Part 3: Ketua OSIS cogan!

1961 Words
Nurfa mulai menjalani hari pertamanya di sekolah yang baru. Meskipun aturan atribut sekolah untuk hijaber agak berbeda dengan dengan sekolahnya yang dulu, Nurfa tetap berpakaian seberti di sekolah sebelumnya. Dia memang masukan kemeja kedalam rok abu-abu panjangnya, juga memakai nametag dan beage sekolah. Namun hijabnya panjang menutupi p****t. Setiap dia berjalan dia jadi pusat perhatian. Bagaikan ustadzah yang lagi nyasar disana. Banyak yang mengira dia mungkin guru agama baru dan menunduk saat bertatap muka dengannya. Sensasi canggung apa ini? Memang di sekolah sebelumnya penampilannya sangat biasa. Namun dibandingkan gadis hijaber disekolahnya sekarang yang hijabnya tersampir memamerkan d**a dia lebih memilih berbusana syar’i. Dia diminta untuk keruang kepala sekolah dulu sebelum masuk kedalam kelas. Dia sudah tahu dia ada dikelas mana karena sebelumnya kepala sekolah menelpon memberikan berbagai macam kabar. Tentang jadwal pelajaran, wali kelas dan juga mengirimi email denah kelas dan kurikulum yang ada di sekolah. “Nak Nurfa, apa kabar?” Kepala sekolah hendak menjabat tangannya. Nurfa segera menangkupkan tangannya membuat suasana canggung, “Baik, Pak..” suara menentramkan hati itu membuat rasa canggung menjadi bertabur bunga. “Hari ini Nak Nurfa akan mulai masuk ke kelas baru. Tapi sebelumnya selama beberapa jam Nak Nurfa bakalan di ajak tur keliling sekolah dulu sama Ketua OSIS sekolah kita” kepala sekolah itu berbisik, “Nggak usah khawatir, Nak Nurfa. Ketua OSIS kita ganteeeeng banget!” kepala sekolah itu pun tertawa sambil mengacungkan jempolnya. “Aduh, Maaak!” batin Nurfa menjerit meskipun dia ikut nyengir. Tiba-tiba saja Kepala Sekolah itu salah tingkah, “Aduh, senyumnya bak bidadari. Syukurlah Nak Nurfa bisa senang!” “Iya, ngomong-ngomong kenapa hanya saya saja, Pak? Bukannya yang diterima di seleksi kemarin ada sepuluh, ya? Atau mungkin yang lainnya belum datang..” “Oohh! Yang Sembilan anak sudah ada dikelasnya mungkin. Tur ini khusus yang ujian tulisnya dapat ranking pertama!” ujar Kepala Sekolah. “Atau mungkin tur khusus untuk putri sultan. Aku udah tahu, sih, akal busuknya. Meskipun begitu secogan apapun ketua OSIS disini nggak akan secakep Ichinose Tokiya-sama” batin Nurfa berkata demikian. Tentu saja karena dia juga bukan karakter dua dimensi yang gepeng. Setelah lima menit berlalu.. “Kok, lama juga, ya.. Nak Nurfa, mau minum teh manis dulu? Minum dulu, ya!” ujar Kepala Sekolah. “Oh, nggak usah, Pak! Nggak usah!” Nurfa menolak. “Jangan sungkan-sungkan, Nak Nurfa! Ini Bapak punya biscuit butter cookies. Atau kalau mau Bapak bakal belikan red velvet cake yang di jual sama bibi kantin!” “Ah, jangan, Pak! Ngerepotin jadinya!” Dan dalam hitungan menit berbagai macam kue tersaji dihadapan Nurfa diantar oleh bibi kantin. Nurfa pun jadi sungkan. Dia tersenyum-senyum saja meskipun Pak Kepala Sekolah berusaha menawarinya. Hingga sepuluh menit berlalu dia telah menghabiskan dua cangkir teh dan juga sepotong red velvet cake. Ketua OSIS itu belum muncul juga batang hidungnya. “Emang agak gengsi, paling. Mungkin baru kali ini dia di paksa ngajak tur siswa pindahan” batin Nurfa melahap sepotong red velvet cake yang lainnya. Kepala sekolah mulai jenuh. Dia mengambil I-phonenya dan menghubungi Ketua OSIS itu langsung. “Halo.. kamu dimana, sih? Cepat kesini! Kemarin bapak sudah telepon kamu harus stanbay di ruang kepsek pagi ini, kan… ahh! Nggak ada tapi-tapian! Udah buruan capcus…” desis Kepala Sekolah ditelepon. Setelah menutup telepon kepala sekolah kembali nyengir kepala Nurfa yang sedang penuh mulutnya. Dengan mulut penuh Nurfa membalas senyumannya. Semenit berlalu. Suara langkah kaki makin mendekati ruang Kepala Sekolah. “Nah, itu dia. Ketua OSIS kita..” Nurfa menoleh kearah kaca jendela. Bayang-bayang Ketua OSIS yang katanya ganteng itu melintas dari balik kelambu jendela. Sosok yang cukup tinggi. Dari bayang-bayang saja Nurfa bisa menebak laki-laki ini tingginya 175 cm atau mungkin lebih. Saat dia membuka pintu, lengan dengan urat nadi menojol menjadi hidangan pembuka. Hingga dia melangkah masuk memendarkan aura menyilaukan karena tak segaja terkena paparan sinar matahari pagi. Laki-laki itu berambut pirang ikal di cukur tipis bagian bawahnya, matanya biru, hidungnya mancung, kulitnya pun putih. Tubuhnya tegap, bahunya lebar dan memiliki lengan yang indah. Saat melihat lebih kebawah Nurfa jadi menghisap kencang sendok yang ada dimulutnya. Dia menoleh kearah Nurfa. Gadis itu pun memalingkan wajah menaruh peralatan makannya dimeja. Meneguk teh dan membersihkan mulutnya dengan tangan. “Aduh.. anak ini kemana aja, sih.. kok, lama banget!” pak kepala sekolah menyambutnya dengan cubitan di perut alot roti sobeknya yang terbungkus seragam putih. “Gila! Dia Bule? Dari mukanya jelas bukan orang Indonesia!” batin Nurfa. “Nah, Nak Nurfa. Kenalkan Ketua OSIS kita, Johnathan Alexander Lewwith..” saat kepala sekolah menyender bahu cogan yang lagi bingung ini dia langsung menyodorkan tangannya. “Panggil aja John Lew” dia memperkenalkan diri dengan suara baritone menggertarkan. Nurfa kembali menangkupkan tangannya, “Saya Nurfa” dan perkenalan Nurfa terkesan sangat formal. Karena gadis ini tak mau bersalaman John Lew agak kaget. Dia menarik kembali tangannya sambil tersenyum, “Salam kenal, Nurfa..” Senyuman cogan satu ini memang meluluhkan hati wanita dalam sekali pandang. Begitu juga Nurfa. Namun, Nurfa menguatkan dirinya. Dia membalas senyuman itu meskipun dia yakin senyumannya akan sangat aneh. “Jadi, Jonathan. Kamu ajak Nak Nurfa ini tur keliling sekolah kita..” jelas Pak Kepala Sekolah. “Tur? Bapak nggak bilang kalau ada acara pertukaran pelajar..” “Ini bukan acara pertukaran pelajar! Nak Nurfa ini murid pindahan di sekolah kita. Tahun ini dia bakal jadi murid kelas XII-MIA 2, sekelas sama kamu.” “Apa? Murid pindahan?!” Ketua OSIS ini jelas sekali makin bingung, “Bapak nyuruh saya bolos sampai jam istirahat demi tur sekolah untuk murid pindahan? Nggak salah dengar, nih, Pak?” dan ternyata Si Cogan ini cukup ketus membalas maksud dari Kepala Sekolahnya. “Saya nggak salah!” seru Kepala Sekolah makin ketus. Pria paruh baya botak gempal ini berkacak pinggang, “sebagai ketua OSIS kamu harus menunjukan kredibilitas sekolah ini sebagai sekolah terbaik dan bisa menjadi panutan bagi sekolah-sekolah lain. Supaya banyak orang yang jenius mau sekolah di sini! Supaya banyak orang-orang kaya yang mau menjadi donator tetap demi membiayai fasilitas pendidikan kalian!” “Ampuunn.. ini gara-gara abi, deh!” batin Nurfa. “Pak, tapi jam pagi ini ada jam pelajaran khusus untuk persiapan ujian nasional di kelas saya..” “Ujian Nasional katamu? Kamu dapet medali emas biologi di OSN masih repot ujian nasional?! Nggak usah banyak protes kamu!” Si Kepala Sekolah itu menepuk bahu Si Ketua OSIS begitu kencang. Si Ketua OSIS ini wajahnya antara bingung dan kesal. Dia menatap Nurfa dari atas sampai bawah. Menyelidiki siapa gadis ini. Kenapa sebegitu bersi kukuhnya kepala sekolah ingin ketua OSIS langsung mengantarnya tur keliling sekolah. “Maaf, ya, Nak Nurfa.. ada sedikit gangguan..” Si Kepala Sekolah kembali salting dan menuai kecurigaan besar bagi Si Ketua OSIS. Pada akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah dan memulai tur. Saat berjalan berdua menyusuri koridor kelas Ketua OSIS menghentikan langkahnya. Dia melihat Nurfa yang berjalan perlahan jauh darinya. Melihat anak laki-laki dihadapannya terdiam dia juga diam. Dia menyadari bagi siswa sekolah umum yang biasa bersosialisasi dengan bercampur baur sikap Nurfa yang menjaga jarah dari lawan jenis yang bukan mahrom cukup memancing salah paham juga. Nurfa mengambil sikap. Mungkin dia harus mengalah dan berjalan disisi laki-laki itu. tapi saat mereka berjalan Nurfa langsung mengambil dua langkah kesamping. “Ada apa?” Tanya John Lew. “Enggak papa. Hawa disebelah sini lebih dingin” Nurfa mencari alasan agar tidak terjadi salah paham. “Sebelumnya kamu sekolah dimana?” Ketua OSIS mulai mencari bahan untuk mengakrabkan diri. “MA Fatih As-Salam Al Ahzar” jawab Nurfa. “Hmm.. Itu nama sekolah?” heran ketua OSIS. “Iya” Nurfa jadi menahan tawanya, “Saya dulunya sekolah di Madrasah Aliyah. Sekolah menengah atas yang berbasis islam..” “Ohh.. Madrasah Aliyah.. ya, saya tahu” Ketua OSIS bule itu mulai paham, “terus kenapa kamu bisa pinda..?” “Ngomong-ngomong katanya saya sekelas sama Ketua, ya?!” Nurfa mengalihkan pembicaraan tapi malah hal janggal tak sengaja terlempar dari mulutnya. Sampai-sampai cogan disebelahnya tertawa, “Ketua?” “Maaf, John Lew..” Nurfa agak canggung. “Nggak masalah. Panggil Ketua juga boleh” cogan itu tampak santai. “Ngomong-ngomong saya boleh ngasih saran soal tur ini?” “Ya?” “Lebih baik Ketua langsung tunjukin aja kelasnya. Kalau masalah tur kita bisa lanjutin habis istirahat atau sepulang sekolah. Tapi nggak di lanjutin juga nggak papa” ujar Nurfa. Si Bule itu menatap Nurfa dengan serius, “Oke, kita langsung kekelas dan lanjutin turnya waktu istirahat atau pulang sekolah. Kita harus ngadain tur atau Pak Kepala Sekolah bakal ngomel” dia berkelakar dan anehnya membuat Nurfa tertawa cukup kencang. “Kalau boleh tanya..” ketua OSIS menyilangkan lengannya didada, “kamu masih saudaraan sama Kepala Sekolah?” Nurfa menggeleng, “Enggak” jawab Nurfa. Ketua OSIS itu diam memperhatikan Nurfa lebih serius kemudian tertawa setelah menyadari sesuatu, “Oke, sepertinya saya mulai tahu apa masalahnya. Kredibilitas sekolah.. donatur.. putri businessman kaya raya, mungkin putri sultan.. Makanya tur ini harus begitu spesial..” Nurfa berpikir dia sengaja berkata seperti itu atau yang ada dikepalanya nggak sengaja keceplosan di bibirnya. Nurfa hanya menyengir saja. Laki-laki dihadapannya membalas senyumannya dan entah kenapa dia terasa terintimidasi. “Bisa kita kelas aja langsung?” Tanya Nurfa. “Iya, silahkan, Princess. Lewat sini..” dan cowok ini memang punya niat untuk mengintimidasi Nurfa dengan sengaja. Dia tersenyum puas melihat melihat Nurfa yang mulai berkeringat dingin, “Sebel, sih. Tapi entah kenapa muka enjoynya itu gereget banget. Dia mungkin cocok untuk dijadiin karakter seme buat doujinshi-ku yang baru” batin Nurfa. Ketua OSIS ganteng ini sama sekali nggak sadar dengan niat busuk itu. Dia hanya heran gadis yang di intimidasinya curi-curi kesempatan untuk ketawa-ketawa sendiri. Dan tanpa rasa curiga mereka pun masuk kekelas bersama-sama. Jam kedua baru saja selesai. Waktunya homeroom. Saat ketua OSIS ganteng itu masuk kekelas bersama dengan hijaber ini semua siswa langsung duduk ditempatnya. Seperti sebelumnya keberadaan Nurfa memang membuat sungkan yang lainnya. “Selamat pagi semuanya. Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Dan mewakili wali kelas kita yang lagi cuti hamil, Kepala Sekolah meminta saya memperkenalkan murid baru ini. Namanya Nurfa dari Madrasah Aliyah..” mana mungkin ketua OSIS itu ingat. Nurfa membisikannya, “Fatih As-Salam Al-Ahzar.” “Ya, Madrasah Aliyah Fatih As-Salam Al-Ahzar” jelas ketua OSIS. “Oh, dari Mesir, ya, Mbak?” seorang anak berambut gondrong yang duduk menyila diatas meja menegur, “Ciee.. pantesan bening mukanya, ya!” murid lainnya pun menyorakinya. “Ah, elu, nggak bisa liat cewek cantik dikit aja!” sorak lainnya. “Udah diam!” seru seorang murid laki-laki yang duduk paling depan. Walaupun badannya kecil tapi teman-teman langsung diam mendengar tegurannya. Dia cukup di segani. Terlihat dari auranya yang cuek dan dingin. Tapi saat dia duduk dia kembali asik dengan game konsol yang dia sembunyikan dibalik kolong meja. “Silahkan Nurfa, perkenalkan diri kamu..” ketua OSIS member ruang dan tempat. Nurfa berdeham sejenak, “Ehm.. assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..” “Waalaikum salam waroh matullahi wabarokatuh” jawab seisi kelas. “Perkenalkan nama lengkap saya Nur Faj’rinah Alfia. Saya biasa di panggil Nurfa. Saya dulu bersekolah di MA Fatih As-Salam. Dan disekolah yang dulu saya bergabung di ekskul Tahfidz qur’an. Dan hobi saya menggambar manga, nonton anime dan baca komik. Terutama jump komik dan shoujo manga” semua orang terdiam, “ya.. nggak ada otaku juga disini, sih.. maaf sekali lagi..” batinnya dalam hati. “Suka game juga?” tanya cowok yang tadi menegur teman-temannya, “RPG, MOORPG?” “Ya suka, lumayan banyak juga yang aku suka.. AFK, Moba, Rise Empires..” Semuanya terheran. Kemudian bersorak meriah, “Welcome, Sis!” Meskipun agak gugup Nurfa mendapatkan sambutan yang cukup baik dari teman-teman sekelasnya. Apakah dia bisa mendapatkan teman juga?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD