Rian tidak memiliki kesulitan saat sekolah dan bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Anakku menikmati kegiatan yang dia lalu bersama dengan guru dan teman-teman, terutama bersama dengan Raja dan Rija, teman akrabnya sejak hari pertama masuk sekolah.
Aku merasa lega mendengar semuanya. Setiap pulang sekolah, Rian akan menceritakan apa saja yang dia lakukan dengan si kembar dan teman lain di sekolah. Sekarang begitulah kegiatannya yang juga dilakukan bersamaku, bercerita dengan penuh antusias.
"Terus Ayah, tadi kita main bola. Pokoknya seru deh, nanti Rian pengen beli bola basket, boleh kan Ayah?"
Kali ini Rian juga tengah bercerita tentang kegiatan dia di sekolah bersama dengan guru dan teman-teman. Katanya setelah belajar di dalam kelas, mereka juga melakukan olahraga. Permainan bola basket yang gurunya pilih sebagai olahraga mereka. Aku tersenyum mendengar betapa Rian antusias sekali menceritakan permainan basket mereka. Malah aku tidak menyangka, di taman kanak-kanak seperti itu sudah dikenalkan olah raga basket.
"Boleh, nanti kita beli sama-sama. Rian suka banget ya main basket?" tanyaku pada Rian yang duduk di sampingku. Kami masih dalam perjalanan pulang, kali ini jalanan ke arah rumah Ibu macet, sepertinya ada kecelakaan.
"Suka. Nanti aku mau ajarin Gea juga main basket, anak perempuan boleh main juga kan, Yah? Tadi teman-teman perempuan nggak main basket, tapi olahraga yang lain."
"Boleh dong, nanti kamu sama Gea bisa main basket juga berdua."
"Nanti ajakin Raja sama Rija juga, mereka belum kenalan sama Gea. Tapi Gea mau nggak ya, kalau kenalan sama teman-teman aku?"
Aku mengangguk, "Pasti mau. Gea nanti jadi punya teman banyak juga." Dan selanjutnya perjalanan kami kembali diisi dengan cerita Rian yang tidak pernah habis tentang teman-teman di sekolahnya.
**
"Nanti Ayah jemput ya, Rian tunggu di sini dulu sama Nenek, Ayah berangkat kerja lagi," pamitku pada Rian.
Anakku mengangguk, tidak akan ada drama yang terjadi saat aku meninggalkan Rian bersama dengan Ibu untuk bekerja. Rian semakin mengerti bagaimana pekerjaanku selama ini, dia juga tidak masalah untuk tinggal di rumah neneknya selagi aku bekerja.
"Pulangnya beli bola basket," katanya, menjadi permintaan pertama yang aku dengar darinya. Mungkin karena selama ini Rian tidak banyak meminta apa pun dan aku sendiri yang selalu inisiatif membelikan, jadinya aku merasa senang saat Ria meminta sesuatu seperti ini.
"Siap bos!" Hormatku membuat Rian tersenyum lebar seraya mengikuti gerakan tanganku yang memberikan hormat kepadanya.
Ibu terkekeh melihat tingkah kami, setelah itu aku pun berpamitan untuk kembali ke restoran. Akhir-akhir ini restoran sedang ramai, aku tidak tega kalau membiarkan pegawaiku kewalahan dan sesekali aku pun terjun untuk melayani pengunjung.
Aku mengernyit melihat seorang perempuan yang tengah berjalan di trotoar, entah kenapa aku tertarik untuk memerhatikan perempuan itu. Sampai akhirnya aku menginjak rem secara mendadak, melihat wajah perempuan tersebut yang mirip sekali dengan mendiang isriku.
Aku menggeleng, tidak mungkin. Aku hanya sedang merindukan Atika sampai yang kulihat wajahnya begitu mirip dengan istriku. Aku kembali melajukan mobil, mengabaikan perempuan tadi yang sudah berbelok ke jalanan lain. Merindukan Atika membuatku malah melihat orang-orang dengan wajah sepertinya, tidak mungkin juga ada orang yang mirip dengan mendiang istriku.
**
Nares menemuiku di restoran, tadi lelaki itu menelepon juga dan bertanya apakah aku sedang di restoran atau berada di luar. Karena tahu aku berada di restoran, suami Indira itu mengatakan akan menemuiku.
Sebenarnya tidak asing juga, mengingat setelah hubungan kami terjalin baik dan kami menjadi teman. Nares kadang datang ke restoran, sekedar mengajakku untuk berbincang atau juga mengajak istri dan anaknya makan di restoranku.
Namun kali ini dia sendirian, mengatakan bahwa dia membutuhkan bantuanku untuk menyiapkan makan malam spesial, yang akan diberikan pada istri tercintanya. Aku tentu saja tidak menolak, dengan senang hati membantunya menyiapkan makan malam spesial untuk Indira.
"Dalam rangka apa?" tanyaku setelah Nares mengatakan maksud dan tujuannya datang menemui di sini.
"Ulang tahun dia, selama ini gue belum pernah kasih hal yang romantis kaya makan malam berdua gitu," balasnya.
Aku mengangguk, "Perlu bunga juga?"
"Ide yang bagus, gue nggak salah minta bantuan sama lo."
Aku berdecak, "Lo aja yang nggak peka, cewek itu suka sama bunga," kataku membuatnya terkekeh.
"I know. Tapi gue emang lebih mengungkapkan perasaan gue ke tindakan, dibandingkan kasih istri gue hadiah atau bunga kaya gitu."
"Gue masih heran, kenapa Indira bisa cinta sama lo yang nggak romantis sama sekali."
"Jawabannya takdir, emang udah seharusnya gue sama dia dan nggak usah ungkit masa lalu."
"Oh iya, Res. Menurut lo mungkin nggak sih, ada orang yang mirip banget padahal mereka nggak ada ikatan saudara atau semacamnya?" tanyaku beralih topik.
"Tiba-tiba banget, menurut gue sih mungkin aja. Kan ada pendapat yang bilang kalau manusia itu punya tujuh kembaran di muka bumi ini. Memangnya kenapa? Lo ketemu sama orang yang mirip sama lo, Bas?" tanya Nares yang langsung kubalas dengan gelengan kepala.
"Bukan, tapi gue lihat orang yang mirip istri gue," ucapku membuat Nares kali ini menatap serius.
"Lo lagi kangen kali," katanya.
Setiap saat aku selalu merindukan Atika, tetapi tidak sampai seperti ini, melihat orang lain yang wajahnya seperti Atika. Mungkin ini yang pertama kali dan membuatku terusik juga penasaran.
"Lo temui istri lo kalau kangen, Bas. Ungkapin semua sama dia, walaupun kalian udah berada di alam yang berbeda, tetapi gue yakin di sana Atika dengar apa yang lo ceritakan."
"Tiga hari lalu gue udah datang ketemu sama dia, gue cerita kalau Rian udah masuk sekolah dan senang punya teman-teman."
"Gue tahu ini masih berat buat lo, tapi hidup itu berjalan ke depan, Bastian. Lo boleh sedih tapi jangan sampai berlarut-larut, lo nggak coba saran dari gue? Buat membuka hati pada orang baru," ucap Nares.
Pembicaraan kami memang selalu berujung pada saran yang Nares berikan padaku. Bahwa aku harus membuka hatiku kembali untuk orang lain, hidupku harus terus berjalan dan aku harus memberikan sosok ibu untuk Rian. Namun sampai detik ini, aku masih belum bisa melakukannya.
"Kapan-kapan gue coba," balasku.
"Gue sama Indira selalu berharap lo bisa menemukan pasangan hidup kembali dan membangun keluarga kecil sama anak lo. Rian masih butuh sosok ibu diusianya yang masih kecil ini, Bas."
"Iya, gue tahu dan gue akan berusaha walaupun gue rasa itu nggak mudah."
"Ngomong-ngomong lo udah ajak Rian ketemu sama Atika?" tanya Nares.
Aku menggeleng, "Gue masih cari waktu yang tepat."
"Rian anak yang pintar, anak lo bahkan lebih dewasa dari anak lain yang seusianya. Dia harus tahu alasan kenapa mamanya belum juga pulang ke rumah, lebih baik dia tahu dari lo, sebelum tahu dari orang lain."
Nares benar, namun aku masih belum memiliki waktu yang tepat untuk mempertemukan Rian dengan mamanya. Aku juga masih belum bisa melihat bagaimana reaksi Rian saat mengetahui semuanya. Tetapi semua itu harus aku lakukan karena semakin lama, Rian juga akan semakin tumbuh dan semakin mengerti dengan kondisinya, dia akan kembali bertanya kenapa Mama belum juga pulang dan aku harus siap dengan apa pun yang akan terjadi nanti.