Part 2: Sekolah Terkenal

1360 Words
Di hari Jum’at Nurfa berkunjung kesalah satu sekolah percontohan yang ada di kotanya. Sekolah ini sekolah umum yang memang cukup eksklusif dalam hal fasilitas pendidikannya. Murid yang bersekolah disekolah ini juga tidak main-main. Dari kalangan jenius hingga kalangan keluarga ekonomi kelas atas. Baru kali ini Nurfa masuk kesekolah umum. Dia melihat banyak siswa perempuan yang tak berhijab. Dia juga banyak melihat siswa laki-laki yang berseliweran sana-sini tanpa sungkan dan nyaris menabraknya. Berbeda dengan sekolahnya yang menjaga batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Ayah Nurfa memutuskan agar Nurfa bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas pendidikan yang sama dengan sekolahnya yang lama, namun tidak berbasis islamik. Karena memang hobi Nurfa yang masih belum bisa berkompromi lebih aman jika dia berbaur dengan orang yang tingkat religiusnya masih kurang. Kedua orang tua Nurfa hanya berharap agar dia bisa menyesuaikan diri dengan baik ditempat ini. “Semoga di sekolah ini kamu bisa betah dan dapat teman banyak!” begitulah doa ayahnya saat mengantarnya. “Di sekolah yang dulu, Nurfa juga punya banyak teman” celetuk dingin anaknya ini membuat Abi-nya terdiam. “Nurfa, Abi paham apa yang kamu rasakan, kok. Toh Abi juga pernah ngerasain hal yang sama. Waktu Ayah Abi nemuin majalah dewasa dikamar Abi waktu itu dia bilang, ‘suatu saat kamu akan dibalas sama anak kamu!’. Dan sekarang abi mulai paham juga apa yang ayah abi rasakan waktu itu. Hahaha..” “Jadi sekarang Abi mau nyumpahin Nurfa juga karena udah nyusahin Abi?” Wajah ayahnya menjadi pucat pasi, “Enggak. Lebih baik kita hentikan aja kebiasaan nyumpah nyumpahin ini.” “Ya, bagus, 'lah..” Nurfa masih terlihat cuek. Ayahnya merangkulnya sambil tersenyum, “Nurfa, harusnya kamu senang masuk sekolah umum. Karena disini banyak cogannya!” “Itu malah bahaya!” Nurfa langsung menampiknya. “Teman-teman bisnis ayah banyak yang nyekolahin anaknya disini, loh. Bahkan anak kedua Pak Gurbenur juga pernah bersekolah disini. Seru, kan, berada ditengah-tengah mereka? Bak artis gitu..” “Ah, orang tajir dan terkenal di sekolah sebelumnya juga banyak..” “Iya juga, sih..” Dalam hati ayahnya berseru, “anak ini kalau lagi galau nyebeliiiin!!” “Abi” Nurfa meremat lengan baju ayahnya, “Meskipun ini sekolah umum Nurfa janji akan terus berprilaku seperti di sekolah Nurfa sebelumnya. Nurfa nggak akan melewati batas-batas agama. Nurfa juga janji akan menjaga ibadah rutin Nurfa..” Mendengar janji tulus putrinya ini ayahnya merasa tersentuh dan juga lega, “Oke, janji sama abi. Kamu harus pegang janji itu bukan hanya sampai kamu lulus. Tapi selamanya” ujar Ayahnya kemudian menyodorkan jari kelingkingnya. Nurfa menyematkan kelingkingnya di jari kelingking ayahnya. Gadis ini dengan trauma yang dia alami nyatanya tetap beristiqomah. Di kantor kepala sekolah yang baru Nurfa mendengar banyak penjelasan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi agar bisa menjadi siswa si sekolahnya yang baru ini. Yang utama dia harus lolos seleksi masuk yang diadakan khusus bagi murid pindahan. Seleksi masuknya ada seleksi tulis dan juga seleksi wawancara. Sabtu besok akan diadakan seleksi tulis. Nurfa telah mendaftarkan diri dan ternyata banyak juga yang mendaftar untuk pindah di sekolah ini. Kira-kira ada sepuluh kuota bangku kosong untuk jenjang di kelas tiga dan yang mendaftar sudah ribuan orang. Nurfa mendapat nomor peserta yang sudah sampai empat digit angka. Tapi dia merasa tenang-tenang saja untuk menghadapinya. Sepulang sekolah dia pun tidak belajar dan berpelukan dengan batal Ichinose Tokiya, Husbando tercintanya. Hari Sabtu paginya dia menjalani tes tulis yang berlangsung selama tiga jam. Tiga puluh menit kemudian hasilnya pun keluar dan dia lolos dengan nilai tertinggi. Selanjutnya adalah tes wawancara. Tes ini memang sangat lama meskipun yang di wawancara hanya rangking 20 besar yang lolos di seleksi tulis. Hingga giliran Nurfa yang mengikuti seleksi tes wawancara. “Saudari, Nur Fajarinah Alifah..” “Nama saya Nur Faj’rina Alfia, pak.. ada qolqolah sugronya. Maaf kalau agak susah” tegur Nurfa halus sampai membuat yang mau mewawancarai salah tingkah. “Maaf, ya, Dek Nurfa..eh.. Nak Nurfa..” Nggak heran yang mewawancarai salah tingkah karena dia laki-laki. Siapa yang tidak terhanyut setelah menatap gadis berhijab berwajah bening yang suaranya halus ini. “Seperti yang Saudari ketahui banyak sekali siswa yang ingin mengisi kuota bangku kosong di sekolah kami. Saya ingin tahu apa yang menjadi motivasi saudari Nurfa untuk menjadi siswa di sekolah ini?” Tanya guru yang menjadi pewawancara. “Motivasi saya.. Yang jelas saya hanya ingin melanjutkan sekolah saja” jawabnya singkat. “Oh, ya? Apa peringkat tertinggi diujian tulis kali ini hanya karena motivasi seperti itu? jika Nak Nurfa mau banyak sekolah yang bisa menerima Nak Nurfa dengan kecerdasan yang Nak Nurfa miliki!” sanggah pewawancara lainnya. “Iya, Meskipun dengan kemampuan akademis saya banyak sekolah yang bisa menerima saya… tapi mungkin juga karena tidak ada sekolah yang bisa menerima saya.. terutama yang siswa yang kelakukannya seperti saya…” Nurfa mendadak teringat masa lalu kelamnya. Dia terdiam mengambil napas dalam-dalam dan menunduk suram. Semua orang terkejut dengan rekasi Nurfa ini. Pada akhirnya Nurfa tidak bisa melanjutkan seleksi wawancara dan keluar dari ruangan itu dalam keadaan terpuruk. Dia berlari memeluk ayahnya. Dia kecewa telah menghancurkan semuanya hari ini. “Sudah, Sayang.. Nggak papa. Nanti setelah ini Abi yang urus” ujar ayahnya. Setelah seleksi wawancara selesai. Calon siswa dan wali murid menghadap kepala sekolah satu persatu. Kepala sekolahpun memberi tahu hasil dari tes tersebut. “Sesuai dengan hasil tes putri Bapak belum bisa memenangkan kuota bangku kosong yang ada di sekolah kami” ujar kepala sekolah, “Memang putri Bapak luar biasa dalam hal akademis. Tapi ada hal yang ganjil dalam seleksi wawancara. Apa ini berhubungan dengan penyebabnya pindah kesekolah ini?” “Putri saya tidak ada masalah disekolahnya yang dulu, Pak. Dia sangat aktif di kegiatan OSIS, bahkan dia juga sering meraih prestasi di bidang keagamaan. Terutama pidato bahasa arab dan Tahfidz Al-Qur’an.” “Ya, saya tahu setelah membaca resume putri Anda. Namun, saya sendiri tidak bodoh, Pak. Saya juga menyelidiki penyebab kepindahan putri anda kesekolah ini. Bukan karena mengikuti anda dalam perjalanan bisnis. Namun, karena dia dikeluarkan dari sekolahnya yang sebelumnya” si kepala sekolah itu menyerang ayah Nurfa dengan begitu ganas. Nurfa sendiri sudah pasrah, dia menghelah nafas berat dan matanya berair kembali. Melihat wajah sedih putrinya hari Sang Ayah pun tak menerimanya begitu saja. “Bapak kepala sekolah. Memang benar anak saya di keluarkan dari sekolahnya. Tidak masalah jika Bapak tidak menerima anak saya sebagai siswa bapak karena sekolah ini tetap ingin menjaga kredibilitasnya sebagai sekolah terbaik. Maka dari itu atas rasa kekaguman saya kepada kredibilitas sekolah ini saya akan menjadi donator tetap sekolah ini dan juga akan membiayai beasiswa untuk siswa yang tidak mampu. Juga akan memberi santunan kepada siswa yatim di sekolah ini, Pak..” Serangan membahana ini membuat mata kepala sekolah mengerjap dibanjiri air mata, “Ah.. Bapak serius?” “Saya serius, Pak.. ini kartu nama saya. Silahkan hubungi kantor saya kapanpun. Customer Service saya ada 24 jam” ayahnya pun memberikan s*****a rahasia lainnya. Saat kepala sekolah itu membacanya, “Ah.. apa.. jadi Bapak ini Nur Fathoni Al Faruq! CEO Nur Alfa Syari’ah Company! Raja bank berbasis Syari’ah di Asia dan Australia! Orang terkaya rangking..” “Sudah cukup, Pak. Sudah cukup..” ayahnya tampak tenang-tenang saja, “Toh, hal seperti itu hanya masalah keduniawian. Yang paling penting adalah tabungan saya di akhirat. Jadi, saya mohon maaf karena anak saya Bapak jadi..” “Tenang saja, Pak! Masalah itu bisa diatur! Anak anda akan mulai belajar senin depan!” Sang Ayah pun mengakhiri masalah dengan gaps yang begitu membagongkan. Nurfa hanya bisa merengut melihat ayahnya yang tampak puas dengan hal ini. Selesai mengurus administrasi dan membeli berbagai atribut sekolah.. “Jangan senyum-senyum, Abi. Niat shodaqoh Abi udah nggak diterima Allah, loh!” sindir Nurfa dingin. “Ah, iya. Astagfirullah hal adzim. Alhamdulillah mulai Senin anakku bisa sekolah, Ya Allah..” Nurfa malah cemberut dengan rasa syukur ayahnya, “Sebenarnya Abi udah capek pura-pura jadi sobat misquen saat kamu masih di sekolah yang dulu. Yang sekarang Abi lebih lega rasanya, Hahahaha!” “Hahh, Abi ini..” Nurfa pun mulai membayangkan imejnya saat akan bersekolah besok Senin, “hijaber putri sultan bank syari’ah, hah.. julukan ku dulu SD, kangen juga rasanya” ujarnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD