UPS SORRY!

1013 Words
Cuaca siang ini benar-benar panas, matahari tampaknya mendekati planet bumi beberapa inci belakangan ini. Apa karena perasaan aku saja yah, tapi benar rasa dahaga tiba-tiba menusuk di tenggorokan ku, ingin sekali menyeruput es campur di kantin bu Imas. Tapi kalau tidak ingat simpanan uang ku yang makin menipis pasti aku sudah lari ke sana untuk memanjakan tenggorokan ku. Iya memang sedikit haru bekerja keras untuk bisa menikmati makanan enak, karena untuk bisa kuliah di sini orang tua ku harus bekerja ekstra, ibu ku sampai harus luangkan waktu untuk menerima orderan jahitan, tapi tetap tidak bisa 100 persen memenuhi kebutuhan ku disini, berapapun yang yang mereka berikan aku selalu syukuri dan tidak mencoba untuk mengeluh. Makanya aku disini jga menyibukkan diri untuk bekerja saat jam kuliah ku kosong, sedikit banyak uang nya bisa mencukupi biaya hidupku di sini. Beda dengan Vicka yang selalu cukup bahkan lebih dari cukup uang jajannya kalau hanya sekedar membeli semangkuk es campur dia memang dimanjakan oleh orang tuannya, jadi aku tahan ego ku untuk memanjakan tenggorokan ku, aku tidak enak jika harus di traktir terus oleh sahabat ku yang satu ini. "Panas banget yah key siang ini" Vicka sambil menutup kepalanya dengan buku. "Iya Vic, jadi pengen masuk keruang ujian lagi Vic" benar terik sekali mataharinya, maksud ku ruangan tempat kami melakukan ujian tadi sangat dingin karena terpasang beberapa AC di dalamnya. "Aaarrrchhh....." tiba-tiba aku menarik rambutku, ingat ujian aku jadi ingat ada beberapa soal yang aku asal menjawabnya. "Tadi tuh harusnya jawaban ku bukan yg itu" gerutu ku pada diri sendiri. "Ehh key, udah donk! mau diapain juga lembar jawaban udah nggak di tangan Lo" sahut Vicka kesal menatap ku. "Iya sih, tapi kesel banget tau kenapa tadi nggak kepikiran sih" aku masih saja menyesali jawaban soal yang tadi telah ku kerjakan. "Kalau Lo tau jawabannya, itu namanya bukan soal ujian hehehe" Tyas terkekeh meledek ku, iya benar juga sih teman ku ini, iya kok aku egois banget yah setiap ada tugas aku selalu ingin mendapatkan nilai sempurna, dari dulu hanya itu yang aku andalkan untuk bisa bersekolah di tempat yang aku inginkan tanpa haus membebani orang tua ku untuk membayar uang masuk, uang gedung dan iuran bulanan, yah bisa di bilang ekonomi keluarga ku yang biasa saja menengah ke bawah. Iya demi bisa sekolah aku harus jadi tiga besar, bukan untuk mendapatkan beasiswa tapi ayahku tidak mau menyekolahkan kami di sekolah swasta. Karena memang penghasilan beliau hanya cukup untuk memenuhi kehidupan keluarga kecil kami. Kalau nilai rapot ku berkurang satu angka saja pasti akan ada hukuman untuk kami. Entah itu pengurangan uang jajan dan omelannya yang panjang kali lebar suka bikin sakit telinga. Maklum ayahku berprofesi sebagai polisi, disiplin dalam pekerjaan dia terapkan juga di rumah, aku jadi sudah terbiasa dengan yang namanya keprihatinan, tapi aku sangat bersyukur ibu bisa menyisikan sedikit tabungannya untuk biaya pendidikan kami. Bruk!! "A-aw sakit!!" Aku sedikit berteriak saat merasa tertabrak seseorang dari belakang. "Ups! Sorry" seseorang melewati ku dia menengok 1 atau 2 detik ke arahku. "Aku buru-buru" sambungnya lalu berlari lagi. "Hei bung lain kali hati-hat-" Aku mengangkat wajahku untuk melihat lawan bicara ku, tapi suara ku mendadak hilang, wajah itu seperti seseorang yang tak asing bagi ku di masa lalu. "Hei... Tanggung jawab lo!" celetuk vicka sahabat ku. "Kenapa apa dia terluka?" tukas pria itu lalu menatap ku dengan tatapan malas. "Eh, lo ngak liat temen gw kesakitan!" Vicka balas menatap pria. "Udahlah, Vic gw ngak papa kok" Aku menarik ujung baju sahabat ku itu. "Ngak bisa gitu dong key dia-" Vicka berbalik memarahi ku tapi sebelum ceramahnya selesai, sebuah tangan besar menarik lengan ku dengan kasar. "Ayo ikut gw ke UKS" Dia maju beberapa langkah dan mengikis jarak diantara kami, kedua mata kami bertemu, aku bisa mencium aroma tubuhnya. "Lepaskan aku bisa ke UKS sendiri, tadi anda bilang sedang buru-buru jadi silahkan pergi!" Aku hampir saja terpesona dengan wajahnya, tapi entah ada keberanian dari mana aku bisa bicara setenang itu. "Bagus deh kalo gitu, karena waktu gw sangat berharga" tukas pria itu dan berlalu meninggalkan kami. "Gila yah tuh orang!! dah salah bukan berhenti dulu, ngak pernah diajarin minta maaf secara sopan kali yah sama orang tuanya" Vicka yang masih saja mengomel, tapi kalau tadi aku diam saja sudah dapat dipastikan Vicka akan meninju pria tersebut. "Udah Vic gw nggak papa kok" jawabku sambil memegang bahu ku, yg aku rasa merah karena tabrakan tadi. "Orang nabraknya ngak pake Rem gitu, dah badannya bongsor pasti sakit yah key" Vicka kali ini benar, baru beberapa menit bahu ku rasanya sakit seperti ketarik otot-otot ku. "Nggak kok, bener nanti kalo sakit gw cari orang nya" Aku mencoba menenangkannya, bohong banget padahal sakit banget pundaknya tau, yang nabrak laki-laki tinggi besar gtu, sedang kan badan aku mini. "Ywdah, nanti Lo ajak gw juga yah kalo mau ketemu tuh orang, Kalo dia nggak mau tanggung jawab, gw laporin dia ke dosen BP" Tukas Vicka sambil bertolak pinggang. "Iya pasti, udah yuk pulang besok kan masih ada UTS mapel lain" ingat ku. "Iya jadi ke buang-buang percuma deh waktu kita buat ngeladenin pria aneh macam dia" ucap nya "Tapi ganteng juga sih key tadi, ah Lo di tarik hampir berpelukan sama dia kalau ngak ada masalah tadi gw dah langsung peluk balik tuh. cowok" Vicka terus saja bicara, teman ku ini si tukang berkhayal tingkat tinggi. "Udah ah, mulai ngaco Lo yah!" baru aku melangkahkan kaki ku, Vicka berteriak. "Kenya sini dulu" dengan malas aku memutar badan ku kembali me arahnya. "Eh apa tuh key, milik Lo bukan" Vicka menunjuk sesuatu yang sepertinya bukan milik ku terjatuh di tanah, sebuah benda kotak tipis yang kami juga memilikinya. "Kayaknya kartu mahasiswa deh Vicka, tapi punya gw ada di tas kok" tanpa aba-aba aku ambil kartu itu, dan aku tercengang begitu k*****a nama yang tertera pada kartu id mahasiswa itu. "Viras Mulya Pratama" ku kucek kembali mataku, mungkin tadi aku sedang halusinasi atau mataku ini salah membaca tulisannya mungkin. "Ya Tuhan... ini.....apa artinya???" batin ku, Kau kabulkan doa ku selama ini untuk kembali lagi bertemu dengan nya dengan cara seperti ini setelah 12 tahun lamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD