Disha Hamil

721 Words
Bab 1 Baru saja ke luar dari kamar apartementnya, Dastan yang baru mandi dan terlihat segar menemukan sosok yang tidak pernah ia sangka akan ia temui lagi setelah 2 bulan. Ya, sudah 2 bulan lamanya sejak peristiwa itu terjadi. “Wow, kejutan sekali bisa kedatangan tamu spesial di pagi hari ini.” Dastan terdiam saat ia melihat wajah gadis yang diajaknya bicara tetap terdiam kaku. Dengan seksama, Dastan mulai melihat keadaan gadis yang pernah ditemuinya di tempat hiburan malam itu dalam keadaan yang cukup berantakan. Ia seperti habis menangis, karena ada bekas air mata di pipinya yang tidak berbedak sama sekali. “Kamu kenapa, Disha?” Dastan masih tidak menjawab jawaban dari mulut Disha. Yang dilakukan gadis itu hanya diam, kaku, dan menatapnya penuh kesedihan. “Kita bicara di dalam saja ya? Ayo masuk!” Dastan kembali membuka pintu apartementnya. Membawa Disha masuk, seperti tadi Disha hanya diam tapi kakinya menuruti Dastan. “Aku ambil air dulu buat kamu. Kamu kelihatan shock sekali.” Dastan kembali pergi saat Disha sudah berhasil duduk di sofa hitam yang berada di ruang tamu apartementnya. Dastan mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih yang baru diambilnya dari lemari es. Sebenarnya ia senang karena Disha mau mendatangi kediamannya lagi setelah peristiwa itu. Peristiwa yang tidak pernah ia lupakan bahkan semalam pun. Bahkan sering kali ia memimpikan Disha berada dalam pelukannya setiap malam, menemaninya di tempat tidur dan mereka menghabiskan waktu bersama. “Maaf ya, lama. Ini minum dulu.” Dastan meletakan gelas untuk Disha di atas meja lalu duduk di sofa hitam yang berbeda. Kediaman Disha lagi-lagi jadi penghalang. Membuat Dastan berdecak lalu berpindah ke samping Disha. Meskipun penampilan Disha berantakan pagi ini, tapi di mata Dastan, Disha masih tetap mempesona di matanya. Rambut hitamnya yang dibiarkan terurai di belakang punggungnya masih sama, bahkan kelihatannya lebih panjang sekarang. Bibirnya yang tipis, masih sama seperti apa yang dibayangkannya selama ini. Matanya yang agak kecoklatan pun sama. Hidung bangirnya pun masih seperti itu. Benar-benar tidak ada yang berubah. Dastan diam-diam tersenyum lalu menggenggam tangan Disha yang berada di sampingnya. Menatapnya menggoda lalu bertanya. “Kamu ke sini karena kangen aku?” Disha bergerak. Gestur wajahnya mulai mengeras dan tangannya yang digenggam Dastan beralih ke pipi pria itu, menamparnya dengan keras dan tiba-tiba. Dastan tidak menyangka sebelumnya, pipinya jadi sasaran tamparan Disha. Pria berwajah oval dengan garis keras di rahangnya mulai menatap tajam. Rambutnya yang pendek hitam, ia tarik ke belakang. “Kenapa kamu tampar aku?” Dastan bertanya dengan tajam. Disha menoleh. Menatap hidung mancung Dastan, bibir pria itu yang penuh, dan alis yang berada di atas mata hitam tajam itu yang seharusnya membuatnya jatuh hati. Tapi apa yang ada dalam benaknya sungguh berbeda. “Kamu pantas dapat tamparan itu.” Dastan mengepalkan tangannya kesal. Dia tidak mungkin balas menampar Disha karena dia wanita, alhasil yang dilakukannya hanya menggertakan giginya. Membuat Disha membuang muka dengan kesal. “Kamu harus tanggung jawab.” Disha berbicara dengan suara bergetar. Dia menahan air matanya lagi. Untung saja ia sedang tidak menatap Dastan, jika tidak ... air matanya mungkin akan luruh lagi, seperti tadi pagi saat ia menemukan itu. “Dasar aneh! Kamu yang udah nampar aku, tapi aku yang harus tanggung jawab.” “Pokoknya Om harus tanggung jawab.” Disha berteriak, menatap Dastan dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan. “Om udah bikin hidup aku hancur.” Dastan masih belum mengerti. Ia menatap Disha yang menangis histeris lalu berdiri. “Aku enggak melakukan apapun. Kalau hidup kamu hancur ya itu salah kamu menghancurkan hidup kamu sendiri. Dasar aneh!” “Om, ngerti enggak sih … apa yang sudah Om lakuin ke aku dua bulan yang lalu....” Bayangan malam itu membuat Dastan terdiam. Malam terindah yang tak akan pernah ia elak pernah terjadi. Melibatkan dirinya dan Disha. Gadis yang ditemuinya tak sengaja. Karena salah memberikannya minuman, ia harus kehilangan keperawanannya dan.... “Aku hamil, Om.” Mata Dastan membulat tidak percaya. “Aku enggak mau hamil, Om. Aku masih mau sekolah, berteman sama sahabat-sahabatku. Om, gimana nih?” Dastan terdiam, ia sendiri masih shock dengan ucapan Disha. “Kamu beneran hamil?” “Iya, Om.” “Tapi itu bener anak aku?” tanya Dastan. Ia bukannya meragukan anak dalam kandungan Disha. Tapi, ia masih kaget. “Om, jahat! Om, kira siapa laki-laki yang udah merebut kesucianku?” Disha menutup matanya. Menangis dengan suara histeris. Sedangkan Dastan masih terdiam, ia sesekali menatap Disha lalu membuang mukanya lagi. “Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?” Dastan kini sadar bahwa ia sudah mengkhianati seseorang yang mencintainya dengan cara yang salah.[] *** Bersambung>>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD