Part 6: Tragedi di ruang OSIS

3523 Words
Sepulang sekolah Nurfa kembali berkeliling ditemani oleh John Lew dan Rifandra. Dia diajak ke lapangan sekolah, gymnasium, kolam renang sekolah dan berbagai tempat yang di pakai banyak siswa untuk kegiatan ekskul. Memang ekskul di sekolah ini paling banyak didominasi bidang olahraga. Ada juga ekskul kesenian seperti drama, tari, musik, sastra dan juga seni rupa. Ada juga kelas tambahan bahasa asing yang disediakan oleh sekolah bagi siswa yang berminat. Begitu juga kelas tambahan berbentuk vokasional seperti kelas memasak, kelas menjahit, kelas sablon dan juga kelas computer. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini sangat beragam. Berbeda dengan sekolahnya dulu yang ekskulnya dibatasi. Terutama untuk anak perempuan. Beberapa eskul olahraga tidak semuanya bisa mereka ikuti. Karena pada saat berolahraga anak perempuan bisa menunjukan aurat mereka. Maka dari itu mereka perlu guru sendiri dengan gender yang sama. Tapi di sekolah Nurfa yang dulu anak-anak perempuan justru lebih di fokuskan untuk mengikuti kegiatan bersifat keagamaan dari pada ekskul yang lain. Setelah berkeliling kesana kemari, bertanya-tanya juga untuk mencari informasi, dan juga melihat kegiatan rutin mereka secara langsung, kepala Nurfa jadi pusing. Banyak hal menarik yang bisa di lakukan. Meskipun hanya bergabung sebentar kemudian harus fokus untuk ujian. “Gimana, nih?” dia bergumam sendiri sambil mengetuk-ngetukan pensil kepipinya, “Aku kepingin gabung ekskul olahraga. Tapi juga kepingin ikut kelas bahasa asing..” “Nggak usah terlalu elu pikirin sampe segitunya, kali! Toh, loe cuma bisa ikut kegiatannya beberapa bulan aja” ujar Rifandra. “Meskipun begitu..” ujar Nurfa menghelah napas berat. “Kenapa kamu nggak milih kegiatan yang sesuai sama hobi kamu aja? Meskipun bergabung beberapa bulan kamu masih bisa berbagi hobi sama teman satu ekskul akan memperluas jaringan pertemanan kamu” saran John Lew. “Bener juga, tuh. Bukannya lo juga suka gambar manga? Kenapa nggak gabung ke ekskul seni rupa aja?” tambah Rifandra. “Waduh, gimana, ya.. justru aku malah nggak suka berbagi soal hobiku yang satu ini keorang lain” ujar Nurfa sambil menyeringai aneh. “Loh, apa salahnya, sih? Bukannya seneng kalau bisa berbagi hobi sama orang lain?” heran Rifandra. “Karena bisa aja mereka bakal bilang aku ini aneh..” tanpa sengaja Nurfa hampir saja menceritakan hal yang rawan. Kedua cowok itu memandangnya dengan tatapan ingin tahu yang luar biasa. Wajahnya memucat. Dia langsung membekap mulutnya, “Maksudnya gini, belakangan ini aku udah jarang banget gambar manga dan udah malas untuk menekuninya juga..” Alasannya janggal sekali. Tapi keduanya hanya merespon dengan respon dangkal, “Oh.. begitu, toh..” hanya itu yang keluar dari mulut mereka. Dan suasana pun jadi canggung. “Dulu Ketua juga ikut ekskul?” Nurfa pun memilih mengalihkan pembicaraan. “Iya, dulu pernah ikut ekskul basket” jawab John Lew. “Pantes aja badannya tinggi menjulang” batin Nurfa, “Sekarang Ketua sudah tidak aktif lagi?” “Iya, sejak terpilih jadi ketua OSIS. Saya hanya ikut sampai pertengahan semester di kelas dua setelah itu sibuk di OSIS” jelas John Lew. “Sorry, nyela! Nurfa, loe mau sampe kapan mau ngomong seformal itu sama John Lew?” Rifandra tampaknya risih dengan percakapan mereka berdua yang kaku ini, “loe kira dia pejabat apa yang musti lu ajak ngomong formal! Asal loe tahu aja Si Gede Bongsor ini bahkan lebih muda lima bulan dari gue, tahu! Dan berhubung dia ini isengnya nggak ketulungan kalau elo nggak berhenti dia bakal terus ngisengin elu sampai kapanpun! Emangnya lu nggak canggung apa ngomong formal terus kedia!” Saat Nurfa menatapnya John Lew memalingkan wajah dengan bahu bergetar menatah tawa. Wajah gadis itu memerah, “Aahh..” Nurfa jadi malu sekali. Dia menutup wajahnya dan merengek. “Gimana, loe udah sadar sama sifat aslinya, kan?” Tanya Rifandra, “Dia ini bener-bener puas ngerjain elo seharian dan menikmati sifat kikuk loe selama ini, loh. Untung gue kasih tahu sekarang..” “Ehmmh..” gadis ini masih mengerang, dia membuka wajahnya yang masih memerah. Matanya basah dan memerah. Bibirnya bergetar. Apa dia menangis? Yang jelas wajah itu membuat kedua laki-laki dihadapannya mati kutu. Rifandra justu malah merasa bersalah karena sudah memberitahukannya, “Nurfa, sorry, gue nggak punya maksud untuk..” Gadis itu menggeleng, “Aku yang harus minta maaf. Dari kecil jarang punya teman laki-laki seumuran. Pergaulanku selalu dibatasi entah disekolah ataupun di keluarga. Dan setiap bicara sama laki-laki aku harus berbahasa formal kecuali saat bicara dengan adik-adik laki-lakiku atau ayahku. Dan ini pertama kalinya buat aku bergaul dengan anak laki-laki seumuran..” “Kalau begitu aku juga minta maaf ya, Nurfa” ujar John Lew, “Aku nggak tahu keadaan kamu dan malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan..” dia meringis saat Rifandra menyikut lengannya. John Lew melangkah berhadapan dengan Nurfa. Dia membungkuk memandang wajah itu dari dekat, “Kamu nggak perlu sungkan bicara nonformal. Tapi mungkin agak aneh juga kalau bicara sama bahasa informal begitu aja kaya si Rifa ini. Mulai sekarang kita bicara semi fomal aja, gimana?” Nurfa mengangguk setuju. John Lew tersenyum kepadanya, tangannya yang besar hendak menepuk puncak kepala Nurfa. Mendadak gadis itu jongkong dengan reflek. “Maaf pensil saya jatuh!” Nurfa kembali berbahasa formal karena canggung. Tapi justru kedua laki-laki ini malah tertawa. “Dan yang satu ini juga bikin seru” ujar John Lew dia ikut jongkok berhadapan dengan Nurfa kembali, “Kamu juga nggak perlu berusaha memurnikan kesalah pahaman seperti ini. Di sekolah ini semua orang bisa memaklumi jika kamu punya batasan tertentu untuk menjalankan ajaran agama kamu. Tenang aja nggak akan ada yang menjauhi kamu karena hal ini, kok. Justru kita semua akan menghargai kamu..” Wajah Nurfa makin memerah. Dia kembali menutup wajahnya, “Seharian ini aku bener-bener malu-maluin, ya” “Hahahaha” John Lew malah tertawa. Rifandra jadi kesal dan menjitak puncak kepalanya. “Ternyata..” Nurfa kembali berbicara matanya yang memerah muncul disela-sela jarinya, “Ketua itu s***s, ya.” John Lew tersenyum cerah, “Terima kasih, loh, atas pujiannya..” Nurfa jadi merinding kalau ternyata dia senang. “Nggak ada yang muji elu, kali!” geram Rifandra mengunyek-unyek kepalanya. “Dan Rifa..” Nurfa lanjut berbicara, “Meskipun kamu terlalu blak-blakan kamu bicara tapi kamu orang yang perhatian seperti kata Imelda. Terima kasih, ya. kamu baiiik banget.” “Aahh..” wajah Rifa kali ini memerah seperti tomat, “Gue nggak punya maksud buat perhatian sama elo, ya! Gue ini cuma risih aja, tahu! Jangan salah paham! Sedari awal nggak ada yang perhatian sama elo, kok! Humph!” dia memalingkan muka setelah membentak begitu. “Walah walah, nggak usah tsundere begitu, deh, Rifa!” Nurfa jadi gemas. Gadis itu berdiri kemudian membalik bahu Rifa, “Kamu bikin gemes banget, deh..” dia mencubit kedua pipi Rifa. Wajah Rifa jadi memerah, “Ya ampuun.. dari deket dia ini wangi banget. Tangannya dingin..” batin Rifa. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. “Ngomong-ngomong Rifa juga bukan mahrom kamu, 'kan? Kenapa kamu megang-megang dia?” tanya John Lew. “Rifa itu belum baligh, kan?” jawab Nurfa membuat Rifa terdiam membeku. “Baligh itu apa?” John Lew yang tidak tahu menahu ini pun jadi ingin tahu. “Baligh itu kalau buat laki-laki dia sudah pernah mimpi basah atau di ‘itu’ nya sudah tumbuh bulu. Artinya udah dewasa, sudah bisa menikah dan harus menjalankan perintah agama yang wajib-wajib seperti Sholat dan sebagainya dan sebagainya..” “Ohh, begitu, ya. kalau begitu Nurfa, dia ini sebenarnya…” “Gue belum baligh, loh! Belum, kok!” mendadak Rifa menyela. “Tapi..” saat John Lew hendak membuka mulut dia melihat wajah garang Rifa yang seakan-akan berkata, “kalau lu ngomong gue bunuh loe sekarang!” John Lew pun berhenti bicara kemudian tersenyum pada Nurfa, “ya, maaf, silahkan pegang-pegang dia sepuasnya. Suatu saat kalau kamu sudah tahu.. maksudku kalau dia sudah baligh dia nggak akan kamu pegang, kan?” “Gue hajar loe!!”Rifa berkata tanpa suara. Dia juga menunjukan wajah yang jauh lebih mengerikan. “Iya, bener juga, ya.. Rifa kalau sudah baligh harus bilang, loh, ya. soalnya kita nggak boleh kontak fisik lagi kecuali kalau nanti menikah dan jadi suami istri” ujar Nurfa. “Aahh.. iya” Rifa merasa bersyukur jika Nurfa ternyata tidak peka sama sekali. Dia bahkan tidak menyadari kode yang diberikan John Lew. Dia mengapit tangan Nurfa di lengannya dengan erat dan senyum merekah, “Jemputan loe masih lama, kan? Dari pada ngobrol di sini mendingan kita ngobrol di markas aja!” “Markas?” “Ayo pergi!” Rifa menyeret tangan Nurfa sementara John Lew mengikuti mereka dari belakang. “Wah wah wah… kayanya Rifa seneng banget, deh, hari ini” batin John Lew. Rifa menarik Nurfa kesebuah ruangan khusus di dekat gudang dan jajaran etalase trophy yang di kumpulkan para siswa yang berprestasi. Di depan pintu ruangan itu terpasang plat ruang OSIS dan ada kertas pemberitahuan di bawahnya, ‘selain anggota inti OSIS harus mengetuk dulu sebelum masuk’. Rifandra merogoh sakunya kemudian membuka pintu ruangan itu. “Selamat datang di markas kita!” ujar Rifa, “silahkan masuk, jangan sungkan-sungkan.” Nurfa melangkah kedalam. Sekilas ruangan ini tampak tampak biasa-biasa saja. Ada meja besar beberapa kursi, rak buku, lemari, seperangkat komputer dan juga televisi. Di atap ruangan terpasang kipas angin baling-baling yang besar. “Silahkan duduk” John Lew menikan sebuah kursi untuk Nurfa. “Makasih, ya..” Nurfa duduk kemudian melirik rak di sebelahnya. Sebagian besar isi rak itu manga dan majalah anime. “Jangan kaget, ya. ruang OSIS ini sudah jadi tempat Rifa menimbun koleksi-koleksinya” ujar John Lew lalu mengunci ruang OSIS. “Aaahh, s****n! Siapa yang naruh majalah weekly jump gue diatas!!?” Rifa mengomel karena tidak bisa mengambilnya. “Ya, siapa lagi kalau bukan si Aldi. Dia bahkan naruh majalah *biib* loe lebih atas lagi..” Nurfa kaget mendengar judul majalah yang disensor tadi. Dia tahu bahwa majalah itu isinya apa dan ternyata di baca diruang OSIS ini. “Cih, lagi-lagi dia! Gue sumpahin moga-moga aja sakit usus buntunya makin parah” geram Rifa. “Udah, kasihan dia lu sumpahin begitu. Nih, gue ambilin..” John Lew meraih buku di rak sementara Rifa masih ada dihadapannya. Situasinya seperti adegan romantis di shoujo manga saat heroinnya tidak bisa ngambil buku dan ada cowok populer yang mengambil buku itu dari bekalang sehingga d**a Si Cowok menyentuh punggung gadis itu. Adegan manis ini membuat jantung Nurfa berdegub kencang. Nurfa pun tak bisa mengendalikan wajah gembiranya. Hingga kedua cowok itu memergokinya. Nurfa menyeringai aneh saat kedua laki-laki itu menatapnya curiga. “Ngomong-ngomong loe pernah buat manga?” tanya Rifa pada Nurfa. “Pernah, sih” jawab Nurfa. “Wah keren. Apa pernah diterbitin juga?” “Ehmm.. nggak diterbitin di penerbit, sih. Cuma terbitan sendiri dan jumlahnya nggak banyak” ujar Nurfa. “Ooh, doujinshi, ya? Loe nerbitin doujinshi?” “Iya, begitulah” “Siapa aja yang beli?” “Ya, Cuma beberapa komunitas pecinta komik aja, sih..” Disaat Rifa dan Nurfa mengobrol John Lew duduk di bangku dekat televisi kemudian mulai membuka map yang menumpuk di meja. Dia mengambil bolpoint di tasnya dan mulai mengerjakan pekerjaan OSIS-nya. “Ngomong-ngomong dari awal gue agak curiga. Apa loe itu sebenernya..?” Nurfa menelan ludahnya. Rifa berjalan kedekat John Lew kemudian memeluk John Lew dari belakang, “Loe suka yang kaya beginian, kan?” “Hah?” John Lew yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya jadi kaget sekaligus bingung. “Kyaaahh!” Nurfa spontan menjerit. Wajahnya memerah. Dia memalingkan wajahnya dan tangannya melambai, “enggak kok! Aku nggak suka yang kaya begitu!” sanggah Nurfa. “Oh, mungkin yang kaya begini terlalu biasa, ya. Kalau begini gimana?” Rifa duduk dipangkuan Jonh Lew. Satu tangannya merangkul bahu lebar John Lew. Satunya menaikan dagu John Lew sehingga wajah mereka berdekatan. “Kyaaaaahhh!!” Nurfa mendadak heboh sampai beranjak dari kursi. Dia mencoba kabur tapi dia ingat jika John Lew barusan mengunci pintunya. “Hahahaha, sedari awal gue udah curiga, ID name Anoo Hana itu aja udah mencurigakan. Bukannya itu pen name loe di doujinshi karya loe, kan? Dan setahu gue Anoo Hana itu author komik BL yang cukup terkenal! Belum lagi muka girang loe waktu ngelihat gue deket sama John Lew! Nggak salah lagi. Loe itu fujoshi, kan!!” Rifa begitu bersemangat mengacungkan telunjuknya pada Nurfa. Gadis itu diam dengan tubuh bergetar. Dia menutup mulutnya. Matanya dibanjiri air mata. Dia menangis tersedu-sedu. “Ehh.. Nurfa. Kenapa..?” “Huwaaaaa!” tangisannya meledak. tubuhnya terhempas hingga dia bersimpuh di lantai. “Nah loh, kayanya loe udah kebangetan, deh, Ri” ujar John Lew. “Nurfaa!” Rifa dan John Lew menghampiri gadis itu. Nurfa menangis terisak-isak sambil memeluk lututnya. Rifa meraih kedua bahunya dan mengguncang-guncangnya, “Maaf, gue nggak bermaksud bikin loe nangis, Nurfa.. maafin gue..” “Huu.. hiks.. apa kalian juga mau aku dikeluarin dari sekolah ini..? Aku.. harus gimana..? Kalau sekolah ini ngeluarin aku juga.. Aku harus gimana…huhuuu.” “Di keluarin dari sekolah? Loe ngomong apa, sih?” heran Rifa. “Se-sekolahku.. dulu.. ngeluarin aku karena aku ini fujoshi..” “Hah?” kedua laki-laki cukup kaget dengan fakta tersebut. Nurfa kembali teringat dengan trauma yang masih membekas diingatannya. Dia kembali mendengar suara gunjingan orang-orang, ceramah-seramah yang menyakiti perasaannya, juga bagaimana seseorang memandangnya dengan tatapan jijik. Hatinya terluka kembali. Dengan berderai air mata gadis itu pun menceritakan semuanya kepada mereka. Luka yang dia rasakan dulu kali ini perih kembali. Rasa takut yang menyelubunginya membuat tubuhnya lemas. Dia kembali merasa hampa. Sementara kedua laki-laki yang mendengarnya masih merasa tidak percaya meskipun hanya diam menatapnya. Rifandra merangkul gadis itu kemudian mengelus lengannya, “Nurfa, loe harus tenang. Loe nggak salah, kok. Loe nggak usah cemas, hal seperti itu nggak akan terulang lagi disini. Percaya, deh” “Sekolah ini juga punya reputasi bagus, kan. Peraturannya juga ketat” Nurfa masih menyangkalnya, “Pasti suatu saat..” “Kalau tahu pun nggak akan ada juga yang berani berbuat sekejam itu sama loe. Kalau ada pun bakal gue hajar entah guru sekalipun gue juga nggak takut” ujar Rifa. “Nurfa, memang sekolah manapun punya hobi aneh dan bawa benda-benda v****r itu nggak boleh. Tapi yang terpenting itu jangan sampai ketahuan guru atau musuh aja” jelas John Lew, “Disini juga sering, sih, ada kejadian seperti itu. Tapi guru-guru mungkin hanya menyita barang bukti aja. Dan ngancem bakal manggil orang tua. Tapi meskipun begitu mereka juga nggak akan berbuat apapun kalau yang terciduk itu siswa berprestasi, aktif di organisasi siswa atau putri donator tetap..” ujar John Lew tersenyum santai sementara Nurfa melotot kepadanya saat dia mengatakan kata-kata yang terakhir itu, “Kalau kamu termasuk salah satunya kamu nggak perlu panik. Seperti contohnya si Rifa ini..” John Lew beranjak mengambil kardus besar yang ada dilemari kemudian menggulingkannya hingga isinya keluar semua. Nurfa kaget sekali melihat isi kardus yang berceceran dihadapannya. Ada banyak majalah anime dewasa dengan gambar gadis berbaju seksi, berdada super dan di cover depannya ada tulisan ‘Punya Rifa’ besar sekali. “Rifa bahkan mindahin semua koleksinya kesekolah agar nggak ketahuan orang tuanya. Karena memang nggak ada yang berani buat negur dia lagi di sekolah..” “John Lew, udah sinting lu, ya? Bosen hidup loe!!” Rifa naik pitam dan menyiapkan kepalan tinjunya. John Lew mengambil sebuah majalah untuk menjadi tamengnya, “Silahkan pukul gue! Gue banjiri dia dengan darah gue nanti!” “Hei, loe mau mati, ya! Berani-beraninya loe ngambil edisi spesial buat dijadiin sandra! Dasar cemen loe!” mereka pun jadi kejar-kejaran kesana kemari. Nurfa mengambil sebuah majalah yang berserakan dimeja. Dia pandanginya dan dia membaca isinya kemudian tertawa sembari nenitikan air mata. Air matanya masih tak henti-hentinya mengalir hingga kedua anak laki-laki itu berhenti kejar-kejaran. Rifa mengusap punggung bergetar gadis itu. Gadis ini tak pernah mengerti mengapa orang-orang bisa melihatnya seperti orang yang telah melakukan dosa besar yang tak bisa di ampuni. Selama ini dia berpikir apa yang benar-benar dia sukai memang dibenci oleh agama. Dia berpikir jika dia tak memiliki moral. Namun, lain ceritanya saat dia bergaul dengan kedua anak laki-laki ini. Dia tahu betapa mesumnya menunjukan majalah dewasa pada seorang gadis perawan seperti dirinya. Tapi anehnya entah kenapa Nurfa merasakan kehangatan menyulubungi dadanya. Dia merasa tenang. Ada orang yang masih menerimanya meskipun seberapa buruk dirinya. Perlahan dia mengusap air matanya dan mulai bernapas dengan stabil, “Nggak banyak yang bisa aku sampaikan, tapi terima kasih banyak. Beban di kepalaku rasanya sedikit enteng” ujar Nurfa tersenyum kepada mereka berdua. Tiba-tiba lagu Cristal Time pun bermain. Nurfa mengambil ponsel disakunya dan menjawab panggilan di teleponnya. “Halo.. iya.. iya..” gadis itu mulai berbicara dengan orang yang ada di telepon, “Oh, gitu.. tunggu sebentar nanti aku kesana, iya..” dia buru-buru mengambil cermin di tasnya kemudian mengaca. Dia kembali bernapas berat. Setelah menutup telepon dia mengambil tas kecil tempatnya menyimpan peralatan make up. “Jemputan loe udah dateng, ya?” Tanya Rifa. “Iya, kalau sampai ayahku lihat mukaku yang sembab kaya begini dia bakalan heboh. Makanya..” Nurfa mulai memperbaiki wajahnya. “Udah sore juga, ya.. lebih baik kita cepet beres-beres. Rifa, tolong beresin, ya” ujar John Lew menunjuk majalahnya yang berserakan. “Cih, nggak sudi gue. Lo yang berantakin kenapa gue yang harus ngerapihin?!” “Kalau loe nggak mau, ya, udah.. gue bakal bawa semuanya pulang..” “Oke, gue beresin!” Rifa pun mengalah dengan mudahnya dan membuat teman-temannya tertawa. Di depan gerbang sekolah ayah Nurfa menunggu putrinya dengan tangan berkeringat. Sudah banyak anak-anak yang keluar dari gerbang sekolah bersama dengan teman-temannya. Banyak hal yang dikhawatirkan pria ini saat dia melihat satu persatu anak yang keluar dari gerbang sekolah itu. dia kembali mengingat putrinya yang berlari kearahnya sambil menangis tersedu-sedu, seorang guru muncul setelahnya dan mengadukan kelakukan buruk putrinya. Dia begitu cemas. Apakah di lingkungan yang berbeda jauh dengan lingkungan sekolah sebelumnya dia bisa beradaptasi dengan baik? Apa dia bisa mendapatkan teman di tempat ini. Beberapa saat putrinya muncul. Gadis manis itu tersenyum cerah melambaikan tangan menyapanya. Senyuman putri tercintanya mulai meredam sebagian kecemasannya. Dia membalas senyum itu dan melambaikan tangannya selama gadis itu berjalan hingga sampai di hadapannya. Dia mengusap kepala putri kesayangannya itu. Banyak kata yang bisa dia sampaikan saat ini. Namun, dia tak ingin merusak senyuman ceria gadis itu lagi. Dirangkulnya gadis itu, “Ayo pulang” dia berkata demikian. Gadis itu mengangguk dengan bersemangat. Saat dia membuka pintu mobil. Sayup-sayup dia mendengar suara seseorang memanggil putrinya. “Hai, Nurfa!” Dan betapa kagetnya dia ternyata yang menghampiri mereka adalah dua siswa laki-laki. Mereka berdua berboncengan di sepeda motor. Mereka sudah rapi memakai jaket, menenteng tas punggung mereka, tidak lupa memakai sarung tangan dan helm. Kadua anak laki-laki itu melepas helm mereka saat menyadari keberadaannya kemudian menunduk menyapanya. “Masya Allah, anak SMA sekarang cakep-cakep juga” batin si ayah dalam hati. “Abi, kenalin ini teman-teman sekelas Nurfa, John Lew dan Rifandra” putrinya pun mengenalkan mereka berdua. Kedua pemuda itu mencium tangannya. “Salam kenal, Om, saya John Lew” sapa pemuda berambut pirang. “Salam kenal, Om, Saya Rifa” sapa yang berambut hitam. “Iya, salam kenal..” “Oh, ya, Nurfa. Kamu lupa membawa formulir pendaftaran ekskul kamu” John Lew memberikan selembar kertas yang dia pegang sembari memegang setir sepeda motornya. Kertasnya sudah agak lecek. Nurfa menerimanya kemudian menyimpannya di dalam sela-sela buku catatannya. “Makasih, ya..” ucap Nurfa. “Besok masih sekolah, loh, ya!” tambah Rifa. “Iya iya..” Nurfa menyahuti dengan pura-pura sinis, “Oohh, kalian selama ini berangkat dan pulang bareng, ya? Mesra benget!” canda Nurfa. “Mesra katanya? Nih, kalau kita begini baru mesra, nih!” ujar Rifa melingkarkan tangannya kepinggang John Lew erat-erat. Nurfa tertawa terbahak-bahak melihatnya. “Sepeda motornya Rifa lagi di servis, sekarang kita mau langsung ketempat servisnya” jelas John Lew. “Oh, iya. Besok ada materi IPA yang ngerjain soalnya lewat e-book. Loe nggak musti ngumpulin PR-nya juga, sih. Tapi gue minta e-mail lu sekalian, dong. Nomor hape juga, ID Line, biar gue bisa masukin elu ke grup kelas..” ujar Rifa. “Siap!” Nurfa mengeluarkan poselnya. Meskipun sudah akrab sekali ternyata seharian ini mereka juga belum saling bertukar nomor. Melihat Rifa dan Nurfa yang saling bertukar nomor dia juga mengeluarkan ponsel. “Sekalian aku juga, ya” dia juga ikut nimbrung, “Walaupun nggak ada urusannya sama sama kelas, sih..” “Oke, Ketua..” sambil tertua dia dan John Lew juga saling bertukar nomor. “Kalau John Lew ngechat cuma karena kepingin nyontek loe harus langsung telepon gue. Biar gue jewer!” ujar Rifa membuat Nurfa tertawa. “Iya, bakal aku inget, kok” ujar Nurfa tersenyum. “Oke, kalau begitu sampai jumpa besok. Kita pamit, Om” John Lew dan Rifa mengangguk bersamaan. “Iya, hati-hati, ya, Nak” ucap ayah Nurfa. Kedua anak laki-laki itu kembali memasang helm mereka. Setelah menstater sepeda motornya John Lew masih mengangguk memberi salam hingga mereka pergi. Ayah dan anak itu masih memandang kearah mereka meskipun mereka sudah jauh. Ayah Nurfa mulai menggoda putrinya. “Katanya cogan berbahaya. Tapi malah temenan sama cogan” bisiknya pada Nurfa. “Udah, deh, Abi! Ayo pulang!” Ayahnya tak henti-hentinya tertawa mengamati wajah cemberut putrinya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD