1.
Bab 1: Malam yang Mengubah Segalanya
Hujan turun dengan deras sekali, memukul kaca jendela mobil dengan suara berisik seolah sedang menertawakan nasib burukku. Di dalam mobil tua yang bergetar pelan, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri erat-erat, mencoba menahan dingin yang bukan hanya datang dari udara malam, tapi juga dari dalam hatiku yang sudah lama membeku.
Aku adalah Elara. Dan malam ini, aku akhirnya berani melangkah keluar dari neraka yang bernama pernikahan dengan Julian.
Selama bertahun-tahun, aku menelan segala hinaan, pukulan, dan kesakitan yang dia berikan padaku. Aku diam saja, aku sabar, aku berpikir mungkin suatu hari dia akan berubah. Tapi malam tadi, saat dia menodongkan pisau ke leherku hanya karena aku tidak punya uang untuk diberikan padanya, aku sadar: tidak ada yang akan berubah. Aku akan mati jika tetap tinggal di sana.
Jadi aku lari. Hanya membawa satu tas kecil berisi pakaian seadanya dan sedikit uang sisa, aku menyelinap keluar rumah saat Julian tertidur pulas setelah mabuk. Aku tidak tahu mau ke mana, aku hanya tahu aku harus menjauh sejauh mungkin dari pria itu.
Mobil yang kusewa itu membawaku sampai ke pusat kota yang paling ramai dan mewah, tempat di mana aku tidak pernah berani melangkah kaki sebelumnya. Di sana berdiri sebuah hotel setinggi langit, kaca-kacanya memantulkan cahaya lampu kota seolah istana dari dunia lain. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk ke sana, mencari tempat berlindung untuk satu malam ini saja.
Begitu melangkah masuk, dunia seolah berubah total. Lantai marmer mengkilap sampai memantulkan bayanganku, bunga-bunga segar tersusun indah di sudut ruangan, dan aroma wangi mahal langsung menyambut hidungku. Aku merasa sangat kecil, sangat kotor, dan sangat tidak pantas berada di sini.
Saat aku berbicara dengan resepsionis dengan suara bergetar, wajah dingin wanita itu seolah berkata bahwa aku tidak layak menginap di sini. Namun saat aku menyerahkan uang muka, dia akhirnya memberikan kunci kamar dengan wajah datar.
"Kamar nomor 1408," ucapnya singkat.
Aku mengangguk lemah, lalu berjalan menuju lift. Jantungku berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena perasaan lega yang luar biasa. Aku selamat. Untuk malam ini saja, aku aman dari Julian.
Begitu pintu lift terbuka di lantai empat belas, aku melangkah keluar menyusuri lorong yang panjang dan sunyi. Karpet tebal menelan suara langkah kakiku, membuat suasana terasa hening dan sedikit mengerikan. Aku menghitung pintu satu per satu sampai berhenti di depan nomor 1408.
Tangan kananku gemetar hebat saat mengangkat kunci untuk membuka pintu. Aku terlalu lelah, terlalu takut, dan terlalu bingung untuk memeriksa lagi apakah nomor pintunya benar. Aku hanya ingin masuk, menutup pintu rapat-rapat, dan menangis sepuasnya di atas kasur empuk itu.
Pintu terbuka dengan mudah.
Aku melangkah masuk dan menutup pintu di belakangku, lalu menguncinya dengan cepat. Punggungku bersandar pada pintu kayu itu, dan saat itulah aku merasa seluruh kekuatanku hilang. Tas dari tanganku terjatuh ke lantai, dan air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya mengalir deras membasahi pipiku.
Aku tertidur sebentar karena kelelahan di kursi dekat pintu, tanpa sadar aku berjalan masuk lebih dalam ke ruangan itu dalam keadaan setengah sadar. Aku pikir aku sudah aman di tempatku sendiri.
Namun saat aku membuka mata perlahan dan menoleh ke arah tempat tidur yang besar di sudut ruangan...
Darahku seolah membeku di dalam pembuluh.
Di sana, di atas kasur rapi yang tertutup seprai berwarna hitam pekat, ada seseorang yang sedang duduk bersandar pada sandaran kepala tempat tidur. Sosok itu mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sebagian d**a bidang yang tampak pucat namun kokoh. Cahaya lampu samping menyinari wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang tajam seolah bisa menembus ke dalam jiwaku.
Pria itu tidak bergerak sedikit pun. Dia hanya diam, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kudeskripsikan—bukan marah, bukan kaget, tapi sebuah tatapan yang seolah melihat sesuatu yang tiba-tiba jatuh ke dalam sarangnya.
Langkahku terhenti di tempat. Mulutku terbuka ingin berteriak, tapi suara tidak mau keluar.
"Siapa kau?"
Suaranya terdengar rendah, berat, dan dingin seperti es yang tak pernah mencair. Satu kata itu saja sudah cukup membuat bulu kudukku berdiri tegak.
"Aku... aku..." bibirku bergetar hebat. "Maaf... aku pasti salah kamar..."
Aku berbalik hendak lari kembali ke pintu, tapi baru saja aku melangkah satu langkah, sosok itu sudah berdiri. Tanpa suara sedikit pun, dia melangkah turun dari tempat tidur. Gerakannya begitu tenang, begitu terkendali, namun membawa ancaman yang begitu nyata hingga napasku tercekat di tenggorokan.
Sebelum tanganku sempat menyentuh gagang pintu, sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menekan pintu itu dari sisi dalam, menutup jalan pelarianku. Tubuh tingginya berdiri tegak di hadapanku, menaungi seluruh tubuhku yang kecil.
"Kau pikir kau bisa masuk ke sini sembarangan, lalu pergi begitu saja?" tanyanya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dekat, tepat di atas kepalaku.
Aku memberanikan diri mendongak menatap wajahnya. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya sangat tampan, tapi keindahan itu terasa dingin dan menakutkan. Tidak ada secercah kehangatan pun di sana. Dia terlihat seperti pangeran dari kerajaan yang sudah lama mati, atau mungkin lebih tepatnya... raja dari dunia bawah tanah.
"Aku minta maaf..." suaraku pecah. "Aku benar-benar tidak sengaja... aku akan pergi sekarang..."
Pria itu menunduk sedikit, menatap tepat ke dalam mataku. Tatapannya begitu tajam seolah sedang membaca setiap rahasia yang tersembunyi di dalam kepalaku.
"Kau pikir kesalahan sembarangan di wilayahku bisa dimaafkan hanya dengan kata maaf?" ucapnya pelan, namun setiap kata terasa seperti palu yang menghantam dadaku.
Dia mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipiku dengan punggung jari-jarinya yang kasar namun hangat. Sentuhan itu membuatku gemetar hebat, bukan karena senang, tapi karena ketakutan yang luar biasa.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Elara..." jawabku tanpa sadar, seolah tubuhku patuh pada perintahnya sebelum pikiranku sempat berpikir.
Dia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Elara..." dia menyebut namaku pelan, seolah sedang mencicipi rasa kata itu. "Ingat nama ini baik-baik. Mulai detik ini, kau tidak lagi menjadi milik dirimu sendiri."
Aku terbelalak kaget. "Apa maksudmu?"
"Maksudku," dia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami hampir bersentuhan, aroma wangi kayu mahoni dan sesuatu yang tajam menguar dari tubuhnya, "Kau telah masuk ke wilayahku, melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat. Dan sebagai gantinya... nyawamu sekarang menjadi milikku."
Aku mundur selangkah, tapi punggungku sudah menabrak pintu tertutup. Tidak ada jalan keluar.
"Kau gila!" seruku memberanikan diri. "Aku hanya salah masuk kamar! Aku tidak melakukan apa-apa!"
Dia tidak marah. Dia hanya menatapku dengan tenang yang mengerikan.
"Di dunia ini, Elara... tidak ada yang namanya kebetulan. Dan tidak ada yang bisa masuk ke tempatku begitu saja tanpa membayar harganya."
Dia mundur perlahan, lalu berjalan kembali menuju meja samping tempat tidur. Di sana dia mengambil sebuah benda kecil berkilau, lalu menoleh kembali padaku.
"Malam ini, kau bebas tidur di sini. Besok pagi, aku akan menjemputmu."
"Aku tidak mau!" tolakku tegas. "Aku akan pergi sekarang juga!"
Aku mencoba membuka pintu dengan sekuat tenaga, tapi gagang pintu itu seolah terkunci rapat dari dalam. Aku meronta, menariknya sekuat tenaga, tapi tidak bergeser sedikit pun.
Pria itu hanya berdiri di sana memperhatikanku dengan tenang, seolah melihat seekor burung kecil yang sedang berusaha membebaskan diri dari sangkar emas.
"Jangan buang waktumu," katanya datar. "Pintu itu hanya bisa terbuka jika aku mengizinkannya."
Aku berhenti meronta, napasku terengah-engah. Mataku berkaca-kaca menatapnya dengan perasaan takut dan bingung yang bercampur aduk.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku dengan suara bergetar.
Pria itu menatapku dalam-dalam, dan untuk sesaat aku melihat kilatan sesuatu yang lain di matanya, sesuatu yang tidak bisa kucerna.
"Nama aku Draven," jawabnya singkat. "Dan kau baru saja berhadapan dengan orang yang paling berkuasa, paling ditakuti, dan paling berbahaya di kota ini."
Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku duduk di sudut ruangan yang jauh dari tempat tidur, memeluk lututku erat-erat sambil terus menatap sosok pria bernama Draven yang kini terbaring tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Pikiranku berkecamuk hebat. Apakah aku baru saja terjebak dengan orang jahat? Apa yang akan dia lakukan padaku besok? Apakah aku sudah selamat dari Julian, tapi justru jatuh ke dalam neraka yang jauh lebih mengerikan?
Hujan di luar masih terus turun tanpa henti, seolah menandakan bahwa hidupku yang tenang sudah berakhir sejak malam itu. Dan takdir yang baru, yang penuh dengan bahaya dan misteri, baru saja dimulai.
Saat matahari mulai terbit menyelinap di antara celah tirai jendela, aku menyadari satu hal: aku tidak lagi memiliki kendali atas hidupku sendiri. Aku sudah masuk ke dalam dunia yang sama sekali tidak kukenal, dan di sana, hanya ada satu penguasa.
Draven.