Nurfa masih mengingat betapa ketatnya peraturan sekolahnya dulu. Siswanya bahkan dilarang keras membawa ponsel. Tapi meskipun seketat apapun sekolahnya tetap saja semua siswa bisa dengan mudah menyembunyikan ponselnya.
Di sekolah ini tidak terlalu seketat itu. Tapi kalau memakai ponsel di luar jam istirahat atau saat homeroom pasti akan ditegur dan disita. Begitu juga pada saat upacara bendera, pertemuan siswa, pelajaran di kelas dan pelajaran olahraga, handphone harus dalam keadaan silence. Dan ada di dalam tas. Ponsel juga harus punya kode security yang nggak bisa di tiru, kalau bisa pakai keamanan sidik jari atau scan wajah. Ada CCTV di setiap kelas untuk menjamin keamanan barang di sekolah.
Sebelum masuk kesekolah Nurfa telah membaca semua peraturan yang diberikan oleh kepala sekolah. Yang paling penting jangan sampai barangnya hilang karena sekolah tak akan bertanggung jawab atas kehilangan tersebut. Dan jika ada siswa yang merasa kehilangan dan mempermasalahkan kehilangannya tersebut akan berurusan dengan pihak berwajib.
Saat jam istirahat Nurfa pun bermain game bersama teman-teman sekelas barunya. Mereka bergerombol dan menekuni ponsel masing-masing. Nurfa cukup banyak mengobrol dengan cowok imut pendek yang duduk didepan. Memang cowok ini agak dingin, jutek dan suka nyuruh-nyuruh orang tanpa rasa sungkan. Dia juga agak angkuh dan tukang menggerutu. Namanya Rifandra Riza, dia terkenal dengan ID Game Mr. Rar. Di kelas dia memang dihormati karena alasan tertentu dan juga posisinya sebagai ketua kelas.
Dan Rifandra ini sangat dekat dengan John Lew. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Hanya dengan Rifandra Si John Lew berbahasa nonformal. Saking akrabnya John Lew dengan Rifandra, Nurfa jadi membayangkan plot twist yang manis untuk mereka.
“Jadi, Nurfa. Sudah jam istirahat, nih. Mau lanjut tur keliling sekolahnya?” tanya John Lew.
“Alah, ngapain tur segala kaya anak TK. Mending kita lanjutin aja party kita yang tadi” Rifandra langsung menyela.
“Siap, Mr. Rar!” Nurfa langsung mengeluarkan ponselnya.
“Nanti Si Botak beruban itu ngoceh lagi, loh!” ujar John Lew.
“Heh, nggak boleh cowok sama cewek bukan mahrom jalan berduaan..” ujar Rifandra.
“Bukan mahrom?”
“Maksudnya elo ama ni cewek nggak ada hubungan darah atau ikatan pernikahan dilarang deket-deket. Orang muslim itu punya larangan tertentu buat pergaulan laki-laki dan perempuan supaya nggak terjerumus kearah perzinahan” jelas Rifandra.
“Cie, ustadz Rifa mulai ceramah, nih. Jama’aaaaah oooh jama’aaaah!” dan si cowok gondrong ini lagi-lagi buat rusuh.
“Diem, lu! Gue ngejelasin ke John Lew, soalnya dia baru pertama kali bergaul sama ukhti-ukhti begini, nih..” ujar Rifandra.
“Heee.. sok baik, lu!”
Si Juru Rame ini namanya Mizar Rif’an. Memang dia tipikal cowok yang suka membuat orang canggung dengan celetukannya.
Dan saat nurfa sadari dia hanya di kelilingi cowok pada saat jam istirahat kali ini. Banyak beberapa anak yang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Begitupun anak perempuan yang sudah punya teman mengobrolnya dan Nurfa lucunya tidak masuk dalam salah satu kelompok para gadis. Padahal dulu semua teman sekelas Nurfa perempuan. Suasana baru ini membuat Nurfa berusaha menyesuaikan diri. Dia baru kali ini merasakan berinteraksi sangat dekat dengan para cowok. Hal ini sangat membuat Nurfa tidak nyaman.
“Anoo Hana, kok agak nggak asing sama nama ID ini” gumam Rifandra.
“Namanya memang familiar soalnya di ambil dari judul anime sedih kesukaanku..”
“Gila, loe udah level max. sering juga elo main, ya” Rifandra member sanjungan.
“Kalau lagi repot kegiatan sekolah adek-adekku yang bakal main.”
“Cih, licik juga, loe..”
“Ah, udah capcus, deh..”
Mereka pun asik bermain berdua. Anak-anak lain ada yang ikut bermain dalam party dan ada yang menonton. Mereka cukup kagum ternyata ukhti yang satu ini cekatan juga buat main game. Hingga saat ada seorang anak mendekat kelayar ponsel Nurfa lebih dekat tiba-tiba Nurfa menundukan kepalanya secara spontan. Siapa yang tidak kaget dengan reflek gadis ini.
“Oi, loe udah gue jelasin juga…”
“Ooohh, tadi pensilku jatoh. Aku langsung ambil!” Nurfa pura-pura meluruskan kesalah pahaman dan menyela Rifandra yang hendak membelanya.
Semua orang memaklumi. Tapi Rifandra merasa aneh. Ada apa dengan cewek ini? Jelas-jelas dia menghindari kontak fisik dengan lawan jenis. Tapi dia berusaha agar orang lain nggak salah paham dan menganggapnya begitu konservatif.
“Apa, sih, maunya?” heran Rifandra dalam hati.
Jam istirahat pun selesai. Beberapa menit kemudian guru bahasa inggris mereka pun masuk untuk mengajar dikelas. Guru laki-laki ini memang terkenal agak rese. Ada hal yang ganjil dikelas dia selalu membuatnya jadi bahan bercandaan tanpa berpikir jika orang itu tersinggung apa tidak. Melihat Nurfa yang sedang mempersiapkan materi belajarnya. Dia pun memulai salam.
“Selamat siang, semuanya..”
“Siang!” jawab semua murid.
“Hari ini ada yang berbeda dengan kelas kalian. Sepertinya di kelas kalian ada ustadzah baru, ya..” semua anak-anak tertawa dan Nurfa tampak bingung mengapa hal tersebut lucu.
“Nah, Bapak belum kenal dengan murid baru ini. Ibu Ustadzah silahkan memperkenalkan diri..”
Semua orang melirik kegadis hijaber itu. Dengan rasa canggung gadis itu berdiri, “Nama saya Nurfa, Pak.”
“Please introduce your self for the class with English” guru itu meminta permintaan aneh-aneh untuk mengujinya.
“My name is Nurfa, I’m transform student from MA Fatih As-Salam. And.. not to much to say, I’ll be glad if we are be a good classmate and a good friends” pekernalan yang manis itu pun disambut dengan tepuk tangan meriah.
“Wah, ternyata Nurfa pinter bahasa Inggris, ya. Gimana rasanya pindah ketempat yang lebih normal?” pertanyaan guru bahasa Inggris itu membuat Nurfa shock.
Seluruh kelas terdiam. Mereka tahu pertanyaan itu keterlaluan banget. Entah sengaja ataupun tidak sengaja.
“Oi, Pak Beni. Nggak usah ngoceh terus, deh! Ngajar aja kaya biasanya!” Rifandra bahkan berani menegur gurunya.
Urat kepala dikening guru itu menegang, “Anak disini emang rada nggak sopan-sopan, ya. Harap maklum, ya, Nurfa..”
Memang sikap Rifandra yang arogan dan ceplas-ceplos ini sangat menolong Nurfa. Setelah jam pelajaran berakhir, Rifandra menyandarkan pantatnya di meja Nurfa yang masih saja diam sambil menutup wajahnya dengan tangan.
“Loe nggak kenapa-napa?” Tanya Rifandra, “Nggak usah diambil hati, tuh orang emang keterlaluan, sih..”
“Gara-gara aku kamu jadi dibilang nggak sopan, maaf, ya” Nurfa merasa bersalah.
Rifandra malah tertawa, “Santai aja kali. Gue udah sering di jadiin objek guyonan guru itu di selama pelajaran.”
Kenapa hal menyedihkan yang mendadak dia ceritakan?
“Makasih, loh, ya” ujar Nurfa mengusap lengan Rifa.
Ada hal yang membuat Rifa tidak paham. Kenapa anak gadis yang sebelumnya dia nilai konservatif malah menyentuhnya? Dia jadi merasakan kalau tangan gadis itu begitu dingin berkeringat. Dia juga nggak sungkan dan tersenyum padanya.
“Ya, sama-sama..” Rifandra memilih menjernihkan pikirannya ditempat lain kemudian duduk di kursinya kembali.
Seorang anak perempuan yang duduk di belakang Nurfa mencolek bahu Nurfa.
“Hai!” dia menyapa.
“Hai” sapa Nurfa.
“Aku Imelda, salam kenal” gadis itu menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Jarinya berkelap kelip karena memakai kuteks. Nurfa belum berkenalan dengan beberapa anak cewek dikelasnya karena anak-anak cewek memang nggak suka bergerombol main game di jam istirahat. Apalagi yang duduk dibelakang Nurfa yang sedari awal suka nyuri-nyuri waktu buat memoles wajahnya dengan make-up.
“Nurfa, salam kenal” Nurfa memberi salam balik. Gadik bernama Imelda ini memang berpenambilan chic. Dia menata lambut ikal bergelombangnya. Memakai baju seragam yang ukurannya sangat ngepas sehingga tampak presbodi memamerkan kelukan payudaranya yang memang cukup besar. Dia juga memakai bulu mata palsu dan make-up yang natural.
“Cewek Gal. Baru pertama kali lihat yang kaya begini di sekolah” batin Nurfa dalam hati.
“Karena dari awal kamu udah ngambil hati Rifa, kamu bisa tenang karena dia bakal belain kamu seterusnya” ujar Imelda.
“Ambil hati?” wajah Nurfa memerah.
“Bocah itu pada dasarnya peka banget sama situasi. Tapi nggak semua orang bakal dia tolong. Jadi kamu beruntung” begitulah yang Imelda jelaskan.
Gadis Gal ini pada dasarnya tidak ingin bergaul dengan Nurfa. Melihat penampilan Nurfa saja sudah membuatnya risih. Namun, ada hal yang membuatnya terganggu sejak kedatangan gadis ini. Dia datang sambil tersenyum-senyum ketika berada didekat John Lew. Di jam istirahat anak-anak cowok bergerumun mendekatinya. Gadis ini langsung didekati banyak laki-laki bak gula yang jatuh disarang semut. Bahkan dia juga berhasil dekat dengan si cowok jutek Rifandra.
“Padahal apa juga yang bisa dinilai dari cewek kolot satu ini. hijabnya ganggu banget. Ngelihatnya aja udah gerah” begitulah komentar Imelda dalam hati.
“Awas aja kalau dia ngincer John Lew! Gue copot hijab bikin risih itu!” dia pun membuat peringatan seperti demikian.
Dengan jelas Nurfa melihat tatapan sinis gadis ini padanya. Gadis hijaber ini pun menjadi berkecil hati. Seharian ini memang tak ada anak perempuan di kelasnya yang mengajaknya bicara. Hanya gadis ini saja yang berbicara padanya tapi Nurfa sadar dia tak memberi kesan baik pada Imelda.
“Baru kali ini aku bergaul di lingkungan kelas campuran. Dulu aku nggak kesulitan dapet teman karena sekelas juga semuanya perempuan. Tapi anak perempuan disini berbeda benget sama disekolahku dulu. Mereka kelihatan risih dekat sama aku. Meskipun disini aku udah kenal beberapa orang dan ngobrol sama mereka, nyatanya semuanya cowok! Mana mungkin aku nyaman kalau harus lama-lama sama cowok!” kepala Nurfa terus berpikir dan tanpa sadar dia membuat mimik aneh di wajahnya.
Rifandra yang sedari tadi kepikiran jadi melihat Nurfa terus menerus. Dia sendiri heran melihat gadis itu tampak serius dan mimik wajahnya berubah-ubah tanpa sebab yang jelas. Keheranannya membuatnya tertawa saat mengamati gadis itu.
John Lew yang duduk di belakangnya ikut memperhatikan sohibnya yang tiba-tiba tertawa ini. dia melihat kemana arah Rifa memandang. Kemudian tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Rifandra menghentikan tawanya setelah melihat John Lew, “Hei, lu nggak usah salah paham” mendadak dia menjadi sangat sinis.
“Gue cuma heran. Orang yang cuek sama cewek kaya lo bisa ketawa-ketiwi karena cewek. Padahal lo sendiri nggak pernah minat sama cewek dunia nyata dan lebih milih jatuh cinta sama cewek dua dimensi, kan?” ujar John Lew.
“s****n, lo!” Rifa memalingkan wajah dengan pipi merona. John Lew pun tak bisa menahan tawanya lagi.
“Aduh, apa lagi ini..? Sifat loe yang tsundere bikin gemes aja!” John Lew tertawa sembari mencolek-colek pipi Rifandra.
“Cih! Najis! Jangan pegang-pegang gue!” geran Rifandra.
Kedua cowok ini tampak asik bergurau dan tak menyadari jika ada mata gadis girang yang memperhatikan mereka. Nurfa tak bisa mengendalikan wajahnya sekarang tampak aneh dan membuat Imelda kaget saat memergokinya. Mata yang terlihat sayu, senyuman dengan mulut terbuka dan jari telunjuk dan menepel di bibir. Jelas sekali itu ekspresi orang yang lagi nafsuan. Dan yang membuatnya jengkel kenapa gadis hijaber ini berekspresi seperti itu saat melihat John Lew.
“Ah.. indahnya.. baru kali ini aku bisa lihat keindahan ini secara langsung..” Nurfa bergumam sendiri dan makin membuat gadis Gal dibelakangnya salah paham.
“s**l! Dia beneran ngincer John Lew!!” geram Imelda dalam hati.
Rifandra yang merasa kesal di goda oleh John Lew curi-curi pandang lagi untuk melihat Nurfa. Wajah cowok imut itu mendadak shock melihat kearah sana. Dia langsung berbalik menatap kedepan. Jantungnya berdebar kencang. Dia mulai berfirasat buruk.
John Lew cukup kaget melihat temannya mendadak memalingkan muka dengan badan bergetar-getar. Dia mencolek bahu Rifandra.
“Ri, kenapa, sih?”
“Jangan pegang gue, bahaya!” desis Rifandra membuat temannya makin heran saja.
John Lew menoleh kearah Nurfa dan mulai mengerti penyebabnya. Tapi beberapa detik setelahnya dia melihat gadis itu terkejut menatapnya dan memalingkan wajahnya. Satu hal lagi yang membuatnya menguak sisi lain dari gadis itu. Tapi hanya Rifandra yang mampu memahami situasinya.
“Hei, Ri..” dia berbisik pada Rifandra, “Jam istirahat kedua gue bakal paksa Nurfa untuk tur keliling sekolah bareng gue. Gue pengen lu juga ikut.”
“Hah?!” Rifandra jelas sekali akan menolaknya.
“Hei, dengerin gue dulu” John Lew menarik lengan Rifa dan berbisik ditelingan Rifa, “Loe nggak ngerasa kalau dia itu mencurigakan. Bahkan dia mengalihkan pembicaraan waktu gue tanya alasan kepindahannya. Perempuan ini nggak beres. Dan gue pengen tahu yang sebenernya, loe sendiri pengen tahu, kan?”
“Gue sendiri nggak kepingin tahu, sih! Kayanya gue udah ngerti situasinya..” ujar Rifa menelan ludahnya, “tapi kalau kita cyduck dia bareng-bareng rasanya seru juga, deh, hehehe..”
Kedua sohib itu sepakat untuk menjalankan rencana jahat mereka.