Aku yang terus terluka

1001 Words
"Mas kalau aku hamil lagi gimana?" "Ya gapapa, kan kamu punya suami." "Tapi Rian masih kecil." "Gak masalah, kalau emang kita di kasih kesempatan buat punya anak lagi, meskipun Rian masih kecil masa kita harus tolak. Yang terpenting bagi aku, kamu dan dia baik-baik aja." Percakapan itu kembali aku ingat, Atika tiba-tiba membahas anak kembali di usia Rian belum genap satu tahun. Tentu saja saat itu aku bertanya-tanya, apakah memang Atika hamil atau tidak. Tetapi dia bilang dia hanya ingin bertanya saja. Dan aku seharusnya terus bertanya dan memastikan, kalau saja aku tahu Atika kembali hamil. Aku tidak mungkin melakukan hal segila dulu, kembali terobsesi pada mantan tunanganku sampai akhirnya aku kehilangan Atika dan calon anak kedua kami untuk selamanya. Ya, benar. Saat itu aku berengsek sekali karena masih terus mengharapkan Indira agar bisa kembali denganku, padahal aku sudah memiliki istri dan anak lelaki. Penyesalan memang selalu datang terlambat. "Ayah." Aku menoleh, mendapati Rian yang baru saja masuk ke dalam kamarku. Dia tidak benar-benar masuk, hanya berdiri di dekat pintu dengan wajah yang cemberut. "Ayah kenapa lama? Rian nunggu dari tadi, Ayah enggak bisa pilih baju lagi?" Aku tersenyum tipis, Rian ingat sekali dengan hal itu. Terbiasa di pilihkan pakaian oleh Atika dulu, bahkan aku harus kembali membiasakan diri untuk menyiapkan semuanya sendiri. Pernah aku memilih pakaian ganti sampai berpikir lama, sebenarnya bukan tidak bisa memilih, itu hanya alasanku pada Rian saja saat dia memergoki aku yang lama berganti pakaian, alasan utamanya adalah aku selalu memikirkan Atika, kembali mengingat bagaimana dulu dia yang dengan telaten dan sabar tetap menyiapkan segala keperluanku meski saat itu aku memperlakukan dia dengan tidak baik. Dan sekarang Rian kembali memergoki aku yang lama sekali berganti pakaian padahal dia menungguku untuk makan malam bersama. "Ayah ganti baju dulu, udah ketemu kok baju gantinya," ucapku kemudian mengambil pakaian yang tadi aku ambil di dalam lemari, sebelum percakapan bersama Atika tiba-tiba terlintas di dalam pikiran. "Rian sama Nenek tungguin Ayah di meja makan. Cepetan Ayah, perut Rian udah demo," katanya lalu pergi dari kamarku. Aku tersenyum mendengar perkataan Rian, pasti kalimat tadi tahunya dari Gea. Anak perempuan Nares dan Indira itu selalu mengajarkan kalimat-kalimat baru pada Rian, mereka juga begitu dekat. Setelah berganti pakaian, aku bergabung dengan Ibu dan Rian. Ibu memang berada di rumah sejak tadi, katanya ingin makan bersama sekaligus menginap di sini. Tentu saja aku sangat setuju, agar di rumah tidak hanya ada aku dam Rian saja. Yang berakhir dengan aku kembali memikirkan kehadiran Atika bersama dengan kami. ** "Sebentar lagi Rian akan masuk sekolah, kamu harus mencari sekolahan yang cocok untuk dia, Bas?" tanya Ibu setelah kami selesai makan malam. Aku dan Ibu berada di ruang tengah, menemani Rian yang asyik menggambar. Kemarin dia baru mendapatkan hadiah dari Nares, satu buku gambar ukuran besar dan berbagai macam pensil warna, sama seperti milik Gea. Rian sangat senang menerima hadiah itu, karena anakku memang suka sekali menggambar, tak heran benda yang paling sering bersama dirinya adalah buku gambar dan perlengkapan lainnya untuk menggambar. "Nanti aku cari, Bu," balasku. "Dan kamu juga harus mengajak dia untuk menemui mamanya. Bagaimanapun Rian harus tahu tentang mamanya, apalagi dia akam segera sekolah dan pasti bertemu teman-teman yang membicarakan Mama mereka," ucap Ibu membuatku termenung. Mempertemukan Rian dengan mamanya? Aku belum bisa, dia masih sangat kecil untuk memahami semuanya. "Itu juga akan Bastian pikirkan." Jawaban itu meluncur dari bibirku, meskipun aku tidak tahu kapan pemikiran itu akan memberikan aku suatu keberanian untuk membawa Rian bertemu dengan Atika, ke tempat peristirahatan terakhir istriku. Kulihat Rian sudah mengantuk, aku pun membantunya untuk membereskan alat-alat menggambar ke dalam tas yang waktu itu sempat aku belikan untuknya, saa aku pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Rian sangat suka saat aku memberikan tas berwarna merah dengan karakter kartun yang juga menjadi favorite-nya. "Rian mau bobo sama Ayah atau Nenek?" tanyaku setelah selesai membantu dia membereskan barang-barang. "Nenek, tapi gendong ke atas sama Ayah," pintanya membuatku tersenyum lebar. Mode manjanya sedang muncul dan aku selalu suka karena Rian terlihat seperti anak pada umumnya. Aku pun menggendong Rian dan berjalan ke kamarnya, disusul oleh Ibu yang berjalan di belakang kami setelah mengambil satu gelas air putih di dapur. Kebiasaan Ibu memang begitu, menyiapkan air putih untuk diminum setelah bangun tidur nanti. "Tidur yang nyenyak, jagoan Ayah," ucapku lalu memberikan kecupan hangat di keningnya. "Selamat malam, Bu," lanjutku kali ini pada Ibu. Setelah itu aku pun keluar dari kamar Rian, berjalan ke kamarku yang berada di sampingnya. ** Aku duduk di tepi ranjang, sembari menatap foto Atika yang berada di atas meja samping tempat tidur. Kembali mengingat perkataan Ibu tentang mempertemukan Rian dengan Atika. "Menurut kamu, apa Rian akan mengerti?" tanyaku masih menatap sosok istriku lewat sebuah foto. Aku mengambil bingkai foto tersebut, tanganku terulur mengelus pipi Atika yang sangat kurindukan. Sayang sekali, aku hanya bisa menyentuh fotonya tanpa bisa menyentuh setiap lekuk wajah aslinya di hadapanku. "Sebentar lagi Rian masuk sekolah, Sayang. Kamu pasti nggak nyangka kalau anak kita udah makin besar, kamu pasti bakalan happy banget kalau bisa antar dia ke sekolah, aku sama kamu yang antar dia ke sekolah. Tapi, karena kebodohan aku, Rian nggak bisa pergi ke sekolah di hari pertama sama kita, sama kamu." Air mataku kembali membasahi pipi, sepertinya aku menjadi lelaki tercengeng di muka bumi ini setelah kepergian Atika. Dadaku terasa sesak mengingat kembali momen kebersamaan kami yang tidak bisa kuulang lagi. Aku kembali menangis, masih memegang bingkai foto Atika. Andai saja waktu bisa aku putar, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti waktu itu, seharusnya aku bersyukur atas kehadiran Atika dalam kehidupanku. Karena dia adalah perempuan hebat dan paling sabar dengan segala sikapku saat itu. Atika, andaikan kamu masih bersamaku di sini. Aku pasti akan menjadi lelaki yang paling bahagia karena memiliki istri seperti kamu, aku akan menjadi suami yang paling beruntung karena memiliki anak bersamamu. Rian juga akan sangat bahagia karena dalam kehidupannya memiliki Mama seperti kamu. Dan seperti malam-malam sebelumnya, aku akan memandangi foto Atika lebih dulu sebelum tidur, atau mungkin aku akan tertidur sembari memeluk foto mendiang istriku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD