Sekarang aku percaya bahwa manusia memiliki kembaran meskipun tidak sedarah. Setelah melihat siapa yang berada di hadapanku saat aku keluar dari mobil dan menghampiri Rian yang tadi dikabarkan hilang.
Wajah Rian begitu berseri, menyebutkan bahwa dirinya pulang bersama dengan Mama. Sementara aku dengan tubuh kaku dan pandangan masih memerhatikan sosoknya, perempuan yang berada di samping Rian dengan sebelah tangannya yang bertautan dengan anakku.
Kenapa perempuan itu mirip sekali dengan mendiang istriku?
"Kamu .... "
"Ayah, Rian senang ketemu Mama."
Ucapanku terjeda saat Rian kembali bicara dan mengatakan bahwa dia begitu senang sekarang, aku tidak bisa berkata-kata. Takut melukai hati Rian, tetapi kenyataannya adalah perempuan yang bersama dengan Rian bukanlah istriku, bukan mamanya karena jelas mereka berbeda meskipun wajah mereka hampir tidak ada celah perbedaan.
"Rian ke dalam dulu, ganti bajunya ya," ucapku menyuruh Rian untuk masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian karena yang kulihat pakaiannya sudah kotor, entah tadi Rian main apa.
"Tapi Mama jangan pergi," katanya seraya menatap perempuan yang tampak kebingungan di samping Rian.
"Iya, Ayah mau bicara dulu sama tantenya," balasku.
"Mama, bukan Tante."
"I-ya, Mama."
Rian pun masuk ke dalam rumah, sementara aku mengajak perempuan itu untuk bicara lebih dulu, hendak memberikan ucapan terima kasih karena sudah membawa Rian pulang ke rumah. Namun yang terjadi adalah kami diselimuti keheningan, aku masih terkejut dengan apa yang terjadi dan dengan apa yang kulihat.
"Tadi saya ketemu sama anak Bapak di taman, kayanya dia bingung mau pulang. Terus tiba-tiba udah manggil saya Mama."
Perkataan perempuan itu membuat keheningan di antara kami terpecahkan, aku menatapnya yang saat ini tengah duduk di kursi sampingku, terpisah dengan meja di antara kursi yang kami tempati.
"Terima kasih dan maaf, karena anak saya membuat kamu terkejut dengan panggilan itu," balasku tidak enak hati karena Rian memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Jujur saya bingung karena baru pertama kali bertemu dengan Rian, tadi dia kasih tahu namanya sama saya."
Aku mengangguk. "Saya Bastian," ucapku mengulurkan tangan.
Dia membalas uluran tanganku, seraya tersenyum membuat aku terpaku untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya aku mendengar namanya, "Saya Karenina."
**
"Nggak mau! Mama nggak boleh pergi lagi!"
Rian menangis setelah aku mengatakan kalau Nina -begitulah nama panggilan perempuan itu- harus pulang dari rumah kami. Aku juga tidak enak pada Nina yang sejak tadi menemani Rian bahkan makan pun ingin di suapi olehnya.
"Besok Tante Nina ke sini lagi, sekarang tantenya harus pulang," kataku.
"Mama bukan Tante!" serunya tidak suka saat aku menyebut Nina dengan panggilan Tante.
"Tan--eh Mama janji besok ke sini lagi, Rian sama Ayah dulu ya," ucap Nina membujuk Rian yang saat ini memeluknya begitu erat. Benar-benar tidak mau ditinggalkan.
Butuh waktu lama untuk membujuk Rian sampai akhirnya anakku mengijinkan Nina untuk pulang, dengan syarat besok pagi Nina harus sudah berada di rumah kami karena Rian ingin pergi ke sekolah dengannya. Karena tidak mau membuat Rian kembali menangis akhirnya Nina mengiyakan apa yang Rian mau.
"Saya antar," ucapku memberikan tawaran untuk mengantarkan pulang. Aku masih tidak enak sekali karena merepotkan dirinya seperti ini, meskipun sejak tadi Nina mengatakan tidak masalah sama sekali.
"Tidak usah, Pak."
"Bastian, nggak usah pakai Pak," pintaku. Asing sekali mendengar dia menyebutku dengan embel-embel Pak, seraya aku sudah tua sekali
Meskipun memang begitu tapi tetap saja aku merasa aneh mendengarnya.
"Ah iya, Mas Tian. Tidak sopan kalau saya hanya memanggil nama saja," katanya.
Aku mengangguk membiarkan dia menyebutku begitu, lebih baik juga dari yang sebelumnya. Lalu aku mengantarkan dia sampai depan rumah, karena dia tidak mau diantar. Katanya jarak rumah dia dari rumahku cukup dekat.
"Dadah Mama!" Rian melambaikan tangannya melihat Nina yang sudah menjauh dari rumah kami.
Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Rian tentang Nina yang bukanlah Mama yang dia maksud. Meskipun wajahnya mirip dengan mendiang istriku, tetapi nyatanya Nina bukanlah Atika, bukanlah Mama Rian.
**
Paginya Rian sudah heboh karena Nina belum juga sampai di rumah kami. Aku juga tidak bisa menghubungi perempuan itu, lupa untuk meminta kontaknya dan membuat Rian menangis seperti ini.
Untuk pertama kalinya anakku menangis sampai meraung-raung karena ingin bertemu dengan Mama. Padahal. sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, membuatku kebingungan untuk menenangkannya.
Rian sudah memakai seragam sekolah, sudah selesai sarapan juga bersamaku. Tetapi dia tidak juga melihat kedatangan Nina ke rumah kami dan berakhir dengan dia yang menangis kencang seperti ini.
Aku juga tidak tahu kenapa Nina belum datang, mungkin perempuan itu tidak ingin berurusan dengan kami lagi, mungkin juga tidak suka karena Rian yabg memanggilnya dengan sebutan Mama. Semua kemungkinan itu sekarang bergelut dalam pikiranku dan entah kenapa aku juga merasa sedikit kecewa saat Nina belum juga datang ke rumah kami.
"Rian pergi sekolah dulu sama Ayah, nanti kita ketemu Mama lagi. Mama pasti lagi ada urusan, Nak. Masa jagoan Ayah nangis kaya gini sih," bujukku kembali, meski sekarang Rian sudah tidak menangis sekencang tadi, hanya isakan yang terdengar namun terasa melukai hatiku.
Bagaimana anakku ingin sekali bertemu dengan mamanya membuat aku ikut bersedih, aku kembali mengingat obrolanku dengan Nares waktu itu, tentang aku yang harus menjelaskan pada Rian tentang kepergian mamanya, tentang mendiang istriku yang sudah pergi untuk selamanya.
Apakah kali ini waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada Rian?
Saat aku tengah membujuk Rian, asisten rumah tangga kami mengatakan kalau Nina sudah datang, hal tersebut membuat Rian berbinar dan langsung berlari ke arah pintu rumah di mana Nina berada.
"Mama!"
Jantungku terasa sakit, mendengar bagaimana Rian dengan penuh rasa bahagia memanggil Mama pada Nina. Aku benar-benar menjadi Ayah yang tidak pernah mengerti betapa Rian merindukan mamanya, aku malah terus terfokuas pada rasa kehilanganku, pada rasa bersalahku tanpa menyadari bahwa bukan aku saja yang merasakan kehilangan, pun dengan Rian yang paling kehilangan sosok ibunya.
Aku seharusnya mengerti dan paham bahwa Rian membutuhkan sosok Ibu dalam hidupnya. Meskipun semuanya sudah aku berikan, kasih sayang yang tak terhingga, kebutuhan yang diperlukan oleh Rian. Namun yang paling utama Rian butuhkan adalah sosok Ibu, kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu yang selama ini belum dia rasakan.
Aku menangis dalam diam, seharusnya aku tahu bagaimana perasaan anakku yang menginginkan bertemu dengan Atika, sampai akhirnya sosok Nina sekarang yang malah menjadi Mama untuk Rian hanya karena wajah mereka mirip.
Apa yang harus aku lakukan? Membiarkan Nina masuk ke dalam hidupku? Atau membawa Rian menjauh dari Nina dan kembali terluka karena kehilangan sosok Ibu?
Mungkin sekarang saatnya, aku tidak boleh menjadi Ayah yang egois.