Satu tahun berlalu, waktu yang aku lewati rasanya lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja? Dan seperti biasa, tidak ada yang spesial selama ini, semua terlewati begitu saja.
Tahun ini Rian masuk taman kanak-kanak, seperti yang dia selalu bicarakan kalau akan sekolah, akhirnya hari ini Rian bersekolah. Anak itu begitu semangat sekali saat tahu akan berangkat ke sekolah untuk pertama kalinya.
Karena ini menjadi hari pertama Rian masuk sekolah, aku juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengantarkan Rian pertama kalinya ke sekolah. Sebenarnya aku tidak terlalu ribet dalam urusan mencari sekolah untuk Rian, selagi ada tempat yang dekat dengan rumah maka akan aku pilih, karena semua sekolah tentu saja baik untuk pendidikan anak-anak.
"Nggak usah ditungguin ya, Ayah. Kan Rian sudah besar," katanya padaku saat kami baru saja sampai di sekolahan.
"Nanti Ayah jemput, Rian tunggu sama Ibu guru sampai Ayah datang ya, jangan ke mana-mana."
Rian mengangguk patuh, kemudian mencium tanganku dan berpamitan masuk ke dalam kelasnya. Ya, anakku memang lebih mandiri dari umurnya yang masih kecil.
Setelah memastikan Rian masuk ke dalam kelas, aku pun pergi dan segera ke restoran. Karena hari ini restoran di pakai untuk pesta, aku dan yang lainnya akan sangat sibuk mempersiapkan segala makanan dan juga dekorasi restoran. Namun tentu saja menjemput Rian adalah prioritas utamaku.
**
Aku baru saja sampai di restoran, terlihat para pegawaiku sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka menyapaku saat berpapasan dengan aku yang berjalan ke dalam restoran dan mulai bergabung dengan mereka.
"Ada kendala?" tanyaku pada salah satu pegawai yang tengah sibuk dengan dekorasi untuk acara nanti.
Dia menggeleng seraya berkata, "Tidak, Pak. Sejauh ini masih aman dan terkendali." Membuatku mengangguk dan kembali menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaan.
Restoran akan dipakai untuk acara pertunangan, yang sebenarnya belum pernah ada yang menggunakan tempatku untuk acara tersebut. Itu karena yang menyelenggarakan adalah Fauzan -teman semasa sekolahku dulu, katanya hanya acara keluarga inti saja, tidak perlu gedung mewah dan luas, restoranku cukup untuk dipakai oleh acaranya nanti.
Sebagai seorang teman, tentu saja aku mengijinkan saat Fauzan meminta bantuanku dan menyewa restoranku untuk acara pertunangannya. Meskipun aku awalnya agak aneh saja karena acara tersebut diadakan di restoranku. Karena semua aman terkendali, aku pun berjalan ke ruanganku yang berada di lantai dua.
Duduk di kursi pribadiku, pandanganku langsung tertuju pada bingkai foto yang terpajang di atas meja. Foto Atika yang tengah bersama dengan Rian yang masih bayi.
"Anak kita udah masuk sekolah, Sayang," ucapku seraya mengelus bingkai foto tersebut tepat di wajah istriku.
Senyumnya yang saat ini selalu kurindukan membuatku ikut tersenyum menatapnya. Andai saja ... ah seharusnya sudah cukup, aku tidak boleh berandai-andai karena semua sudah terjadi akibat perbuatan diriku sendiri. Tetapi, aku memang selalu saja melakukannya, mengatakan seandainya istriku di sini, seandainya istriku ... dan banyak lagi yang pada akhirnya selalu membuatku berandai-andai.
"Rian pasti bakalan lebih happy kalau kita berdua antar dia tadi ke sekolah. Sama kaya teman-teman dia yang lain, tapi anak kita hebat, Sayang, dia anak yang mandiri. Aku malah nggak pengin dia kaya gitu, dia masih kecil juga, tapi anak kita memang anak mandiri dan pintar."
Aku terus bercerita pada bingka foto mendiang istriku, kalau saja waktu bisa kuputar. Demi Tuhan, aku tidak akan bersikap bodoh seperti yang lalu-lalu, aku tidak akan egois dan menyakiti istriku seperti ini.
"Aku kangen kamu," ucapku begitu lirih.
Aku selalu merindukannya dan berharap kehilangan dirinya, semua hanya sebuah mimpi buruk yang saat aku terbangun akan hilang begitu saja. Namun semuanya sangat nyata dan terjadi pada diriku sendiri.
**
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, acara yang digelar di restoranku juga sudah dimulai sejak pukul sepuluh tadi. Aku memberikan tanggung jawab acara pada semua pegawaiku, karena kali ini aku harus menjemput Rian di sekolah dan mengantarkan anakku ke rumah Ibu.
Aku juga tidak sabar mendengar cerita dari Rian, bagaimana hari pertama sekolahnya ini. Pasti Rian memiliki banyak teman dan membuat dia senang berada di sekolah.
Mobilku sudah berada di area sekolahan, jaraknya memang tidak jauh dari restoran dan juga rumah. Berada di tengah-tengah membuat aku tidak perlu waktu lama untuk menjemput Rian di sini.
Satu per satu murid keluar dari area sekolahan, menghampiri orang-orang yang menjemput mereka. Entah orang tuanya, kerabat atau supir pribadi yang ditugaskan untuk menjemput mereka di sekolah. Aku mencari keberadaan Rian di antara murid-murid yang keluar dari area sekolahan.
Aku tersenyum saat melihat Rian berjalan dengan dua anak lelaki, tampak akrab sekali seperti sudah berteman cukup lama. Sampai akhirnya mereka berpisah di depan gerbang sekolah, Rian berlari ke arahku dengan senyum yang begitu cerah tercetak jelas di wajahnya.
"Ayah nggak telat jemput," katanya setelah berada di hadapanku.
"Iya dong, Ayah nggak akan telat. Masa baru pertama sekolah udah telat jemput kamu," balasku seraya membuka pintu samping mobil dan menyuruh Rian untuk masuk.
Aku menyusul di pintu samping lainnya, duduk di balik kemudi setelah menyimpan tas milik Rian di kursi belakang kami.
"Senang nggak di sekolah?" tanyaku setelah melajukan mobil menjauhi sekolahan dan melaju di jalanan menuju rumah Ibu.
Rian mengangguk penuh semangat, bisa kulihat wajahnya yang tampak berbinar dan aku pastikan hari pertama dia bersekolah begitu menyenangkan.
"Senang. Rian udah punya teman dua orang, Ayah," jawabnya.
"Bagus dong. Ayah senang sekali kamu udah dapat teman di sekolah, yang tadi keluar barengan ya?" tanyaku memastikan apakah teman yang dia maksud adalah dua anak lelaki tadi.
Kulihat Rian mengangguk. "Iya. Mereka itu mirip loh, Ayah. Rian kadang pusing, ketuker melulu," katanya membuatku tersenyum mendengar cerita Rian.
"Artinya mereka itu saudara kembar. Kalau udah kenal lama pasti Rian nggak akan ketuker lagi, nama mereka siapa?"
"Raja sama Rija, kakaknya Raja, adiknya Rija," balas Rian.
"Rian bisa lihat perbedaan dari sikap mereka, kalau dari wajah nggak bisa di bedakan. Misalnya, teman Rian yang namanya Raja itu anaknya seperti apa, suka ajak Rian ngobrol pertama kali atau nggak."
"Oh iya, Rian ingat, Ayah. Kalau Raja itu sukanya diam melulu. Raja itu nggak pernah capek ngomong terus," jelasnya kepadaku.
Dari yang aku tangkap bagaimana respon Rian pada kedua teman barunya, sepertinya anakku sangat senang memiliki teman bernama Raja dan Rija. Aku harap Rian juga betah di sekolah dengan teman-teman yang lain.
Sayang, aku membesarkan Rian sendirian sekarang. Aku harap kamu melihat anak kita yang tumbuh begitu baik, Rian benar-benar anak yang luar biasa kan, Sayang.