Part 4 : Keputusan

1566 Words
Feronica benar-benar menyebalkan. Perempuan paruh baya itu benar-benar gambaran calon mertua jahat yang dengan tega menyiksa calon menantunya. Perempuan itu kini setiap hari memintanya untuk memasak. Ah!  bukan hanya setiap hari tapi setiap waktu. Sarapan, makan siang, makan malam bahkan dengan random-nya perempuan paruh baya itu sering sekali memintanya untuk membuat camilan atau kudapan-kudapan sederhana di waktu-waktu yang tidak tentu, bahkan pernah ketika Sera baru saja akan duduk setelah membereskan kamar ia sudah di panggil untuk membuat puding. Saat ia hendak beristirahat dengan cepat perempuan itu selalu memintanya membuat salad dan banyak lagi permintaan-permintaan aneh perempuan itu. Lalu tak hanya itu. Feronica bahkan memintanya membersihkan semua ruangan yang ada di rumah ini. Demi Tuhan, rumah ini sangat amat luas dengan delapan kamar yang juga sangat luas, home theater, ruang membaca yang menyatu dengan perpustakaan, ruang olah raga, ruang keluarga, ruang tamu, ruang makan, dapur. Ia bahkan harus membersihkan halaman depan dan belakang rumah itu beserta menyiram semua tanaman yang ada disana. “Serafina! Buatkan aku teh!” Sera yang baru saja hendak mendudukkan dirinya di bangku halaman belakang rumah segera berdiri kembali. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu kemudian segera membuatkan teh yang perempuan itu inginkan. “Ini Mrs. McKenzi.” Sera memberikan secangkir teh hangat tepat di hadapan Feronica yang sedang sibuk membaca sesuatu dari iPad di tangannya. “Siapa yang meminta teh hangat? Kau gila? Tengah hari begini meminum teh hangat? Sekalian saja kau buatkan teh panas. Ganti, aku mau es teh manis dengan lemon.” Sera membasahi bibirnya. “Mrs. McKenzi, lemon sudah habis. Persediaan bahan makanan juga sudah mulai habis.” “Lalu?” Feronica mendelik menatapnya dengan tajam. “Kau memintaku belanja? Pergi belanja sana. Kau punya dua kaki untuk pergi sendiri.” ujarnya seraya mengalihkan pandangannya kembali pada iPad. “Ah ya ... aku lupa. Kau bisa menyetir tidak? Kalau tidak pergi dengan bis, dari sini kau jalan sampai jalan utama satu kilo meter.” Sera mengatupkan rahangnya sesaat. Sebenarnya ia bisa menyetir hanya saja dari informasi yang didapat dari Nana, perempuan itu tidak bisa menyetir sehingga ia harus berpura-pura tidak bisa menyetir dan menyiksa dirinya sendiri dengan berjalan kaki sejauh satu kilo meter untuk menuju halte bus. Tapi tentu saja Sera tidak sebodoh itu, ia memiliki banyak kaki-tangan yang akan membantunya. Lalu untuk apa ia menyusahkan diri sendiri? “Key ... antarkan aku ke suparmarket.” Ujar Sera setelah berjalan sekitar seratus meter dari rumah itu. “Aku akan kesana sekarang.” “Baron?” Sera mengerjapkan matanya sesaat sebelum bergumam pelan. “Hm ... aku tunggu.” Setelah panggilan itu berakhir sebuah pesan masuk, dari Feronica yang memberikan list belanjaan tambahan. Padahal belanjaan inti saja sudah sangat banyak, tapi perempuan itu ... benar-benar berniat menyiksanya dengan menambahkan banyak bahan makanan tak penting yang sebenarnya masih ada stok. Sebuah pesan lain masuk, membuat Sera menggeram kesal.   Dalam satu jam kau harus sudah ada di rumah.   Sera bersumpah, dalam seumur hidupnya, ini adalah kali pertama baginya ia di perlakukan layaknya asisten rumah tangga yang selalu di perintah ini itu. Padahal di rumahnya saja ia tidak pernah memperlakukan asisten rumah tangga seburuk ini. Tapi di rumah ini, yang seharusnya mungkin ia di perlakukan dengan lebih baik, ia justru di perlakukan lebih buruk daripada asisten rumah tangga. Karena kejadian yang sudah ia rasakan hampir satu minggu ini, Sera jadi meyakini bahwa Feronica merupakan kandidat terkuat sebagai orang terjahat pada Nana, sebab perempuan itu sangat terlihat sekali tidak menyukainya dan seolah berusaha membuatnya menyerah. Perempuan paruh baya itu benar-benar ingin agar dirinya menyerah karena semua perlakuan buruk itu, lalu menjadikan perempuan bernama Amanda sebagai menantu. Tapi ia tak akan pernah membiarkan semuanya semudah itu, selain itu ia juga tak bisa menyerah begitu saja, karena hubungan Nana bersama Steve yang ia pertaruhkan disini. Bukan benar-benar dirinya. Disini ia bertanggung jawab untuk mempertahankan hubungan mereka hingga Nana sehat dan bisa kembali bersama Steve.   “Kau tak perlu melakukan hingga sejauh ini semua Sera. Kau bisa berhenti.” Sera melirik kearah Baron. Menatap saudara sekaligus sahabat dan rekan kerja yang begitu mengkhawatirkannya itu. “Tak bisa Baron, aku tak pernah menyerah sama sekali dengan misiku. Lagipula ini misi mudah, hanya saja perempuan itu benar-benar menyebalkan. Sisanya ... mereka memperlakukanku dengan sangat baik.” “Sangat baik? Bahkan mereka tak ada ketika kau disiksa begini. Lihat ... jika tidak bersamaku, bagaimana kau akan membawa semua ini?” ujar Baron seraya melirik kearah empat kantung belanjaan yang berada di kedua tangannya lalu dua kantung belanjaan yang berada di tangan Sera. “Dia ... benar-benar menyiksamu!” “Kau juga merasa begitu?” tanya Sera. Ia menatap Baron sesaat. “Baron ... aku menduga perempuan itu pasti yang mengirimkan preman-preman itu pada Nana. Karena Feronica terlihat sangat amat tidak menyukaiku, dia sangat membenciku. Bahkan menatapku saja rasanya tidak pernah, selain dengan tatapan penuh selidik, curiga dan kebencian.” Sera menggelengkan kepalanya pelan. “Aku hanya perlu mengumpulkan bukti sebentar lagi kemudian melaporkan semuanya pada Steve, setelah itu tugasku selesai.” Baron yang berdiri di sisinya menghela nafas panjang, sesungguhnya ia tidak peduli dengan misi yang menurutnya tidak penting ini, jadi ia tidak pernah memikirkan siapa yang jahat atau siapa yang benar disini, karena yang terpenting, Sera kembali. Itu saja. “Selesaikanlah dengan cepat lalu segera kembali ke rumah. Aku tak suka kau tak di sana. Mereka semua tak ada yang bisa aku andalkan sama sekali.” Sera terkekeh pelan lalu menendang tulang kering Baron dengan kaki kanannya. “Katakan saja jika rindu, kau ini ... benar-benar tak bisa berkata jujur ya?” “Terserah apa itu namanya aku tak peduli. Segera selesaikan atau aku yang akan menculikmu darisana. Lagipula ... kau harus tahu Sera. Perempuan itu benar-benar tak berguna. Dia bahkan tidak bisa memasak. Jangankan membuat makanan, memotong bawang saja tak bisa. Memang pantas Ibu dari kekasihnya itu tidak menyukainya karena tidak ada sedikitpun yang bisa di puji dari perempuan itu.” “Baron. Jadi kau membenarkan tindakan Feronica?” Baron tersenyum masam sesaat sebelum menjawab. “Memang siapa yang ingin menantu tidak berguna?” Sera menghembuskan nafasnya pelan lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Jangan begitu. Sudahlah ayo antarkan aku pulang sekarang juga. Waktuku sudah hampir habis. Bisa-bisa aku di cincang perempuan itu.” “Aku akan lebih dulu mencincangnya Sera. Aku bersumpah untuk itu.”   ***   Ini benar-benar penyiksaan yang tidak ada habisnya. Begitu Sera memasuki dapur ternyata Feronica sudah mulai memasak untuk makan malam. Perempuan itu sudah mengeluarkan semua sisa bahan makanan kemudian mengambil beberapa bahan makanan yang ia beli tanpa mengatakan sepatah katapun. Sera memandangi Feronica sesaat lalu membereskan belanjaan yang ia bawa tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Ia sudah sangat lelah, tak ada lagi sisa tenaga lagi meskipun hanya untuk berdebat. “Kau hanya akan berdiri seperti itu?” Mata Sera mengerjap sesaat. “Bukankah kau harus memasak untuk makan malam? Memang, aku harus menyiapkan semuanya sendiri?” Oh God! Tolong jangan buat Sera meledakkan amarah. Karena sesungguhnya ketika ia sangat lelah ia benar-benar sensitif dan bisa saja membuat emosinya meledak-ledak. Ketika ia mulai mengambil telur dan juga tepung sebuah tangan menahannya. “Ma ... Sera sudah lelah, biarkanlah dia istirahat. Kau sudah menyiksanya seharian.” Itu Steve yang entah sejak kapan sudah kembali dari kantor. “Lihatlah wajahnya ... kau masih akan memintanya memasak juga?” “Apa peduli Mama? Lanjutkan masakamu Sera!” Sera menatap Steve yang hampir membantah kembali ibunya. Ia meraih lengan Steve, lalu menatap lelaki itu dengan lamat kemudian menggeleng perlahan. “Aku tak apa. Duduklah. Aku akan memasak sebentar.” Steve menatapnya dengan tatapan iba, tangan lelaki itu terangkat membelai puncak kepalanya sesaat sebelum memberikannya ciuman di kening. “Tapi kau lelah ... .” “Aku kuat Steve. Aku tak apa. Tunggulah disini.” Ujar Sera seraya memberikan senyumannya. “Jangan menatapku begitu. Aku baik-baik saja Steve.” “Mau lanjut membuat drama?” Sindir Feronica yang membuat Sera memberikan senyuman lebar pada Steve. “Aku akan memasak sekarang.” Ujar Sera seraya kembali mendekati Feronica, ia kembali meraih telur dan juga tepung yang sebelumnya akan ia gunakan untuk memasak. Setelahnya dengan sangat cepat Sera mengolah bahan-bahan itu menjadi makanan yang sangat nikmat, yang begitu menggugah selera siapapun yang menciumnya. Seperti biasanya ... seperti yang Sera selalu lakukan setiap harinya di beberapa hari ini.   Makan malam akhirnya tiba, semua hidanganpun sudah terhidang dimeja makan dan tertata dengan sangat rapih. Sera bahkan sudah segar setelah membersikan diri begitu juga Feronica dan Leonardo yang baru saja pulang. Mereka berempat berkumpul di meja makan itu saling berhadapan. Sera melirik kearah Steve yang terus menggenggam tangannya, lelaki itu bahkan menyelipkan jari-jari panjangnya di sela-sela jarinya yang jenjang. Ia tersenyum sesaat kemudian mengangguk, memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja. Steve setiap malam memang selalu bertanya mengenai Feronica padanya, tentang semua perlakuan perempuan paruh baya itu terhadapnya yang sangat ia yakini bahwa Steve pun tahu dengan perlakuan buruk itu. Sehingga ia tak pernah menjelaskannya lebih jauh lagi selain mengatakan bahwa dirinya tak apa.   “Steve ... sekarang Mama sudah memiliki keputusan.” Ujar Feronica setelah mereka semua menghabiskan makanan masing-masing. Steve yang baru saja selesai meneguk air menoleh, manatap Feronica penuh antisipasi. Jantungnya berdetak dengan kencang, nafasnya pun tercekat, gugup mendengar keputusan yang akan diberikan sang ibu.   Melihat hal itu Feronica tersenyum pada sang putera. “Kau boleh menikahi Sera, Steve. Mama ... setuju kau menikah dengannya” Feronica kemudian meraih tangan Sera lalu menggenggamnya dengan erat. “Kalian boleh menikah. Mama dan Papa merestui kalian. Mama bahkan setuju jika kalian menikah dalam waktu dekat. Bagaimana menurutmu Sera? Kau ... tentu saja, setuju bukan?”   Sera mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa? Apa maksudnya dengan ini semua? Kenapa tiba-tiba ia mendapatkan restu? Kenapa tiba-tiba menikah? Jika begini ... bukankah ia harus segera kembali dan berganti posisi lagi dengan Nana? Ya ... ia harus pergi dari sini.   “Mama juga sudah memutuskan mulai sekarang Sera akan menetap secara permanen disini dan sampai hari pernikahan tiba ... Sera ... .” Feronica menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. “Kau tidak kami ijinkan pergi kemanapun. Tanpa Steve ... atau Mama.”   Mata Sera membulat sempurna. Apa katanya? Jangan gila! Jika seperti ini. Bagaimana caranya ia bisa kabur dan bertukar posisi lagi dengan Nana?      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD