Bab 2. Harga Sebuah Nyawa

1032 Words
Bab 2 Harga Sebuah Nyawa Tepuk… tepuk… tepuk… Suara tepuk tangan menggema pelan di dalam ruangan luas yang remang-remang. “Luar biasa,” ujar seorang pria sambil tersenyum tipis. “Benar-benar luar biasa.” Di hadapannya, Alden berdiri dengan tenang. Masih mengenakan pakaian hitam yang sama seperti malam sebelumnya, meskipun kini pistolnya sudah tidak terlihat. Wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Pria yang bertepuk tangan itu duduk santai di kursi kulit mahal di balik meja besar. Namanya Victor Hale. Salah satu broker paling berpengaruh di dunia bawah tanah—orang yang menjadi penghubung antara para pembunuh bayaran dan klien yang ingin “masalahnya diselesaikan.” Victor menyilangkan kakinya dengan santai. “Aku sudah menonton rekaman CCTV yang sempat bocor sebelum dihapus,” katanya sambil terkekeh kecil. “Gerakanmu masih sama seperti dulu. Cepat, bersih, dan tanpa kesalahan.” Alden tidak menanggapi pujian itu. Ia hanya berkata pendek. “Bayaranku.” Victor tertawa pelan. “Astaga… bahkan setelah semua tahun ini kau tetap langsung ke inti pembicaraan.” Alden tetap diam. Baginya, percakapan seperti ini hanya formalitas yang membuang waktu. Victor akhirnya mengangkat tangan memberi isyarat. Seorang pria besar yang berdiri di sudut ruangan segera melangkah maju. Ia membawa sebuah koper hitam besar. Koper itu diletakkan di atas meja. Klik. Kunci koper terbuka. Tumpukan uang rapi memenuhi bagian dalamnya. Victor mendorong koper itu ke arah Alden. “Seperti kesepakatan kita,” katanya santai. “Satu koper penuh.” Alden melirik isi koper itu sekilas. Ia tidak menghitungnya. Ia tidak perlu. Jika Victor mencoba menipunya, pria itu tidak akan hidup cukup lama untuk menyesalinya. Alden menutup koper itu kembali. “Pekerjaan selesai,” katanya singkat. Victor mengangguk. “Targetnya memang cukup penting.” Ia tersenyum samar. “Seorang pejabat pemerintah yang cukup berpengaruh… kasus ini sudah mulai membuat kota ini gempar.” Alden tidak tertarik dengan detail itu. Target hanyalah target. Siapa pun orangnya tidak pernah menjadi urusannya. Namun Victor tiba-tiba berkata lagi. “Ada satu hal menarik.” Alden menatapnya sekilas. Victor bersandar di kursinya. “Putrinya menyaksikan semuanya.” Alden berhenti bergerak. Hanya sepersekian detik. Namun cukup bagi Victor untuk menyadarinya. “Oh?” Victor mengangkat alis. “Kau tidak membunuhnya?” “Dia bukan target.” Jawaban Alden dingin. Victor terkekeh kecil. “Biasanya kau membersihkan saksi.” “Biasanya.” Victor mengangkat bahu. “Yah… tidak masalah. Gadis itu tidak akan tahu siapa yang membunuh ayahnya.” Alden tidak menjawab. Namun bayangan wajah gadis itu tiba-tiba muncul lagi di pikirannya. Air mata. Dan tatapan yang penuh keberanian itu. Alden mengusir pikiran itu dengan cepat. Ia mengangkat koper uang itu. “Jika hanya itu, aku pergi.” “Tunggu.” Victor mengangkat tangan. “Ada pekerjaan lain.” Alden berhenti. Victor menarik sebuah map dari laci meja. “Klien besar,” katanya. “Bayarannya dua kali lipat dari yang tadi.” Ia mendorong map itu ke arah Alden. Namun Alden bahkan tidak menyentuhnya. “Aku istirahat dulu.” Victor menghela napas pendek. “Kau selalu begitu.” Alden menatapnya datar. “Pekerjaan tadi terlalu besar. Polisi akan menyelidiki ini habis-habisan.” Victor mengangguk pelan. “Itu benar.” Ia mengetuk meja dengan jarinya. “Pejabat pemerintah dibunuh di rumahnya sendiri… media pasti akan menggila.” Alden menoleh sedikit. “Aku akan menghilang beberapa waktu.” Victor tersenyum. “Aku mengerti.” Ia mengangkat gelas wiski di tangannya. “Dalam pekerjaan seperti kita, menghilang setelah pekerjaan besar adalah langkah paling bijak.” Ia meneguk minumannya. “Pergilah dari kota ini untuk sementara.” Alden sudah berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, Victor berkata lagi. “Alden.” Langkah Alden berhenti. Victor menyipitkan matanya. “Berhati-hatilah.” Alden tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu dan keluar. Beberapa detik kemudian, suara langkahnya sudah menghilang dari lorong. Victor menatap pintu itu sambil tersenyum tipis. “Pembunuh terbaik yang pernah kulihat,” gumamnya. Namun di luar gedung itu, Alden sudah masuk ke mobilnya. Ia meletakkan koper uang di kursi penumpang. Mesin mobil menyala pelan. Namun sebelum ia menginjak gas, pandangannya tertuju pada layar televisi kecil di dashboard mobil. Berita darurat sedang disiarkan. Seorang reporter berdiri di depan rumah besar yang dipenuhi mobil polisi. “—pembunuhan terhadap pejabat pemerintah terkenal Daniel Arman kini menjadi perhatian nasional…” Nama itu adalah targetnya. Alden menatap layar itu tanpa emosi. Namun tiba-tiba gambar di televisi berubah. Seorang gadis muda terlihat berjalan keluar dari rumah itu. Wajahnya pucat. Matanya sembab karena menangis. Elena. Reporter berkata dengan suara serius. “Putri korban terlihat sangat terpukul atas tragedi ini…” Alden mematikan televisi. Mesin mobil meraung pelan. Beberapa detik kemudian mobil itu melaju pergi meninggalkan tempat itu. Namun bayangan wajah Elena masih tertinggal di pikirannya. Dan itu membuat Alden merasa… tidak nyaman. --- Dua hari kemudian. Langit kota dipenuhi awan kelabu. Di sebuah pemakaman besar, puluhan mobil hitam terparkir rapi. Para pejabat pemerintah. Tokoh penting. Dan wartawan. Semua hadir. Di tengah kerumunan itu, Elena berdiri di depan peti mati ayahnya. Tubuhnya terasa seperti kosong. Semua orang berbicara di sekelilingnya. Mengucapkan belasungkawa. Namun Elena hampir tidak mendengar apa pun. Yang ia lihat hanyalah peti mati itu. Di dalamnya terbaring ayahnya. Orang yang selama ini melindunginya. Sekarang… sudah tidak ada lagi. Seorang wanita paruh baya memeluk Elena. “Anak yang malang…” Elena tidak menjawab. Air matanya sudah hampir habis sejak malam itu. Kamera televisi menyorot pemakaman itu dari berbagai sudut. Seorang reporter berbicara di depan kamera. “Pemakaman pejabat pemerintah Daniel Arman hari ini dihadiri banyak tokoh penting…” Suara itu terdengar samar bagi Elena. Ia melangkah mendekat ke peti mati. Tangannya gemetar saat menyentuh permukaan kayu itu. “Ayah…” bisiknya. Ingatan malam itu kembali menghantamnya. Pistol. Pria bertopeng. Dan suara tembakan itu. Air matanya kembali jatuh. “Aku tidak bisa menghentikannya…” Suara Elena pecah. “Maafkan aku…” Seorang pria tua yang merupakan rekan ayahnya mendekat. “Kami akan menemukan pembunuhnya,” katanya serius. “Polisi sedang menyelidiki semuanya.” Elena mengangguk pelan. Namun jauh di dalam hatinya… Ia tahu satu hal. Ia tidak akan pernah melupakan wajah pria itu. Meskipun setengah tertutup topeng. Tatapan dinginnya. Dan suara tembakan yang merenggut ayahnya. Elena mengepalkan tangannya perlahan. “Aku akan menemukanmu…” Suaranya sangat pelan. Namun penuh tekad. “Aku bersumpah…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD