*Prof Iras*
Aku Viras Mulya Pratama Mahasiswa semester 8 Fakultas Ilmu Hukum Internasional di Universitas Jakarta. Aku sering berpindah-pindah sekolah karena mengikuti dimana papi ku berdinas, Papi ku menduduki jabatan tinggi di tempatnya berdinas, tapi setelah pensiun dia bukannya istirahat melainkan mendirikan perusahaan yang dia dirikan bersama beberapa rekan kerjanya saat masih menjabat di kementrian dulu. Dan aku di tuntut papi untuk membantunya mengurus beberapa perusahaan karena memang aku satu-satunya anak lelaki di keluarga ku, memang berat awalnya untuk ku menerima tapi melihat berapa hebatnya papi ku ini, aku merasa malu dan tertantang untuk bisa mempertahankan apa yang telah papi raih, syukur-syukur bisa mengembangkan bisnis papi ke kancah internasional.
Siang itu setelah ujian ku selesai aku berencana pergi ke studio music, tapi karena materi ujian hari ini Hukum Diplomatik yang sedikit banyak menguras otak ku, jadi aku agak terlambat untuk ke studio dimana teman-teman ku sudah menunggu di sana 10 menit yang lalu. "Iya nih gw baru selesai ujian bel, hp gw harus mode off tadi. Iya gw langsung meluncur kesana bawel" panggilan suara Ibel yang baru bisa ku angkat. "Okeh kan lo tau ngak ada lo ngak rame... Hehehee"suara Ibel "Ah paling juga nggak ada yang bayarin makan Hahahaa" Tukas ku "Udah cepet yah raz.... kita tunggu" suara Ibel "Tut.. Tut.. Tut..." s**l langsung di tutup hapenya, tiba-tiba aku berlari saat belokan di lorong aku sepertinya menabrak seseorang. "Bruk........!!!!!" Aku merasakan hentakan pada bahu ku "A-uuuww sakit" keluh suara seorang wanita di belakang ku, Entah rem kaki ku blong atau apa, aku hanya menengok kebelakang sekejap sambil mengatakan maaf. Mata hitam cantik itu, menatap tajam ke arah netra ku. Tapi aku berlalu tanpa menghiraukan dia, tapi sejujurnya bukan itu yang ingin aku lakukan. Aku sungguh kesal dengan perlakuan teman wanitanya, yang membuat sifat arogan ku sedikit keluar, dan beranjak dari nya. Studio Music "Ras, yang bener donk, suara Lo ngak nyambung sama music nya, udah dateng telat ngak fokus lagi!" Angga menegurku, memang benar pikiranku masih belum bisa fokus, otak ku masih mengingat kejadian tadi, wajah gadis itu tidak asing bagiku, sepertinya gadis itu pernah datang di mimpi ku, tapi ini kali pertama aku bertemu dengannya, dan mata hitam tajam cantik itu seperti sedang menghipnotis ku. "Iraz......!! ehh malah bengong nih anak, lo denger ngak, klo lo lagi ada masalah kita udahan aja yok, besok lanjut lagi latihan nya gimana" Aku menengok ke arah Dendi "I-ya sorry bro" Aku mencoba meminta maaf kepada semuanya, ku taruh mic ku dan berjalan ke arah sofa di pojok ruangan itu. "Ada masalah?" tanya ibal mulai mendudukkan gitarnya dan mendekati ku. "Ngak bel, cuma mikirin soal ujian aja, tadi kayaknya gw jawab asal-asalan deh, jadi agak kepikiran" aku mencoba berbohong "Kan dah selesai ras, masih bisa lo perbaiki di ujian praktek, semoga aja ngak remedial" Angga menepuk pundak ku "Ehmm... kita makan aja yuk, gw yang traktir. Dah laper juga ini perut kebanyakan mikir..." Aku coba mengalihkan pembicaraan, dan meminta maaf dengan mentraktir teman band ku, syukurlah mereka mau dan kami berempat pergi keluar studio, menuju makanan cepat saji di salah satu mall terdekat. "Mau makan dimana nih?" tanya ku "Gw lagi pengen Junk food ras, bosen makan masakan rumahan terus" Dendi mengeluh "Hahaha... ya iyalah wong orang tua lo pengusaha warteg, yah klo ngak habis masa mo di buang, sayang kali" tawa Angga sambil memegang perutnya. "Bisa aja Lo, Bhahahaaa" Dendi ikut tertawa. "Ya udah kita ke situ aja yah" aku menunjuk makanan cepat saji yang namanya sudah terkenal di penjuru dunia "Lo aja yang pesen yah den nih uangnya, gw mau 1 spaghetti spesial sama lemon tea" ku keluarkan tiga lembar uang kertas berwarna merah keatas meja. "Okeh bro, yang lain?" Dendi menatap ibal dan Angga bergantian "Dah burger aja kita ngak lagi laper banget kok den" sambil melambaikan tangan ke pada Dendi Kira-kira 15 menit kemudian Dendi datang dan membawa nampan berisi penuh makanan yang sudah kami pesan tadi. "Wahhhh... ini mah lo yang pesan yah den, Ayam pakai doble segala" Ibel menatap isi nampan yang di bawa oleh dendi "Hahahaaa mumpung bel,," sambil mengigit ayam pada tangan kanannya "Den, kembaliannya mana ini di struk kembali 68 ribu" tanya ku sambil mengambil struk tersebut. "Ah Lo raz, uang segitu mah ngak ada artinya pasti buat Lo pasti, Nih gw kasih pegawai MC* habis Imut banget orangnya, Cantik ras, ramah murah senyum pula, rezeki anak sholeh emang ngak kemana" sambil senyum senyum menyantap ayam goreng kesukaan nya, Aku menoleh ke tempat yang diarahkan kepala Dendi, gadis bermata hitam cantik itu, apa dia wanita yang sama dengan yang tadi ku tabrak, aku sepertinya tidak salah lihat dia memang wanita yang sama. "Untung gw yang kesana tadi, klo lo ras pasti udah gw kalah Star deh" dendi melengos bicara sambil mengunyah makannya. Aku menepuk d**a ku berkali-kali, sakit rasanya saat aku lihat dia tersenyum pada seorang pria, mungkin pel***** resto tersebut ku perhatikan dari jauh, senyum cantik dan perlakuan ramah nya seketika membuat hati ku tak terima. "Apa aku cemburu dengan wanita yang baru saja aku lihat, ini benar-benar mustahil bagaimana bisa?" lirihku dalam hati, terlihat dia senang dengan kehadiran pria tersebut. Makin ku perhatikan dadaku bertambah perih rasanya padahal aku benar-benar tak mengenal gadis itu, apa aku melupakan sesuatu tentang masa lalu ku. "Eh lo kenapa raz, hari ini ada yang aneh sama diri lo!" Ibel menyenggol lengan ku, dan aku mulai tersadar dari pikiran ku "Mungkin lelah aja bel karena fokus ujian minggu-minggu ini" jawab ku asal "Ya sudah habis makan kita balik, lo harus istirahat, kebetulan tadi gw nebeng dendi, nanti gw balik naik mobil lo aja. Sini kunci mobil gw yang nyetir, nanti malah ada apa-apa kalau lo yang bawa" Ibel menengadahkan telapak tangannya ke arah ku, dan aku mengeluarkan kunci mobil dari saku celana ku ke padanya. Saat kami selesai makan, aku melewati tempat dimana gadis itu berdiri, aroma harum rambutnya mampu membuat ujung bibir ku terangkat. Ingin aku menghampirinya hanya sekedar menatapnya dan bertanya apa sebelumnya kita bernah bertemu, tapi aku urungkan niat ku untuk menghampiri nya berharap mungkin dia bukan orang yang sama yang tadi ku lihat.