Aku yang belum siap kehilangan

1035 Words
"Lo kurusan, Bas." Javi -sahabatku- yang baru saja sampai di restoran malah mengatakan hal yang seperti itu. Aku tentu saja sadar, dengan berat badanku yang menurun. Harus kuakui, kehilangan Atika membuatku kehilangan selera makan. Apakah ini terlalu berlebihan? Tetapi, memang begitu. Rasanya tidak ada lagi makanan yang begitu nikmat, sampai aku meminta tambah lagi saat makanan yang kunikmati habis tak tersisa di atas piring. Sekarang, bahkan untuk menghabiskan satu piring pun, luar biasa sekali untukku. Sebegitu berpengaruh kah Atika dalam hidupku, sampai aku tidak bisa menjalankan semua dengan baik tanpa dirinya. Kalau saja Atika masih ada, aku pasti akan mendengar omelan istriku, kalau dia tahu aku mengalami hilang napsu makan seperti ini. Akan ada dia yang tanpa bosan menyuruhku untuk makan banyak, mungkin juga akan membuatkan aku bekal, bahkan tanpa disuruh pun kalau aku harus makan masakan hasil dari tangannya, aku akan dengan senang hati menghabiskan masakannya. Sekarang? Melihatnya pun aku tidak bisa. Menyentuhnya pun aku tidak mungkin. Memeluknya pun sudah tidak sanggup kulakukan. "Jangan terus terpuruk, Bas. Lo harusnya menata diri lagi, kasihan Rian. Gimana pun dia butuh sosok ibu," lanjutnya membuat aku terdiam. Terpuruk? Apakah aku kelihatan seperti itu? Sungguh, tragis sekali hidupku. "Gue belum bisa kalau lo bilang gue harus membuka lembaran baru kembali. Gue tahu Atika udah lama pergi, tapi bagi gue, dia selalu ada di sisi gue, enggak pernah pergi sampai kapan pun." "Tapi, Rian butuh sosok Ibu, Bas," ucapnya kembali. Bukan hanya Javi saja yang mengatakan itu, ibuku, Indira bahkan Nares saja mengatakan hal yang sama. Anakku butuh sosok ibu. Aku harus membuka lembaran baru, membuka hati dan mencari pengganti. Tetapi kenyataannya adalah aku sama sekali tidak bisa membuka hatiku kembali, rasanya semua pergi bersama dengan Atika. Istriku pergi dengan membawa hatiku, mematahkan setengah sayapku, membuatku sangat kehilangan. Yang aku takutkan, ketika aku harus membuka lembaran baru, mencari pengganti Atika untuk menjadi seorang Ibu bagi Rian, aku takut menyakitinya. Karena aku tahu, aku masih tidak bisa melepaskan istriku dan menggantinya dengan sosok lain. Aku tidak ingin kembali menyakiti, seperti dulu ketika aku masih mencintai mantan tunanganku -Indira, lalu aku menyakiti istriku sendiri. Sampai akhirnya penyesalan ini tidak berujung. "Belum sekarang, Jav. Gue belum bisa, mau lo yang minta, Ibu yang minta atau siapapun yang minta gue untuk membuka lembaran baru, gue masih enggak sanggup, melihat ada wanita lain yang menggantikan peran Atika di satu atap yang sama dengan gue. Daripada akhirnya gue kembali menyakiti, lebih baik gue berada di kesendirian kaya sekarang." Aku menatap Javi dengan lekat, penjelasan itu seharusnya bisa Javi cerna dan pahami. Bukan sekarang waktunya, tetapi aku pun tidak tahu kapan. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuka hatiku kembali dan membuka lembaran baru bersama dengan perempuan lain. Bersama dengan sosok lain yang menggantikan peran Atika dalam kehidupanku. "Lo sendiri? Jangan bilang sama gue membuka lembaran baru, lo kapan mau nikah, Jav?" tanyaku. Mengingat di umur yang sudah memasuki kepala tiga ini, sahabatku masih dengan status yang sama. Pria lajang, benar-benar belum pernah menikah. Aku tidak tahu alasannya apa, Javi tidak pernah mau mengatakan yang sebenarnya. "Nanti, kalau gue udah nemuin cewek yang tepat. Yang kalau sekali lirik, gue langsung klik dan yakin kalau dia memang pilihan yang tepat." Javi mengatakan itu dengan penuh keyakinan. "Jodoh lo belum lahir kali, Jav," candaku terkekeh. Javi mendengkus, "Jangan asal bicara, Bas. p*****l banget dong gue nanti, tapi enggak masalah sih, keknya jodoh gue anak cewek lo nanti kalau emang lo udah nikah lagi." "Nggak usah aneh-aneh, ogah banget gue punya mantu tua kaya lo," ucapku. Kami tertawa setelahnya, memang begini kalau kita sudah bicara berdua. Kadang yang tidak penting pun akan menjadi topik obrolan kami. ** "Mas aku senang banget," ucap Atika padaku. Kami baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, hari ini jadwal pemeriksaan rutin kandungan istriku. Sejak tadi senyum diwajahnya tidak pernah pudar, pun denganku yang merasakan hal yang sama. Tadi Dokter kandungannya mengatakan kalau jenis kelamin anak kami adalah lelaki. Atika senang sekali mengetahuinya. Meski aku bilang tidak masalah, mau lelaki atau perempuan, yang paling penting adalah keselamatan mereka di hari kelahiran nanti, istri dan anakku baik-baik saja, cukup. Namun memang sejak lama, Atika selalu mengatakan ingin anak pertama kami berjenis kelamin lelaki, hal itu karena Atika ingin anak lelaki kami nanti menjadi pelindung adik-adiknya. Dan sekarang, Tuhan mengabulkan keinginan istriku. "Nanti bakalan ada dua cowok yang melindungi aku, aku bakalan lihat kamu versi kecil kalau nanti dia udah lahir," lanjutnya sembari mengelus perut yang sudah membesar. Aku melakukan hal yang sama, mengelus perut istriku dengan penuh kelembutan, "Aku malah mau lihat versi kecilnya kamu, pasti cantik banget kaya ibunya," balasku kemudian kukecup dahi istriku membuatnya tersenyum lebar. "Gombal banget," katanya terkekeh. "Enggak gombal, Sayang." Dan bayangan itu kembali hadir saat aku menatap foto kami bertiga. Aku, Atika dan Rian saat baru lahir. Atika benar, anak kami memanglah aku dalam versi kecil. Kecuali matanya, begitu mirip Atika. Setelah Javi pergi, aku kembali nenyendiri. Pekerjaanku tidak banyak, karena ke restoran pun aku hanya mengecek pemasukan, pengeluaran dan stok bahan-bahan makanan di dapur. "Mas, anak kita lahir, ganteng kaya kamu," ucap Atika padaku. Bahkan kesakitan yang beberapa saat lalu karena proses melahirkan anak kami, tidak terlihat lagi. "Makasih, Sayang," lirihku tidak lupa mencium keningnya. Aku lega sekali karena istri dan anakku selamat dan baik-baik saja. Atika benar, anak kami begitu tampan. Mirip sekali denganku saat kecil. Senyum di wajah kami tidak pernah pudar, kebahagiaan menyelimuti kami berdua. "Namanya udah kamu siapin kan, Mas." Atika menatapku dengan senyum yang masih tercetak jelas. "Udah, nama anak pertama kita, Adrian Putra Ardhana," balasku menyebutkan nama anak kami. "Rian, bagus Mas namanya." Aku kembali menatap foto yang terbingkai indah di atas meja kerjaku. Hari itu, saat Rian lahir dan melengkapi kehidupan kami, aku dan Atika begitu bahagia, bersyukur atas kelahiran anak pertama kami. Meski hubungan kami di awal tidak baik, lebih tepatnya aku yang tidak memperlakukan Atika seperti istri, namun semakin lama, karena Atika yang mengandung apalagi setelah lahirnya anak kami, hubungan kami bisa di katakan baik-baik saja. Tetapi semua tidak berlangsung lama, yang semula kupikir akan bersama selamanya dengan Atika sampai anak-anak kita tumbuh dewasa, Tuhan berkehendak lain. Dan sampai hari ini, aku masih belum siap kehilangannya, aku masih membutuhkannya dan aku masih begitu mencintainya meski raganya tidak lagi disisiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD