Part 6 : Pernikahan

1533 Words
Sera tidak bisa berkutik lagi. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi setelah hari itu. Ia benar-benar sudah terjebak, ia benar-benar tidak bisa keluar dari kediaman itu sama sekali. Jangankan keluar dari rumah itu, ia bahkan tidak bisa menemukan ponselnya yang mendadak menghilang setelah perdebatannya dengan Steve. Ia tidak bisa menghubungi Baron untuk mengabari tentang pernikahan itu, ia tidak bisa menghubungi siapapun lagi termasuk Nana, kekasih Steve yang sebenarnya. Sera secara penuh terjebak di sana. Terjebak dalam pernikahan bersama dengan orang asing. Sera menatap pantulan dirinya di cermin, menatap dirinya yang berbalut gaun pengantin yang menjuntai sangat indah. Dirinya ... disana ... terlihat begitu cantik, begitu menawan. Seharusnya ... ada juga rona kebagaiaan, rona suka cita. Tapi semua hal itu tak ada, karena ia sama sekali tidak bahagia. Ia tidak merasakan dirinya sebahagia itu dengan pernikahan itu. Bahkan bisa dikatakan, ia tidak bahagia sama sekali. Upacara pemberkatan sudah selesai beberapa saat lalu, dengan dirinya yang tidak di temani siapapun ketika berjalan menuju altar. Padahal seharusnya ... jika ia menikah ia didampingi Hendrik, seharusnya ia didampingi lelaki yang merupakan ayah angkatnya itu. Tapi sekarang ... jangankan didampingi, lelaki itu bahkan tak tahu jika puterinya telah menikah dengan seorang lelaki asing. “Sera ... sayang ... .” Sera menatap kembali kearah cermin, menatap ke arah Steve yang berada di belakangnya melalui bayangan cermin. Dadanya serasa menyempit, sakit karena merasa bersalah pada lelaki itu. merasa bersalah atas semua yang ia lakukan, merasa bersalah ketika melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah lelaki itu. Ya ... ia sangat merasa bersalah akan hal itu, ia merasa bersalah atas semua yang terjadi di rumah ini. Namun ... meski begitu, ia bisa apa? Ia sudah terus menerus berusaha berkata jujur pada Steve, tapi sayang ... lelaki yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu tetap tidak percaya sama sekali. Sera menghembuskan nafasnya pelan lalu mengulas senyumannya, sangat tipis ketika membalas senyuman yang merekah dari lelaki yang terlihat sangat tampan itu. Steve mendekatinya, memeluk pinggangnya kemudian mencium pundaknya yang terbuka sebanyak dua kali. “Sudah siap sayang? Keluarga kita sudah berkumpul. Tenang saja ... hanya keluarga dekat saja. Tidak ada orang lain yang kami undang.” Sera menggeliat, keluar dari pelukan itu lalu berbalik menatap Steve secara langsung. “Iya ... kita turun sekarang. Keluargamu pasti sudah menunggu.” Steve menggeleng pelan, tangan kanan lelaki itu terangkat membelai wajahnya. “Keluarga kita sayang ... bukan hanya keluargaku. Mengerti?” “Ah ... ya ... keluarga kita.” Sera meraih tangan Steve, lalu menggenggam tangan itu. “Ayo, mereka pasti sudah lama menunggu.” “Tunggu sayang ... .” Steve menarik tangan Sera lagi membuat mereka kembali berdiri saling berhadapan. “Ada apa Steve? Bukankah tadi kau mengajakku ... .”   Cup!   Sera bungkam ketika bibirnya tiba-tiba di kecup oleh Steve, lelaki itu memberinya senyuman kemudian mencium bibirnya lagi selama beberapa saat, menempelkannya tanpa memberikan lumatan berlebihan. Jantungnya mulai menggila, sensasi aneh itu mulai menjalari setiap penjuru hatinya, berdesir dan juga menghangat. “Steve ... sudah.” Sera sedikit mendorong d**a Steve. Menjauhkan lelaki itu, memberi jarak di antara mereka berdua. Steve terkekeh pelan, “Maaf ... .” Lelaki itu membelai bibirnya sesaat lalu menggenggam tangannya lagi. “Ayo sayang.”   Semua mata tertuju padanya, menatap kearahnya bersama dengan Steve yang mulai menuruni tangga. Semua mata menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kekaguman dan juga senyum penuh kebahagiaan. Terlihat sekali suka cita di mata mereka semua, termasuk orangtua Steve yang menatap kearahnya dengan senyuman yang menggambarkan kebahagiaan. Sera meneguk ludahnya kasar seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Steve. Perasaan gugupnya menggila, serasa lebih gugup daripada sebelumnya. Ia takut jika tiba-tiba tergelincir, atau terjatuh. Ia takut mempermalukan Steve yang berada di sampingnya. Steve membawanya berdiri di podium, menghadap kearah para tamu undangan yang kini ikut berdiri menyambutnya di ruang tengah kediaman keluarga McKenzi yang telah di sulap menjadi tempat acara resepsi pernikahan. “Selamat datang semuanya ... selamat malam. Terimakasih semua kerabat telah datang. Saya benar-benar bersyukur keluarga besar semua dapat berkumpul di acara pernikahan kami yang sangat sederhana ini. Pada kesempatan ini ... saya Stefano akan memperkenalkan istri saya ... Serafina, perempuan yang akan mendampingi saya seumur hidup saya ... yang akan saya cintai dengan segenap hati saya dan seluruh jiwa raga saya. Perempuan ... yang berada di puncak tertinggi di dalam hati saya ... dan perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anak saya.”   Deg!   Jantung Sera berdetak dengan sangat kencang. Ketika iris matanya bertemu dengan iris mata Steve. Ia benar-benar terbuai, ia benar-benar hanyut akan ketulusan dari setiap kalimat yang lelaki itu lontarkan untuknya. Ah ... tidak, seharusnya bukan untuknya. Tapi untuk Nana. Dadanya mendadak sesak, sakit. Sera tersadar setelah di tampar kenyataan bahwa Steve mengatakan semua itu bukan untuknya ... melainkan untuk Nana, untuk kekasih hati lelaki itu. Sekalipun Steve yang menatapnya ... tapi ia sadar. Lelaki itu mengatakannya bukan benar-benar untuk dirinya. Tetapi sosok lain yang persis seperti dirinya. “Steve ... .” suara Sera tercekat di tenggorokan, ia meneguk ludahnya kasar kemudian mengeratkan genggaman tangannya pada tangan lelaki itu. Menahan rasa sakit, menahan perasaannya yang mulai memberontak. Entah mengapa ... hatinya saat ini mulai serakah. Ia merasa sangat serakah. Ia ingin memiliki Steve, ia ingin lelaki itu mengatakan semuanya benar-benar untuknya. Bukan untuk sosok lain yang mirip dengannya. Sungguh ... ia juga ingin dicintai seperti ini. Seperti yang Steve berikan pada Nana. “Sera ... sayang.” Sera mengerjapkan matanya. Menatap lelaki itu dengan intens lagi. Sera terlalu banyak berpikir hingga ia tidak mendengarkan semua ucapan Steve lagi, yang ia ingat adalah gemuruh tepuk tangan para tamu undangan setelah Steve menyelesaikan ucapannya. “Sayang ... kau tak ingin membalas ucapanku?” “Hm?” Sera mengerjapkan matanya lagi. Ia benar-benar tidak menyimak ucapan lelaki itu. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Steve terkekeh pelan kemudian memeluknya dengan sangat erat. “Aku mencintaimu sayang ... aku sangat mencintaimu.” “Steve ... .” Suara Sera kembali tercekat, ia meneguk ludahnya kasar sebelum kembali membuka suara. “Aku juga ... mencintaimu Steve.”   Suara tepuk tangan kembali menggema membuat Sera sadar kembali dengan ucapannya. Namun ia mengabaikan itu, ia berusaha mengabaikan perasaan bersalahnya. Ia justru memejamkan matanya, menikmati hangatnya pelukan Steve, menikmati debaran jantung Steve yang ternyata berirama sama dengan detakan jantungnya yang menggila. Bukankah itu artinya ... Steve ... juga merasakan perasaan yang sama dengan perasaan yang ia rasakan?   Jangan bodoh Sera! Sadarlah! Itu bukan untukmu! Tapi untuk Nana!   Sera semakin mengeratkan pelukannya pada Steve. Mengabaikan suara-suara itu. Mengabaikan teguran itu, mengabaikan semuanya hanya untuk ... dirinya sendiri. Hanya untuk ... merasa dicintai.   ***   “Sera ... kenalkan ini Paman dan Bibi-ku dari Papa. Mereka tinggal di New York.” Ujar Steve ketika mengenalkan dirinya dengan semua anggota keluarga Steve satu persatu. Sera tidak begitu banyak bicara, Steve yang melakukan semuanya sementara ia hanya memberikan senyuman seraya menyebutkan namanya sendiri. Mereka terus seperti itu sampai semua anggota keluarga Steve selesai di sapa. Steve kemudian membawa Sera mendekati seorang perempuan yang sedang bersama dengan orangtua Steve. Seorang perempuan dengan gaun selutut berwarna pastel yang terlihat sangat anggun dan begitu mencolok di ruangan itu. “Amanda ... aku pikir kau tak datang.” Sera menatap perempuan bernama Amanda itu dalam diam, kemudian ia memberikan sebuah senyuman ketika perempuan itu juga tersenyum padanya. “Sera ... Amanda ini yang sering Mama bilang dulu. Tapi tenang saja ... Amanda hanya asisten Steve. Mereka sudah bersahabat sangat lama. Jadi ... kau tak perlu salah paham padanya ya ... .” Sera kembali mengulas senyumannya seraya mengangguk kecil ketika menanggapi ucapan Feronica. “Mama ... Mama ini bagaimana? Mereka sudah saling mengenal. Mengapa Mama kembali mengenalkan mereka seolah mereka orang asing?” Feronica mendesis pelan. “Mama hanya ingin menegaskan saja agar tidak ada salah paham. Bagaimanapun kemarin Mama bersalah telah membawa-bawa Amanda dalam kehidupan kalian.” Sera terkekeh pelan. “Tak apa Ma ... tak masalah. Lagipula aku yakin kalian profesionalkan?” “Tentu saja sayang ... kau tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang hal itu.” “Kalau begitu, tak perlu ada yang aku khawatirkan.” Ujar Sera menimpali. Feronica tersenyum. “Baguslah ... Mama senang kalau kau tidak salah paham. Oh ya ... sudah dulu ya ... Mama ingin menyapa tamu lain bersama Papa. Amanda ... dimakan ya makanannya jangan memikirkan diet terus. Bye bye ... .” ujar  Feronica seraya beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga. “Sera ... aku ambilkan makanan dulu untukmu ya ... kau belum makan sejak siang.” Ujar Steve. Sera menganggukkan kepalanya perlahan, bersamaan dengan itu Steve beranjak pergi. Menyisakan dirinya yang hanya berdua saja dengan Amanda. Sera tidak membuka pembicaraan dengan perempuan itu sama sekali. Karena ia tak tahu sejauh apa kedekatan Nana dengan Amanda. Ia tak mau gegabah dengan bertanya banyak hal yang akan membuat perempuan itu curiga terhadapnya. Sehingga ia memilih untuk diam daripada membuka suara. “Serafina ... .” “Hm ... ya?” Sera barulah menatap kearah Amanda lagi ketika perempuan itu memanggilnya. “Kau bukan Serafina ... Aku yakin ... kau bukan Serafina kekasih Steve.” Sera menaikkan satu alisnya ketika mendengar statement tersebut. “Aku Serafina.” “Kau yakin? Kau benar-benar Serafina?” tanya Amanda lagi, perempuan itu menatapnya dengan sangat datar, juga menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Perempuan itu tersenyum tipis. “Katakan saja dengan jujur ... aku tahu ... kau bukan Serafina ‘kan? Kau tak mungkin Serafina.”   Sera menaikan kembali satu alisnya, menahap perempuan itu dengan heran. Menatap perempuan dihadapannya itu dengan tak kalah penuh selidiknya. Bagaimana dia tahu dirinya bukan Nana? Bagaimana caranya dia langsung menyadarinya? Sementara Steve saja tidak percaya masih tidak percaya meskipun ia sudah mengatakan bahwa dirinya bukan Serafina. Tapi Amanda ... perempuan yang baru pertama kali bertemu dengannya itu, justru sudah menyadari bahwa dirinya bukan Nana. Bagaimana bisa seperti itu? Apakah ...   Tunggu ...   Sera kembali menatap Amanda, memandang perempuan itu dengan tatapan penuh kecurigaan. Sera meneguk ludahnya kasar ketika satu pertanyaan sekelebat hinggap dalam benaknya.     Apakah dihadapannya inilah yang berusaha mencelakai Nana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD