Setelah bel jam istirahat kedua ini Nurfa tidak mendengar suara Adzan Dhuhur seperti biasanya. Berbeda sekali dengan sekolahnya yang dulu. Jam segini semua siswa berbondong-bondong mengikuti kegiatan Sholat Dhuhur berjama’ah di masjid sekolah. Meskipun begitu gadis ini tetap menyiapkan alat sholatnya.
Dia menghampiri John Lew yang sedang membereskan buku dan alat tulisnya dimeja sambil mengobrol dengan Rifandra.
“Emm.. permisi..” Nurfa sendiri masih sungkan berhadapan dengan John Lew.
“Hai, Nurfa” John Lew menyapanya dengan senyuman.
“Saya tidak bermaksud buat merepotkan Ketua lagi. Tapi waktu saya mau tanya tempat sholat anak-anak disekitar saya sudah pergi duluan. Jadi apa Ketua bisa menunjukan dimana tempat Sholat seperti Masjid atau Musholla. Karena sekarang sudah waktunya buat sholat Dhuhur.”
John Lew langsung tersenyum ramah, “Baik, saya antarkan kamu ke musholla. Rifa boleh ikut juga?” Tanya John Lew.
“Boleh!” Nurfa begitu berbinar-binar dengan tawaran itu.
Mereka bertiga jalan berbarengan. John Lew dan Rifandra berjalan di depan sementara Nurfa di belakang mereka terus mengamati dengan wajah berbunga-bunga. Gadis ini tak tahu jika kedua cowok ini mengamatinya dan tenggelam dalam fantasi fujoshinya.
“Oh, iya.. habis istirahat kedua ini nggak akan ada pelajaran. Kita cuma masuk terus berdoa terus bel pulang, deh” Rifandra memulai percakapan.
“Bukannya sekolah ini full day, ya?” tanya Nurfa.
“Full day, sih. Tapi buat anak pindahan kaya loe yang nggak gabung ekskul atau OSIS, langsung pulang aja juga nggak masalah. Karena setelah jam istirahat kedua khusus kegiatan ekstrakurikuler” jelas Rifandra.
“Bukannya kelas tiga biasanya ada kelas tambahan untuk persiapan UN, ya?” Tanya Nurfa.
“Sekolah kita barus mulai kelas tambahannya tiga bulan sebelum UN. Tapi banyak siswa yang lebih milih ikut kelas persiapan UN di LBB, sih, dari pada nungguin yang di sekolah” ujar Rifandra, “loe sendiri gimana? Habis istirahat kedua ini apa mau langsung pulang atau nongkrong bareng gue?” Rifandra kembali memberi tawaran.
Nurfa sudah terbiasa pulang sore karena ikut kegiatan ekskul. Dan sebelumnya ayahnya berpesan kalau akan menjemputnya lebih sore. Tapi nongkrong bareng Rifandra membuatnya berpikir kembali. Karena pastinya bakal banyak anak laki-laki berkerumun dan membuatnya tidak nyaman sama sekali. Kali ini dia merasa cogan bule s***s ini bisa membantunya.
“Kalau aku, sih, kepingin lihat-lihat ekskul di sekolah ini” ujar Nurfa.
“Hah, loe kepingin gabung ekskul meskipun udah kelas tiga?” tanya Rifandra.
Nurfa mengangguk, “Langsung pulang karena nggak ada kegiatan apa-apa rasanya agak gimana, gitu..”
“Kalau begitu tugas saya yang mengantar kamu, Nurfa” ujar John Lew.
“I..iya..” Nurfa kembali gugup.
“Yaahh.. Nurfa!” Rifandra tampak kecewa.
“Kamu ikut juga, dong, temenin aku keliling-keliling!” Nurfa malah yang mengajaknya dan kali ini Rifandra kaget karena Nurfa menyentuh bahunya.
“Oke, deh..” Rifandra masih saja bingung dengan gadis ini.
Mereka pun sampai di Musholla. Nurfa agak menghelah napas melihat keadaan musholla sekolah ini. Tempat wudhunya campur untuk laki-laki dan perempuan. Tempatnya juga cukup terbuka bagi perempuan berhijab untuk wudhu. Saat Nurfa melepas jilbab dan berwudhu pasti akan dilihat banyak orang. Bahkan lantainya kotor dan tidak ada sandal. Meskipun begitu gadis ini sudah mempersiapkan semuanya. Dia mengeluarkan sandal dan memakainya setelah menaruh sepatunya dirak. Dia juga memasang selambu ditempat wudhu untuk menutupinya saat berwudhu. Dia juga berpesan kepada kedua orang yang mengantarnya.
“Kalian tunggu disini, ya. Jangan sampai ada cowok yang nerobos masuk” pesannya lalu dia menutup selambu dan berwudhu. Lima menit setelahnya Nurfa langsung membereskan selambu itu dan masuk kedalam musholla. Hanya dia sendirian disana. Saat dia memakai mukenah dia melihat kedua cowok itu masih didepan Musholla menunggunya. Dia segera menghampiri mereka.
“Eh, maaf baru bilang, kalian boleh pergi sekarang. Makasih banget!” ucapnya.
“Saya akan menunggu, kok” ujar John Lew, “Tempat ini agak sepi dan banyak laporan kalau tempat ini sering dipakai anak-anak untuk merokok diam-diam jadi lebih baik ada yang mengawasi kamu dari pada ada kenapa-napa.”
“Oh, gitu, ya.. kalau begitu kalian tunggu didalam aja” ujar Nurfa.
“Bukannya orang nonmuslim nggak boleh masuk tempat ibadah orang muslim, ya?” tanya John Lew.
“Boleh, kok, siapa bilang?” ujar Nurfa tersenyum.
“Terus, kamu nggak ada niat buat ngajak anak ini sholat, ya? Dia ini beragama Islam, loh” tanya John Lew menunjuk Rifandra yang cuek bermain game di ponselnya.
“Cih..nih anak rese banget..” gerutu Rifandra.
“Ketua, jangan begitu” teguran Nurfa justru membuat kedua laki-laki ini heran, “Kalau mau mengajak orang supaya beribadah kita tidak boleh memaksa. Karena Sholat juga harus memiliki niat dan niat beribadah karena terpaksa juga tidak akan diterima sama Allah” penjelasan gadis ini membuat keduanya terdiam.
“Sebelum masuk tolong cuci kaki di tempat wudhu dulu, ya. Kalian bisa pakai sandal saya” Nurfa segera masuk untuk menunaikan ibadah sholat.
Saat gadis itu sholat keduanya sama-sama melikir satu sama lain.
“Loe mau masuk?” Tanya John Lew para Rifandra.
“Gue disini aja” ujar Rifandra.
“Oke, gue juga nunggu disini.”
Mereka bersandar di depan Musholla. Kedua memperhatikan Nurfa yang sedang Sholat dari kaca Musholla.
“Aneh, deh. Bisa aja gue salah. Tapi gue ngerasa Nurfa itu berbeda dari pada anak-anak muslim religius yang biasa gue temui” ujar John Lew.
“Ya, dia memang beda, sih. Karena kebanyakan yang berpenampilan kaya dia ini, ya.. yang biasa gue temui.. udah fanatik garis keras, merasa dia mahluk paling bener sedunia. Tapi dia justru nggak mau ngebuat orang salah paham meskipun, ya.. dia tahu itu nggak boleh di lakukan orang lain. Contohnya waktu anak cowok yang ngedeketin dia. Emang nggak salah juga dia menghindari cowok itu karena bersentuhan sama laki-laki bukan mahrom itu dosa. Tapi dia malah cari alasan ngambil barangnya yang jatuh. Toh semuanya juga tahu alasan dia menghindar. Tapi dia nggak kepingin semua orang berpikir kalau dia memang menjaga jarak. Dia tetap kepingin dekat sama semuanya tanpa orang lain harus berpikir kalau dia itu cewek alim yang nggak boleh sembarangan dideketin” jelas Rifandra.
John Lew terdiam mendengar penjelasan Rifandra hingga akhinya tertawa, “Oh, jadi gitu alasannya ngejaga jarak waktu gue minta dia jalan di sebelah gue. Waktu itu dia bilang tempat dia berdiri itu lebih dingin. Dan wajahnya yang gugup tanpa alasan itu bener-bener lucu..”
“Ya, gue heran kenapa dia gugup sama elu? Yah, apa dia juga cewek biasa juga, ya? Yang dengan mudah jatuh hati karena muka sampah loe itu?” ejek Rifandra, “Bahkan loe ngebiarin dia manggil elo Ketua! Buset! Padahal anak-anak satu sekolah aja nggak pernah manggil elo Ketua meskipun elo Ketua OSIS sekalipun!”
“Gue biarin aja, sih. Dia juga ngomong formal banget kegue dan entah kenapa rasanya merinding tapi menarik..”
“Ssstt! Jangan keras-keras! Dia bakal jijay banget sama elo kalau sampai tahu elo itu aneh! Gue nggak bakal tanggung jawab atau pun bantuin elo!”
“Iya.. iya.. loe sewot mulu dari tadi..” John Lew dan Rifandra kembali main colek-colekan yang tanpa sengaja Nurfa lewatkan.
Setelah Sholat Dhuhur Nurfa berdzikir dahulu kemudian berdo'a. Di saat seperti ini memang memakan waktu yang cukup lama dibandingkan sholat anak SMA pada umumnya yang setelah salam langsung go out. Kedua laki-laki yang menunggunya pun cukup gerah mengetuk-ngetuk kaki mereka ketanah. Karena Nurfa sudah berada di dalam selama lima belas menit.
“Lama, ya, bro.. masa dia belum selesai sholatnya?” heran Rifandra.
“Dia masih duduk, tuh” kata John Lew setelah melongok dari kaca jendela Musholla.
“Seharian ini dia juga belum makan? Emang dia nggak laper, apa? Sepuluh menit lagi istirahatnya udah mau selesai” ujar Rifandra.
“Iya, juga, ya” John Lew juga merasa khwatir.
“Kalau gitu gue bakal masuk” Rifandra langsung mencopot sepatunya dan memakai sandal Nurfa untuk cuci kaki, “Lo tunggu disini” ujar Rifandra pada John Lew.
Rifandra masuk kedalam Musholla setelah mencuci kaki saat dia mendekat dia melihat Nurfa sedang serius membaca Al-Qur’an tanpa suara dan hanya merapalnya saja. Keseriusan itu membuat Rifandra enggan menggangunya. Dia duduk memperhatikan Nurfa yang belum menyadari keberadaanya. Beberapa lama merapal dan membalik halaman, Nurfa menutup Al-Qur’annya dan membaca ta’awudz dengan tartil yang sangat merdu. Rifandra langsung diam membuka lebar matanya. Begitupun John Lew yang langsung melongokkan kepalanya kedalam Musholla. Dia melihat temannya terpaku mendengarkan Nurfa bersuara. Gadis ini membaca bismillah dan membaca beberapa surat dengan tartil merdunya. Suaranya tidak keras. Hanya terdengar diruanganan itu saja. Dia melatunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan makhroj dan hukum tajwid yang sempurna. Suara cengkokan merdu tartilnya saat membacakan bacaan yang dibaca panjang membuat orang yang tidak pernah menyentuh Al-Qur’an pun merasa menikmatinya. Dia hanya membawa tiga ayat awalan surat Al-Qoshosh hingga dia menyadari keberadaan Rifandra yang melongo di sisinya. Dia langsung mengakhiri bacaannya.
“Shodaqallaaaaahul adziiiiiimm..”
Gadis itu berdeham sejenak lalu berdo'a, do'a selesai membaca Al-Qur’an kemudian mengajak bicara Rifandra.
“Kok, kamu masih disini?” tanyanya, dia melirik keluar dan melihat John Lew disana, “Kenapa kalian nggak istirahat?”
“Kita udah bilang bakal nungguin elo, kan? Loe sendiri nggak laper, apa? Sedari pagi loe belum makan, 'kan?”
Nurfa mengingat kalau dia sudah habis dua potong kue saat diruang kepala sekolah tadi pagi. Tapi siang ini dia juga lapar.
“Ya sudah, aku beres-beres dulu, ya” gadis itu melipat alat sholatnya kemudian ikut pergi bersama dengan Rifandra.
“Kamu tadi membaca Al-Qur’an, ya?” tanya John Lew, “Saya baru pertama kali dengar orang membaca Al-Qur’an sebagus itu” dia juga memuji.
“Dia tadi lagi ngapalin Al-Qur’an, tahu. Makanya lama” jelas Rifandra.
“Maaf, aku kira kalian udah pada pergi” dia kembali menghaturkan maafnya.
“Nggak papa, kalau gini gue percaya kalau loe bener-bener anak madrasah! Dulu loe juga ikut klub Tahfidz Qur’an, ya! loe udah hapal Al-Qur’an, dong!”
“Belum, sih. Baru 27 juz. Masih kurang 3 juz lagi” ujar Nurfa.
“Ya, itu hebat banget dibanding gue yang cuma hapal halaman depan sama halaman belakang, doang (maksudnya hanya hapal Al-Fatiha lalu An-Nasyr sampai An-Nas)..Hehehe” ujar Rifanda.
“Itu sih anak TK juga hapal” sahut Nurfa tertawa sambil mengikat tali sepatunya.
Mereka pun melanjutkan mengobrol selagi berjalan kekantin.
“Kalau nggak salah waktu perkenalan di kelas tadi hobi loe bertolak belakang banget sama ekskul yang loe ikuti di sekolah dulu. Kaum Wibu bukannya nggak seberapa suka kegiatan begitu” ujar Rifandra.
“Ah, masa paling beberapa aja termasuk Rifa” sangkal Nurfa tertawa, “Di sekolahku dulu ekskul Tahfidz itu termasuk ekskul wajib, sih. Selalu ada kegiatan Tahfidz Qur’an untuk semua siswa setiap hari Jum’at. Dan untuk beberapa anak yang memang bagus bacaannya dan banyak hapalannya akan dijadikan anggota. Dan banyak keuntungan juga yang bisa di peroleh kalau kita jadi anggota Tahfidz Qur’an. Kalau menang kompetisi tingkat nasional hadiahnya Umroh gratis untuk empat orang, loh. Aku sendiri udah dapet dua kali” Nurfa begitu bangga memamerkannya.
“Keren, serius?!” Rifandra kagum.
“Iya, yang keren lagi kalau bisa hapal 30 juz, beberapa Universitas di Indonesia entah swasta atau negeri yang nerima kita jadi mahasiswanya bisa ngasih beasiswa penuh sampai kita lulus” jelas Nurfa, “Udah banyak kakak kelasku yang anggota ekskul dapet beasiswa. Makanya tinggal tiga juz lagi aku musti berusaha..”
“Hahaha..” mendadak saja John Lew tertawa, “aduh, beasiswa, ya.. padahal..”
“Aaah! Kira-kira disini ada Ekskul Tahfidz nggak, ya?!” gadis itu mengalihkan pembicaraan lagi. Dia menatap John Lew lekat-lekat. Wajahnya memelas meminta John Lew tidak buka mulut soal rahasianya di hadapan Rifandra. John Lew menjawab dengan tersenyum mencurigakan.
“Maaf, ya.. ekskul seperti itu tidak ada di sekolah kita. Kalau ekskul yang berbasis keagamaan memang banyak. tapi sebagian besar kegiatannya hanya kegiatan sosial saja” jelas John Lew.
“Gitu, ya.. hehehe. Sudah pasti nggak ada, ya. Mana mungkin..” Nurfa cukup lega saat ini John Lew merahasiakan status sosialnya.
“Ya, apa, sih, yang ada di sekolah ini. Semuanya ngebosenin. Ekskul Wibu juga nggak ada di sekolah ini” ujar Rifandra.
“Dimana-mana juga nggak ada, Rifa… Memang sih kalau di anime ada..” John Lew langsung menimpali saat Rifandra akan buka mulut lagi.
“Kalian sendiri juga ikut ekskul?” Tanya Nurfa.
“Kalau gue, sih, nggak ikut ekskul apa-apa. Dari kelas satu sampai kelas tiga gue selalu di tunjuk jadi ketua kelas jadi sehari-hari juga sibuk. Belum lagi kerjaan sebagai bendahara OSIS yang juga seabrek-abrek” jelas Rifandra.
“Jadi kamu anggota OSIS juga?” Nurfa cukup heran ternyata Si Cowok imut ini juga bisa diandalkan padahal banyak guru yang tidak suka dengan sikap angkuhnya ini.
“Ya, intinya keahlian Rifa dalam Microsoft Exel itu sudah diakui sejak dulu. Dia sudah jadi bendahara OSIS sejak kelas satu. Kita juga perlu anak yang tegas untuk memegang keuangan. Karena banyak juga anggota ekskul yang suka seenaknya minta dana untuk hal yang nggak berguna tanpa ada proposal yang jelas atau pengantar dari guru pembimbing dan hal itu membuat keuangan OSIS kacau. Tapi kalau yang megang uang Rifa, nggak akan ada yang berani seenaknya, 'kan. Bahkan guru sekalipun sungkan buat minta uang ke OSIS. Selain itu Rifa ini juga jujur dan terbuka soal keuangan” jelas ketua OSIS.
“Nggak nyangka, ya, ternyata Rifa keren juga” Nurfa jadi kagum.
Wajah Rifa memerah, dia menggosok-gosok hidungnya, “Isa ae, lu!” dia tampak sangat senang.
“Nah, kita sudah sampai kantinnya” ujar John Lew.
Kantin sekolah ini cukup luas seperti restoran. Ada banyak stan yang menjual makanan dan minuman. Ada juga cemilan berupa jajan pasar dan juga macam-macam desert yang dipajang di etalase khusus. Termasuk red velvet cake yang Nurfa makan saat diruang Kepala Sekolah. Tapi tempat ini tidak ada penjaga kantinnya. Hanya ibu-ibu yang mengantarkan makanan yang sudah di pesan. Dan juga yang membuat Nurfa heran para siswa tidak membayar makananya pakai uang. Setelah makan mereka langsung pergi.
“Mereka, kok, nggak bayar dulu?” bisik Nurfa.
“Sudar bayar, kok, disitu” Rifandra menunjuk tempat yang berjajar mesin kotak seperti ATM. Mereka memasukan kartu lalu menekan pilihan pada layar sentuh di mesin itu kemudian menunggu bill dan kartu mereka keluar.
“Kalau mau beli makanan dikantin harus pakai kartu khusus yang sudah diisi saldo sebelumnya” ujar Rifa, “tapi makanan disini mahal-mahal. Ada warung dibelakang sekolah yang lebih murah” bisik Rifa.
“Oh iya!” John Lew barusan teringat, “Saya lupa kalau kamu masih tidak punya kartu makan. Bagaimana kalau..”
“Saya yang traktir dulu.”
“Gue traktir dulu.”
Kedua laki-laki itu bicara bersamaan. Mereka saling berpandangan kemudian meminta Nurfa untuk memutuskan.
“Duh, nggak usah repot-repot. Saya bisa makan dirumah…”
Kryuuu.. bunyi perut Nurfa begitu nyaring hingga membuatnya malu.
“Udah, deh. Sekarang loe pilih gue traktir atau John Lew yang traktir” Rifandra mulai mendesaknya.
“Haduh..” gerutu Nurfa dalam hati. Nurfa jadi pusing, “Emangnya ini otome game apa!?” batinnya.
Gadis itu menunjuk sambil bergumam, “Cap cip cup belalang kuncup.. blablabla bala bala” dan yang terpilih disaat terakhir adalah John Lew.
John Lew tertawa saat telunjuk Nurfa berakhir padanya. Tawanya yang mencurigakan itu membuat Nurfa menyesal, “Seharusnya aku pilih Rifa aja yang sedari tadi akrab!” penyesalan pun datang terakhir.
“Kamu mau makan apa?” Tanya John Lew.
“Emm..” Nurfa melihat banner yang menuliskan macam-macam daftar menu yang ada di kantin, “Nasi pecel lauknya telor bali sama ayam bumbu rujak. Minumnya es jeruk manis. Jangan lupa pakai rempeyek udang juga, ya. sama sambel terasi” Nurfa juga tak tanggung-tanggung memesannya.
“Kalau gue Nasi Padang pakai gulai ikan peda, tambah perkedel sama rendang dagingnya dobel. Minumnya es kelapa muda” Rifa juga memesan.
John Lew menghelah napas kemudian memandang Rifa dingin, “elo, pesen sendiri, ya” dia meninggalkan Rifandra begitu saja.
“Hei, s****n, loe! Dasar pelit!”
“Elo 'kan punya duit buat traktir dia. Masa gue juga harus traktir elo” ujar John Lew berbicara sambil memperlihatkan punggungnya. Kemudian dia menoleh, “Oh, iya Nurfa” tak lupa juga memasang senyuman, “Kamu cari tempat duduk, ya..”
“Iya” jawab Nurfa.
“Hei, John Lew! Tunggu!” Rifandra mengejar temannya yang sudah jalan duluan.
Nurfa melongok kesana kemari hingga akhirnya dia menemukan meja kosong. Dia duduk disana untuk menunggu. Tak lama John Lew dan Rifandra sudah selesai memesan lewan mesin ATM itu. Nurfa segera melambai pada mereka dan kedua cowok itu langsung menghampirinya.
“Boleh lihat bill-nya, ketua?” dia meminta langsung tanpa basa-basi.
John Lew juga langsung memberikannya. Saat melihat hanya menu yang dia pesan, Nurfa menghelah napas berat, “memang mahal, ya. Padahal disekolahku dulu hanya segini udah bisa beli bakso buat enam porsi” ujar Nurfa membuat kedua cowok itu tertawa, “mulai besok aku akan bawa bekal sendiri” Nurfa pun bertekad.
“Gue bilang juga apa!” sahut Rifa.
“Kalian sendiri cukup sering makan disini?” Tanya Nurfa.
“Tergantung kondisi keuangan” ujar Rifandra, “Kalau lagi nggak ada duit bisanya gue beli cemilan di minimarket atau nongkrong di warung.”
“Tapi keluar sekolah di jam istirahat itu dilarang, loh” ujar John Lew.
“Oh ya?!” heran Nurfa.
“Ya, salah-salah ketahuan guru BP dan ortu loe bakal di panggil kesekolah. Kalau gue biasanya nahan dulu setelah bel pulang baru makan siang terus ikut kegiatan OSIS. Kebanyakan anak-anak, sih, lebih milih makan di luar dari pada dikantin” jelas Rifa.
“Oh.. gitu, ya. Kalau banyak yang makan di luar bukannya lebih baik makanan di kantin di buat lebih murah aja, ya? 'Kan ribet juga udah punya kantin sendiri tapi makan juga masih diluar..”
“Kalau sekolah ini semua siswanya punya latar belakang keluarga yang ekonominya pas-pasan kaya gue pasti kantin ini bakal di bakar. Tapi loe lihat, kan. Banyak banget siswa yang masih makan disini meskipun menunya mahal. Karena buat rata-rata anak disini ngeluarin 50 ribu rupiah untuk sekali makan itu udah biasa banget. Karena sebagian besar mereka dari keluarga kaya raya” jelas Rifa.
“Hmm.. miris, deh, dengernya. Padahal sekarang juga bukan jaman Orba tapi masih ada kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Nggak seharusnya sobat misqueen dibuat susah padahal cuma buat makan siang.”
“Setuju, gimana kalau kita demo?” cetus Rifa.
“Lebih baik kalian bakar aja kantinnya sekalian” sahut John Lew.
Mereka bertiga tertawa bersamaan. Tak lama ibu-ibu yang mengantar makanan mereka pun datang. Melihat menu yang disajikan di piring Nurfa jadi terkesan. Dia mengeluarkan kamera dan memfotonya.
“Dari segi penampilan harga tiga puluh ribu memang meyakinkan. Kita coba rasanya teman-teman” Nurfa menyimpan ponselnya di saku lalu mengambil sendok dan garpu. Setelah membaca bismillah dia menyendok pecel dan beberapa comot ayam bumbu rujak. Saat merasakan satu suapan matanya pun melebar, “Hmm.. enak.. mau nangis rasanya.”
John Lew dan Rifandra tertawa melihatnya, “ya, jelas enak, lah!”
Nurfa melihat menu yang John Lew pesan. Ternyata cowok bule ini juga memesan menu yang sama dengannya. Entah apa alasannya. Padahal dia bisa memakan menu lain yang dia suka. Hal seperti ini cukup membuat Nurfa canggung. Nurfa memang cenderung menghindari John Lew karena dia terlihat mencurigakan. Meskipun begitu Nurfa berusaha agar tidak meneruskan kecurigaan itu. Karena bagaimanapun dia sudah berbaik hati membantu Nurfa selama ini.
Selesai makan mereka kembali kekelas. Nurfa segera mengambil dompet dan mengambil uang untuk mengganti makanannya. Dia menghampiri John Lew dan memberikan uang itu.
“Ini, saya ganti uangnya. Makasih sudah membayar makanan saya. Meskipun begitu saya tetap tidak enak” ujar Nurfa.
John Lew menghelah napas berat, “Saya tidak mau terima. Kamu ambil saja uangnya” ujarnya.
“Tapi..”
“Kalau kamu memaksa kamu malah membuat saya kecewa.”
Nurfa tak bisa mengelak. Gadis itu pergi kembali ketempat duduknya dengan perasaan berat hati.
“Mungkin dia memang bermaksud baik. Lebih baik aku nggak boleh su’udzon. Dosa!” Nurfa menasehati dirinya sendiri.