Feronica mengerutkan kening ketika mencium aroma masakan yang begitu mengugah seleranya saat ia memasuki area ruang makan. Aroma masakan menguar tercium begitu nikmat, aroma yang sudah dapat dipastikan berasal dari makanan yang tak biasa dan akan sangat memuaskan seleranya. Senyumannya merekah sempurna ketika membayangkan masakan-masakan yang berada dalam benaknya terhidang di meja makan, benar-benar tertata rapih layaknya makanan yang berada di restaurant hotel bintang lima.
Potato pancakes, biscuit and gravy, burrito, cinnamon rolls, quiche, scrambled eggs dan waffles. Semua itu tertata dengan sangat rapih di meja makan, membuat Feronica berdecak kagum. Tapi pertanyaannya ... siapa yang memasak ini semua? Siapa yang memasak hidangan sebanyak ini?
Suara langkah kaki menyadarkan Feronica dari lamunannya. Ia kemudian mendongak menatap ke arah sumber suara. Dari arah dapur ia melihat Sera yang berjalan ke arahnya masih dengan menggunakan apron dan juga membawa sebuah nampan yang di atasnya ada empat buah gelas parfait. Perempuan itu tersenyum padanya.
“Selamat pagi Mrs. McKenzi. Maaf saya menggunakan dapur tanpa seijin anda. Tapi tenang saja saya tidak membuat dapur anda berantakkan, saya juga memasak menggunakan bahan yang ada tidak dengan berlebihan, semua bahan yang digunakan hanya dibuat khusus untuk empat orang saja. Meskipun sayang ... saya tidak tahu makanan yang kau sukai. Jadi saya memasak semua ini ... dengan harapan anda menyukai salah satunya.”
Sera tersenyum puas ketika melihat Feronica menatapnya dengan mata yang membulat penuh kekaguman, mulut perempuan paruh baya itu bahkan hampir menganga lebar melihat semua yang ia hidangkan itu. Akan tetapi beberapa saat kemudian ekspresi perempuan itu berubah. Dia berdehem pelan sebelum mendudukkan dirinya di meja makan.
“Jangan berbangga dulu. Siapa tahu kau menggunakan layanan pesan antar. Membelinya dari restaurant bintang lima dan menghidangkannya disini seolah ini adalah masakan buatanmu sendiri.”
Tepat seperti dugaannya. Feronica akan mengatakan hal itu padanya. Sehingga ia tidak terkejut lagi, tidak merasa semarah kemarin saat dirinya jelas-jelas di remehkan seolah tak bisa melakukan apapun. Sera kemudian menyunggingkan senyumannya, memaklumi perempuan paruh baya itu.
“Karena itulah ... saya membuat rasa semua makanan ini berbeda dengan di tempat lain. Saya memasak semua ini dengan resep saya sendiri sehingga akan banyak hal yang membuat anda terkejut sampai anda percaya bahwa saya yang memasak ini semua.” Sera memberikan senyumannya lagi pada perempuan itu. Terlebih ketika perempuan itu menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, terlihat menelitinya, mengintimidasinya dengan tatapan tersebut. Namun bagi Sera itu bukan apapun. Ia tak akan gentar hanya dengan tatapan seperti itu.
“Wah! Apakah kita akan berpesta? Makanannya sangat banyak.” Itu seruan Leo, ayah Steve yang baru Sera kenal semalam. Sera tersenyum pada lelaki paruh baya itu kemudian membantu menarik kursi, membiarkan Leo mendudukan diri di kursi utama.
“Selamat pagi Mr. McKenzi. Selamat menikmati sarapan anda ... semoga anda menyukai salah satunya.”
Leo terkekeh pelan. “Semuanya makanan kesukaanku Serafina. Terimakasih. Duduklah. Steve juga akan segera turun. Dia pasti terkejut dengan semua makanan ini.”
Benar saja, baru juga Leo selesai berujar seperti itu Steve turun dengan decak kagum dan juga tepuk tangan yang sedikit berlebihan. “Kau ... benar-benar memasak sayang?” Steve mendekatinya, meragkul pinggangnya kemudian memberikannya sebuah ciuman di pipi kanan. “Aku kira kau bercanda saat mengatakan akan memasak.”
Sera mengerjapkan matanya setelah menerima ciuman ringan itu. Ia masih belum terbiasa menerima ciuman-ciuman mendadak seperti itu. Meskipun hanya ciuman sederhana saja ... tapi tetap saja membuat dirinya terkejut hingga membuat jantungnya berdebar.
“Ayo duduk, kita sarapan bersama.” Steve menarik tangannya dengan lembut, membuatnya duduk di samping lelaki itu.
Sera mengerjapkan matanya sesaat seraya berdehem kecil. “Selamat menikmati sarapannya.” Ujar Sera sebelum sebuah piring dengan waffles dengan sirup maple sebagai topingnya.
Selama menikmati sarapan tak ada suara dari mereka semua. Mereka menikmati makanan dalam diam. Sementara dirinya sesekali melirik kearah Feronica dengan ekor matanya ketika perempuan itu mengambil piring baru setelah mencicipi makanan dari piring lain. Ia menarik ujung bibirnya ketika melihat Feronica yang diam-diam meliriknya juga setelah selesai mencicipi makanannya. Perempuan itu seolah tak henti-hentinya terkejut dengan semua makanan yang ia buat. Melihat hal itu ... jika boleh jujur ... ia puas melihatnya. Setidaknya ia bisa membuktikan bahwa dirinya memang pandai memasak.
Selesai sarapan Feronica pergi begitu saja dari meja makan tanpa memberikan komentar apapun atas semua masakannya, mengantar Leo yang akan berangkat ke kantor. Sementara Sera membereskan meja makan lalu membawanya ke dapur untuk kemudian ia bersihkan. Sebenarnya ada pengurus rumah, tapi daripada ia harus menghadapi Feronica dan mulut tajamnya, lebih baik ia membersihkan piring bekas makan itu dengan tangannya sendiri.
Sera hampir menjatuhkan piring ditangannya ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya, disusul sebuah ciuman ringan yang ia terima kembali di pipi kanan dan kirinya. Sera menahan nafas sesaat lalu meneguk ludahnya kasar ketika ciuman yang ia terima di pipi kirinya begitu dalam.
“Good job sayang. Kau membuat Mama takluk. Bahkan sampai tidak bisa berkomentar apapun.” Bisik Steve setelah melepaskan ciumannya.
Sera melirik Steve dengan ekor matanya. “Apakah itu sesuatu yang bagus?”
“Tentu saja, karena jika Mama tidak suka. Dia akan mengeluarkan kalimat pedas penuh hinaannya. Kau sendiri tahu bukan bagaimana ibuku?” Steve mengurai pelukannya kemudian berdiri menghadapnya, bersandar pada kitchen set. “Selain itu ... penampilanmu juga terlihat lebih baik. Mama pasti suka.”
Sera menaikkan satu alisnya. “Penampilan lebih baik? Apa maksudmu?”
Bukannya menjawab Steve justru terkekeh pelan. “Menghilang dua hari benar-benar mengubahmu sayang. Kau ini ... tapi tak apa jika itu menjadi lebih baik. Aku menyukainya.”
Tangan Steve terangkat membelai kepalanya, lalu turun membelai pipinya sesaat sebelum menyampirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. “Aku akan berangkat ke kantor sekarang. Baik-baik bersama Mama hm? Jangan melawan setiap ucapannya. Jika ada apapun katakan saja padaku. Aku akan segera pulang.”
Sera menaikkan satu alisnya lagi. Memang ... tinggal bersama Ibu Steve semenyeramkan itu? Kenapa Steve seolah ketakutan ketika akan meninggalkannya berdua saja dengan Feronica yang notabennya ibu dari lelaki itu sendiri. Apakah perempuan paruh baya itu lebih menyeramkan daripada tinggal bersama induk singa?
Ketika ia sibuk dengan pemikirannya, Steve mencuri ciuman di bibirnya, begitu dalam. Mata Sera membulat, nafasnya bahkan tertahan selama lelaki itu menciumnya, seraya melumat bibirnya secara bergantian selama beberapa saat.
Tak lama setelah itu Steve menjauhkan dirinya, lalu membelai bibirnya dengan ibu jari sebelum kembali memberinya senyuman yang ... sangat tampan. “Aku berangkat sayang. Bye.” Pamit lelaki itu sebelum akhirnya beranjak pergi.
Barulah Sera menghembuskan nafasnya yang terasa tercekat ditenggorokan. Ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu, diiringi dengan debaran jantungnya yang terasa semakin menggila. Perasaannya terasa begitu aneh, dadanya serasa menghangat oleh desiran halus yang mulai memenuhi seluruh penjuru hatinya, hingga permukaan perutnya pun merasakan sensasi aneh yang baru ia rasakan, serasa ada ratusan kupu-kupu yang berterbangan diatasnya, terasa menggelitik memberikan sensasi yang sangat mendebarkan dan sangat menyenangkan secara bersamaan.
Setelah beberapa saat matanya mengerjap selama beberapa saat, tangan kanannya tanpa sadar terangkat membelai d**a kirinya, tepat di atas jantung yang terus berdebar hebat. Sera membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa mengering, lalu meneguk ludahnya kasar.
Perasaan apakah ini? Kenapa terasa begitu aneh?
***