Rian makin dekat dengan Nina, membuatku yang melihat interaksi mereka menjadi terharu. Belum pernah aku melihat tawa Rian selebar itu kecuali saat bersama Nina seperti kali ini.
Mereka sedang bermain di halaman belakang, lebih tepatnya Nina yang dengan telaten menyuapi Rian sembari anakku bermain sepeda saat aku baru saja pulang. Bahkan keduanya belum juga menyadari keberadaanku yabg tengah memperhatikan mereka.
Aku memilih untuk mandi dan berganti pakaian, membiarkan mereka menikmati waktu berdua, khususnya Rian yang tampak sangat bahagia bersama dengan sosok ibunya sekarang, menurutnya.
Berada di kamar, aku menatap foto Atika, menciumnya penuh rasa kerinduan. Masih terasa sesak kehilangan dirinya, namun aku harus menjalani hidupku ke depan, bukan terus menatap ke belakang atas penyesalan yang telah aku lakukan pada mendiang istriku. Semuanya sudah berlalu dan aku harus bahagia, begitulah yang kudengar saat aku bicara dengan Nares juga Indira. Selain Ibu, mereka adalah dua orang yang menyadarkan aku bahwa hidupku tidak berhenti sampai di sini, aku harus semangat demi anakku.
Lalu sekarang kehadiran Nina dalam hidup kami menjadi sebuah warna baru, terkhusus untuk Rian yang pada akhirnya menemukan sosok Ibu dan menerima kasih sayang dari Nina. Sementara aku masih belum menganggapnya apa-apa, hanya orang yang membantuku memberikan kasih sayang sebagai orang tua kepada Rian.
"Kamu lihat Rian kan, Sayang. Dia lagi senang karena katanya ada Mama di sini, aku minta maaf belum kasih tahu Rian soal kamu. Jangan marah ya, Sayang."
Aku kembali mencurahkan perasaanku, merasa bersalah karena sampai detik ini aku masih belum menceritakan Atika pada Rian, sampai akhirnya Rian menganggap bahwa Nina adalah Atika karena wajah mereka yang mirip.
Aku tidak ingin membuat Rian sedih, mungkin secara perlahan aku akan memberitahu semuanya, mungkin juga aku akan meminta bantuan Nina untuk menjelaskan keadaan ini pada Rian. Bagaimana pun Rian harus tahu semuanya, tentang Ibu kandungnya yang sudah pergi untuk selamanya.
"Sayang, aku rindu."
**
Aku menghampiri Rian dan Nina yang kali ini sudah berada di dalam rumah, sepertinya Rian sudah puas bermain sembari makan disuapi oleh Nina. Keduanya berada di ruang tengah dengan beberapa mainan Rian yang sedang anakku mainkan.
"Ayah kapan pulang?" tanya Rian saat menyadari keberadaanku.
"Tadi, waktu kamu main di halaman belakang sama Tante Nina," balasku.
"Rian nggak tahu. Oh iya, Ayah kenapa Mama nggak tidur di sini sama kita? Kan kasihan kalau Mama bolak-balik, mamanya Raja sama Rija juga tinggal sama papanya."
Perkataan Rian membuat aku dan Nina saling berpandangan, aku tahu ini akan terjadi. Di mana Rian yang mempertanyakan perihal Nina yang tidak tinggal bersama kami padahal di mata Rian, gadis itu adalah ibunya.
Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Mungkinkah aku harus mengatakan pada Rian kalau Nina bukanlah ibunya dan tidak mungkin tinggal bersama kami di sini karena tidak memiliki hubungan apa pun dengan kami berdua. Apakah Rian bisa memahami di usianya yang masih terlalu kecil?
"Ayah, kok nggak di jawab?" Suara Rian kembali terdengar, membuatku tersadar akan pikiran yang rumit ini.
"Rian mandi dulu ya, minta tolong sama Bibi. Ayah mau bicara sama Tante Nina dulu," ucapku mengalihkan topik pembicaraan kami.
Rian menatap Nina yang berada di sampingnya, lalu melihat anggukan dari Nina membuat anakku menurut begitu saja. Lihat kan, bahkan sekarang anakku sendiri lebih menuruti sosok ibunya, dibandingkan dengan aku sebagai ayahnya.
Mungkin begini ketika Atika berada di antara kami, Rian juga akan menuruti perkataan dari Atika dibandingkan denganku.
Setelah Rian menaiki tangga menuju kamarnya, aku mengajak Nina untuk bicara empat mata kembali.
"Maaf kalau Rian merepotkan kamu," kataku memulai pembicaraan kami.
Kulihat Nina menggeleng. "Nggak, Mas. Aku senang kok bisa main sama Rian, dia anak yang pintar dan lucu."
Mas. Panggilan itu membuatku mengembuskan napas pelan seraya memejamkan mataku sejenak. Panggilan yang selalu Atika sematkan saat memanggilku dan di saat Nina melakukan hal yang sama, aku malah membayangkan Atika bersamaku sekarang.
Bagaimana mungkin ada dua orang yang sama persis seperti ini di saat tidak memiliki hubungan darah sama sekali? Aku masih tidak percaya dengan semua ini.
"Sepertinya saya belum tahu banyak tentang kamu. Maksudnya, selama ini kamu bolak-balik ke sini apakah tidak masalah? Kamu bekerja atau sekolah?" tanyaku.
Tempat tinggal Nina memang tidak jauh dari perumahan tempat tinggal kami. Hal tersebut membuat Nina mudah untuk datang ke rumah saat Rian meminta bertemu. Namun aku hampir lupa, mungkin saja Nina memiliki pekerjaan dan harus direpotkan dengan Rian seperti ini.
"Aku kerja, Mas. Baru kemarin mulai kerja dan aku sama sekali nggak masalah kok, jarak rumah ke sini dekat juga," jawabnya.
"Mungkin kamu kaget kenapa sampai sekarang Rian menganggap kamu itu mamanya," ucapku kembali, lalu merogoh saku celana dan mengambil dompetku.
"Ini mamanya Rian, dia udah lama meninggal," ucapku seraya mrngeluarkan foto Atika dari dalam dompetku dan menunjukkannya pada Nina.
Terlihat raut wajah Nina yang terkejut melihat foto mendiang istriku. Mungkin dia juga tidak menyangka wajahnya mirip dengan mendiang istriku.
"Pantas saja Rian manggil aku Mama," katanya setelah memperhatikan foto tersebut.
Aku mengangguk. "Iya, saya juga tidak menyangka kamu begitu mirip dengan istri saya," ucapku.
"Atika tidak memiliki saudara kembar dan mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja. Tetapi saya berterima kasih sama kamu karena menerima kehadiran Rian dan membiarkan Rian memanggil kamu dengan sebutan Mama. Dan saya juga meminta maaf atas hal tersebut, mungkin kamu merasa risih mendengarnya."
Aku terus berbicara pada Nina tanpa sedikit pun di jeda oleh gadis itu. Sepertinya dia sangat mendengarkan apa yang aku katakan, aku hanya ingin dia tahu dan tidak salah paham dengan apa yang terjadi. Karena aku tahu semua pasti membuat dia bingung dan terkejut, tiba-tiba Rian dan aku masuk ke dalam kehidupannya seperti ini.
"Kalau boleh saya meminta tolong, ijinkan Rian untuk beberapa saat memanggil kamu dengan sebutan Mama dan menganggap kamu adalah mamanya. Saya perlu waktu untuk menjelaskan semua pada Rian dan mungkin kamu juga bisa secara perlahan membantu menjelaskan, bahwa kamu bukanlah Ibu yang selama ini Rian tunggu kepulangannya," lanjutku masih menjelaskan semua pada Nina.
Aku kembali menyimpan foto Atika ke dalam dompet, sudah cukup lama fotonya berada di sana dan selalu ada bersamaku di mana pun aku berada.
"Ini semua salah saya, karena saya yang terus mengatakan kepada Rian kalau mamanya sedang bekerja jauh dan belum bisa pulang. Seharusnya sudah sejak lama saya mencoba memberikan pengertian kepada Rian tentang kepergian mamanya."
Aku kembali menyalahkan diriku sendiri, karena sejak lama masih saja menutupi semuanya dari Rian dan tidak mencoba untuk menjelaskan. Akhirnya sekarang malah seperti ini, Rian menganggap Nina sebagai ibunya yang selama ini dia nantikan kepulangannya.
"Bukan salah Mas Tian, keadaan memang belum bisa membuat Rian paham akan kepergian Ibu yang menjadi sosok paling penting dalam hidupnya. Aku yakin suatu hari nanti Rian akan mengerti."