Bab 4
Dua Kehidupan yang Berbeda
Hidup Elena berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Dulu ia tidak pernah memikirkan uang.
Tidak pernah memikirkan pekerjaan.
Tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya kehilangan tempat tinggal.
Semua hal itu dulu terasa sangat jauh dari kehidupannya.
Namun sekarang…
Elena bahkan harus menghitung setiap lembar uang yang tersisa di dompetnya.
Pagi itu, Elena berdiri di depan sebuah bangunan tua di pinggir kota.
Bangunan itu lebih mirip rumah kos murah yang sudah terlalu lama tidak diperbaiki.
Cat dindingnya mengelupas.
Jendela-jendelanya kusam.
Dan lorongnya sempit serta lembap.
Namun tempat itu adalah satu-satunya tempat yang mampu ia bayar dengan sisa uangnya.
Seorang wanita tua berdiri di depan pintu sambil menatap Elena dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau yakin mau tinggal di sini?” tanyanya dengan nada datar.
Elena mengangguk pelan.
“Iya.”
Wanita tua itu menyilangkan tangan.
“Kamar paling murah hanya ada di lantai dua. Kecil dan kamar mandinya di luar.”
Elena menelan ludah.
Namun ia tetap mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Wanita itu menghela napas.
“Baiklah.”
Ia menyerahkan kunci kecil yang sudah agak berkarat.
“Kamar nomor dua belas.”
Elena menerima kunci itu dengan tangan gemetar.
Saat ia berjalan menaiki tangga sempit menuju lantai dua, perasaannya terasa berat.
Ini bukan kehidupan yang pernah ia bayangkan.
Pintu kamar nomor dua belas terbuka dengan suara berderit pelan.
Ruangan itu sangat kecil.
Hanya ada sebuah tempat tidur tua, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke gang sempit.
Namun Elena tetap masuk.
Ia menutup pintu perlahan.
Lalu berdiri di tengah ruangan itu.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Untuk beberapa saat Elena hanya berdiri di sana.
Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya menutupi wajahnya.
Air mata perlahan jatuh lagi.
“Ayah…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Namun tidak ada yang menjawab.
---
Hari-hari berikutnya terasa jauh lebih sulit dari yang Elena bayangkan.
Setiap pagi ia bangun lebih awal.
Berjalan ke berbagai tempat.
Mencari pekerjaan.
Namun hampir semua tempat memberikan jawaban yang sama.
“Kami mencari orang yang berpengalaman.”
Atau—
“Maaf, kami sudah cukup karyawan.”
Beberapa bahkan langsung menolak begitu mengetahui siapa dirinya.
Nama keluarganya yang dulu dihormati kini justru menjadi beban.
Anak dari pejabat korup.
Label itu seperti bayangan yang terus mengikuti Elena ke mana pun ia pergi.
Suatu hari Elena akhirnya diterima bekerja di sebuah restoran kecil.
Pekerjaannya sederhana.
Sebagai pelayan.
Saat pemilik restoran menyerahkan seragam kerja padanya, Elena hampir menangis karena lega.
“Aku akan bekerja keras,” katanya penuh harap.
Pemilik restoran hanya mengangguk.
“Jangan buat masalah.”
Elena mengangguk cepat.
Hari pertama kerjanya dimulai dengan gugup.
Ia belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini sebelumnya.
Tangannya sering gemetar saat membawa nampan.
Dan itu menjadi masalah.
Di siang hari yang ramai, restoran itu dipenuhi pelanggan.
Elena berjalan dengan hati-hati membawa tiga piring makanan.
Namun seorang pelanggan tiba-tiba berdiri tanpa ia sadari.
Tubuh mereka hampir bertabrakan.
Elena kehilangan keseimbangan.
PRAK!
Tiga piring jatuh ke lantai.
Pecah.
Semua orang menoleh.
Wajah Elena langsung pucat.
“A-aku minta maaf…”
Ia buru-buru berjongkok membersihkan pecahan itu.
Namun pemilik restoran sudah berjalan mendekat dengan wajah marah.
“Apa yang kau lakukan?!”
Elena menunduk.
“Maaf… aku tidak sengaja—”
“Ini restoran, bukan taman bermain!”
Elena mencoba bekerja lebih hati-hati setelah itu.
Namun kesalahan terus terjadi.
Ia salah mencatat pesanan.
Ia menjatuhkan minuman.
Dan saat malam hampir tiba—
PRAK!
Sebuah gelas kembali pecah di lantai.
Pemilik restoran akhirnya kehilangan kesabaran.
“CUKUP!”
Suara itu membuat seluruh restoran terdiam.
Pria itu menunjuk pintu dengan wajah merah.
“Kau dipecat.”
Elena membeku.
“Apa…?”
“Aku tidak butuh orang yang tidak bisa bekerja!”
“Tapi aku—”
“Keluar!”
Pria itu bahkan tidak memberinya kesempatan menjelaskan.
Elena berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa pelanggan menatapnya dengan kasihan.
Namun tidak ada yang membelanya.
Dengan langkah pelan, Elena keluar dari restoran itu.
Udara malam terasa dingin di wajahnya.
Ia berjalan tanpa tujuan.
Hingga akhirnya duduk di bangku taman yang sepi.
Elena menatap tangannya sendiri.
Tangan yang dulu hanya memegang buku atau ponsel mahal.
Sekarang bahkan tidak mampu membawa piring dengan benar.
“Aku benar-benar tidak berguna…”
Air mata jatuh lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Elena merasa benar-benar sendirian.
---
Sementara itu, ratusan kilometer dari kota itu—
Langit pantai terlihat cerah.
Angin laut bertiup lembut.
Dan di bawah sinar matahari hangat, seorang pria berbaring santai di kursi pantai.
Alden.
Ia mengenakan kacamata hitam dan hanya kaus tipis.
Di sampingnya ada minuman dingin.
Dan beberapa wanita cantik duduk di sekelilingnya.
Mereka tertawa, bercanda, dan sesekali mencoba menarik perhatian Alden.
Bagi mereka, Alden hanyalah pria kaya misterius yang sedang menikmati liburan.
Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Tidak ada yang tahu bagaimana ia mendapatkan uangnya.
Dan Alden tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Salah satu wanita menyentuh lengannya sambil tersenyum manja.
“Kau sangat pendiam.”
Alden hanya mengangkat alis sedikit.
Wanita lain tertawa.
“Mungkin dia hanya menikmati pemandangan.”
Alden meneguk minumannya perlahan.
Bagi orang luar, hidupnya terlihat sempurna.
Uang.
Kebebasan.
Dan tidak ada tanggung jawab.
Namun sebenarnya Alden hanya menikmati masa istirahat sementara.
Ia tahu suatu saat nanti ia akan kembali bekerja.
Kembali menjadi orang yang hidup di bayangan.
Namun untuk saat ini…
Ia menikmati matahari.
Angin laut.
Dan ketenangan yang jarang ia dapatkan.
Salah satu wanita bersandar di bahunya.
“Kau tidak pernah cerita tentang dirimu.”
Alden hanya menjawab singkat.
“Tidak ada yang menarik.”
Wanita itu tertawa kecil.
“Semua orang punya cerita.”
Alden menatap laut yang luas.
Untuk beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun entah kenapa…
Bayangan wajah seorang gadis muncul di pikirannya.
Gadis dengan mata penuh luka dan keberanian.
Elena.
Alden mengerutkan dahi sedikit.
Ia tidak mengerti kenapa masih memikirkan gadis itu.
Padahal seharusnya semuanya sudah selesai.
Namun saat ia hendak menyingkirkan pikiran itu—
Ponselnya bergetar di atas meja kecil di sampingnya.
Alden mengambilnya.
Layar ponsel menampilkan satu pesan singkat dari nomor yang ia kenal.
Victor.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
“Kita perlu bicara. Ada masalah.”
Alden menatap pesan itu beberapa detik.
Lalu mengetik balasan singkat.
“Masalah apa?”
Beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
Jawaban Victor muncul di layar.
Alden membaca pesan itu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
Ekspresinya berubah sedikit.
Karena isi pesan itu hanya satu kalimat.
“Ada pekerjaan penting yang harus kamu tangani, Alden!"