter kamu pulang aja dulu. Nanti kalau Om udah ada solusi, kita ketemu lagi.”  Akhirnya tanpa bisa menolak ucapan Dastan, Disha diantarkannya ke rumah. “Om,” bisik Disha pelan saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Disha. Dastan menoleh dengan ekspresi ‘Apa?’ dan itu membuat Disha menunduk. “Jangan kelamaan cari solusinya! Aku nggak mau orangtuaku tahu keadaan perutku yang membesar. Aku malu, Om.”  Dastan mengangguk kecil dengan wajahnya yang bertambah tegang. “Aku ngerti.”  Disha pun ke luardari mobil Dastan. Perlahan pria itu melajukan mobilnya pergi, meninggalkan Disha yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya dengan ekspresi menyedihkan. Usianya bahkan baru 17 tahun tetapi karena satu malam penuh petaka, dirinya harus hamil sekarang. Sungguh, jika waktu bisa berulang ke belakang, Disha ingin sekali menggerakkannya mundur dan mengulangi waktu ketika kedua teman baiknya mengajaknya pergi ke tempat hiburan malam. Dirinya tidak akan mengangguk dan lebih memilih menyendiri malam itu di kamar kesayangannya. Huft, selalu saja penyesalan datang di akhir waktu yang terlambat. ***  Dastan memarkirkan mobilnya ke pekarangan rumah yang jarang sekali ia kunjungi. Padahal inilah rumahnya yang seharusnya ia datangi setiap waktu. Setiap ada masalah, setiap ada kebahagiaan yang menghampirinya.  Mengingat setiap kesalahannya di masa lalu, membuat langkah kaki Dastan makin mengendur. Seolah ingin kembali berbalik dan berlari ke dalam mobilnya. Tapi tidak, lelaki sepertinya bukanlah seorang pengecut. Dia tidak akan melakukannya. Apapun yang terjadi dia akan menghadapi apa yang akan diucapkan wanita yang menempati rumah besar ini seorang diri.  Saat Dastan berhasil memasuki rumah itu, ia meringis karena melihat potret besar di dinding ruang tengah. Seorang wanita dan pria dewasa duduk dengan selendang putih di atas kepala mereka. Foto itu diambil saat prosesi akad nikah 4 tahun yang lalu. Meskipun sudah lama, setiap kenangan ketika melihat foto itu masih saja terasa. Jika biasanya Dastan melihat foto itu dengan rasa kesal, tapi untuk pertama kalinya ia merasa begitu kasihan. Bukan terhadap wanita yang sedang duduk di sampingnya, tetapi kepada dirinya yang menjijikan.  “Akang?” Panggilan manis itu terdengar begitu lembut di telinga siapapun yang mampu mendengar. Dastan menoleh ke arah tangga dan melihat wanita yang ada dalam benaknya tadi tersenyum seraya berjalan dengan cepat menghampiri dirinya. “Akang sudah pulang?” Bahkan wanita itu tersenyum lebar, tak peduli betapa buruknya setiap kelakuannya di masa lalu. Dia tetap istri yang sholehah.  Setelah merasakan punggung tangannya dikecup dengan lembut oleh Aisyah, Dastan kembali tersedot pada kenyataan. Dia menatap Aisyah yang hari ini hanya memakai daster kebanggaannya yang berwarna hijau kusam.  Aisyah yang menyadari tatapan suaminya yang menatap lekat ke bajunya segera serba salah. “Maaf, Kang. Aku ganti baju dulu ya?” Aisyah tahu suaminya tidak pernah suka pakaian sederhananya. Saat ia hendak kembali ke kamarnya, langkah Aisyah terhenti karena tubuhnya yang ditarik oleh tangan besar yang seketika membawanya dalam pelukan yang begitu dirindukannya.  “Enggak perlu,” Hanya dua kata itu yang ke luardari bibir Dastan. “Kamu sudah cantik, meskipun pakai daster.”  Perasaan takut Aisyah tidak sepenuhnya memudar. Dengan pelan, ia bertanya lagi, “Akang nggak papa kalau Ais pakai ini? Biasanya kan....”  “Aku enggak mau yang kayak biasanya. Kamu sudah bikin makanan? Aku lapar,” Dastan menatap Aisyah lebih lembut dari biasanya. Perasaan bersalah membuatnya melakukan hal yang tidak biasa. Tapi anehnya saat Aisyah menyiapkan makanan untuknya di penghujung jam 11 pagi, Dastan mengingat kembali wajah Disha. Bagaimana gadis itu menangis dan mengatakan tentang keadaannya yang tengah hamil bayi? Dia benar-benar merasa menjadi pria paling b******k di dunia.  “Akang....” Dastan menoleh ke arah bahunya, tangan Aisyah yang sempat menguncang bahunya pun segera terlepas. “Maaf, Kang.” Bahkan Aisyah mengucapkan kata maaf.  “Enggak perlu minta maaf,” Dastan menggeleng dengan senyum tipis. Apakah sikapnya pada Aisyah selama ini sudah terlalu jahat hingga Aisyah terlihat begitu ketakutan.  Aisyah tersenyum tipis. Wanita berwajah cantik yang biasanya berhijab ketika ke luar dari rumah itu tampak begitu menentramkan hati Dastan. Seolah mengingatkan bahwa ibunya memilihkan jodoh yang tepat, seorang wanita sholehah yang hanya ia datangi ketika ia membutuhkannya. Ketika tidak butuh, bahkan untuk mengingat statusnya yang telah beristri pun Dastan lupa.  “Kamu enggak makan?” tanya Dastan. Ia melihat Aisyah diam, tak menemaninya makan bersama.  “Ais tadi pagi sudah makan, Kang.”  “Oh,” Dastan bingung harus mengatakan apa. Ia kembali menikmati nasi dengan lauk sayur lodeh dan ikan gurame goreng. “Enak. Masakan kamu nambah enak, Syah.” Dastan gelagapan saat memuji masakan Aisyah. Ini bisa dibilang pertama kalinya bagi Dastan memuji masakan sang istri. Biasanya dia hanya diam, tak berkomentar sedikit pun.  “Ehm,” Aisyah terlihat gerogi. Ia menyelipkan anak rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga lalu tersenyum malu-malu seraya menunduk. “Makasih, Kang.”  “Syah, malam ini aku tidur di sini ya?” tanya Dastan. Ia merutuki kebodohannya saat mengatakan hal itu.   “Ais masih periode datang bulan, Kang,” ucapan Aisyah membuat dirinya sendiri malu. Bukannya apa, tapi dia tahu untuk apa Dastan menginap. Pastinya untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya. “baru 2 hari.”  “Enggak apa-apa,” Dastan menyentuh lengan Aisyah yang berada di atas meja. “Aku mau menginap saja.”  Aisyah tidak menyangka Dastan akan berkata demikian. Batinnya merasa terharu, apakah ini arti dari setiap doa yang selalu ia panjatkan? Agar Dastan, suaminya, mau pulang. Menerimanya sebagai seorang istri, dan mau menemaninya di rumah ini bukan karena kebutuhan biologisnya saja.  “Syah, kamu kenapa?” Dastan bingung saat mendengar isakan. Tangan Aisyah yang berada dalam genggamannya pun terasa berguncang. “Kamu nangis, Syah?”  Aisyah tidak menjawab, rasa harunya semakin menjadi. Apalagi saat ia merasakan tangan Dastan mengusap rambutnya, membawa wanita itu dalam pelukannya yang hangat sambil sesekali mengecup ubun-ubunnya.  “Syah, maafin aku ya? Kamu nangis karena enggak tahan lagi ya sama aku? Maafin aku, Syah. Maafin aku,” desis Dastan lembut.  “Enggak, Kang,” suara Aisyah bergetar. Ia menggeleng kemudian tersenyum tipis. “Aku cuma seneng karena Akang mau menginap malam ini.”  Ucapan Aisyah sama sekali tidak pernah Dastan sangka. Hanya karena mau menginap malam ini, wanita berusia 26 tahun yang sudah menjadi istrinya selama 4 tahun itu kini menangis haru. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Dastan selain memeluk dengan erat tubuh Aisyah. Tapi sayangnya yang ada dalam benaknya saat ini adalah tubuh wanita lain. Tubuh Disha yang mungil dan selalu ingin dipeluknya, membawanya dalam mimpi yang paling indah yang pernah ia bayangkan.  “Syah, aku sudah berselingkuh dengan wanita lain!” ujar Dastan tiba-tiba.[] *** Bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD