“Ma ... Mama seriuskan? Mama benar-benar merestui aku dengan Sera?” tanya Steve setelah mereka berkumpul di ruang keluarga. Steve, Leonardo dan juga Feronica. Ketiganya berkumpul menghadap ke arah televisi yang sama. Sementara Sera sudah kembali ke kamar dengan alasan lelah. Sungguh ia masih belum bisa percaya dengan semua yang Feronica katakan karena bagaimanapun beberapa hari lalu ... bahkan belum sampai satu minggu ibunya itu menghina habis-habisan Sera dan mengatakan Sera tidak pantas menjadi istrinya dihadapannya sendiri dengan alasan tidak berguna sama sekali. Tapi sekarang ... Ibunya mengatakan merestui mereka. Bukankah pantas jika ia terkejut mendengar hal itu? Ini semua ... seperti keajaiban baginya.
Feronica membelai kepala sang putera sesaat sebelum berujar, “Mama sudah katakan, ketika Serafina sudah bisa memenuhi keinginan Mama, Mama akan merestui kalian.” Feronoca menyunggingkan senyumannya. “Sekarang kau hanya perlu melamarnya ... .” jelas Feronica. “Pergilah ... temui dan lamar Sera. Dia pasti sangat terkejut dengan semua yang baru saja Mama katakan.”
Steve menganggukkan kepalanya, sebelum pergi ia memberikan pelukan ringan pada sang ibu kemudian melakukan hal yang sama pada sang ayah. “Terimakasih ... aku akan menemuinya sekarang.”
Steve pergi begitu saja tanpa menyadari kedua orangtuanya saling melemparkan sebuah senyuman penuh arti dan juga penuh kebahagiaan.
Steve melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, menuju kamarnya untuk mengambil kotak bludru berwarna biru yang segera ia kantongi kemudian beranjak dengan cepat ke kamar Sera yang terletak tepat di samping kamarnya. Namun langkahnya terhenti, tangan kanannya bahkan menggantung ketika hendak mengetuk pintu saat mendengar sayup-sayup suara Sera di dalam sana. Steve masih mematung di tempat, belum mengetuk pintu itu sama sekali ketika menyadari perempuan itu sedang berbicara dengan seseorang.
“Bantu aku keluar dari rumah ini ... bantu aku pergi secepatnya.”
Steve meneguk ludahnya kasar. Kenapa ... kenapa Sera mendadak ingin pergi darinya?
***
Rasanya benar-benar gila. Ini benar-benar sangat gila. Bagaimana mungkin ia harus menikah dengan seorang lelaki yang bahkan tidak ia kenal dengan baik? Bagaimana mungkin ia harus menikah dengan lelaki hanya karena menggantikan orang lain? Ini gila! Sangat gila. Seharusnya skenarionya itu tidak seperti ini. Seharusnya ia hanya menggantikan Nana sebentar, mengungkap penjahat sebenarnya kemudian pergi lagi dari tempat ini. Tapi mengapa sekarang dirinya harus menikah? Apakah pernikahan hanya candaan? Jangan gila! Apalagi Steve bukan lelaki yang ia cintai. Jangankan ia cintai, Steve bahkan hanya lelaki asing yang secara kebetulan hadir di tengah misinya.
Sera menarik rambutnya ke belakang. Menariknya dengan keras kemudian menjambaknya tanpa perasaan seraya menarik nafas panjang. Setelahnya ia menghembuskan nafas dengan kedua tangan yang juga menghempaskan rambutnya sendiri kedepan. Pusing ... rasanya benar-benar pusing. Pening ... kepalanya bahkan serasa akan pecah karena terlalu banyak memikirkan kondisi diluar dugaannya ini.
Bagaimanapun pernikahan bukan sesuatu hal untuk dipermainkan. Jika ia menyanggupi untuk menikah dengan lelaki itu, sama saja ia mempermainkan pernikahan, ia mempermainkan Steve dan juga mempermainkan keluarganya. Ia mempermainkan semuanya ...
Sera mendesah seraya menghempaskan tubuhnya ke atas pembaringan kemudian meraih ponselnya untuk memanggil seseorang.
“Baron ... .” ujar Sera ketika panggilan tersebut terjawab.
“Hei Sera. Ada apa? Bisa menunggu sebentar? Aku sedang makan.”
Sera menghembuskan nafasnya pelan dengan kedua kaki yang bergerak-gerak panik. “Baron ... ada yang ingin aku katakan tolong menjauh dari yang lain sebentar. Ini sangat penting.”
“Baiklah. Tunggu.”
Sera mengepalkan tangan kirinya, tak sabaran dengan langkah Baron yang terasa begitu lama.
“Ada apa Sera?”
“Baron ini gawat. Aku harus segera pergi dari rumah ini. Aku harus segera bertukar dengan Nana kembali.”
“Hei ... tenang ... tenang. Kau ini kenapa? Tak biasanya kau seperti ini.”
“Baron ... dengar ... Nana harus segera kembali kemari dan aku pulang.”
“Nana masih dalam penyembuhan, Dokter mengatakan Nana akan sembuh secara total dalam dua minggu atau mungkin satu bulan. Karena kondisi kesehatan Nana juga sekarang sedang menurun.”
“Kenapa dia?”
“Nana mengalami demam, panas yang sangat tinggi. Tapi Dokter mengatakan semuanya baik-baik saja.”
Sera mendesah kembali, tangan kirinya kemudian mencengkram rambutnya lagi berusaha agar kepalanya kembali berpikir, setidaknya mengeluarkan sedikit ide agar ia keluar dari masalah ini.
“Aku akan berbicara dengan Nana sekarang agar dia secepatnya kembali kesana.”
Sera menghembuskan nafasnya pelan seraya mengangguk. “Baiklah ... yang terpenting ... Bantu aku keluar dari rumah ini ... bantu aku pergi secepatnya.”
“Akan kulakukan.”
Tok tok tok!
Clek!
Sera segera mematikan sambungan telepon itu kemudian menoleh ke arah pintu, menatap ke arah Steve yang kini berdiri di ambang pintu menatap kearahnya. Pandangan lelaki itu benar-benar lain. Terlihat sangat sendu dan muram. Tidak seperti tatapan lelaki itu beberapa saat lalu yang berbinar penuh kebahagiaan. Mereka berpandangan cukup lama hingga akhirnya Sera yang memutuskan pandangan itu lalu mempersilahkan Steve memasuki kamar yang ia tempati.
Jantung Sera mendadak berdetak dengan semakin kencang, berpacu tak menentu hingga membuat nafasnya memburu. Kedua tangannya mendadak terkepal, berkeringat dingin ketika langkah kaki Steve terdengar semakin mendekat. Sera meneguk ludahnya kasar saat iris matanya bertemu dengan iris mata sendu yang Steve layangkan untuknya. Nafasnya tertahan, matanya bahkan tak mampu berkedip ketika Steve tanpa di duga berjongkok dihadapannya yang masih terduduk diatas pembaringan.
“Sera ... .” panggil Steve.
Jantung Sera semakin menggila ketika lelaki itu memanggilnya dengan suara bariton yang terdengar lain, sangat dalam yang membuatnya terdengar sangat seksi ditambah dengan perasaan frustasi dan juga putus asa dalam suara yang ia dengaran itu.
“Sera ... kenapa kau berkata seperti itu sayang?”
Kedua tangan dingin Sera tiba-tiba menghangat ketika kedua tangan Steve menangkupnya, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Lelaki itu juga memandangnya lagi dengan tatapan yang terlihat sangat kecewa. Sera membasahi bibirnya yang terasa mengering lalu meneguk ludahnya yang terasa mengganjal di tenggorokan. Apa yang harus ia katakan sekarang? Apa yang harus ia katakan pada lelaki itu?
“Tak apa ... jika memang kau belum siap menikah. Tapi aku mohon ... jangan pergi sayang ... jangan pernah sekalipun berpikir untuk pergi.” Genggaman tangan itu mengerat. “Atau ... jika memang ... kau masih menginginkan pernikahan sederhana seperti yang kau katakan dulu ... aku bisa mengabulkannya. Aku tidak akan memaksakan dengan pesta yang mewah lagi, aku berjanji akan mengikuti semua keinginanmu.” Steve mendesah pelan. “Yang terpenting kau tak pergi ... yang terpenting kau tetap disisiku. Sera ... .”
“Bukan begitu Steve ... bukan.”
“Lalu kenapa? Kenapa kau ingin pergi dariku Sera? Katakan ... katakan alasan yang kuat agar aku bisa menerimanya. Agar aku bisa ... melepaskanmu jika memang itu keinginanmu.”
“Steve ... .” perasaan Sera mendadak buruk ketika melihat ekspresi kecewa lelaki itu. Seharusnya tidak begini. Hubungan ini tidak seharusnya rusak begitu saja. Lagipula Nana pasti menginginkan pernikahan itu, dia pasti senang jika mendengarkan kabar ini. Tapi ... sayang sekali ia bukan Nana. Ia Sera ... saat ini ia hanya menggantikan perempuan itu. Lalu ... alasan kuat agar ia bisa pergi hanya satu ... berkata dengan jujur. Ia harus mengatakan dirinya bukanlah Nana kekasih Steve, ia adalah Sera perempuan yang kebetulan mirip dengan Nana. Agar Steve bisa segera menemui Nana, dan agar ia bisa segera pergi dari tempat ini.
“Steve aku akan berkata jujur satu hal padamu.”
“Katakan ... apakah kau memiliki kekasih lain? Apakah saat kau pergi menemukan kehidupan baru yang lebih baik? Apakah kau bosan terhadapku? Katakan ... .”
“Tidak Steve bukan begitu.” Sera menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. “Steve ... aku bukan Serafina kekasihmu Steve. Aku memang Serafina ... tapi aku bukan Nana.”
Steve memandangnya dalam diam dengan tatapan yang sangat intens. Lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak juga melakukan apapun selain menatapnya dan hanya menatapnya dalam diam saja. Lelaki itu hanya menatapnya dengan sangat intens dan penuh selidik. Membuat jantungnya kembali menggila dan membuat perasaannya semakin gugup.
“Steve ... .”
Steve menghembuskan nafasnya pelan. “Sera ... jika memang kau tak ingin menikah denganku jangan pernah kau mengatakan omong kosong semacam itu. Mana mungkin ada yang sama persis denganmu di dunia ini? Sementara kau sendiri hanyalah anak tunggal. Kau bahkan tidak memiliki saudara satu pun.”
Sera mengerjapkan matanya. “Tapi Steve ... .”
“Sudahlah ... Sera ... aku mohon ... jangan katakan itu di depan Mama. Bagaimanapun Mama sudah mulai menyukaimu ... jangan membuatnya marah lagi dengan omong kosongmu itu. Terlebih ... kau harus ingat. Mama tidak sekuat yang kau pikir Sera. Selama ini aku memang belum menceritakan apapun padamu tentang Mama ... tapi sekarang saatnya kau tahu Sera. Mama ... dia memiliki riwayat penyakit jantung. Jangan biarkan Mama terluka lagi karena ucapan anehmu itu. Aku mohon ... .” Steve meraih kedua tangannya kemudian menciumnya secara bergantian. “Jangan sampai membuat Mama kembali berbalik membencimu ... aku mohon.”
“Aku sudah memperjuangkanmu, kau juga ... selama beberapa hari ini sudah sangat bekerja keras untuk meluluhkan Mama. Jika bukan untuk hubungan kita ... kau melakukan ini untuk apa?”
Deg!
Apa katanya? Bekerja keras untuk meluluhkan Feronica? Jangan bercanda! Ia melakukan itu hanya untuk menaikkan harga dirinya saja, agar tidak melulu mendengarkan hinaan dari perempuan itu. Tapi mengapa ... jadi seperti ini? Mengapa ... ia justru meluluhkan hati perempuan itu?
Sera mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menggelengkan kepalanya. “Steve ... tapi aku bukan ... .”
“Sera ... aku mohon ... jangan katakan itu lagi. Mama akan sangat shock ketika mendengarnya. Bagaimana jika Mama pingsan? Bagaimana jika terjadi hal yang ... lebih buruk?”
Jantung Sera berdenyut merasakan sakit ketika membayangkan hal buruk terjadi pada perempuan itu. Akan tetapi ... jika ia tetap bertahan, jika ia mempermainkan dan membohongi mereka ... bukankah Feronica akan semakin terluka? Lantas ... jika sudah seperti ini ... apa yang harus ia lakukan?
Sera mengalihkan pandangannya pada Steve yang tiba-tiba meletakkan sebuah kotak bludru berwarna biru di tangannya.
“Sera ... aku berharap. Besok kau sudah mengenakan cincin ini. Aku mohon ... kau ... menikahlah denganku.”